Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 42 : TIDAK TAHAN


__ADS_3

"Rambutmu basah, biar aku cuci."


Nadia membeku saat Guskov membuka kamar mandi. "Aku cuci sendiri."


"Sudah cepat, aku tidak macam-macam dan hanya satu macam." Guskov menyeringai lalu menyampirkan handuk mini di punggung Nadia dan mendudukkan kekasihnya di dalam bathtube kering. "Kemari, rileks, sayang."


Nadia merasa seperti orang gila saat jari pria menyentuh kulit rambutnya, dia mencoba percaya pada Guskov dan melempar kepalanya ke luar bathube dan Guskov mengarahkan shower hangat ke kepalanya.


Guskov suka melihat rambut Nadia yang basah, ini sangat lembut, dia menuangkan shampo dan mematikan shower mulai memijatnya sementara dia duduk di bangku.


"Mas, Ayah Adhi menolak kedatangan ku?"


"Dia bukan menolak, sayang. Sepertinya ayah semalam kurang tidur, jadi dia sedikit memiliki kekhawatiran dalam dunianya. Dia menderita Dimensia .... " Guskov mulai bercerita dan Nadia memperhatikan.


Tentang saat-saat ayah tidak mengingat apa-apa, atau tidak tahu melakukan apa, atau justru pergi ke luar rumah dan tidak tahu apa yang dilakukannya diluar, sehingga Guskov harus menempatkan beberapa profesional untuk menjaga ayah.


"Dan enam bulan setelah ayah pindah ke sini, di rumah yang sebelumnya. Di sana terlihat di cctv Ayah membawa ponselku ke dekat kompor.


Ayah meletakan wajan diatas kompor dan menyalakan api, lalu menuangkan minyak goreng banyak.


Entah apa yang ayah lalukan, lalu membuka dan mengeluarkan isi lemari, sementara dibelakang minyak mulai berasap, dan beruntungnya sepertinya ayah tidak mengetahui apa yang dicarinya.


Setelah itu dia membuka kulkas disebelahnya dan membawa susu, saat itu percikan api membakar bagian atas wajan.


Dan ayah keluar belum jauh dari dapur di ruang makan, dan ledakan yang diperkirakan dari ponsel, api dan minyak, itu terjadi.


Vera yang keluar dari kamar karena ledakan dan bau terbakar, langsung keluar dan mendapati asap hitam dan api mengepul dari arah dapur, tetapi ayah masih dengan tenang duduk minum susu dingin dari deligen susu.


Saat itu Vera kira ayah kesurupan, dia berjuang sendiri mengajak ayah keluar. Vera sampai mendapat pukulan ayah karena tarikan Vera. Dan rumahnya terbakar, Vera dan ayah selamat. Sejak saat itu kami mengunci pintu dapur dan menjauhkan semua barang tajam."


"Jadi, itu ponselmu yang meledak saat kamu sedang ke minimarket dekat rumah?"


"Ya, benar," kata Guskov serak dengan hati bergetar, dia selalu merinding akan ingatan rekaman cctv yang telah terhubung ke internet. Itu salahnya karena kurang menjaga ayah, dia menyesal karena ayahnya hampir berhadapan dengan maut.


Guskov mematikan keran, dan memeras rambut Nadia, kemudian menutupi seluruh rambut Nadia dengan handuk putih. "Aku akan ambilkan ganti."


Nadia berdiri, hatinya terasa pilu, dan selama ini dia sempat berpikiran buruk pada Guskov, sementara kekasihnya sedang berkutat dengan ayahnya. Nadia merasa berdosa.


"Celana dan kaos, aku tidak memiliki pakaian inti wanita." Guskov tersenyum dan pipinya menghangat.


Nadia mengangguk tak mau banyak protes. "Apa ada kain selendang?"


Saat Guskov menemukan sebuah kain yang dibelinya dari Thailand selebar handuk dari dalam lemari, dia lalu berbalik dan Nadia kembali dengan sudah memakai celana selutut miliknya dan kaos yang kebesaran.


Walau Nadia menunduk, Guskov sempat menangkap bentuk dada yang tercetak dan langsung melempar dengan kainnya. "Ah, sorry, sayang!"


Nadia berbalik dengan perasaan malu luar biasa dan bergegas membuat kain itu sebagai syal untuk menyamarkan.


"Berikan yang basah, aku akan mencucinya." Guskov menyentuh bahu Nadia tapi ditarik lagi karena ikutan kaget saat Nadia terlonjak.


"Tenang, sayang, kau membuat jantungku mau copot." Guskov menjaga jarak saat Nadia masuk ke kamar mandi tapi terlihat pipi dan telingannya begitu merah.


Wanita itu keluar lagi dengan nafas tertahan dan menyembunyikan sesuatu di punggung.


"Aku saja, di mana mesinnya, antarkan aku, kamu jalan di depan."


Guskov mengangguk dan mengarahkan ke lantai tiga, dia membuka mesin cuci, walau d sembunyikan dia melihat sesuatu tipis berwarna merah, ya Tuhan, otaknya langsung melalang buana. Dia membuang muka saat Nadia menatapnya tajam.


Mereka berjalan dalam canggung. "Sebenarnya banyak kamar. Nanti kamu tidur dengan Vera saja, ya."


"Vera? Memang dia tidak marah?" Nadia berhenti dan menghadap Guskov. "Loh! Bukannya aku pulang ke asrama?"


"Tidak, sayang. Besok, kamu libur. Tolong temani aku datang ke acara pernikahan Jefri. Mau ya, ya,ya."


Terlepas dari perbedaan kelas sosial yang sangat jauh, Nadia terlanjur mencintai Guskov. Mungkin dia akan menghadapi cibiran di pesta, tetapi dia harus mengucapkan selat pada Jefri!

__ADS_1


Nadia mengingat percakapan yang dia dengar, antara Jefri dan Guskov saat mereka mendiskusikan kelangsungan biaya kuliah saat akan kelulusan, setelah bibi Milan menghentikan biaya kuliah.


Ayah Joko sudah menolak, tetapi Guskov dan Jefri terus meyakinkan, hingga akhirnya Ayah menerima bantuan Jefri.


Jefri juga yang mengarahkan Nadia untuk mendapat beasiswa di sini.


Saat itu Nadia bertekad bahwa suatu saat dia akan membalas kebaikan Jefri. "Pernikahan Mas Jefri? Tentu saja aku mau datang, mas. Aku mau bilang terimakasih banyak padanya, tetapi aku harus pakai pakaian seperti apa?"


"Kamu hanya perlu ikut dan aku menyiapkan semua."


"Aku menurut, mas. Tapi, aku takut bila membuat kamu malu?" Nadia merasakan tangan Guskov yang menguncinya hingga dia tidak bisa bergeser.


Wanita itu merasakan napas kasar dan mata Guskov yang menjadi gelap.


"Aku akan mengatakan padamu, kamu cerdas dan sangat dipenuhi aura positif. Tidak ada yang diragukan, kamu spesial, hancurkan rasa malu mu, dan kita akan bertemu banyak kolega yang akan datang di pesta pernikahan kita ke dua. Pertama di Indo, dan ke dua di sini."


"Mas ... " Nadia begitu tersentuh.


Guskov menutup kelopak mata ada yang terus mengganggu pikiran, dia berdeham dan kembali dengan tatapan laparnya. "Cepat, ceritakan tentang Ernest."


"Dia bekerja di perusahaan ayahnya. Dia dan aku berteman, ya, kadang nonton bersama Reno dan pacarnya, tetapi kami hanya berteman," kata Nadia gugup.


"Kalian double date?" Mata Guskov yang menyipit memperingatkan Nadia untuk mengatakan yang sebenarnya. Dia meyakini ada sesuatu tersembunyi dari tatapan tak tenang kekasihnya.


"Tidak, kami hanya berteman." Nadia menutup rapat soal pernyataan cinta Ernest.


"Ya." Guskov mendorong.


Nadia tak bisa kabur lagi, sampai dia merasakan perut Guskov dan meremas pinggang lebar untuk menariknya menjauh. "Aku kesulitan bernafas."


"Setiap kali kamu semakin dekat dengan diriku. Aku pikir, aku menginginkan ini untuk tidak pernah berakhir. Sensasinya sangat aneh."


Nadia tersipu saat lutut Guskov menekan paha, panas, lembut dan ...


"Membuatku bergairah lagi dan lagi?" bisik Guskov dan Nadia menunduk dengan menggigit bibir bawah dengan mata berkaca-kaca dimana bahunya gemetar tak tertahankan.


Kita ke pesta, mereka akan terpukau denganmu dan aku akan cemburu saat kamu berdiri di antara mereka. Kamu hanya boleh dilihat aku, sayang."


Nadia merasakan tangan besar meremas kedua pinggangnya dan tidak berhenti sampai akhirnya Nadia melemah dan hampir merosot karena hampir tidak bisa bernapas. 


Kemudian Guskov memberi tahu tentang apa yang ingin Guskov ajarkan kepadanya.


Guskov mengelus pinggang belakang Nadia, sebelum tangannya pergi ke belakang kepala mungil.


"Aku haus."


"Di kamarku ada air."


Kata-kata Guskov masih menghanguskan kulit Nadia, membuat tubuh Nadia bergetar. Saat Guskov bermain di belakangnya, Guskov membungkuk dan membisikkan kata-kata padanya : Guskov ingin mengajari Nadia cara menjadi wanita seutuhnya.


Tangan Guskov meremas pergelangan tangan Nadia dan menariknya dengan langkah besar membuat otak Nadia mati, menyebabkan sedikit rasa sakit, yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Dari perasaan ini, kegembiraan gadis itu melonjak ke ketinggian yang tak terpikirkan. 


"Guskov," geramnya karena pinggangnya melayang dan dia ditempatkan di meja marmer kamar mandi. "Aku bisa sendirian." Nadia tidak akan membiarkan Guskov bermain-main.


Guskov mengangkat pandangannya untuk bertemu mata Nadia. Dia menyalakan pengering rambut dan handuk dilepaskan, jari-jari panjang menggaruk rambut belakang Nadia.


Tidak ada ruang untuk rasa hormat di ruangan ini sekarang, sama seperti tidak ada ruang untuk rasa malu dan malu.


Begitu dekat sehingga Nadia bisa merasakan panas dada bidang bergesekan dengan syalnya.


"Aku ingin mengajari mu cara menjadi istri."


Guskov meremas rambut gadis itu dengan satu tangan. Rasa sakit merayapi kulit kepala Nadia.


"Aku tidak memaksamu untuk patuh, aku hanya ingin tahu."

__ADS_1


Jemari Guskov menggaruk rambut Nadia memaksanya memandang Guskov. Nadia ragu-ragu hanya sesaat sebelum dia jatuh mabuk, begitu tangannya menyentuh dada Guskov, jari pria itu dengan lembut bergerak di punggungnya.  


Nadia meremas kaos Guskov untuk menahan jarak, dia sudah mendorong tetapi jaraknya malah semakin berkurang.


"Maukah kamu menolak ku?" Guskov bertanya dengan nada mengejek dengan masih mengarahkan pengering rambut yang tadi panas kini dalam mode dingin dan paling pelan ke rambut belakang Nadia yang mulai mengering.


Pria itu terlihat sedikit kejam, tapi Nadia bisa mendengar keinginan dalam kata-katanya.


"Aku akan menolak mu," serak Nadia. "Aku tidak akan kalah."


Guskov sudah lama tidak dekat dengan Nadia. Dia tidak yakin akan mampu menahannya, tapi dia membutuhkannya. Dia membutuhkannya sekarang.


Pria itu melonggarkan cengkeramannya di rambut Nadia. Dan tangannya meraih syal dan memeluntirnya untuk melepaskan. Dan mematikan pengering rambut, padahal di sisi kanan-kiri belum kering, tetapi masih lembab.


"Nadia, jadi kamu katakan sekarang. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu setelah itu."


"Setelah?" Jantung Nadia berdegup kencang.


"Setelah aku mencium mu, sayang. Buka matamu, aku ingin memiliki sesuatu yang belum saya alami."


Guskov menelan saliva, kepalanya pusing pada cetakan indah walau tak begitu jelas, kini dia membelit tangan dan tubuh Nadia dengan kain itu. "Kamu cocok seperti bayi, sayang." 


Tidak peduli apa yang dikatakan Guskov, Nadia menginginkannya. Dia melayang dan merasakan bumi bergerak. Dia merasakan gendongan mendominasi Guskov.


Menyembunyikan senyum, kepala Nadia bersandar di dada Guskov.


Itu adalah pengingat konstan ketenangannya. Bahkan jika saat-saat tidak lagi bersama Guskov, dia merasa bahwa tampaknya ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan.


"Apa yang aku lakukan?" di suatu tempat jauh di dalam kepala Nadia yang diselimuti penasaran berteriak akal sehat. Tapi begitu pria itu hanya menidurkannya semua pikiran lenyap.


Guskov ingin menakuti Nadia, agar pergi. Tapi Nadia tidak lari. Sebaliknya, Nadia menjawab setiap pertanyaannya dengan manis yang membuat pria itu menggeram dan merangkak di atasnya.


Guskov lalu terbuka bagaimana dia sempat menyerah pada keadaan- kesibukan yang tak memberinya waktu untuk dirinya sendiri dan hanya tidur dua jam saat awal-awal di negara ini, dan lalu teringat akan Nadia.


Guskov membayangkannya melihat dirinya di sana, menyaksikan dia duduk berhadapan dengan mas Joko mengikat janji suci pernikahan saat Nadia duduk di sampingnya. Meskipun saat tergelap itu begitu menyakitkan seperti ujung harapan, Guskov tahu dia harus mendorong kesedihannya menjauh, karena dia memiliki Nadia.


Sekarang, sebaliknya, bagaimanapun, Guskov bersikeras untuk lebih.


Mata Guskov berkedut dan meraihnya seolah-olah memiliki pikirannya sendiri. Itu tidak benar, tapi dia menginginkan Nadia. 


Siapa pria yang mencoba membodohi? Jiwanya menginginkannya dengan kekuatan yang sama. Hanya otak yang tahu apa yang terbaik.


Guskov maju satu inci, dan merasakan napas gadis itu.


 Setiap otot di tubuh Nadia menegang. Menunggu adalah siksaan murni. Nadia yakin bahwa Guskov tidak akan berani, tetapi ketika Guskov memandangnya dengan mata gelap, yang dapat dia pikirkan hanyalah bahwa dia akan kehilangan semua malam ini.


 Hampir seketika, tatapan redup gadis itu menyebabkan panas ke seluruh area sensitif. Guskov menggertakkan giginya, merasa seperti api mengalir di punggungnya. Keinginan membakar pria itu. 


Guskov tidak pernah merasakan keinginan seperti ini. Gadis ini mengubah segalanya. Dia bisa saja mengambilnya kini tetapi tidak.


Sementara itu, jauh di lubuk hati Nadia, maka tidak akan ada pertanyaan tentang kepercayaan apa pun. Dan ayahnya tidak akan pernah memaafkannya. Si..al, Nadia merasa seharusnya tidak melakukan ini, saat Guskov membungkuk di atasnya, ini sangat berbahaya.


Guskov menghentikannya si depan bibir Nadia, dia sudah ingin terbang dan mengecup bibir lalu lidah mungil, dan bagaimana semuanya berubah setelahnya: gadis itu benar-benar berbahaya. Guskov mendesis. Dia merasa sangat baik dan siap.Dia memiliki wanita yang memberinya lebih dan bisa diandalkan. Guskov menjauh dari atas tubuh Nadia, dan saat yang sama, ekspresi kebahagiaan membeku di wajah Nadia.


Guskov telah menunggu begitu lama untuk menyentuh Nadia. Begitu mereka bertemu, Guskov sudah tahu pada tingkat tertentu bahwa kebaikan dan cahayanya adalah cerminan sempurna dari jiwanya yang gelap dan mengerikan.


Jika Guskov merasa lebih baik, dia bisa memenangkan Nadia. Dia bisa memindahkan langit dan bumi untuk membuat Nadia bahagia malam ini.


Tapi momen yang dicuri ini akan menjadi satu-satunya saat Nadia menyentuh di dada bidangnya.


"Ayo istirahat, aku akan tidur di luar." Guskov berbicara dengan suara lembut, menjentikkan jari-jari di rambut Nadia, mencengkeramnya dengan segenggam penuh di pucuk kepala. Rambut panjang dan lembut itu membuat Guskov merasa jadi seutuhnya.


Tangannya sangat gatal ingin memegang semuanya, itu bergumul menggerogotinya dari dalam, tapi bayangan kegeraman mas Joko terus menerornya, itu menyeramkan, sama, jadi teringat saat mas Joko tiba di rumah Shelin waktu subuh-subuh ketika saat itu Nadia tertidur di kamarnya. Mas Joko sangat galak.


Pokoknya Guskov berencana harus menikah di hari pertama tiba di Indonesia. Dia sudah sangat tidak tahan dan ini membuatnya beneran gila.

__ADS_1


"Tidur, ya, sayang. Telepon pelayan lewat telepon samping lampu tidur, jika kamu lapar, ada nomernya, 'dapur' Aku harus mendinginkan pikiranku, sayang, kamu membuatku sangat pusing," serak Guskov dan mengecup pucuk kepala Nadia dua kali.


Guskov berjalan meninggalkan kamar yang membuat Nadia terbengong-bengong.


__ADS_2