Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 15 : BIBI VAYA


__ADS_3

Langit berwarna abu-abu gelap, ketika Nadia turun dari angkot. Dia menatap kepergian angkot, ini adalah kenikmatan tersendiri yang menyenangkan karena saat turun dari angkot yang beraroma sedikit kecut, begitu turun udara yang lebih segar langsung membelainya.


Setelah menekan Bell, bunyi gembok gerbang pun terdengar dibuka dengan berdecit. Tak sabar dia langsung mengucap salam, melewati security dan langsung berlari. Dia belum menghangatkan masakan untuk Guskov!


Pembantu sedang pulang, hingga dia harus bertugas masak dan bebersih rumah besar, meski menyenangkan itu cukup menguras tenaga. Dulu pembantu ada dua, tetapi sejak pulang dari rumah sakit mereka sudah cuti.


Dalam setiap langkah Nadia sambil berdoa di dalam hati untuk kepulihan kaki Guskov agar bisa berjalan lagi dari kelemahan dua tungkai kakiGuskov, tak sabar mengantar Guskov pada jadwal fisioterapi hari Senin. Nadia acapkali memergoki Guskov sering merintih bila sudah tidak orang.


Percakapan terdengar dari meja makan yang terhalang sekat kayu dengan ukiran berlubang. Terlihat paman sedang berbicara dengan seorang wanita yang memiliki tampilan ebih ekslusife melebihi bibi.


"Kemari, Nad ... ada Vaya kakak dari tante mu." Guskov tersenyum hangat pada Nadia yang diam mematung setelah melewati sekat kayu.


"Itu Nadia yang kamu ceritakan?" tanya Vaya sambil menyibak rambut merah bergelombang yang ke belakang telinga. Dia menatap dengan seksama mulai ujung kaki Nadia- terus naik ke atas dan berakhir mengamati fitur wajah Nadia. Jadi ini orangnya?


Vaya menjauhkan diri sambil mengibaskan tangan untuk menggusah Nadia yang mengajak bersalaman. Bila dilihat dari penampilan gadis ini sesuai apa yang diceritakan, terutama rambut hitam legam yang dikuncir satu. Vaya mengabaikan pada perkenalan singkat Nadia.


"Ya, baguslah harus tahu diri," batin Vaya begitu membaca sorot mata Nadia yang kecewa meski ditutup senyuman tulus.


"Kamu dari luar, kan? bersihkan tanganmu dulu. Apa orang tua angkatmu tak mengajari hal sepele seperti ini? Harusnya begini saja kamu tahu dong."


Guskov memperhatikan Vaya yang menatap Nadia tidak suka hingga Nadia terlihat sungkan dan meminta maaf.

__ADS_1


Guskov menyela, "Kak Vaya, sudah dong." Kemudian Guskov beralih ke Nadia. "Cepat, cuci tangan dan bergabung dengan kami."


"Baik, Paman." Nadia mendongak lagi di depan Vaya. "Maafkan saya, Bibi Vaya."


"Bibi!???" Kepala Vaya terguncang ke belakang. Dia melotot dan ternganga. "Ka-kamu! aku terlihat tua apa. Ya ampun, mulutmu sungguh terlalu ya? panggil saja Kakak! Aku baru 32 dan kau memanggil bibi!? Yang benar saja!!"


Guskov dengan tenang memberi kode, agar Nadia cepat menjauh, dan itu langsung dipatuhi.


"Nadia kan tak tahu, kak. Ayo makan lagi." Guskov juga kembali menusuk potong daging steak, terlihat kakak iparnya dengan enggan melanjutkan.


"Aku jadi kehilangan selera," gumam Vaya. "Jam berapa Milan pulang?"


"Jam 8 dari kantor biasanya. Lalu mampir ke tempat Sela." Guskov meletakkan kedua tangan di samping piring. "Jadi Kak Vaya akan menetap di sini?"


"Nanti aku bicarakan dangan Milan, Ka," Guskov menanggapi dengan senyuman dan geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan makan.


Vaya diam-diam memperhatikan Nadia, terlihat polos dan canggung. Sampai gadis itu mengurusi obat-obat minum Guskov, dan cara membantu Guskov untuk pindah ke kursi. Sampai malam- pada saat mengantar Guskov ke kamar, semua itu tak luput dari pandangan.


"Kak Vaya apa butuh sesuatu?" tanya Nadia dengan sopan ketika sudah membuka pintu kamar. Wanita itu terus mengikuti. Sekarang Vaya langsung masuk ke celah pintu dengan pandangan mata mengitari kamar lantas duduk dengan sangat elegan berkelas dengan dada membusung percaya diri, hingga Nadia dibuat terpesona.


"Duduk. Jam berapa kamu biasanya pulang kuliah?"

__ADS_1


"Jam 3, tapi-" Nadia duduk dan menatap Kekinclongan bersinar muka yang terdapat tahi lalat kecil dibawah mata. Sepulang kuliah, Nadia akan bekerja sampai jam sepuluh malam."


"Ini kamarmu? kenapa buku-bukumu tak ada?" melipat tangan di dada.


"Aku ngekos di belakang kampus." Menyipitkan mata pada kulit licin Vaya. Jika lalat mendarat di sana pasti terpleset. Nadia berkedip pelan dan cemas mulai menghinggapi perasaannya seolah di depannya adalah sosok ibu yang jauh lebih galak dari ibu kandungnya.


"Berapa biaya kosmu perbulan?"


"400 ribu."


"Kenapa ngekos? bukankah Milan memintamu tinggal di sini. Kan bisa kamu tabung uang itu?"


"Soalnya dekat dari kampus, dan sebulan lalu tiap pagi aku bisa jualan bubur di tempat ramai itu." Nadia sesekali tertunduk dan merinding seperti di interogasi.


"Oke. Besok kan minggu, bantu saya belanja, ya." Vaya langsung berlalu meninggalkan Nadia sebelum Nadia sempat menjawab.


*


Keesokannya, Nadia menemani Vaya berbelanja hingga tangannya sudah ada sepuluh tas belanjaan barang-barang mahal yang berat, tetapi tante ini sepertinya belum berniat mengakhiri perburuan.


"Hei kamu coba ini, mungkin cocok dipakai kamu." Vaya menjatuhkan short dress berenda hijau, ke dada Nadia.

__ADS_1


"Tapi kak- ini mahal! aku tak punya uang," kata Nadia tergagap.


"Sudah cepat! kita nggak punya waktu untuk mendengar cicitan mu."


__ADS_2