Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 18 : KEPERGOK


__ADS_3

Di rumah tante, Nadia telah bersiap-siap memasukan semua buku untuk dibawa pulang ke kos besok. Dia lalu turun ke lantai satu setelah pamannya chat minta dibawakan susu hangat. Nadia langsung ke dapur, terlihat paman masih nonton film di lampu ruang ruang keluarga yang padam.


Sepertinya, paman terlalu lama menunggu sampai saat dia membawa susu, pamannya tertunduk dalam tidur. Nadia mengambil selimut di kamar Guskov, khas sekali baunya. Dia berjongkok akan menyelimuti, tetapi ditahannya dan mengamati wajah Guskov. Hanya melihatnya saja membuat dia berdebar.


"Sadarlah, Nadia. Dia bukan pacar tetapi Paman!!!" Nadia menggelengkan kepala. Selimutnya telah menutupi tubuh Guskov yang duduk tetapi melorot. Nadia mengaitkan ke leher, tetapi pria itu menyentaknya hinggi Nadia tertindih tubuh paman. Namun, wajah paman justru terbenam di leher Nadia dengan nafas konstan.


"Ya, ampun masih tidur? gila berat banget." Nadia kesulitan bernafas, dan aroma tembakau mint begitu kuat. "Paman ... "


"Nadia ... "


"Bangun, paman," lirih Nadia sudah hampir kehabisan nafas."


"Es krimnya enak?"


"Es krim?" Nadia menyipitkan mata, pamannya masih tidur. Dia mendorong sedikit, setah berhasil menyingkirkan tubuhnya justru tangannya mendarat di dada!


"Milan ... berikan Milan."


"Ihhhg," pekik Nadia pada cengkraman yang membuatnya merinding. Paman sangat kurang ajar. Mana sesuatu mengeras di bawah sana mengenai paha. "Tolong bangun Paman." Jantung Nadia berdebar kencang, dan merintih geli, takut, cemas jadi satu.


"Milan ... "

__ADS_1


Nadia berhasil menyingkirkan tangan Guskov, dia duduk dan menyingkirkan paha Guskov dari kakinya lantas berlari secepat kilat tanpa menimbulkan suara ke kamar. Di kamar dia menutup dan mengunci pintu, dan bersembunyi di balik selimut dengan meringkuk setelah lampu dipadamkan.


Rasanya tubuhnya menjadi dingin luar biasa, tetapi khusus di dada dan perut terasa panas, perutnya menjadi sangat sakit, apa dua salah makan sesuatu.


Sudah berjam-jam, dia kesulitan tidur sekali tidur hanya sebentar, gelisah pada sesuatu aneh yang menghinggapinya. Sentuhan Guskov di dadanya membuat mimpi buruk. Dia turun untuk buang air kecil dan dikamar mandi menjumpainya celana intinya basah, dia merasa tidak mengompol. Dilihatnya cairan bening kental seperti gel. "Aku tidak mengompol." Kamila kembali ke kamar dengan tak memakai celana basah dan berjumpa Kak Vaya di dekat pintu kamar.


"Apa yang kau sembunyikan?"


"Ah celana kotor, mau mens."


"Kenapa kau disembunyikan? lihat coba?"


"Tidak, Kak, aku malu. Habis di cuci."


"Kak, aku mau tidur." Nadia melengos tetapi ditangkap tangan Vaya dan diraih sesuatu di genggaman lalu Kak Vaya melotot.


"Kakak kenapa sih buka!" Nadia merebut lagi denga rasa malu luar biasa dan menutup pintu serta menguncinya.


"Ahhh asal kamu tahu, itu hal normal kok, jangan malu, kita sesama wanita. Ya sudah, aku kembali ke kamar."


Nadia mengembus nafas lega, tetapi malunya bukan main.

__ADS_1


**


Keesokannya sarapan pagi bersama tiba-tiba Guskov membahas selimut membuat tubuh Nadia merinding setengah mati teringat kembali.


"Aku tidak memberimu memberimu selimut." Vaya lalu melirik Nadia. "Kamu ya?"


"Eh,eh iya." Wajah Nadia menghangat dan tanpa sadar menjatuhkan garpu ke lantai menimbukan suara keributan. Guskov menyipitkan mata pada wajah Nadia yang begitu merah, apa gadis itu melakukan kesalahan.


"Kau tahu, Guskov. Gadis kita sekarang sudah dewasa." Vaya tertawa.


"Ya, memang kan?" Guskov menyipitkan mata bingung.


"Hahahah .... dewasa yang itu. 'Kau harus menjaga diri, Nadia' jangan kemakan rayuan pria."


"Kak Vaya-" pekik Nadia tertekan apalagi dengan tatapan tajam Guskov.


"" Sudahlah, jangan malu-malu. Kalau di luar negeri itu hal wajar. Tapi pakai pengaman ya!"


Sendok garpu milik Guskov jatuh dari tangannya. "Ka Vaya, apa yang kau omongin?" Guskov sesekali menatap tajam pada Nadia sudah berpikir tidak-tidak, apakah Nadia dekat dengan pria.


"Hemm, sudah waktunya kan Nadia memiliki pacar. Setidaknya adik temannku sangat tampan dan tubuhnya aduhai... kuat."

__ADS_1


"Cukup, kak Vaya!" Nadia merinding dan berlari ke lantai atas dengan wajah sangat malu dan diliputi bersalah pada guskov.


__ADS_2