Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 6 : KOS DI RUMAH SHELIN


__ADS_3

Hati terasa panas dan mata Guskov berkaca-kaca. Dia menatap kepergian Nadia yang membungkuk untuk memasuki mobil Xenia hitam. Sakit hati saat melirik tajam ke punggung Ernes yang sedang memegangi dan hendak menutup pintu mobil. Guskov menduga bila pemuda itu sedang kegirangan karena membawa Nadia.


“Jangan pergi, Nad." Tangan mencengkeram pagar besi di balkon lantai dua, sampai buku-buku jari memutih, dadanya terasa tertekan. "Mengapa kau menghianatiku? sebenarnya apa yang kau lakukan??" Guskov terus dibombardir oleh pertanyaan buruk dalam selang-selang otak yang makin kusut.


"Maafkan aku. Please .... Ayo lihat aku, lihat aku, dan aku akan menghentikanmu." Guskov menunggu dengan penuh harap tetapi pintu itu tertutup dan sampai meninggalkan halaman, Guskov geleng-geleng kepala, tak menyangka Nadia yang dulu sangat perhatian pada setiap keluhan justru meninggalkannya. Hati mengkerut dan bergetar.


Pagar besi yang tak bersalah berulangkali ditendang kuat-kuat dan nafasnya tersengal, memukul kepala sendiri, kemarahannya mengaburkan sakit fisik saat panas lebih dominon membakar sampai ke ubun-ubun.


"Nad, kamu tega sekali, hi! memang setahun tidak ada artinya untukmu?! cintamu bohong, aku yang kehujanan menyusul dan masuk ke dalam toko. Lalu kau menghanduki wajahku dengan tangan hangatmu yang bergetar, kau melupakan itu semua, mana janjimu akan setia berdiri di sampingku!!" Guskov mendesah membanting kursi besi hingga mengenai pintu kaca balkon yang kini bergetar.


Dan Guskov dengan loyo berlutut, menatap lekat-lekat lantai marmer putih, seolah lantai itu sedang mempertontonkan hangatnya pelukan Nadia yang membayang-mbayangi saat dia menggendong gadis mungil di perutnya yangmana wanita itu sedang mencium kening dengan tangan bertumpu pada dua bahu, tertawa bersama di kebun teh yang cuacanya makin dingin di sore hari saat liburan seharian di wonosobo tanpa mempedulikan fisik yang sama-sama lelah. Dimana saat pulang dari sana ketika dia mengemudi lalu Nadia menyuapinya carica, setelah malam tidur bersama di dalam mobil di pombesin. Saat itu dia berniat menyewa hotel, tetapi Nadia langsung menolak, padahal dia akan menyewa dua kamar dan takkan berani mengganggu, hanya kasian melihat Nadia yang tidur ternganga yang bernafas dari mulut dan sedikit mengorok.


Guskov tersadar dari lamunan dan tersenyum kecut.


.


Milan masih berdiri di depan pintu lantai satu, tangan kiri mencengkeram perut di bawah dada, dan menggigit kuku jempol kanan. Tak bisa menghentikan Nadia dan hidungnya makin berkerut tidak menyangka bila yang terjadi tak semudah kelihatannya yang pada awal mula berjalan mulus.


Padahal dia sudah ingin melanjutkan kuliah seni musiknya di Royal College of Music , London. Dia harus segera mendapat tanda tangan pengalihan aset bisnis keluarganya, atau .... ?


Milan mende..sah putus asa tak meneruskan pikirannya, dia tidak mundur satu tahun lebih lama. “Bagaimana caraku mendekatkan Nadia dengan Guskov, sepertinya rencana ku gagal.”


.


Ernes mulai melambatkan laju kendaraan, sejak melewati dua persimpangan lampu merah dari rumah Guskov. Dia meyakini Nadia tak mau melihat rumah itu lagi. Guskov melirik gelisah pada Nadia yang membungkuk yangmana wajah itu tertutupi kedua tangan. “Nadia, maaf ini gara-gara aku.”


“Sudahlah, tak usah di bahas.”


Setengah jam kemudian ... Guskov memarkirkan mobil di depan rumah lantai dua, yang tepat di belakang kampus.

__ADS_1


"Taraaa!!!" Shelin menunjuk ke kamar di sebelah kamarnya dengan telapak tangan menghadap atas. “Aku sudah membersihkannya sendiri loh.”


“Terimakasih, Shelin, aku merepotkanmu.” Nadia dengan canggung menatap perempuan tomboi yang ceria.  Baru saja kenal tadi siang, tetapi sia susah merasa sangat dekat. Nadia berharap ke depan bisa berteman baik tanpa ada masalah.


Nadia melirik tatapan bersalah di mata Ernest, Nadia yang sempat bertanya mengenai apa yang dikatakan Ernest pada Guskov.


“Tumben rajin, Shel,” cibir Ernest yang berdiri di belakang Nadia.


Nadia merebut dua tas jinjing miliknya ditangan Ernest dan Ernest tak mengijinkan.


“Aku kan memang rajin, dasar! Jangan dengerin dia, Nad.” Shelin berjalan menjauh. “Kalau sudah, cepat turun, ya. Baksonya keburu dingin.”


Ernes melirik Nadia yang baru meletakan tas. Dia kembali ingat percakapan telepon dengan Nadia, walau wanita itu tak terus terang tetapi suara Nadia terdengar kesal, hingga Ernest memaksa Nadia menceritakan semua.


Ernes sampai meminjam mobil untuk membawa Nadia ke rumah Shelin yang dikontrakkan, awalnya Nadia menolak dibantu, tetapi Ernes menekannya sebagai permintaan maaf dan jam 8 malam dia sudah sampai di halaman rumah Guskov yang terang oleh lampu putih. Ernes yang sempat melirik saat pria tua itu melihatnya dari balkon lantai dua.


*


Siang itu Nadia mengusap kening putus asa. Dia menatap laptonya dan menggigit bibir bawah dengan getir, setelah mendengar penuturan petugas konter.


Petugas menjelaskan biaya perbaikan yang senilai nominal harga laptop baru.


Masnya itu menyarankan untuk beli bekas, karena percuma jika diperbaiki.


Ernes yang masih berdiri mendengar itu memijit kening, risih mendapati kebingungan dari tatapan Nadia yang me..remas tangan di pangkuan. Ingin Ernes membantunya, tetapi uangnya harus dipakai modal menggaji dua teman yang membantunya membuat aplikasi permainan untuk sebuah perusahaan besar.


Ernes memiliki laptop dua, ya, nanti dia perlu membujuk Nadia untuk memakai laptop miliknya.


Di sudut jalan, Guskov membuat gerakkan tangan sampai bunyi ‘kruk’kruk’ di depan stir. Dia menatap kepergian Nadia yang membonceng Ernes.

__ADS_1


Guskov turun dari mobil lantas mendatangi konter untuk bertanya


“Apa kamu memiliki nomornya?” tanya Guskov setelah mendengar penuturan pemuda itu. “Kau hubungi dia, bilang jika tokomu memberi diskon 75 persen untuk perbaikan dengan catatan asal Nadia mempromosikan tokomu. Aku akan membayar sisanya, dan rahasiakan ini.”


Guskov mengeluarkan ATM dan menaruh di etalase kaca, “proses sekarang, dan usahakan secepatnya.”


“Apa anda pacarnya?” Petugas konter tersenyum malu-malu pada dinginnya netra Hazen yang terlihat gelisah dan terus melirik jam tangan. Petugas mendorong mesin debit dan mempersilahkan dengan tangan untuk meminta pin, “anda begitu perhatian dan penyayang. Beruntung sekali Nadia.”


Guskov pergi meninggalkan konter dan menelpon Milan tetapi istrinya tak menjawab dan masih marah karena dia tak mencegah Nadia pergi.


.


Nadia tersenyum sumringah malam itu, menatap laptop berharga di depannya. Meski semua data telah hilang. Dia sudah mempromosikan gencar toko iti dan mengirim buktinya ke konter langganan yang sudah tiga kali ini memperbaiki laptop di sana.


Segera Nadia mengetik ulang tugas kelompok bersama Sera yang tertunda, untuk dia masih ingat di luar kepala. Semoga sahabatnya itu takkan marah lagi. Nadia mengerjakan itu sampai jam empat pagi, matanya sudah kiyip-kiyip, pagi ini harus dikumpulkan.


“Baik banged yang punya konter, tabungan ku aman masih utuh dua juat.” Nadia mengembus nafas lega, tabungannya nyaris raip dan terancam tidak bisa membayar sewa kos di tempat Shelin. Harga sewa memang mahal, tetapi letaknya di belakang kampus, dia hanya perlu jalan kaki untuk kuliah.


 Bibirnya tersungging penuh karena diberi ijin Shelin untuk jualan bubur di pagi hari di depan rumah. “Untung di depan banyak lewat anak-anak kampus.”


Nadi terbangun dari tidurnya, dia mengangkat kepala dari meja, meraba tikar pada dering ponsel. Matanya menyipit jam enam pagi, dia melirik nomor ayah kandung, tumben telepon.


Dengan setengah nyawa dan menguap, Nadia menempelkan ponsel ke telinga dengan malas. "Assalamualaikum, ayah ..."


Ayahnya menjawab salam dengan suara lemah lembut. Tetapi detik berikutnya nada kegeraman muncul dati balik telepon dan mata Nadia yang semula masih berat seperti di lem langsung membulat. Dia mendengar ocehan ayah sambil mengecek isi tugas di laptop.


"Ayah!" Nadi menghela nafas kasar, tetapi ayahnya kembali membentak dan menegur nada suara tak sopan Nadia. "Maafin Nadia ayah, tapi Paman Guskov -"


Kepala Nadia terguncang ke belakang karena titah ayahnya yang memotong kalimatnya yang belum selesai. Dada Nadia terasa panas dan tangannya yang akan menusuk tombol off langsung me..remas dan mengepal kuat dalam kegetiran.

__ADS_1


__ADS_2