
"Hum, kamu ada apa sih?" Nadia menyipitkan mata dan meneliti di bola mata Ernest, kanan-kiri bergantian dengan jantung mulai berdebar dan sedikit menahan nafas. "Kamu bikin takut aku aja sih, ada apa?"
Ernest tersenyum sambil mengacak pucuk rambut Nadia. Dia merasa kasian atas kelelahan Nadia, sehingga. mengurungkan untuk memberitahu. "Cepat masuk, gih. Tidur sana sudah malam."
"Hati-hati di jalan." Nadia menunggu Ernest memakai helm dan pergi bersama motor Ducatti sport merahnya.
"Lelahnya, Ya, Tuhan." Nadia masuk ke dalam rumah, di lihatnya bunga lili di meja, dia memfoto dan mengirimnya pada Ernest, dan mengirim chat: 'Sayang bila dibuang, untuk ku ya!'
Bunyi kunci diputar, dan pintu kamar pamannya terbuka dengan berderit. Nadia menoleh dan langsung menjatuhkan bunganya tetapi sepertinya kepergok. "Paman, belum tidur?" jantung Nadia mulai berdebar sekaligus takut saat kursi roda mendekat, dia kini menjadi panik tiap kali harus berduaan dengan pamannya.
Pertanyaan selalu muncul dalam benak Nadia, apa pamannya benar-benar tak sadar saat melakukan hal tercela padanya, atau paman sebenarnya berbohong?
"Nad, kamu baru pulang?" Guskov mendapati wanita itu mengangguk. "Duduklah biar aku pijat kakimu."
"Tidak, Paman." Nadia menggeleng cepat-cepat, berduaan saja baginya mengerikan, apalagi bila paman menyentuhnya. "Nadia, mau tidur. Selamat malam-"
Tangan Nadia tertangkap Guskov, seketika dingin menjalar tubuh Nadia dan matanya membesar, "lepas, Guskov. Jangan membuatku takut."
"Apa kamu menuduhku berbuat hal aneh?" Guskov menekuk bibir dengan sorot mata perak tak bercahaya, dia melonggarkan genggaman dan Nadia menarik tangannya. "Aku bertanya apa kamu sudah minum pil KB?"
"Apa pil-" suara Nadia tercekat, "Pil apa?" Nadia mengulangi, dia tidak mengerti soal ini.
Guskov mengelus rahangngya. "Itu pencegah kehamilan. Apa boleh, kau jangan meminumnya?"
"Apa-" Nadia mengusap matanya dengan jantung berdebar, dia harus bertanya soal ini pada siapa, mungkin Shelin. "Aku akan meminumnya. Aku tidak berniat memiliki bayi dengan Paman."
"Nad, ku mohon. Jangan kau minum. Aku akan bertanggung jawab pada bayinya jika sampai kamu hamil. Lagipula sebentar lagi kelulusanmu."
Nadia menggeleng cepat-cepat, jika fia sampai hamil itu hanya menjelaskan tentang perselingkuhannya bahwa dia benar telah mengkhianati Bibi. "Aku mau tidur, Paman. Malam."
"Aku akan menikahimu dan bertanggung jawab, Nadia."
"Dan aku tidak mau menikah dengan Paman, apalagi meminta Paman untuk bertanggung jawab. Nadia tidak akan membuat itu terjadi," kata Nadia getir tanpa menoleh dan berjalan lebih cepat ke arah tangga.
*
Jam tiga pagi, Nadia telah bangun. Dia duduk di tempat tidur bersila dengan mata terpejam mengumpulkan nyawa dan kedua tangan terkepal dengan kuat dan penuh tenaga.
"Aku cantik dan kuat. Aku hebat dan bisa melalui hari ini. Aku lebih hebat dari apa yang ku bayangkan. Aku bisa menggapai mimpiku. Aku bahagia diberi kesehatan. Aku sekarang sedang bahagia. Aku Bahagia dengan apa adanya. Aku kuat. Aku kuat. Aku kuat. Aku luar biasa. Aku akan mampu melampaui semua kesulitanku. Aku bisa. Aku Bisa dan semangatku menggelora maksimal. Nadia Bisa!"
__ADS_1
Tangan Nadia makin terkepal hingga dirinya terasa seperti terbakar dan wajahnya panas, dia membuka mata.
"Hidup untuk bernafas." Berulangkali Nadia menarik udara 4 detik dan menghembuskan lima detik, merasakan udara hangat di kamar. "Semangat!"
Beberapa menit kemudian peperangan di dapur saat membuat bubur dan kuahnya. Semua siap jam lima pagi. Nadia selesai mandi dan mulai bercokol dengan sekripsinya di ruang tamu.
Kemudian paman keluar dari pintu jam setengah enam dan Nadia bertatapan sebentar. Nadia bangkit dari lantai dan merebus air hangat untuk mandi Guskov.
Dengan senyuman hangat Nadia menyuguhkan kopi susu saat pamannya mengecek laptopnya.
Nadia kembali duduk di depan laptopnya, waktu berlalu Nadia makin kesusahan mengontrol debaran jantungnya hingga lehernya sangat kaku karena dipaksa untuk tidak menoleh, dan akhirnya tak tahan, dia menoleh dengan wajah menghangat karena menahan malu hingga dia tak dapat menahan senyum dan salah tingkah. "Paman, jangan terus melihatku. Kenapa tidak menonton berita saja?"
"Nanti temanku ke sini, namanya Jerry. Aku ingin mengenalkannya padamu." Guskov menatap mata coklat berbinar dan pipi itu sangat merah hingga Nadia hanya menjawab 'Hm' lalu kembali menatap laptop dengan sering menyibak rambut di pipi ke belakang telinga. Cara tatapan Nadia yang terlihat berusaha fokus pada laptop, sangat cantik, dan segar, membuat jantung Guskov tak berdaya, hingga otaknya selalu melayang jauh bila dia memperistri Nadia.
"Apa mimpiku itu sebenarnya adalah hal nyata saat aku benar-benar menyentuh Nadia? bodoh sekali aku, kenapa saat itu harus mabuk, jika aku tidak mabuk, mungkin aku akan tahu jika Nadia berjalan memasuki kamarku," batin Guskov masih sulit mempercayai kejadian luar biasa itu, tetapi dia kini harus kehilangan Milan.
Dan pertanyaan sulit terus muncul dalam benaknya akan siapa yang menjadi prioritasnya sekarang, itu sangat sulit karena dia tidak yakin dengan hati dan pikirannya yang kabur. Milan atau Nadia? tidak mungkin dua-duanya.
Nadia menoleh, "mengenalkan aku sebagai keponakan?" Menyipitkan mata, takut dipermalukan lagi.
"Nadia, aku berharap padamu bahwa kamu akan menerimaku. Mas Joko besok datang dan tanpa kamu bisa mengelak itu tetap terjadi."
"Dan apa?" Guskov menunggu dengan hati sesak gelisah pada Nadia yang tidak menjawab. "Dan setelah itu kita akan menikah?"
Guskov dan Nadia bersitatap selama 29 detik. Guskov meyakini dan berharap Nadia tak menolaknya.
"Beri aku waktu dua tahun, Paman. Saat itu mungkin kita tahu jawabannya." Nadia yakin perasaannya saat itu berubah, dia berharap ini hanya cinta sesaat, dia tidak mau membuat malu nama ayah-ibu pada setiap pertemuan keluarga besar, yang dimana nama Keluarga Bramansyah sangat diagung-agungkan.
Nadia tidak pernah berkumpul dengan keluarga besar, sejak kuliah dia baru mulai hidup bersama keluarga kandungnya itu pun sesaat saat liburan sebelum masuk kuliah. Namun, orangtua kandungnya tak pernah berhenti berbicara soal kehebatan keluarga Bramansyah.
Guskov tersenyum dan menyesap kopinya. Dia merasa lebih bersemangat, itu artinya Nadia tidak menolaknya.
Nadia pergi ke dapur dan mematikan kompor. Dia mememasukan kursi plastik untuk paman mandi dan air hangat telah siap di ember. Dia terlonjak dan langsung mundur ke belakang saat pamannya di depan kamar mandi debaran jantungnya kian kuat, rasa malunya karena jijik merasa kotor kembali menghantui. "Tunggu."
Guskov yang akan melihat Nadia juga tersentak karena ekspresi keterkejutan Nadia, entah apa yang dipikirkan wanita itu, dia menjadi ketakutan sendiri. Takut bila Nadia makin menjauhinya.
Nadia lewat ketika Guskov mundur dan langsung mengelus dadanya sambil berjalan menjauh. Sampai kapan dia akan tersiksa seperti ini.
Gadis dengan piyama tidur satin berlengan pedek, baru saja duduk dan memakan onde-onde yang telah digoreng, sebuah mobil berhenti di depan.
__ADS_1
Nadia membuka pintu dan tampak pria seumuran Guskov turun dan celingak-celinguk. "Permisi. Benar, mas Jerry, kan?" Nadia mengamati langkah penuh semangat dan percaya diri itu.
"Yah, ya, Nadia. Saat di rumah sakit, kamu belum sempat melihatku, karena aku harus ke Singapore. Eh kamu makin cantik aja." Jerry bersalaman dan tersenyum hangat pada Nadia, pantas Guskov tak dapat berpaling. Dia dipersilahkan duduk di kursi bantalannya keras dan diliriknya banyak buku di meja dan laptop dengan lembar kerja word terbuka.
"Paman sedang mandi, tunggu ya, mas." Nadia menyuguhkan kopi dan membereskan buku-bukunya.
Jefry mengamati seksama gadis di depannya, selama ini hanya melihatnya di foto setiap kali Guskov panjang x lebar. "Eh teruskan saja, aku jadi mengganggumu?"
"Tidak, saya sudah selesai dan waktunya jualan." Nadia mematikan laptopnya dan tampak jari-jari Jerŕry terus menabuh paha sambil bersenandung membuat Nadia geli.
"Tertawa saja, Nadia. Gratis dan tidak ada yang menyuruhmu membayar."
Dan Nadia tertawa ringan. "Apa mas Jerry teman kantornya Paman?"
"Bukan, aku hanya penanam modal, 70 persen modalnya milikku." Jerry tertawa bangga. "Eh, kamu memanggilku 'Mas' kenapa memanggil temanku 'Paman' apa kamu tak bermaksud memanghilnya Guskov dengan panggilan 'Masssss'. " Kata mas Jerry dilemah gemulaikan membuat Nadia tertawa.
"Nadia, menurutmu Guskov gimana, apa dia menarik?"
"Maksudnya menarik?" Nadia menyipitkan mata dan bola matanya memutar ke atas sambil mencerna. "Paman memang menawan, kan?"
"Lalu apa lagi, apa dia cocok jadi pasangan idaman?"
Senyum Nadia langsung pudar. Jika bukan karena paman selingkuh, semuanya sempurna. Jika bukan karena pamannya membohongi dengan status single pasti semua adalah keindahan dan kekaguman.
"Jerry! kamu pagi sekali?" Guskov yang masih menghanduki wajah, melirik Nadia yang memasukan laptop ke dalam tas.
"AH Iya, kenapa mandimu cepat sekali, aku jadi tidak punya waktu untuk berbicara dengan Nadia?" ujar Jerry santai pada Guskov, tetapi matanya bersitatap dengan Nadia, solah-olah mata coklat-susu itu menyembunyikan sesuatu.
"Sebentar."Guskov lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Nadia, apa kamu tak bisa jujur tentang perasaanmu pada temanku? Aku tahu semuanya dan Guskov sering bercerita banyak soal kamu. Itu sejak pertemuan pertama kalian." Jerry tersenyum hangat pada mata Nadia yang membesar sesaat.
"Jika kamu tidak jujur, kamu akan menyesal, Nadia. Mungkin aku akan membuat Pamanmu bekerja di luar negeri dan kau tidak bisa menemuinya lagi." Jerry mendapati mata Nadia yang berubah semakin tak bersinar dan bibirnya makin tertekuk dengan menggigit bibir bawah.
"Kamu tahu, Nadia. Guskov cerdas, tampan, banyak perempuan akan megejarnya setelah bercerai dengan Milan. Dan saat di luar negeri kita takkan tahu apa yang terjadi, kan? Bagaimana jika perasaan Guskov beralih pada gadis muda lainnya?"
"Permisi, mas," lirihnya dengan suara tak bernyawa. Nadia begitu merasakan kegetiran yang baru merasuk ke dalam dadanya. Dia mememeluk laptopnya, tanpa sadar mengikuti tatapan Jerry yang melirik tangan Nadia yang sudah meremas laptop.
"Nah, akui saja kamu cemburu." Jerry menegaskan pada saat Nadia akan pergi ke dalam.
__ADS_1
Nadia melangkah dengan hati seolah jatuh ke bumi, dia bersitatap dalam dengan Pamannya saat berpapasan. "Apa Pamannya benar-benar akan ke luar negeri seperti apa kata Jerry? dan apa dia akan melupakanku," batin Nadia dengan hati bergetar, menahan marah tanpa sadar menggigit pipi bagian dalam hingga rasa besi karena darah menyelimuti lidahnya. Kenapa bisa ...