Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 9 : KEHAMILAN MILAN


__ADS_3

Nadia tengah merapikan etalase barang dimana Guskov termenung mengamati kegiatanya, sampai Nadia tak sadar menoleh dan tergugu langsung bangkit dan tersenyum penuh arti.


"Paman, ada yang kamu cari?" menatap pria yang sudah membawa keranjang kosong.


"Bisakah kamu membantuku mencari list ini?" Guskov menjereng kertas, sebenarnya itu tugas OB, tetapi dia memgambil alih untuk tetap melihat wajah Nadia terutama wajah yang serius sedang bekerja selalu mampu menghipnotis, dia membayangkan jika Nadia jadi istrinya, melihatnya membersihkan rumah dan berkebun dengan sorot mata itu pasti sangat indah.


Apalagi bila hamil, dan lalu menidurkan anaknya dengan Nadia. Mata Guskov membesar dan geleng-geleng mengusir pikiran bodoh, sampai Nadia berdiri di depannya dan meraih keranjang kosong dan list.


Nadia sudah hafal list belanjaan, karena itu lebih dari satu tahun, palingan juga aneka minuman. "Eh, kenapa chiki nya banyak banged, 10 dus?" tanya Nadia lsngsung. menoleh.


"Bukannya, bosmu akan senang?" Guskov lalu mengikuti Nadia ke gudang, tetapi ditahan Nadia di pintu gudang.


"Paman bukan karyawan, gak boleh masuk. Ada cctv." Nadia menunjuk cctv di sudut. Kemudian Nadia mengeluarkan dus dan Guskov menangkapnya di pintu.


"Adanya cuma sembilan." Nadia sedikit canggung karena Guskov terlalu dekat.


"Ganti saja dengan yang lain."


"Paman mau membawanya kemana?" tanya Nadia penasaran, ada sepuluh dus mie, beras, minyak, tepung dan aneka bumbu.


"Panti yang pernah kamu datangi. Apa kamu mau ikut? Kita bisa ke sana jam 9 malam." Guskov mengeluarkan kartu debit di kasir.


"Apa aku boleh benar ikut? kalau gitu aku ikut, kangen ibu panti," ujar Nadia dan diangguki Guskov.

__ADS_1


Refleks Nadia sudah memasukan pin pria itu dan kurang satu dikit, dia merasa malu setelah tersadar lalu mendongak, yangmana Guskov tersenyum hangat dan mengangguk menatap wajah memerah Nadia yang tersenyum sangat kecil nyaris tak terlihat, dan wanita itu memasukan digit terakhir.


Desi..ran aneh merasuki relung jiwa Guskov yang beberapa bulan sempat membeku.


Barang belanjaan senilai lima belas juta lima ratus ribu itu, dipindahkan ke mobil box oleh sopir dibantu Nadia, dan Guskov juga turut serta. Nadia benar tersentuh di relung jiwa terdalam, bibinya sangat beruntung memiliki suami seperti Guskov. Dulu saat masih pacaran, Guskov tipe yang sangat peka terhadap hal kecil, meski jarang berbicara romantis dan jarang menyampaikan perasaanya, semua itu terlihat jelas dari segala tindakannya. Saat selalu menggenggam tangan berjalan beriringan.


Apa alasan Guskov tak pernah mau diajak ke Mall yang di dekat rumahnya. Karena menyembunyikan pernikahannya?


Pantas acap kali akan menyentuh KTP nya, Guskov beralasan wajahnya cupu di foto, ternyata menyembunyikan status?


"Apa kamu tak berniat mengunjungi bibi mu?" tanya Guskov ketika sudah mengemudi lima belas menit di jam sembilan malam, ingin sekali melihat Nadia lebih lama, setiap bertemu di toko hanya 15 menit, itupun rasanya satu menit.


"Aku selalu menelpon bibi setiap dua hari sekali." Nadia menatap ke luar jendela pada rumah-rumah penduduk. Dia sudah sangat menjaga hatinya, tetapi baru saja berkendara dengan Guskov itu sudah mampu menghangatkan hatinya kembali, di kala trauma dengan kebohongan Guskov. Sakit dirasa, perih, sangat perih setiap mengingatnya.


"Aku tak memiliki siapapun dalam hidupku, Nadia. Mau kah kamu satu-satunya yang mengisi hidupku?"


Sakit dibohongi itu tak pernah hilang, terlebih adalah suami dari bibi sendiri, sakitnya double, tidak bisa membayangkan jika dia di posisi Bibi Milan.


Namun, dia menganggumi Guskov, entah apa yang dikagumi, sampai sekarangpun masih diam-diam mengaggumi, seolah tidak ada cacat meski pria itu telah membohongi dan menyakitinya. Sebenarnya dia ingin lebih lama memilki waktu bersama Guskov, walau dia selalu menghindari bersitatap Guskov, tetapi dia sangat merasa aman dan nyaman dengannya. Dan gelisah bila sehari atau seminggu tak tahu kabarnya, seringkali bibi telepon dengan menceritakan aktifitas Guskov, jadi tanpa bertanya pun dia akan tahu soal paman.


Nadia merutukki diri masih menyimpan foto Guskov, untuk sekadar mengikis kesakitan dan dilemanya.


"Nadia."

__ADS_1


"Hm ... "


"Apa kamu mau pergi menonton, aku sudah beli tiket dua untuk aku dan Milan awalnya, aku ingin sekali menonton tetapi bibi mu tidak mau menonton. Aku tidak bohong, Nadia."


"Ya."


Guskov menoleh ke kiri tak percaya dengan pendengarannya sendiri dan langsung memperlambat kendaraan mengarahkan ke sisi kiri jalan. "Apa yang kau bilang, bisa ulangi, Nad?" Guskov menelan saliva, menjadi gugup saat wanita itu tidak lagi menjawab. Dia bingung Nadia yang terus menoleh ke kiri, apa sebegitu benci wanita itu padanya. "Nadia? apa kamu mau menemaniku menonton?" ulangi Guskov lagi.


"Aku kan sudah bilang, ya." Wajah Nadia menghangat dan makin menoleh ke kiri, 'ini hanya sekali saja bersama pamannya' Hanya ingin duduk bersama setelah enam bulan tak bertemu, mungkin memperbaiki hubungan yang seharusnya, keponakan dan paman. Dunia pasti akan mengutuknya, termasuk bibi karena masa lalu. Tetapi kini dia sudah tidak kuat menahan lebih lama. "Lusa baru libur."


"Bibi, maaf, Nadia tak bisa menahan ini. Nadia hanya ingin duduk bersama dan mendengar cerita paman, ini bukan selingkuh," batin Nadia meremas tangan sendiri.


.


Di tempat Dicky... Milan bolak-balik, dia menggigit jari melirik tes kehamilannya. "OMG. Tuhan, cobaan apalagi ini." Dia tak bisa minta cerai ke Guskov, walau perasaan ke Dicky sudah mulai tumbuh. Milan menelan saliva. "Apa aku harus menutupi ini dari Guskov?"


Pintu berderit terbuka, Milan langsung berjalan mundur dan matanya berputar langsung membuang itu hasil tes bersama bungkusnya di kolong springbed.


"Milan sayang, apa kamu sakit?" Dicky mengecupi rambut wanita itu. Dia sadar dia hanya simpanan, tetapi dia makin terobsesi pada Milan dan cemburu tiap kali wanita itu pulang, walau perempuan itu bilang tak pernah berhubungan dengan suaminya, tetapi siapa percaya, siapa yang tahan dengan tubuh kencang seperti Milan.


Milan menelan saliva, dia harus segera menjalankan kewajiban pada suaminya dan menyamarkan kehamilan ini. "Dicky, aku rasa kita harus menghentikan ini semua." Milan merasakan pelukan dilehernya itu mengendur dan Dicky membaliknya.


"Kenapa! Mil? apa karena Guskov? aku tahu kau tak memiliki cinta padanya Jika kau mencintai dia, kau takkan mungkin datang padaku!" Dicky berbalik badan dengan mengepalkan tangan. "Aku memang belum dewasa, tetapi aku bisa membuatmu bahagia, dan aku akan mencari uang yang banyak untukmu."

__ADS_1


"Ini salah, Dicky. Aku minta ma'af."


"Kau bilang ma'af?" Dicky geleng-geleng kepala, lalu berbalik dan menghempaskan tubuh itu ke tempat tidur yangmana tangannya di samping telinga Milan. "Setelah kau merebut hatiku, dan membuatku sulit tidur setiap kali memikirkan kau satu ranjang dengan Guskov?" Dicky menatap mata itu yang bergetar dan bibir terkatub, dia akan menciumnya tetapi di dorong tangan Milan. Wanita itu merapikan tasnya. "Sekarang kau meninggalkanku?!!! Ck! Ku bilang jangan pergi. " Dicky memegangi tangan Milan tetapi wanita itu tak mau berbicara sampai di parkiran, melihat kepergian mobil Milan, Dicky menendang udara. "Aku takkan melepaskanmu, Milannn!"


__ADS_2