
Nadia turun ke bawah dengan selempang mengalung di lehernya. Dia haus dan ingin minuman hangat. Tenyata, Nadia melihat Vera dengan ikatan Cepol, sedang ,mencuci daging ayam lalu dimasukan ke dalam panci presto. Vera melirik Nadia dari bawah ke atas, lalu menyalakan kompor.
"Kamu butuh kopi atau teh?" Vera mengelap kening yang berkeringat, dan menatap perempuan yang langsung ke bak cucian. "Eh, sudah, itu biar nanti Bibi. Enakan udah digaji, nggak mau kerja. Taruh-taruh itu."
Nadia dengan canggung menaruh kembali. "Kopi ... apa ada kopi-" Nadia lalu melihat laci penuh minuman sashet yang baru ditarik Vera.
"Bisa ambil sendiri? Mesin kopi di sana, dispenser and segala macam." Vera menunjuk di sudut kiri dapur.
"Ya. Aku akan membuatnya. Apa kamu mau?" Nadia dengan canggung dan mendapati gelengan kepala Vera. Nadia memilih kopi, dia bingung karena terlalu banyak merk minuman di dalam dua laci. Dia melirik Vera yang sibuk memotong sayur. Nadia mengambil sesachet kopi coklat granol, dan menyeduh. Setelah menyeruput sedikit, kembali berdiri di samping Vera.
"Mungkin, kamu butuh mandi?" Vera menghentikan memotong sayur. "Mandi dulu jika kamu ingin membantuku. Ikuti aku." Vera membawa Nadia ke kamar.
Mata Nadia langsung terperangah, saat menginjakan kaki di kamar yang tak kalah mewah dan bernuansa gold. Dia dibawa ke ruangan sebelah yang Tiba-tiba lampunya menyala sangat terang begitu pintu terbuka, dan hanya berisi pakaian dan perhiasan, sepatu, tas, apa ini seperti Showroom.
"Kamu bisa pilih sendiri." Vera akan beranjak keluar tetapi tertahan tangan Nadia.
"Saya hanya memerlukan kaos, celana panjang dan pa-kai-an da-lam yang sederhana. Bisakah kamu memilihkannya?"
Vera menghembus nafas kasar, dia berbalik dan mengambil asal, dan menghamburkan ke dada Nadia. Dia berjalan ke luar dari walking closed, dan tampak Nadia ikut keluar dan mandi di kamar kakaknya. Huh, apa mereka melakukannya? dan tidur bersama semalam ? mentang-mentang pria - Guskov bebas banged. Coba aku yang gitu, pasti Guskov bawelnya setengah mati!
Setelah mandi dengan cepat, dan Nadia sempat ditolak mentah-mentah, tak lantas membuat Nadia menyerah. Dia tetap membantu apa yang dikerjakan Vera hingga hari mulai terang. Vera membuka jendela dapur dan memperbaiki rambut cepolnya. "Sejak kapan kamu kenal, Guskov? Ehm sejak dia menikah ya?! Tenang saja nggak usah malu. Aku juga nggak suka keluarga sombong itu. Eh kamu ternyata keluarganya juga ya? Tenang, yang ku maksudku, Nenek lampir itu. Nenek Bramansyah."
Nadia menggenggam gelas kopi semakin erat, entah apa itu deklarasi adik Guskov yang mungkin tidak menyukainya. Namun, dia juga bingung apa dia akan mempermalukan diri sendiri dengan menceritakan bahwa kenal Guskov saat Guskov sudah menikah.
Vera tertawa ringan. "Tenang saja. Aku sudah tau dari Guskov semua tentang mu. Ya, Kakak tiriku sangat cerewet saat menceritakan kamu, satu tahun terakhir. Tenang saja, cuma yang diceritakan. Ceritanya baik-baik lagi."
Nadia mendengar nada sedikit menyindir. "Apaa kamu tidak senang dengan kedatangan ku, Vera?" Nadia dengan suara lembut.
"Ya!" Vera memotong. "Kamu harus tahu diri. Ini bukan tentang uang, oke? jangan salah paham. Kita sama-sama dari keluarga kecil, Ya. Eh, jangan senang dulu. Aku memperingatkan mu, jangan mengganggu area kebebasan ku, di rumah ini. Lalu jika kamu sekali saja berdebat denganku atau berdebat dengan Ayah, terlepas kondisi Ayah yang berubah-ubah. Maka aku sendiri yang akan mendorong mu jauh-jauh dari Guskov kesayanganmu. Kamu sudah tahu, kan? karena Guskov akan lebih mementingkan Ayah kami daripada KAMU.
"MENGERTI." Nadia menantang, bukan berarti dia takut. "Lagipula untuk apa aku melakukan seperti demikian? Dan aku yakin kita bisa hidup berdampingan."
Vera tertawa dan Nadia ikut tertawa, membuat Vera langsung terdiam.
"Untuk apa kamu tertawa?" Vera berjalan keluar dari dapur membawa makanan.
"Tidak ada peraturan tidak boleh tertawa di rumah ini kan?!"
"Lihat saja, sampai kapan kamu bisa tertawa saat mendampingi Ayah. Jangan merengek padaku. Karena kami berdiri untuk Ayah."
Nadia duduk di kursi dapur dan menghabiskan kopinya. Dia memindahkan opor ayam ke ruang makan, dan pandangan terpaku ke ruang tamu. Nadia berlari dan mengikuti Ayah Adh dan kebingungan karena Ayah Adhi mulai melewati gerbang tanpa memakai alas. Tanpa pikir panjang Nadia menyusul. Terbesit pikiran untuk masuk ke dalam rumah dan mengambil ponsel, tetapi takut ada apa-apa dengan Ayah Adhi.
"Ayah Adhi, tunggu .... " Nadia berjalan lebih cepat karena pria tua itu terus berjalan keluar. Kini mereka di luar gerbang, di pinggir jalan yang ramai mobil. Nadia takut untuk menyapa lebih dekat, sedangkan seruannya tidak dijawab.
Perempuan yang belum sempat sisiran, terus mengikuti Ayah Adhi melewati kompleks, yang tidak Nadia kenali. Ayah Adhi tampak kelelahan, lalu duduk kursi taman, seolah menikmati kehangatan dari cahaya kuning matahari pagi.
Nadia menatap bingung ke celana training hitam. Dia tidak membawa apa-apa, dompet-ponsel, lalu harus apa sekarang? Nadia takut kejadian semalam terulang. Dengan itikad baik sambil berdoa semoga dilindungi dari amukan, Nadia berjalan, perlahan, duduk di kursi yang sama dengan Ayah Adhi.
__ADS_1
Mulai dari ujung ****4*, perlahan mundur seluruhnya, duduk dengan was-was. Tidak dipukul, kan? Nadia menoleh dan memandang ekspresi Ayah Adhi yang sering menatap kearahnya. Kenapa calon mertuanya seperti tidak mengenali kejadian semalam? Ayah Adhi menatap dari atas ke bawah dan kembali ke atas pada mata Nadia.
Nadia langsung tersenyum tulus sambil menganggukkan kepala, tetapi Ayah Adhi memasang wajah datar, bahkan tak berkedip. Kemudian tampak Ayah mengambil sesuatu dari saku. Ya! Ponsel! Nadia menghela nafas lega. Setelah sekitar setengah jam Nadia menunggu, Ayah Adhi masih mengotak-atik ponsel. Akhirnya, Ayah terlihat menghubungi seseorang, semoga Guskov atau Vera.
"Gus ... jemput. Ini ada gadis muda mau ngelamar aku, loh."
Mata Nadia langsung membulat, dia melihat sekitar. Dimana gadis muda ? Banyak di taman, gadis muda, dan ibu-ibu muda, tetapi perasaan tidak ada yang melamar ayah deh. Nadia garuk-garuk kening dengan heran. Mau cari muka pada ayah mertua, kok sesusah ini, ya ? Nadia menggelengkan kepala. Yang penting Ayah beneran menelpon mas Guskov kan ?
"Hei kamu. Umur mu masih sangat muda, tidak perlu mengejarku."
Nadia mendengar dengan seksama dan termangu karena arah mata Ayah menatap ke arahnya. Nadia tengok kanan-kiri-belakang.
"Siapa namamu?"
Nadia menunjuk diri sendiri. "Ayah Adhi menanyakan nama saya?"
"Memangnya aku tengah berbicara dengan siapa? kamu yang mengikuti saya terus, lalu duduk mendekati saya. Namun, ma'af saya tidak berniat berumah tangga."
"Iya, Ayah. Saya, Nadia Adelia." Mata Nadia berkedip pelan dan tangannya menggaruk tangan lain di pangkuan. Dia tidak mengerti tentang hal lain yang dibicarakan Ayah.
Akhirnya, Guskov dengan badan kekarnya, datang, menyelamatkan kebingungan Nadia. Ya Tuhan ! Nadia mau pingsan karena calon suaminya menebarkan aroma wangi yang membuat Nadia mabuk dan siap terbang ke langit ke tujuh.
"Nadia, kamu dicari-cari Vera. Ternyata, di sini?" Guskov menarik dan membuang nafas lega.
"Tadi, pas di ruang makan liat ayah keluar." Nadia berbicara pelan tanpa berani melirik Ayah Adhi. "Jadi, ikutan jalan pagi."
"Kenapa?" Guskov mencari tahu pada isyarat mata ayah dengan kode melirik ke arah Nadia.
Guskov mendekatkan telinga saat Ayahnya akan berbisik dan mata Guskov menangkap wajah memerah Nadia yang kini membuang muka ke arah lain, ke air mancur.
"Wow." Kepala Guskov terayun ke depan dengan keki. Berdasarkan penuturan ayah yang menganggap Nadia menyukai ayah. Oh!
Guskov meraup wajah dengan pelan. "Ayah, mau pulang sekarang atau nanti ?" Guskov dengan sabar menunggu ayahnya yang kini berbicara dengan Nadia, perasaan Guskov mulai diliputi rasa was-was.
"Kalau kamu mau menikahi putra ku. Kenalin dia Guskov. Sama gagahnya seperti saya, Nah? Kamu lebih cocok sama dia. Kamu mau? Aku kasian sama kamu, jangan terlalu sakit hati karena ditolak saya, ya?"
Nadia ternganga melirik ke arah Guskov yang salah tingkah dengan menggaruk hidung. "Iya, Ayah."
Nadia tersenyum dengan tulus. "Apa boleh saya berjalan bersama putra Anda?" Dengan sedikit takut Nadia mencoba menyesuaikan jalan pikiran Ayah Adhi daripada menentangnya.
"Silahkan .... Ayo, mampir ke tempat kami sekalian. Kamu harus mengenal Vera-putri cantikku. Dia lebih cantik dari kamu. Seperti Ibunya. Dan kamu jangan bilang-bilang bahwa kamu sedang mengejarku, putriku cemburuan!"
Guskov ternganga tak bisa berkata-kata, lalu mengangguki semua ucapan ayah sebagai rasa hormat. Dia melepas dua sepatunya, dan memakaikan pada sang ayah setelah mengelap telapak kaki ayah dengan kaosnya.
Nadia jadi sedih teringat dengan Ayahnya sendiri, dia tidak sebaik Guskov yang memperlakukan Ayah Adhi dengan sangat baik.
Guskov melirik dengan menahan malu pada Nadia yang kini berjalan di sebelah kirinya. Akankah, Nadia bisa terima kondisi Ayah?
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Ayah terus bertanya banyak hal pada Nadia, dan Nadia menjawab dengan ramah. Guskov yang berdebar, sesekali meringis dengan senyuman. Ini lebih baik daripada semalam saat ayah marah-marah dan mengira Nadia musuh.
Vera heran saat melihat ayah baru pulang dan tertawa dalam mood baik dengan calon istri Kakak. "Ayah, masakannya, sudah dingin." Vera menuntun bahu Ayahnya, dia cemburu juga, karena ada yang mengambil perhatian ayah.
Guskov menarik pergelangan tangan Nadia di ruang tamu. Posisi Guskov masih bisa melihat ke ruang makan, tetapi dia yakin Vera yang melirik ke sini tidak dapat melihat Nadia.
Guskov menghembuskan nafas panjang, dan diam dua menit, memandang wajah ayu calon istri."Nad, Ayahku berbicara apa saja padamu tadi. Apa ada kata-kata kasar atau, menyakitkan, misal dia menyebut 'kamu telah m3mbunuh, atau kamu akan m3mbunuh ayah' Ah sorry. Apa ada kata-kata kejam itu, atau dia mempermalukan mu di depan umum?"
"Mas," Nadia memegang tangan kiri Guskov dengan dua tangannya. Dia tidak tahan melihat guratan kekhawatiran di wajah Guskov. "Tidak ada yang seperti itu. Semua baik-baik saja, Okey ? Beliau hanya sedang mengira bahwa aku mengejarnya dari rumah sampai taman. Walau aku memang mengikutinya. Sudahlah tidak apa. Ayah Adhi baik dan sopan. Sungguh " Nadia mengangkat dua jari tengah dan telunjuk. "Suer."
"GUSSSSSSSS!!"
Guskov beralih dari tatapan meyakinkan Nadia, dan menoleh ke dalam pada Ayahnya yang menunggu. "Baik Ayah."
"Ayo, sarapan, dulu." Guskov melirik mata indah kanan-kiri Nadia secara bergantian. "Aku, jadi kangen kamu, Sayang. Ayo, cepat kita nikah, dong."
"Huhhh, kan dua bulan lagi." Nadia Merasakan hangat di wajahnya. Kenapa kaos putih ini makin menonjolkan keperkasaan Guskov. Ngeri-ngeri sedap. Nadia semakin mabuk, dia jalan terhuyung setelah mendapat satu kecupan di bibir, hingga sampai melangkah ke dalam, Nadia masih melihat genggaman hangat tangan berotot itu.
Nadia berusaha mengembalikan kewarasannya karena kecupan mendadak tadi, kini dia duduk berhadapan dengan Vera. Guskov di kanannya berhadapan dengan Ayah Adhi.
"Vera, menurut mu gimana jika Ayah jodohin Guskov dengan dia. Namanya .... "
"Namanya- Nadia , Ayah," timpal Guskov mengikuti obrolan ayah.
"Ya, Narnia-"
"Maaf Ayah, Nadia," timpal Guskov lagi.
"Kenapa nama ko ya susah si?"
Nadia tersenyum hangat walau di dalam hati dia jadi merasa bersalah sendiri.
"Gimana, Vera? apa mereka pantas bila Ayah menjodohkan mereka?"
Vera mengangguk kan kepala menimbang-nimbang dan melirik Kakak tirinya yang memandang dengan tatapan memohon, lalu pada sorot kegugupan di mata calon kakak ipar.
"Vera ... akan setuju, asalkan itu membuat Ayah bahagia. Ya ... mereka cocok si-"
"Kok pake si?!" protes Guskov pada pernyataan adiknya.
"Nggak usah lebay, deh," sergah Vera dengan santai, lalu mengambilkan Laksa ke piring ayah. "Sudah, Ayah makan dulu, nanti di terusin lagi, ya, ngobrolnya."
Nadia mengusel hidung sendiri yang gatal dengan telunjuk dan jempol. Apa artinya aku mendapat persetujuan mereka?
"Nad, bisa, kamu ambilkan aku .... ?" pinta Guskov dengan suara sangat gentle sambil melirik ke arah piring.
"Ah, iya, Mas." Nadia dengan hati yang terasa hangat, senang, melayani Guskov. Ya Tuhan! rasanya, sudah seperti jadi istrinya saja. Apalagi nanti kalau sudah beneran, pasti WOOOOW!
__ADS_1
.