Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 26 : SERBA-SERBI KEHIDUPAN


__ADS_3

Sesampai di kampus Nadia dan Ernest terpisah. Dan sepanjang menuju kelas, Nadia merasa orang-orang mencibirnya dengan tatapan bergidik dari mereka semua. Dia masuk ke dalam kelas dan ada tiga kelompok orang memandang ke arahnya dengan tatapan sinis.


Nadia  tidak tahu apa salahnya. Jadi, dia menghampiri Sera seperti biasa. Sera teman setianya dan akan bertanya, tetapi belum dia menaruh tas, Sera langsung pergi ke tempat duduk paling jauh , lalu berkumpul dengan mereka. Sampai jam selesai kuliah pun tidak ada yang mau dekat-dekat dengannya, bahkan sampai petugas kantin juga ikut bersuara ketus.


Nadia mengabaikan teman-temannya dan berjalan sejauh 500 meter ke tempat kerja.Pertarungan dapur dimulai, panci -wajan besar, penuh minyak dan saat terkena air, pedasnya menguar ke atas membuatnya bersin, pedasnya begitu menusuk hidung. Hari ini restoran ramai, kerjaannya punya kian menumpuk.


Entah hanya perasaanya saja atau bagaimana, teman-teman dapur seumurannya mengabaikan Nadia, padahal biasanya sangat ramai. Hari telah malam, lagi-lagi badannya remuk, pegal terutama punggung dan lengannya.


Seusai berganti seragam, dan keluar mengunci restoran, udara segar menyambutnya, ini hiburan yang selalu menyenangkan setelah dipanggang udara dapur yang begitu panas. Telepon panggilan berdering dari nomor kak Vaya, dia ragu apa harus menerimanya. Tapi tubuhnya sudah capai, tak mau dapat umpatan menyakitkan dari kak Vaya lagi.


BRMMMM


Motor Ducati merah berhenti tepat di depannya. “Naik,” kata pria yang baru membuka kaca helm di matanya.


“Tidak, Reno. Terimakasih, tapi aku ada perlu di sana.” Nadia menunjuk orang yang jual nasi goreng di ujung jalan.


“Ayo, naik, Nadia.”


“Tidak, Reno,  berapa kali aku bilang, berhentilah seperti itu.” Nadia meremas tas dan berjalan melewati motor, menyerang jalan. Pria itu tak menyerah dan berjalan mengegas pelan di sampingnya.


“Pacarnya ngambek ya!!” celetuk orang-orang di pinggir jalan.


“Sini! sama Abang aja Neng !”


“Nad, dengar itu, bahaya taug, cepat naik.” Reno sedikit membentak karena tatapan pria kurang ajar jadi, tetapi wanita ini malah setengah berlari dan nafas terengah-engah.


250 meter kemudian, Nadia kelelahan dan bersandar di pohon untuk mengambil nafas, biasanya dia kuat jalan, tetapi karena tadi pagi ada pesanan onde-onde, semalam juga tidak bisa tidur, lalu resto rame, rasanya begitu lelah.

__ADS_1


.Reno mematikan motor dan pria itu mengeluarkan sebotol minuman ion dingin dari tasnya dan membuka penutupnya diulurkan ke depan Nadia yang kini duduk di trotoar.” Da..saar keras kepala. MIsal kamu dengar aku, duduk manis, sampai rumah tidur, beres kan?” gerutunya tetapi lalu tersenyum, dia baru sadar jadi punya banyak waktu berdua tanpa gangguan dari Ernest, Nadia mau Dicky. “Nah, loh nafasmu habis kan? butuh nafas buatan nggak?” Reno risih dengan Nadia yang mangap-mangap dengan mengusap kening, kasihan, kasihan, terlihat jaket yang digunakan wanita itu juga sudah basah punggungnya.


“Maumu apa sih, Reno? tiap hari bawa makanan ke kos. Mulai sekarang berhenti ya tolong, jangan seperti itu lagi,” kata Nadia dengan tulus, dia tak mau Guskov berpikir macam-macam. Kenapa juga harus peduli pada perasaan Guskov. Huh. Masa bodo.


“Lah, aku kan bawa makanan itu untuk Shelin.”


“Yaudah, bawahnya untuk Shelin saja.” Nadia melirik pada pria yang baru duduk di samping, dan Nadia langsung berdiri, dengan minuman yang tinggal setengah.


“Nadiaaaaa!!!!!!”


BRUM


Ernest menepi di depan Nadia persis dan Nadia langsung menerima helm , seketika membonceng, daripada mengurusi ocehan Reno. Kini Reno melajukan kendaraan di samping motor Ernest dan tanpa banyak omong lagi, ada sikap yang aneh pada dua pria ini, tak biasanya akur.


*


Dia seperti terbuang, dia ingat betul saat hidup di jalanan, membantu para penjual makanan, demi sebungkus nasi dan minum air mentah dari kran pombesin. Tiap malam tidur beralas kardus di depan toko dan akan diusir saat kesiangan sedikit.


Menjadi kuli bangunan pun terbilang pekerjaan yang sangat baik, selain karena mendapat makanan. Dia bisa menabung dan mulai membeli roti untuk dijual kembali, walau itu gagal. Dan kembali menjadi tukang bangunan, dia kembali menabung dan mulai berjualan rokok, tetapi itu sulit.


Guskov mulai jadi tukang bebersih di sebuah kantor dan itu dikeluarkan karena tak mau mengikuti perintah bos perempuan yang menggodanya.


Lalu keluar lagi dan membantu seorang yang adalah tukang sapu jalanan, karena itu pekerjaan terakhirnya selama setahun, dan kemudian bertemu dengan Papa Bram yang sedang membagi-bagikan amplop uang. Itu pertemuan ke lima, saat Papa Bram akhirnya meminta dia untuk ikut dan di sekolah.


Dada Guskov bergetar, dia merasa sangat durhaka pada Papa Bram. Dia tak tahu harus meminta tolong ke siapa lagi kini. Diraihnya ponsel, dia mempunya sahabat, tetapi sangat malu dan gengsi. Dia lebih suka membantu daripada minta bantu. Rasanya sangat memalukan. Ting! Ponsel bergetar seolah dia terhubung jiwanya dengan Jerry.


~ Apa yang terjadi? seminggu tak ada kabar kemana aja? kapan balik kantor? kenapa aku tidak menemukanmu selama di sana. Dan para karyawan sama sekali tak menjawab pertanyaan ku. Lalu Aku ke rumah mu tadi jam tujuh, tapi nggak ada yang keluar, tak biasanya di depan rumahmu terlihat redup, apa pembantu mu lupa menyalakan lampu. Jawab woy!~

__ADS_1


Guskov berulang kali membaca pesan Jerry, dia tidak tahu harus apa. Panggilan lalu datang dari Jerry, cukup lama dia berfikir dan akhirnya dia sudah tidak kuat dan menceritakan semua pada Jerry di telepon. Ceritanya belum selesai, tetapi gerungan motor terdengar di luar.


"Jerry, lanjut besok ya. Besok kamu datang saja ke belakang kampus gang dahlia. Masuk saja mobilmu, di dalam ada parkiran kok," kata Guskov sambil terus mengintip tirai.


"Oke Bro, sekali lagi, aku ikut prihatin. Kamu masih punya aku yang ada untuk mu. Jangan bersedih."


TUT Ponsel di taruhnya dan ditatapnya dua orang itu yang saling tatap membuat jantung Guskov kembali terbakar, apa yang mereka ucapkan?


🌌


Ernest menatap Nadia, sepertinya Nadia tidak tahu sama sekali dengan gosip buruk tentang Nadia, dia tidak tahu cara menyampaikan berita itu yang pasti memukul jiwa Nadia.


"Ini semua gara-gara pria tua itu," batin Ernest.


"Hei." Nadia menggoyangkan tangan di depan wajah pria yang termenung. "Sudah cepat pulang, udah malam. Terimakasih, ya?"


"Nad ... "


"Hm?"


"Apapun yang terjadi, aku selalu ada untukmu."


Alis Nadia terangkat sesaat. "Hmm? ya! memang harusnya begitu, kan?"


Ernest senang melihat tawa Nadia, tetapi apa besok tawa itu masih ada, cepat atau lambat pasti Nadia akan tahu. "Jadi, kamu harus mengandalkan ku. Jangan sungkan, oke ya, mengerti nggak!?"


"Hum, kamu ada apa sih?" Nadia menyipitkan mata dan meneliti di bola mata Ernest, kanan-kiri bergantian dengan jantung mulai berdebar dan sedikit menahan nafas. "Kamu bikin takut aku aja sih, ada apa?"

__ADS_1


__ADS_2