
Hari berganti hari, lalu bulan, dan ini memasuki tahun ke dua. Nadia menunggu di gerbang kampus dan mobil hitam menepi.
Ya, Nadia mendapat beasiswa dari sebuah perusahaan untuk program magister (S2) Ekonomi di Singapura.
Nadia masuk ke mobil milik Ernest dan meletakkan tasnya di belakang. Mereka memiliki tiket konser musik gratis dari Reno, dan dua orang itu hampir terlambat.
Ernest tersenyum dan mulai melajukan kendaraan. "Reno akan menyusul."
"Huh? Apa dia mengajak pacarnya?"
"Yup!"
"Mengapa seperti double date?" Nadia menyipitkan mata dan Ernest tertawa ringan dengan meraup wajah Nadia dengan tangannya.
"Tanganmu bau."
"Bau kentutku."
"Jorok kamu ih!" Nadia menutup hidungnya dan jendela sedikit di turunkan. Nadia meraih parfum dari Dashboard dan menyemprotkan ke bawah terutama pada perut Ernest, pria itu masih tertawa geli sampai setengah perjalanan terus mendapat omelan dari Nadia.
"Kemarin aku beli makanan di luar, entah pencernaan eror, ini baru kentut setelah begah semalaman."
"Pantas. Ingat ya, Er, setelah ini aku trauma masuk mobilmu," ketus Nadia dan menatap jalanan. Dia teringat Guskov yang tidak ada kabar.
Seperti apa yang ibu katakan, jangan menaruh harapan pada hati manusia, dan itu berlaku sekarang.
Sepulang dari konser Mereka berempat ke rumah Ernest.
Walau Reno di falkultas yang berbeda, tetapi pria itu sangat dekat dengan Enrest. Itu sudah sejak kepergian Guskov saat di rumah Shelin.
Ernest yang sudah empat kali pacaran sejak ke Singapura dan sekarang jomblo.
Sementara, Reno sering bergonta-ganti pacar. Ini rekor terlama dengan Dhita yang sampai tiga bulan.
Sedangkan Nadia sendiri fokus pada kuliahnya. Dia masih berharap bisa bertemu Guskov suatu saat.
Dengan malas Nadia memandangi kemesraan Reno dan Dhita.
"Fu..ck! Kalau mau ciuman, jangan pamer, menyingkir dari depan TV!" Lalu Ernest menarik bantal sofa, itu bantal terakhir yang berada di perut Nadia dan melemparkannya tetapi ditangkap Reno. Dan Dita mengacungkan jari tengah dengan semakin memamerkan pagutannya.
Ernest menatap Nadia yang menatap ponsel, tetapi wajah itu memerah. "Apa kamu tidak pernah seperti mereka?" Ernest terkekeh dan Nadia tidak menanggapi.
"Nggak usah pura-pura lihat hp," kata Ernest karena Nadia menggulirkan layar ke atas ke bawah berulangkali.
"Ayo." Ernest menarik tangan kanan Nadia yang masih memegang hp, dan sedikit berlari sampai Nadia ikut berlari.
__ADS_1
"Mau kemana aku sedang malas."
Nadia mulai melangkah lebih pelan saat Ernest sudah tidak menariknya di atap. "Kenapa membawaku kemari?" Nadia menyipitkan mata saat Ernest menaiki genteng.
"Kemari, ini aman."
Dengan tuntunan Ernest, Nadia berjalan dengan hati-hati ditengah angin yang berhembus menyapu rambut sepunggungnya.
Ketika berhenti Ernest memegangi kedua tangan Nadia, saat perempuan itu melihat kerlap-kerlip gedung-gedung pencakar langit di kejauhan dan bintang-bintang di atas.
Nadia duduk dengan hati-hati di puncak genteng dan masih mencengkeram bahu Ernest dengan gemetar.
"Ini tempat favoritku, setiap aku kesal pada abangku, aku bersembunyi di sini malam-malam."
Nadia tersenyum dan ia pikir semua orang akan menyukai tempat ini, hanya saja ini berbahaya, dia takut terpeleset.
Ernest menatap Nadia yang mengadah pada langit. "Hei, Nadia Adelia."
"Hm?" Alis Nadia terangkat
"Maukah kamu jadi pacarku,
"Apa ... Hahaha tidak perlu bercanda, Er?"
"Aku serius Nadia. Aku suka kamu."
"Ya, omong kosong," balas Ernest dan kembali menatap bintang-bintang.
"Kamu membuat situasi jadi aneh, aku juga perempuan, Er."
"Aku juga laki-laki, Nad."
Nadia tertawa geli dan diikuti tawa Ernest.
"Sumpah aku serius, aku suka dengan kamu, Nadia Adelia. Mungkin sejak aku ke toko pertama kali? saat kamu membungkuk seperti anak kecil di depan toko."
Nadia tertawa garing sekaligus malu, dan melirik Ernest. "Kamu masih ingat saat itu. Kupikir kamu sudah lupa. Dan mengapa kamu meninggalkan dompetmu saat itu?"
"Itu adikku habis tawuran, dan bila sampai Papa dengar, aku yang kena omel. Dan tanpa pikir panjang aku menjemputnya, kamu tahu sendiri Papa bawelnya seperti apa, kan."
"Lagian Arya hobinya tawuran aampai sekarang. Eh, dua bulan lagi kita pulang Indo. Rasanya tidak sabar bertemu mereka semua, apalagi Shelin, dia sekarang sudah sangat berubah, cantik dengan rambut panjangnya." Nadia tersenyum penuh arti.
"Maukah kamu jadi pacarku, Nad?"
Nadia menggelengkan kepala dan hatinya tercubit karena dia jadi mengingat Guskov.
__ADS_1
"Kamu tukang tidur, yang ada kalau ngedate sama kamu, isinya tidur. Kamu nggak ingat setiap nonton, yang lain histeris, kamu mah malah ngorok. Hahaha."
"Aku benar-benar serius, Nadia Adelia, Aku serius," kata Ernest dengan mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celana panjang, pria itu memegangi benda kecil yang tiba-tiba menyala kelap kelip biru putih, dan memberikannya.
"Ini gantungan putri duyung." Nadia dengan mata berbinar dan senyuman lebar. "Ah kesukaanku, putri duyung."
"Itu flashdish." Ernest tanpa sengaja menyentuh tangan Nadia dan saling bersitatap, Nadia tiba-tiba canggung dan kembali menatap bandul di sisi lain, yang tertulis 'Ti voglio bene' di bawahnya ada tulisan lain 'Nadia A'.
"Apa ini?" Kening Nadia semakin berkerut. "Apa ini namaku?"
"Ini bahasa Italia, yang artinya 'aku sayang kamu' "
"Tentu, kita adalah sahabat yang saling menyayangi, Er."
"Tidak, Nadia. Bukan sahabat. Aku menyayangi mu, aku suka kamu, aku mengagumi mu."
"Ah kamu ngefans."
Ernest dapat mendengar jantungnya yang berdebar. "Aku mencintaimu dan berharap menjadi kekasihmu."
Nadia makin ternganga dan Ernest menekan tombol di bandul, tutupnya itu terbuka dan tampak sebuah colokan usb.
"Jangan Kaget, Nadia. Di dalam banyak foto-foto selama kita berpergian bersama dan di situ terdapat rincian tanggal. Beberapa foto juga berasal dari orang suruhan Papa Dawan yang memata-mataiku. Semua ada foto kita selama dua tahun lebih. Dan ini sangat berati unyuk ku, aku juga tidak memiliki salinan di tempat lain, karena semua ku kumpulkan di sini."
"Tetapi aku menunggu Guskov, kamu tahu, kan. Selama ini kamu menjadi tempat berbagi semua ceritaku, karena kupikir kamu takkan seperti ini." Nadia masih tercengang dengan hati berdebar sekaligus malu, dia menjadi begitu malu saat pria itu memintanya menjadi seorang kekasih.
"Guskov tidak pernah datang, padahal tahu kamu di sini. Dia mengirim pesan hanya beberapa bulan awal kepergiannya. Ku pikir dia berniat melupakanmu. Dia kembali hidup sesuai keinginannya, mungkin memiliki pacar baru.
Seharusnya matamu terbuka lebar-lebar. Jika dia tahu kamu kuliah di di sini, seharusnya dari awal sesibuk-sibuknya dia bisa menemui kamu, tetapi apa ini?
Sampai sekarang bahkan kamu tidak tahu di mana kantornya? Jelas, dia tidak serius dengan kamu."
Nadia menggeleng dengan lemah, "aku yakin Guskov hanya sibuk," mengi Nadia dengan hati merasakan begitu sakit.
"Apa mungkin kata-kata Ernest benar? Ya, pasti Guskov memiliki pacar, di sini banyak perempuan cantik, bahkan nomor Guskov tidak aktif lagi," batin Nadia dengan meremas pahanya dimana dadanya begitu terbakar.
"Nadia, jadilah kekasihku." Ernest dengan penuh harap saat Nadia menatapnya dengan tatapan tidak bisa di tebak.
*
Di tempat lain, Guskov melirik jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Dia bergegas kembali ke kediamannya, di mana kini ada ayah kandungnya yang telah tinggal setahunan lebih di Mansionnya.
Ayahnya yang keras kepala dan pengatur, sangat menyebalkan, tetapi pria itu mengalami dimensia, yang begitu membuat hari-harinya makin sibuk.
__ADS_1
Karena bagaimanapun pria itu adalah tetap ayahnya yang harus diperhatikan.
Namun, ayahnya membawa anak tiri, dan wanita ini sangat tidak dia sukai, tetapi ayahnya begitu menyayangi gadis ini.