Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 46 : TAMAT


__ADS_3

...🇸🇬Singapura🇸🇬...


Arya menarik Ernest duduk disampingnya, saat kakaknya (Farhan) menyapa Guskov sambil berdiri. Farhan menggaruk alisnya setelah Guskov memperkenalkan calon istrinya. Farhan tahu walau Ernest tampak diam, tetapi ini jelas sangat menyakiti hati adiknya.


"Kov, perkenalkan dia Ernest, dan Si bungsu Arya. Mereka adiku." Farhan berbicara ringan sambil menunjuk dua adiknya yang duduk. Farhan juga tidak mengira bahwa Nadia yang dilirik adiknya adalah calon istri dari temannya.


Guskov mengobrol ringan seperti biasa ditengah rasa keingintahuannya karena Farhan tidak membawa nama Wijaya. Perusahaan Farhan juga tidak ada sangkut-pautnya dengan keluarga Wijaya. Kebetulan Farhan mengajak Guskov mencari minuman di sudut gedung. Guskov berpaling pada Nadia yang terlihat begitu akrab dengan Arya. "Dik, sebentar, ya .... "


"Sudahlah, tenang saja ada Arya dan Ernest. Mereka teman Nadia, kan," timpal Farhan. Dia melirik Arya dan mendapat anggukan Arya. Ya, kakak dan adik bersekongkol memberi waktu untuk saudaranya dengan Nadia.


Ernest menatap dingin ke Guskov sebelum pria itu pergi. Kemudian adiknya terlihat berdiri. "Mau kemana?" Dia mendapat kedipan sang adik dengan tatapan tengil.


"Aku ke toilet sebentar."


Nadia mengusap telinga, lalu meremas tas di pangkuan. Dia melirik sang sahabat yang tidak kunjung memandang kemari. Mata Ernest itu seolah mengarahkan tatapan beracun pada roti yang tengah dipotong di atas meja. Saat Nadia akan memanggil, tiba-tiba Ernest berpaling ke arahnya. Wajah pria itu tanpa ekspresi membuat Nadia langsung lupa akan segalanya.


Ernest menghentikan potongan, dan melirik sekitar lagi, berharap dia kuat menghadapi Nadia kali ini. Namun, begitu melihat wajah yang selalu menemani hari-harinya di kampus dan begitu membekas dihidupnya. Hatinya pun bergetar. "Selamat."


"A-apa?" Nadia menegakkan punggungnya. Selamat untuk?"


Dua sudut bibir pria itu terangkat, dan hatinya patah. "Selamat sudah bertemu Guskov, Na? Sampai enggak kabar-kabar, ya?"


Dentingan pisau dan piring membuat hati Nadia mengkerut, padahal Ernest sudah memotong roti di piring sampai menjadi bagian terkecil. Sepertinya, pikiran Ernest tampak di tempat lain. Seketika suara kelesuan dan tatapan dingin Ernest mengganggu mood Nadia. "Baru kemarin siang aku bertemu dia, saat aku antar Dhita ke RS."


"Dan itu sudah sehari lebih, tetapi kau tak memberitahuku. Segitu asiknya, ya? Apa semalam kamu tinggal di tempatnya?" Ernest menghela nafas putus asa. Hatinya begitu sakit. Dia menaruh kasar pisau dan garpu di piring, tetapi itu terdengar seperti membanting.


"Er .... " Nadia menatap nanar. Ernest kini meraih tangannya dari meja dan membawa ke kursi. Nadia menarik tangannya, tetapi tertahan. Wanita itu menatap ke sekeliling dan kembali ke sorot mata pria itu tang sangat dingin. "Kamu sudah tahu kan, aku dan Guskov akan menikah. Ma'af aku belum memberitahumu, ini sangat mendadak."


"Dia delapan tahun dibatasmu," cerca Ernest. Sesuatu yang ada di dalam dirinya ingin menangis.


"Apa masalahnya? Banyak di luar sana yang selisihnya sampai 30 tahun, dan hubungan mereka baik-baik saja. Ayah dan Ibuku juga menyetujui. Mereka sedang mempersiapkan semuanya."


"Apa yang kamu lihat dari dia, Nad? Buka matamu, dia pernah berbohong. Bisa saja dia berbohong lagi, lalu selingkuh." Otot-otot di wajah Ernest menegang saat Nadia menarik jemari lentik itu dari genggamannya.


"Bicara mu kok jahat, si? Kamu sahabat aku, Er. Kamu seperti mendoakan seperti itu. Guskov juga tidak seburuk apa yang kamu pikirkan!" Nadia menyipitkan mata dan bibirnya berkedut karena marah, lalu berdiri. "Permisi, aku mau ke toilet."


Ernest menatap kepergian Nadia, lalu melirik sekitar. Dia lantas menyusul kepergian Nadia. Dia tidak ingin melepas sahabatnya yang kini makin tampak dewasa.


Lima belas menit Ernest menunggu, sampai Nadia keluar dari kamar mandi. Pria itu memaksa Nadia ke tempat sepi dan menarik ke dalam ruangan redup. Ernest memunggungi pintu yang tertutup tak mengijinkan Nadia lewat.


Di dalam Hallroom, Guskov mulai merasakan jantungnya yang berdebar tidak karuan. Dia sesak tanpa alasan dan begitu tiba-tiba. Guskov masih memperhatikan Farhan bercerita.


Ternyata, Farhan dan Ernest adalah satu ayah beda ibu. Ibu Farhan meminta cerai karena Kakek Wijaya menentang pernikahan mereka. Kemudian Dawan menikah lagi dengan wanita yang dijodohkan Kakek Wijaya. Lalu lahirlah Ernest, juga Arya.


Farhan juga menceritakan bahwa perusahaan yang dikelolanya adalah milik sang ibu. Perusahaan Kakek dari pihak Ibu. Farhan lalu menerima Ernest yang ikut bekerja di perusahaannya.


"Rumit .... " Guskov mengambil wine dari baki pelayan yang baru lewat. Dia melirik ke arah Nadia, tetapi terhalang banyak orang yang mulai ikut berdansa.


...⏳DUA BULAN BERLALU⌛...


...🇮🇩INDONESIA🇮🇩...


"Saya nikahkan engkau ananda Guskov bin Adhitama dengan Nadia Adelia binti Joko dengan mas kawin satu unit rumah, 1000$ Singapura, dan satu setel perhiasan emas berlian tunai karena Allah, dibayar tunai," ucap wali nikah.


"Saya terima nikahnya Nadia Adelia binti Joko dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Alhamdulillah," suara orang-orang menyambut haru.


Air mata Nadia dan Guskov meluncur begitu saja, saat Nadia mencium tangan suaminya. Guskov memandang Nadia yang berhijab dengan hati bergetar. Dia mencium kening perempuan ayu yang kini siap mendampingi hidupnya.

__ADS_1


Rumah Joko diliputi kebahagiaan. Tratag memanjang di jalanan yang selalu dipenuhi tamu yang silih berganti. Penjual mainan anak-anak memenuhi pinggir jalan.


Joko mengundang orang-orang kampungnya dan kampung tetangga. Seekor kerbau pun disembelih dan dijadikan gulai, inilah makanan favorit masyarakat setempat. Malamnya diadakan pertunjukan wayang. Keesokannya di selenggarakan tontonan Kuda Lumping dan malam ada pertunjukan Sintren sampai jam satu pagi.


Kegagahan Guskov dan wajah Nadia yang semakin bercahaya. Mereka benar-benar memancarkan aura cinta malu-malu membuat gemas siapapun yang melihatnya. Tak Elak, Guskov menjadi bahan buruan para warga untuk meminta foto bareng selama tiga hari ini sejak kepulangannya dari Singapura.


Beruntung pasangan pengantin baru membawa lima kardus oleh-oleh khusus untuk dibagikan kepada para tetangga. Tidak dilihat dari nilainya, tetapi mereka justru semakin menyukai Nadia dan Guskov. Begitupun Shelin dan Sera, yang rela menginap tiga hari di rumah saudara Nadia untuk mengganggu sahabat mereka. Mereka pun selalu meng-uplod kebahagiaan Guskov dan Nadia.



Di tempat lain, Vaya menggigit jari telunjuk di meja makan sambil mengamati foto pernikahan Nadia. Dia melirik pada Milan yang baru kembali setelah mengantar Dicky yang akan pergi kerja. "Mil, lihatlah! kamu tak iri apa? Nadia dapat mas kawin satu rumah, 1000$ Singapura, dan berlian."


Milan mendaratkan b0k0ng di kursi jati, tangannya meraih gelas bekas Dicky. Dia menggelegak setengah gelas air bening hingga kosong, lalu melirik kakaknya. "Rumah satu lantai saja, kok. Untuk apa iri, kak? Toh, Mas Guskov sudah bahagia."


"Mil, seandainya kamu dulu masih dengan Guskov pasti Bramansyah Group lebih maju sekarang. Lalu hal terpenting adalah aku tidak sampai dipaksa Mama Bram untuk menikah dengan Mas Surya. Aku tak bisa melawan kehendak Mamah walau Mas Surya yang ketahuan bolak-balik selingkuh. Mana para gadis masih muda-muda."


Vaya tidak terima, mengapa adiknya enak-enak bermesraan dengan Dicky. Dicky yang hanya bekerja sebagai direktur pemasaran di kantor Bramansyah dan mendapat gaji. Mengapa bukan lelaki yang bisa menghasilkan uang atau memajukan keuntungan perusahaan. "Guskov sangat beda, dia kini jadi Milyader di negara sebelah."


"Sudahlah, kak. Lagipula Mama sejak lama juga tak menyukai Mas Guskov." Milan memaklumi pada Mama Bram yang sekarang justru makin sering mengomelinya. Mama juga yang selalu mengutuk Guskov karena hidup senang di atas penderitaan keluarga ini.


Ya, begitulah Mama tak pernah puas. Walau suami Kak Vaya sudah menggelontorkan banyak dana untuk Bramansyah Group, tetapi kerugian sulit ditekan sejak kepergian Mas Guskov dari kantor.


Menikah dengan Dicky tidak pernah kusesali. Dicky adalah suami terbaik dan penyayang. Terlebih dengan kehadiran seorang putra yang sangat lucu. Aku sangat bersyukur dan aku belum pernah menemukan perasaan ini pada saat bersama Guskov.


Berulangkali Dicky ingin keluar dari Bramansyah Group dan mencari pekerjaan di luar, aku terus meyakinkan Dicky untuk tetap bertahan. Di sana, kan, ada bagianku.


...🇸🇬 SINGAPURA 🇸🇬...


Di tempat lain di bandara Singapura. Ernest menunggu waktu penerbangan. Dia terus menatap gambar pernikahan Nadia, tubuhnya kini terasa tak bertulang.


Farhan mengelus bahu sang adik. "Kamu yakin, tidak mengucapkan selamat pada Nadia?" Dia mendapati gelengan kepala sang adik. "Paling tidak telepon dia bahwa kamu pindah ke Eropa. Kasian, loh, dia beberapakali datang ke rumah dan menelpon Arya menanyakan soal kamu. Kabari dia dulu, jadi Nadia tidak sakit hati."


*Jessie \= Istri Jefri*


Ernest mematikan ponsel, dia lantas berdiri setelah mendengar panggilan Bandara. Ernest mengabaikan kakak dan adiknya, memilih langsung menghampiri, lalu memeluk Papa Dawan. "Papah .... Jangan cari aku. Jangan mata-matai aku. Aku ingin hidup sederhana dan mandiri, melanjutkan pendidikan ku dengan uangku sendiri."


Mata Dawan berkaca-kaca, tangannya memeluk lebih erat. "Jadilah kesatria. Jangan lemah karena wanita. Mungkin dia bukan jodohmu. Dia bahagia. Kamupun akan bahagia, Nak .... "


"Terimakasih, Papa." Ernest mencium pipi kanan-kiri sang papah, dan menghapus air mata di sudut mata Papa Dawan. "I Love You, Papa."


"I Love You, too." Dawan mengusap bahu sang anak, yang dari semenjak SMA selalu ingin hidup mandiri, bahkan ingin melepas nama Wijaya dari nama belakang Ernest. Dia menatap nanar, saat sang putra memeluk Abang dan adiknya. Hati seorang ayah pasti tak rela melihat putranya hidup ditempat yang jauh sendirian. Tapi, sayang, Nadia tidak melihat Ernest sebagai pasangan.


...⏳LIMA TAHUN BERLALU⌛...


Nadia memandang keluar jendela, matanya menyipit, lalu melirik jam tangan. Ini sudah dua puluh menit, suaminya belum keluar dari ruangan kantor Farhan. Dia kembali menatap ke bawah, orang-orang keluar dari kantor pada jam istirahat. Melihat lebih jauh pada Bus yang berhenti di halte, dia jadi ingin naik bis.


Nadia akan ke toilet, dan matanya terpaku pada sosok di ujung lorong yang baru berhenti dan mengenakan setelan jas. Sangat tampan. Dia menggosok matanya tak percaya.


"Ernest? Ya Tuhan!" Nadia berlari menghampiri pria yang diam mematung, dan jaraknya kini sisa satu meter. Lantai ini jarang dilalui orang karena lantai khusus CEO Farhan. "Hai, Ernest."


Pandangan Ernest meredup. Lima tahun tidak melihat Nadia, justru wanita itu semakin anggun dan tidak kekanak-kanakan lagi. Ernest menelan Saliva, karena belum siap untuk perjumpaan ini.


Pria itu melonggarkan dasinya, yang entah, sepertinya itu yang membuat nya sesak. "Hai, Nadia Adelia," sapanya dengan suara bergetar.


Nadia memiringkan kepala, melihat dati bawah ke atas. Dia mencengkeram lengan Ernest dengan begitu gereget. "Kamu kemana saja?"


"Ceritanya panjang, tak cukup satu hari." Ernest merasakan pipinya menghangat. Diamalu sendiri saat teringat dia memaksa mencium bibir Nadia, tetapi wanita itu menghalangi dengan telapak tangannya. Saat itu Ernest memaksa lagi, justru Nadia begitu keras menarik dasinya. Alhasil di pertemuan terakhir, dia tak mendapatkan ciuman itu, walau hanya sekali dan terakhir.


"Ernest? apa kamu sakit! wajah mu sangat merah?" Nadia menyipitkan mata dan melepas tangannya, lalu menggaruk hidumgnya yang tidak gatal. "Kamu tidak mengucapkan selamat untuk pernikahanku, bahkan kamu menghilang sejak hari itu."

__ADS_1


Ernest tertawa ringan. "Nad, kamu menagihku? Oke, selamat untuk pernikahanmu. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaanmu selama lima tahun ini!" Ernest mengulurkan tangan dengan memamerkan postur gentle.


Nadia terkekeh, dan membalas jabatan tangan di depan perut. Dia menggoyangkan-mengguncangkan kehangatan tangan sahabatnya. "Kamu, kan, sahabat terbaikku! nggak afdol rasanya tanpa kamu, ER."


"Sayang .... "


Nadia miring ke kanan, dan bergeser karena tubuh Ernest menutupi. Dia melihat asal suara perempuan yang lemah-lembut yang datang dari ujung lorong. Wanita berambut merah itu langsung menggelayut manja di lengan Ernest, yang membuat Nadia melepas genggaman tangan Ernest. Mata Nadia berbinar. "Ah! kekasih Ernest?!


Perempuan berambut merah itu langsung cemberut, karena pernah melihat wanita berambut hitam itu di bingkai foto di Flat (apartemen) Ernest di London. "Nadia Adelia?"


"Ah, kok tahu nama saya?" Satu alis Nadia terangkat dengan cepat. Dia kembali tersenyum dengan giginya yang putih, langsung berkenalan dengan perempuan yang ternyata bernama Sarah. Nadia meledek Ernest yang tak berbagi kabar bahagia soal rencana pernikahan mereka.


Sekarang Nadia menangkap tatapan bangga Ernest. Pria itu yang terus memeluk calon istrinya. "Kalian bikin iri, ya!! Ah selamat!!!"


"Mamah-mamah!!" Suara anak kecil mengalihkan perhatian Ernest. Gadis kecil berkacamata, jam tangan pink dengan tas gambar Barbie.


Ernest menggosok matanya yang basah. Terus terang hatinya dalam kehancuran, tetapi bercampur senang saat melihat gadis kecil yang mirip Nadia saat kecil. Gadis itu kini dalam gendongan mamanya dan dikenalkan pada Sarah, calon istri yang disayanginya.


"Hai, Om, kenalin aku Alisya. Om pasti sahabatnya Mamah!" Alisya lalu merasakan kehangatan gendongan Om, yang beberapa kali dilihatnya di foto milik Mamah.


"Iya, kok, kamu bisa tahu, sih." Ernest tertawa sampai bulir air matanya keluar saking bahagianya, melihat kelucuan gadis kecil yang melepas kacamata pink. Dia beralih ke Sarah dan berkata lembut, "Sayang, kamu lihat, kan. Dia lucu sekali."


Sarah mengusap pipi gembul gadis yang rambutnya diikat gaya kelabang. Dia sangat menyukai anak kecil. "Cantik, ayo, kita main bareng!"


Ernest mengalah saat Sarah mau menggendong Alisya. Hati Ernest kembali terluka, saat Guskov datang dan langsung memeluk bahu Nadia. Guskov yang menyapanya duluan, tak seperti dulu yang mudah cemburuan. Kini Guskov tampak lebih tenang, walau tetap saja posesif.


Mereka pergi ke tempat hiburan bersama dengan Farhan dan istrinya. Ketika para perempuan dan Alisya bermain di wahana kuda putar. Maka Ernest dan Guskov duduk berhadapan di depan toko minuman. Saat itu Farhan ke toilet. Guskov berdeham karena tenggorokannya terasa kering.


"Berapa usia Alisya sekarang?" tanya Ernest dan bunyi kaleng terdengar dari kaleng yang digenggam Ernest. Dia tak sadar merem4s kalengnya yang telah kosong sampai penyok.


"Tiga tahun." Guskov tersenyum hangat, dan mendorong kaleng cola-cola ke depan Ernest, dan mengira Ernest kehausan. "Kapan kamu akan melangsungkan pernikahan? Ah sorry, aku terlalu senang karena betapa semangatnya Nadia saat cerita bahwa kamu dan Sarah akan-"


"Guskov, jika sekali saja kamu berselingkuh, aku pastikan langsung merebut istrimu."


Guskov tersenyum masam dan berubah garang. Dia pikir Ernest telah berubah, ternyata sekarang lebih menyebalkan. Walau wajah pesaingnya tampak lebih dewasa, tetapi pemikirannya jauh lebih menyedihkan.


"ER, kamu tidak perlu repot-repot mengatakan ini. Cukup kamu melihatnya, karena aku tidak tertarik pada wanita selain Dia. Nadia bagiku adalah segalanya dan sampai akhir aku takkan melepaskannya.


Aku bahkan tidak berpikir untuk berani menyakitinya, lagi. Cukup aku belajar dari masa lalu, ER. Hanya karena aku pernah melakukan kesalahan, bukan berarti aku akan mengulanginya!"


Ernest menyusul berdiri, setelah Guskov berdiri dengan mata merah berkaca-kaca. Guskov lalu memegangi bahu Ernest dengan seluruh tubuh kekar Guskov yang bergetar. Nafas Guskov sudah seperti banteng yang siap menyerang. Ernest semakin merasa kaku di seluruh tubuhnya, dan tenggorokannya kini terasa begitu panas, melebihi panasnya terik siang ini.


"AKU TAKKAN MENYAKITI NYA. KAU DENGAR," cebik Guskov lalu menggosok pandangannya yang buram oleh air mata. Segala menyangkut Nadia membuatnya emosi. Dia mencengkeram bahu Ernest kuat-kuat, yang tinggi nya sejajar. "AKU MENCINTAINYA MELEBIHI AKU MENCINTAI DIRIKU!"


Guskov pergi meninggalkan Ernest dan pergi ke tempat yang terlihat lebih sepi. Dia menyadari, bahwa dirinya merasa bukan lelaki yang baik untuk Nadia. Jadi, Guskov berusaha sebaik mungkin untuk membayar kesalahannya di masa lalu.


Dirinya sudah di cap sebagai TUKANG SELINGKUH, PEMBOHONG. Namun, dia hanyalah manusia, dan merasa dia sudah dihukum karena rasa malu membohongi Nadia, yang terus menghantui pikirannya. Dia TAKUT, bila Nadia suatu saat akan meninggalkannya dan menggunakan alasan tersebut untuk menyerang balik.


Saat kata-kata keji itu terucap dari mulut orang lain, itu membuatnya teringat akan setiap kesakitan yang dilalui Nadia karenanya. Dia teringat saat dirinya diusir, dari rumahnya sendiri. Harga diri sebagai lelaki diinjak.


Terlebih dengan sesuatu yang tidak dilakukan. Dia memang berselingkuh dengan, Nadia tetapi dia tak pernah berfikir sampai menghilangkan kesucian seorang gadis ataupun berzina. Namun, dia kekuar dari rumah itu dengan kotoran yang dilemparkan keluar Bramansyah wajahnya.


Di sana Nadia masih berdiri untuknya, memesan taksi online, merawatnya yang dalam kursi roda di rumah Shelin. Padahal dia sudah membohongi Nadia pada saat itu. Padahal Nadia saat itu begitu terluka, dan menahan kesedihan untuk dirinya sendiri. Tetapi ....


...Nadia benar-benar tulus ada di sana, di HARI terberatku, di HARI tidak ada orang yang mau melihat dan menghargaiku....


...Untukku....


...Untuk mantan pembohong ... yang takkan berbohong lagi....

__ADS_1


__ADS_2