Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 17 : MUSEUM


__ADS_3

Guskov keluar dari kamar dan matanya membesar dan berusaha bersikap wajar menjumpai Nadia yang sangat berbeda, seolah terlahir dari keluarga kaya. "Nadia?"


"Gimana Guskov? Cantik kan, ponakanku. Yaa, walau, tak bisa mengalahkan ku dan Milan ya." Wajah Vaya tampak puas sambil memegangi bahu Nadia.


"Biasa saja," kata Guskov datar tak mau membuat wajah Nadia semakin memerah. Sudah seperti kepiting rebus, begitu menggemaskan. Guskov langsung memberi kode pada orang di belakang, hingga pelayan pria yang barusan membantu mengganti pakaian langsung mendorong kursi roda.


"Sepertinya mata Guskov eror," gumam Vaya sambil menepuk bahu Nadia dua kali untuk membuat tubuh keponakannya rileks dan berjalan tidak seperti robot.


Perjalanan memakan waktu lima belas menit menuju Museum Seni, tak cukup menangkan hati Nadia yang gelisah dan ingin menyembunyikan wajah, terutama dari Guskov, menjadi sangat canggung meski demikian mencoba bersikap wajar.


Nadia menjauhkan diri sejak menginjakkan kaki di Musem 3 meter di belakang kursi roda, sedangkan tantenya sibuk menjelaskan sesekali berdebat dengan Guskov, sepertinya dua orang itu terlihat dekat.


Akhirnya tak terelakan harus berdua dengan pamannya ketika kak Vaya meninggalkan toilet. Dan Guskov juga terlihat terus menghindarinya.


"Mengapa menuruti Vaya? belajarlah menolak bila tidak mau terus ditindas."


Perkataan pamannya dengan nada tenang, menghipnotis Nadia yang ikut memandangi lukisan 'wanita berkemben jarit sedang menuangkan air dari kendi ke dalam wajan besar'

__ADS_1


Nadia mengembus nafas panjang dan duduk di kursi kayu. "Lain kali Nadia akan mengikuti saran dari paman. Ngomong-ngomong besok setelah kuliah, Nadia harus ke resto di dekat kampus sampai jam sepuluh malam untuk bekerja."


"Kamu bercanda, kan?" menatap lekat-lekat pada mata Nadia. Guskov ingin memberikan uang bulanan tetapi itu sulit, semisal Nadia berjualan bubur pun Guskov sudah tidak bisa membantu lagi. Karena semua laporan keuangan perusahaan semua sudah dibawah pengawasan Milan. "Jam sepuluh malam?yang benar saja kerja apa?"


"Pencuci piring. Nggak terlalu berat kerjanya kok, restonya juga agak sepi," kata Nadia berbohong, di tak mau membuat paman cemas. Sekarang saja wajah Guskov sudah berubah muram.


"Maaf, Nadia, ini semua karenaku, jika saja aku mendengarkanmu, ini semua tidak akan terjadi."


"Paman, jangan terus menerus merasa bersalah. Nadia senang kok kerja di sana ada beberapa teman kampus."


"Teman?" Alis Guskov terangkat. "Bukan pria, kan?!"


"Kamu cantik, Nadia. Aku suka melihatmu seperti ini. Jika kamu masih mau mendengarkan saya, lebih baik kecantikan ini tidak perlu diumbar. Aku mengagumi dengan apa yang di sini," kata Guskov sambil menunjuk dada sendiri. "Tetap jadi dirimu, sayang-. Ehm maksud aku Nadia."


Jantung Nadia berdebar mendapati senyuman sangat manis di depannya, perasaan aneh muncul tanpa tahu sebabnya. Dan tampaknya aliran darah berkumpul ke pipi hingga membuatnya semakin panas. "Paman, apa si ... aku juga merasa ini tidak cocok untuk ku."


"Bukannya tidak cocok. Saya tidak ingin ada yang melihatmu seperti ini. Bolehkah hanya saya saja, Nad?"

__ADS_1


"Paman .... " Nadia makin tertunduk dan merapatkan kaki, pada panjang gaun selutut, dia sangat malu menampakkan kaki putihnya yang terbayang bulu-bulu tipis. Bahkan tatapan Guskov lebih gelap, solah-olqh dengan tatapan itu, kakinya terasa seperti disentuh paman langsung. Pasalnya dia selalu memakai celana semata kaki di depan Guskov. Melihat Guskov seperti ini membuat merinding dan tubuhnya terasa dingin, Nadia bangkit lalu bergegas mendorong kursi roda menghindari kecanggungan diantaranya dengan paman, dia tak yakin bila dibiarkan seperti itu pasti Kak Vaya akan mengira macam-macam.


"Sumpah aku tak mau memakai ini lagi!" Batin Nadia tak bisa tenang, tetapi hatinya mengkhianati seakan ada kegembiraan tersembunyi yang sulit di jabarkannya.


Nadia ijin ke toilet ketika Vaya kembali. Ketika keluar dari bilik toilet, dia mendengar suara Bibi Milan, sontak Nadia melewati orang yang mengantri masuk ke toilet.


"Ahhh-pp" Nadia sontak menutup mulut mendapati pinggang belakang Bibi Milan dirangkul seorang pria!


Nadia lantas mengikuti di sela pengunjung, aula toilet Museum ini terhubung dengan sebuah Mall.


Kringgg- telepon dari kak Vaya, diabaikannya. Nadia membelah kerumunan dengan cepat, mengingat postur tinggi pria dengan jam tangan familiar.


Dia telah sampai di area cukup lenggang, dipandangi seksama showroom pakai di sana dan diintip sampai ke ekskalator yang mengarah ke atas. "Itu benar bibi, jelas suara, postur dan pakaian yang sama. Padahal Paman berungkali menelpon tetapi kenapa ponsel bibi tidak aktif."


Sesampai di food court, Guskov memilah daging kambing di nasi goreng dan memindahnya ke piring Nadia ketika Vaya cuci tangan. "Kamu masih masa pertumbuhan, ini baik buatmu, dan bahaya buatku."


"Kenapa bahaya, bukannya enak?"

__ADS_1


"Ini kolestrol, lalu leherku bisa kaku dan sakit, apalagi aku hanya duduk-duduk tanpa olahraga," kata Guskov mencari alasan yang lebih tepat, akan berbahaya bila dia makan itu lalu kelelakiannya dalam mode on, sedangkan Milan belum juga ada kabar. Teman terdekat Milan tidak ada yang tahu dimana keberadaan istrinya. Atau Milan memiliki teman baru, mengapa istrinya sempat berbohong. Padahal dua minggu lebih, Sela tak bertemu dengan Milan. Jadi, ini mulai terasa Janggal.


__ADS_2