
Hari telah larut malam, Guskov berjalan dengan handuk mini terlilit di pinggangnya sambil melirik Milan yang mondar-mandir di depan nakas, yangmana cahaya redup berasal dari satu lampu tidur menyala.
Milan yang berbicara di telepon dengan ayahnya Nadia, tengah memberitahu jika Nadia sudah meminta maaf dan sudah pulang sejak sore.
Milan memutar-mutar rambut dengan telunjuknya, merinding dihantui rasa bersalah. Di satu sisi hatinya berdebar pada ingatan ciuman instruktur yang masih berusia 25, itu 5 tahun dibawah usianya tetapi pria itu sangat berani menggodanya hingga dia tak kuasa untuk melawan.
Dulu, Milan merasa pernah sepenuh hati dengan suaminya, tampaknya perasaan sudah benar luntur, setelah seiring waktu terkikis. Bahkan usia pernikahan ini baru limat tahun.Dia melirik Guskov yang menatapnya tengah bersandar di tempat tidur.
Ponsel itu kembali bergetar setelah memutus sambungan telepon dengan ayah Nadia yang adalah sepupu jauhnya. Kini ponsel kembali bergetar dan Jantung Milan seolah berhenti, dia sedikit melirik ke arah suaminya dengan takut-takut.
-Milan, kamu sudah tidur? kamu mimpikan saya, ya. Aku ingin berjumpa denganmu, besok datang lebih awal sebelum mereka datang, aku ingin membuatmu bahagia😘~ pesan Dicky.
Bergegas Milan menghapus riwayat chat dan memblokir nomor Dicky, ketika Guskov beranjak dari tempat tidur, dan Milan mematikan ponselnya dengan jantung berdebar dan segera mencharger batre.
"Milan." Guskov memeluk pinggang dari arah belakang dan menjamah dada istrinya, ingin membuang hastrat untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
"Mas, perusahaan mu masih masih mencari sekertaris dua yang mau cuti hamil, kan?" Milan refleks menepis tangan suaminya, dia panas dingin karena mengingatkan aktifitas intim dengan Dicky.
"Sayang, ayo, sudah sebulan loh ... " Guskov meraba punggung istrinya dan menangkap tubuh dengan singlet tipis itu.
"Tidak sekarang, mas." Milan melepas dengan kasar cengkraman suaminya dari dada dan lari ke kamar mandi. Dia menutup pintu itu, duduk di kloset sambil beberapa kali menekan tombol closet yang menggelontor air. Dia tidak bisa memejamkan kata, setiap matanya tertutup wajah Dicky yang panas membayanginya. Milan mengelap setetes air mata yang jatuh di sudut mata.
"Aku telah mengkhianati, Guskov." Batinnya yang duduk membungkuk sambil menjambak rambut. "Seharusnya Guskov yang mengkhianatiku," batinnya lagi. Dia keluar kamar mandi dan Guskov telah tidur miring dan berselimut. Milan tidur di pinggir tempat tidur sisi lain, dia yakin suaminya belum tidur.
"Mas, angkat Nadia jadi sekertaris dua, kasian dia daripada di toko kecil, kau tahu gajinya hanya 900 ribu. Itu sulit memenuhi kebutuhannya, apalagi sampai jualan bubur pagi-pagi, aku tak tega."
Guskov berbalik dan menghadap punggung istrinya, jarinya lalu bermain dengan cara sendlsual di punggung Milan. Dia tidak tahu sejak kapan keintiman dengan istrinya berubah.
"Milan, ini sudah lewat tiga tahun sejak ulang tahun pernikahan ke dua. Kau ingat, ini waktunya kau menepati janji dan hentikan KB suntikmu."
"Okay, tapi dengan syarat, kamu masukan Nadia ke kantor." Mata Milan memerjap dan mere..mas bantal yang ditidurinya. Dia takkan mau hamil dan akan mencari jalan luar lain tanpa sepengetahuan Guskov.Ingin rasanya kabur ke luar negeri.
__ADS_1
Milan merasakan Guskov mendekat dan memeluk dati arah belakang terus menggodanya. Setelah terkena sentuhan Dicky, dia menjadi jijik dengan belaian Guskov.
"Sebelum itu ... " Guskov lalu terhanyut pada kebutuhannya. Setiap serangan panas Guskov menyiksa hati Milan yang juga bergidik dengan diri sendiri, sampai saat suaminya akan pada aktifitas inti, Milan mencegah dengan tangannya dan menggelengkan kepala dengan sorot memohon.
Guskov mendengus kesal dengan wajah yang sudah memerah dan nafas yang memburu di tengah badannya yang panas ingin tersalurkan, padahal sudah diubun-ubun, dia merana dan tidur menjauh di sisi lain, dongkol dan kekecewaan itu sendiri mampu menidurkan hastratnya.
"Aku takkan memasukan keponakanmu. Mulailah pikirkan nasib pernikahan kita. Kau selalu sibuk di luar," kata Guskov dengan geraman penuh penekanan dalam keputus asaan dan memaksa menutup mata.
Milan dengan helaan nafas berat dan makin menutupi tubuh polos sedniri dengan selimut akibat dingin ac di ruangan itu.
*
Milan pagi itu telah sampai di studio gym berlantai dua. Entah apa yang membuat dia tak bisa menahannya dan dimabuk kepayang pada pesona Dicky. Walau tubuh Guskov lebih bagus dan gagah, itu terasa hambar.
Sejam berlalu, dia kembali melakukan perbuatan durjana termakan rayuan halus pria labil di sampingnya. Milan kian menarik selimut menutup tubuh polosnya dalan tidur meringkuk. Dia merasa sangat bersalah setelah melakukannya.
__ADS_1
Seorang pria muda keluar dari kamar mandi dengan tubuh, rambut, masih basah, "Apa kamu mau ku gendong dan aku akan membersihkanmu, sayang?" Dicky menghampiri dan kembali mencium Milan yang awalnya menolak tapi kembali tenggelam dalam buih-buih dosa pada pesona percaya diri Dicky, dia tahu pria itu teman kuliah Nadia, tetapi Milan tak menceritakan keponakannya pada Dicky.
Dia tak mau kena masalah hingga takut pria ini mengancamnya lalu Guskov tahu semua ini, dan semua aset milik keluarganya bisa beralih ke tangan Guskov tanpa dia mendapat seperpun.