Paman I Love You

Paman I Love You
BAB 37 : PIKIRAN JOKO


__ADS_3

"Ayo, pulang, aku akan menceritakan di tempat ku," kata Dicky.


Reno melirik dari tempat berdirinya ke ruang tamu.Dia bergeser memakai helm karena saat ini Dicky yang terpenting baginya, dia sadar harus ada untuk sahabatnya. Reno melajukan motor Ducatti merah mengikuti vario yang ditumpangi sahabatnya.


Berita soal perselingkuhan Dicky dengan istrinya Guskov sudah diketahui Shelin, Ernest, dan Nadia.


"Ayo makan dulu, kita juga tetap harus makan, kasihan kalau sampai mubazir," kata Ernest memecah kesunyian di ruang tamu.


Para wanita masuk ke dalam mengambil piring. Suasana itu sangat tidak menyenangkan untuk makan terutama ekpresi Guskov, membuat makanan mahal itu jadi hambar.


Nadia berangkat kerja dengan diantar Jefri yang akan pulang dan jalannya searah.


Hummer putih menepi di restoran, dan Jefri menatap perempuan yang terus melamun sampai tidak menyadari jika mobil telah berhenti.


"Nadia," panggil Jefri dengan nada tinggi berulangkali sampai mendapat tanggapan. "Tolong, karena kamu satu-satunya penyemangat bagi Guskov. Yakinkan dia untuk Fokus bekerja di Singapura, ya, dan dia akan berangkat seminggu lagi, loh."


Mata Nadia membulat tidak percaya karena Jefri benar-benar mengirimkan pamannya ke luar negeri. "Dia masih dalam perawatan fisioterapi, lalu bagaimana dengan Bibi Milan?"


"Nadia dengarkan, dan aku takkan mengulangi kalimatku. Paman dan Bibi mu telah berakhir. Guskov ke luar negeri karena menyakitkan baginya untuk hidup di sini. Jadi, ini waktumu hanya seminggu dengan Guskov, lagipula untuk terapi di Singapore jauh lebih maju."


Jefri tersenyum. "Nah, kejar Guskov! Ku beritahu padamu, surat perceraian mereka akan keluar dalam empat sampai enam bulan. Jangan kaget, ini bukan sepenuhnya kesalahan mu.


Ya mereka memiliki permasalahan mereka sendiri, bukan tentang kamu.


Salah satunya, sudah sejak lama Guskov kurang mendapat penerimaan di keluarga Milan.


Yah, sepertinya sekarang kamu yang perlu berjuang mengalihkan hati Guskov sepenuhnya dari Milan, ku pikir kamu tidak akan kesulitan tentang ini."


Nadia mengangguk dengan senyuman kehangatan. "Terimakasih, Mas Jefri. Karena dukungan mas Jefri pada paman. Anda baik sekali."


"Ya, dia juga baik padaku. " Jefri menarik kartu nama dari dashboar di depan Nadia." Jadi, Oke. Ini nomer temanku dia kader pencalonan anggota, kamu harus gabung dengan HIPMI.


Kamu perlu belajar banyak, contek ilmu teman-teman pengusaha. Hubungi dia dan jangan malu, lalu mulai usahamu dari enol, semangat ya!"


Jefri melambaikan tangan pada gadis sederhana berparas ayu dan senyumannya sangat manis baginya.


"Terimakasih!"


*


Sepulang kerja, lagi, dan lagi, Reno menjemputnya. Sekali lagi Nadia terpaksa mau menerima tumpangan ke tempat bibi.

__ADS_1


Rumah bibi, tidak ada orang selain security. Nadia selesai bersih-bersih jam satu malam. Hari ini dia tidak mengepel, kemudian menunggu gojek cukup lama.


Setibanya di kos jam setengah dua pagi dalam kondisi matanya yang sudah tidak ditolerir, dan mendapati Guskov di depan pintu kamar.


"Aku dari tempat Lila, paman," sekali lagi Nadia terpaksa berbohong, dan memandang pamannya yang masih murung.


"Nadia, temani aku tidur. Aku butuh pelukan dan tidak akan berbuat macam-macam."


"Kenapa paman tidak cerita akan pergi ke luar negeri?"


"Ah itu, pasti Jefri ya?" Guskov mengikuti Nadia yang meletakan ransel di kursi kayu ruang tengah.


Setelah menggelegak dua gelas air bening. Nadia melepas jaketnya. "Ya, dia memberitahuku soal kepergian paman." Nadia sama sekali tidak membahas soal bibi yang didengarnya dari Jefri, selain cemburu juga tidak mau membuat wajah pamannya tambah tertekuk.


"Aku mau tidur." Nadia mendorong kursi Guskov ke kamar, dan membantu pamannya ke kamar.


"Mengapa kamu tidak menutup pintunya?" Guskov dengan suara pelan.


"Aku akan tidur di kamar ku." Nadia menutup mulutnya yang menguap. "Guskov, selamat tidur."


Guskov menarik tangan Nadia dan meraih kepala, pada detik itu bibirnya menyatu dengan bibir Nadia,


"Aku begitu membutuhkan cinta, ciuman dan gairah hidup untuk ke depan," batin Guskov di tengah kehancuran hatinya karena gagal memiliki seorang anak.


Nadia membeku ada perasaan aneh saat dia sudah di pangkuan paman, seolah posisi ini pernah dilaluinya.


Wajahnya menjadi panas karena hembusan nafas beradu, tetapi rasa bersalah pada bibinya selalu menghantui walau, bibi ternyata juga berselingkuh, ini lebih seperti tidak menerima keadaan mengapa dia harus mencintai pria yang menikah dan bukan lajang.


Namun, Guskov adalah orang yang penuh kelembutan, bertanggung jawab, siapa yang tidak akan menyukainya? Dari setiap sikap pria ini memperlakukan bibinya yang selalu membuat Nadia cemburu, seakan dia hanya menginginkan bahwa Guskov hanya bersikap seperti itu padanya.


Sekali lagi, Nadia ingin egois. Matanya terbuka pada wajah tampan terpejam yang terlihat begitu merana dan sangat kelam.


"Guskov, aku ingin mencintaimu. Ingin menyembuhkan semua luka di hatimu, ingin membuat kamu seutuhnya hanya menjadi milikku, dan hanya memikirkanku. Bolehkah aku egois seperti ini. Dan aku akan berjuang demi kebahagiaanmu sampai akhir hidupku," batin Nadia.


Gadis itu mulai membalas perlakuan lembut pamannya. Desisan nafas ringan, berubah berat, membakar jiwa dan nafsu mereka.


Sekali saja ini tentang mereka, keluar dari dunia penuh penghakiman.


Nafas Nadia tersengal, dia mendorong wajah Guskov saat pria itu mulai mengusap lehernya. Ini sangat asing bagi gadis yang masih kebingungan pada sensasi menggetarkan seluruh jiwanya.


Nadia mendorong dagu Guskov, wajah pria itu telah merah di bawah cahaya terang lampu kamar, kesadaran gadia itu mulai kembali ke bumi. Dia menyadari pintu terbuka dan Shelin bisa saja lewat dan melihatnya.

__ADS_1


"Kamu cantik, Nadia," bisik Guskov dengan senyuman kelam. "Kamu selalu begitu cantik."


Sekali kecupan datang ke leher Nadia. Gadis itu menghindari. Sekali kecupan jatuh di lengan Nadia lalu sikut dan Nadia terus menghindar hingga jatuh terlentang dengan mata melotot, wajah putih telah berganti merah, dengan menggemaskan.


Nadia membeku oleh tubuhnya yang terkunci saat dua tangan Guskov di samping telinganya, tanpa aba-aba pria dengan aura memusingkan itu sudah mengecup di tengah dada, perut dan lutut bahkan punggung kakinya.


Dan saat itu Nadia menarik lutut dan tubuhnya menegang, dia refleks mundur ke kepala tempat tidur, merinding dan malu sampai tidak tertahankan.


Otak Nadia mati, semua terjadi begitu cepat tanpa bisa dicernanya dan saat pamannya menarik kakinya lagi, dia tak kuasa menolak.


Tapi bukan seperti apa yang dibayangkan seperti apa yang diceritakan Shelin, pamannya bukan bermacam-macam atau melucuti pakaian dengan penuh minat, tetapi justru memijat tepat di telapak kakinya, membuatnya kegelian dan semakin tegang hingga terus berusaha membebaskan kaki dari tangan catok besi.


"Tenang, Nadia. Aku tidak menyakitimu." Guskov tersenyum berusaha menangkan Nadia yang seolah menunggu sesuatu yang tidak diinginkan.


Gadis itu setengah tidur dengan duduk bertumpu di kedua sikut. Membuatnya semakin berkilauan di mata Guskov.


Satu menit, Lima menit, sepuluh menit.


Guskov tersenyum menang saat Nadia tertidur, dia merangkak dan tidur miring membenamkan wajah di pinggang kiri Nadia.


Menghirup sedikit bau asam dari keringat Nadia yang justru membuat Guskov terasa hidup dalam ketenangan.


Pria itu berpikir, bagaimana cara membuat Nadia juga ke Singapura tanpa perlu gadis ini tahu, bahwa dia yang mengaturnya.


Guskov terjaga karena ketukan pintu di jam empat dan dia yang entah sejak kapan berpindah tidur di sisi kanan Nadia, segera melepas pelukannya dari Nadia yang masih terpejam dengan nafas teratur.


Guskov menarik kursi roda dan menajamkan pendengaran pada suara familiar ditengah suara ketukan pintu ruang tamu. "Mas Joko?"


Dengan wajah tegang Guskov segera pindah ke kursi roda dan mematikan lampu dan menutup pintu kamar.


Ayah dan Ibu Nadia pagi-pagi sekali sudah tiba di kos.


Kening Joko berkerut dalam karena seingat dia kamar Nadia di atas, tetapi kini mendapati di sini, dimana baju Guskov bergantungan. Pikirannya sudah melompat pada kehidupan bebas putrinya.


Bergegas dia keluar dan menyidang Guskov yang baginya sangat tidak tahu tahu malu.


Namun, Guskov bercerita hingga mampu meyakinkan Joko, jika tidak ada sesuatu yang terjadi.


Hanya sebuah bantuan pijatan di kaki untuk mengurangi kelelahan Nadia, yang sudah kerja sampai larut malam.


Meski terdengar ngeri, tapi ya sedikit ada kelegaan karena itu terdengar jujur. "Ah mereka harus segera dinikahkan, sudah terlalu banyak dosa," batin Joko.

__ADS_1


__ADS_2