Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 11 : BIOSKOP


__ADS_3

"Sebenarnya, aku sudah memutari semua tempat untuk membeli tiket dan online juga, tapi di semua bioskop sudah habis terpesan untuk hari ini."


Nadia mengukir senyuman getir, di dalam relung hati bergetar. Sudah sekian kali, ini masih kembali menyakitkan. Tidak. Dia bertekad harus senang, melihat perjuangan pamanya untuk membahagiakan Bibi Milan. "Paman tenang, aku akan mengambil tiketnya. Sebenarnya, aku ada tugas kelompok malam ini di tempat teman, kebetulan sekali. Jadi, sebetulnya aku juga tak bisa menonton malam ini. Sebentar." Nadia bangkit berusaha untuk tetap tersenyum, dia tak mau Guskov dipenuhi rasa bersalah.


Melewati ruang tamu dan dijumpainya Shelin sedang sibuk dengan ponsel dan earphone, bahkan lagunya sampai terdengar dari luar. "Shelin, Shelin, telingamu bisa rusak kalau begitu," ujarnya dan masuk ke kamar.


Tiket itu diambilnya dari dompet. Hanya tiket. Lagipula masih ada lain waktu. Nadia menyalahkan diri sendiri kenapa harus masih berharap meski hanya menonton bersama.


Di depan rumah diberikannya tiket itu, terlihat jelas mata Guskov yang berbinar dan bibir terus tersenyum. "Semoga sukses untuk kencannya, Paman."


Guskov mengusap pucuk rambut kepala Perempuan yang legowo di depannya, dia bersyukur Nadia bisa mengerti. Hatinya sakit, Guskov berharap Nadia sungguhan tidak marah. "Lusa aku beli tiket untuk gantinya, ya." Guskov tersenyum hangat saat Nadia mengangguk.


Di dalam ruang tamu, Shelin yang tadi pura-pura mendengar lagu, sudah dari awal mendengar percakapan mereka.


"Dasar, mata keranjang, keponakan sendiri di embat. Ah Nadia, kenapa si harus dengerin omongan pria yang bahkan membohongi istrinya dan berselingkuh," batin Shelin kesal.


Acap kali Nadia bercerita soal perasaanya, Shelin bereaksi biasa saja, walau sebenarnya gedek sendiri dengan Nadia, seolah tidak ada pria lain. Misal Ernest bahkan lebih tampan dan berenergi. Atau Reno yang tiap hari membawakan makanan untuk Nadia.


Shelin mengepalkan tangan, sekepergian Guskov, menatap sahabatnya langsung tertunduk berpangku kening, padahal di depan Guskov terlihat baik-baik saja. Shelin jadi ikut merasa sakit. Pada saat yang Sama, Shelin melihat kedatangan Ernest yang berjalan kaki , sepertinya pria itu baru pulang kegiatan volly.


Ernest menyipitkan mata, dan menepuk bahu wanita yang duduk di depan rumah, kepala Nadia terdongak. "Nad, kenapa matamu merah?"


"Uhhh!" Nadia mengucek-ngucek matanya dan dua detik berikutnya jari-jari Nadia di tahan tangan Ernest. "Gatel banged taug."


"Jangan di kucek, aku cari tetes mata dulu. Aku bawakan es campur. Tunggu sini, aku ambil gelas." Ernes langsung ngelonyor ke dalam dan melewati ruang tamu.


"HaaA-AH!!!" Pekik Ernest terkaget ketika mendapati tangannya ditarik oleh orang yang baru muncul di ruangan depan tv, hingga jantungnya berdebar setengah mati. "Begonya, Lu tuh mau nyabut nyawa gua apa, Shel?!"


"Sorry," sahut Shelin di ruangan redup tanpa rasa bersalah, dan menunggu Ernest mengatur nafas berulangkali. "Masih muda udah engap. Payah, pemain volly apa. Yang ada kampus kita langsung kalah kalau ada elu. Eh mau kemana, aku belum selesai bicara." Shelin langsung mengikuti Ernest yang langsung masuk kamarnya tanpa ijin.


"Tetes mata minta sini. Kasian tuh mata Nadia. Temen seperti apa kamu, gak peka banged." Ernest sudah membungkuk di meja rias dan menemukan apa yang dicari. Ketika berbalik mendapati wajah Shelin tertekuk dengan tangan melipat di dada.


"Kenapa lu? PMS?" Ernes yang sudah lewat pintu lalu mundur lagi. "Seriusan napa?"


Shelin duduk di pinggir tempat tidur. Sepoi angin berasal dati jendela terbuka, dimana korden melambai-lambai menghalangi cahaya dari luar yang tak sepenuhnya bisa masuk ke ruangan yang redup dan beraroma coklat.

__ADS_1


"Apa katamu, paman tua memberikan tiket untuk mengajak kencan Nadia, lalu, tiketnya diminta kembali untuk kencan dengan istrinya. Kau becanda ya, Shel?" Ernest tak percaya.


Shelin geleng-geleng, pria di depannya malah tertawa terbahak. "Apa yang lucu da..sar GENTER ( bambu). Tubuh ketinggian tapi otak kaya semut, geble*k."


Ernest lalu terdiam dan wajah berubah tegang. "Serius?" menggeram, "keterlaluan. Kalau gitu sore ini kita jalan-jalan saja. Bener gak, ide gua bagus kan, Shel?"


"Ya! Kita buat Guskov merasakan bagaimana rasanya sakit hati karena dipermainkan, Er!" Shelin dan Ernest langsung tos. Mereka sahabat dari jaman TK, dan seringkali sefrekuensi.


*


Aroma kapuk dan penyegar ruangan menyeruak di ruangan dengan kumpulan kursi merah yang hampir terisi lautan orang.


Guskov duduk di kursi pinggir, dan istrinya di kanan. Dia tidak mengerti kenapa sahabatnya merekomendasi film horor untuk istrinya.


Memang, ini pertama kali dia menonton bersama sang istri. Setelah dadi duku istrinya selalu menolak setiap ajakannya, katanya membuang-buang waktu.


"Mas, aku ingin punya anak, dan kemarin aku periksa ke dokter kebetulan kemarin masa subur aku." Milan mengelus bahu suaminya dan disambut tumpukan tangan sang suami yang penuh kasih sayang.


"Aku sudah sejak lama menginginkan ini, Milan. Semoga Tuhan mendengarkan doa kita. Memang kamu mau punya anak berapa? empat seru, kan." Mata Guskov berbinar dan tangan mengenggam jemari sang istri.


"Jangan mimpi, Guskov," batin Milan bergidik. Milan mengembus nafas pelan membuang sesak ketika lampu mulai meredup, dia harus berakting takut kali ini di depan Guskov selama menonton. Yang benar saja, film horor, memangnya ada orang yang di usia 30 masih menonton seperti ini. Milan berpikir ini sungguh kanak-kanakan.


Mata Guskov mendelik, sebelum lampu redup sepenuhnya, jantung Guskov kian berdebar kencang ketika menjumpai Nadia berjalan berdampingan dengan Ernest. Pria muda itu merangkul bahu Nadia, padahal di sebelahnya juga ada Shelin.


Dada Guskov makin mendidih ketika Nadia duduk di kiri pria itu yang belum juga melepas tangan dari pundak Nadia.


"Kenapa tidak Shelin yang duduk di tengah?" batinnya. Rahang Guskov terasa makin panas, pedih menyelimuti hati dan tangannya mengepal di pangkuan saat mata terus tertuju pada kursi mereka yang deretan kiri, dengan selisih dua baris di depannya.


Guskov tidak terima, Nadia bilang akan belajar kelompok. "Ini yang namanya belajar kelompok?" batin Guskov menjejak kursi di depan tanpa sadar.


"Mas, Mas."


Sebuah tepukan keras dari tangan sang istri menyadarkan Guskov. "Apa?"


"Kau kenapa si? berulang kali ku panggil. Kau melamunin apa?!"

__ADS_1


"Aku tidak melamun." Guskov masih bingung karena merasa diamati orang sekitar dan istrinya meraba ponsel di saku dan sudah merebut ponsel, tapi Guskov langsung meraihnya kembali. "Kenapa, Milan. Ah." Guskov mematikan dering ponsel yang makin keras, di susul gerutuan orang sekitar.


"Aku sudah bilang berulangkali karena ponselmu berisik. Bikin malu aja," kata Milan dengan sinis karena tatapan orang-orang makin membuat moodnya memburuk.


"Maaf, Milan, jangan marah." Guskov mengatur ponsel dalam mode silent, dua panggilan tak terjawab dari kantor. Beruntung ponsel tak diraih istrinya. Dia bahkan belum pernah menghapus chat Nadia sejak awal kenal. Lagipula Milan tidak pernah mengecek ponselnya. Sebaiknya, mulai sekarang dia harus mengunci ponsel dengan kata sandi.


Guskov merangkul bahu istrinya, semetara mata tertuju pada kepala Ernest yang sering melihat ke kiri dan di dorong telapak tangan Nadia, karena Ernest terus melihatnya.


Rahang Guskov mengeras, dadanya begitu sesak dan tak kuat lebih lama. "Milan, apa kita pulang saja?"


"Kenapa? ini baru setengah permainan. Kamu bener-benar gak niat banged ya. Aku sudah dandan capek-capek setengah jam buat kamu, " ketus Milan di telinga Guskov.


"Kita belanja saja, filmnya membosankan."


"Kan, kamu yang pesan, mas, aneh. Yaudah, cepat." Milan sudah tak tahan pada kegiatan buang-buang waktu ini.


Guskov dan Milan berjalan beriringan. Guskov menoleh ke kiri, dia mendapati tatapan terkejut Nadia.


"Ketahuan bohong kamu, Nad," batin Guskov, bibirnya berkedut saat mata bertemu dan langkahnya sempat terhenti. Hatinya makin terbakar pada genggaman tangan Nadia dan Ernest, Guskov beralih pada Ernest yang tadi melihat Nadi dan kini bersitatap dengannya beradu. Guskov siap mengajak gulat, jika bukan ingat akan istrinya yang sedang mencoba memperbaiki hubungan, terakhir Guskov mendapati tatapan Shelin yang juga tajam setengah meremehkan.


"Mas, ada apa?" Milan menepuk-nepuk bahu Guskov dan menariknya.


Nadia mere..mas bibirnya sampai membentuk garis lurus, merasa bersalah karena tatapan tajam Guskov. Namun, juga begitu ngilu mendapati kemesraan mereka. Dia tidak tahu, bahwa akan sesulit ini melupakan Guskov.


Ernest mengelus punggung tangan Nadia yang terus menatap kepergian Guskov ke arah pintu.


Setelah tadi sore, Ernest membayar tiket dengan harga lebih mahal dari temannya, itu pun harus memohon, karena temannya sempat tak mau menjual tiketnya, karena filmya sedang sangat diburu.


Pria muda itu kini merasa bersalah karena Nadia malah jadi lebih murung, walau mata itu terlihat menonton tetapi tatapannya kosong.


Ernest mere..mas tangan Nadia lebih keras, hingga mata Nadia berkedip perlahan dan beralih membalas tatapan Ernest dengan senyuman yang dipaksakan.


Ponsel Nadia bergetar, saat itu dibuka chat dari Guskov :


-Apa belajar kelompok mu, menonton sambil bergandeng tangan?-

__ADS_1


__ADS_2