Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 22 : MISTERI


__ADS_3

“Maaf, Paman. Ini tidak benar,” katanya getir. “Aku menyayangi Bibi Milan. Biar ku perjelas sekarang. Kamu hanya pamanku, selamanya begini,”  menggelengkan kepala, “ini takkan bergeser sedikitpun dari tempatnya. Hati Nadia telah tertutup.”


“Tapi kamu belahan jiwaku, Nadia,” kata Guskov dengan mata terbuka sempurna. “Dan kenapa kau menghindari kami, kamu cemburu kan?” tawa Guskov dengan getir semakin meremas tangan Nadia.


“Aku tidak cemburu.”


“Matamu bohong. Kamu bisa mengatakan semua ini dengan jujur, lalu mungkin akan ada jalan keluar untuk kita? bukan dengan cara seperti itu kau terus menghindariku,” desis Guskov dengan nada rendah semakin menahan hentakan tangan Nadia. “Katakan benar, kau juga mencintaiku, sayang. Selama tujuh bulan ini, iya, kan, perasaan kamu padaku tidak pernah berubah, sedikitpun. Ya, kau hanya perlu marah dan melampiaskan kemarahanmu padaku. Apa kau bahkan juga membayangkan kehamilan seperti Milan, di posisinya?” Bibir Guskov getir mendapati mata Nadia yang membesar seakan tak percaya.


“Ya, kau menginginkannya. Dan mari kita buat seperti itu.”


“Tidak akan, Paman. Tidak akan pernah terjadi. Sampai dunia kiamat.” Nadia dengan nada sangat rendah dan penuh penekanan.


“Itu, akan terjadi. Aku bahkan belum menyelesaikan perkataanku. Kita akan menikah sebelum itu, kau dengar?” Guskov menyeringai pada gelengan kepala wanita itu. “Kau dengar kita akan menikah, dan kupastikan kamu yang memintanya dulu.” Guskov melepaskan tangan Nadia dan gadis itu begitu tajam menatapnya. Dan Nadia pergi setelah menembakkan tatapan beracun yang menusuk relung hatinya.


Guskov membungkuk dan meraup wajah, menekannya kasar ditengah helaan nafas berat. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang telah dilakukannya. Tangannya terus menggosok hidung kening, mengingat-ngingat apa yang baru keluar dari mulutnya.


*


Joko tidak tahan ingin buang air kecil, dia keluar dari kamar dan berjalan ke kamar mandi, melewati kamar putrinya  yang redup itu terbuka, tanpa melihat ke dalam, dia segera menutup pintu Kamar. Sekembalinya dari kamar mandi saat dia akan menutup pintu kamarnya, gerakannya terhenti.


Jeritan malam mengejutkan Joko, dia menajamkan pendengaran lagi dan membenarkan posisi sarungnya. Teriakan itu semakin keras membuat Joko bergegas menuruni tangga dan menuju asala jeritan dan keributan yang berasal dari kamar Guskov.


Joko merasakan jantungnya berdebar dan nafasnya tersengal setelah berjalan lebih cepat. Dia mendapati cahaya lampu kamar yang tadi redup kini menyala dengan lampu neon putih karena Vaya baru menekan saklar.


“Apa yang kalian lakukan, manusia tak bermoral!” Vaya menarik selimut itu tapi ditahan tangan Nadia yang berusaha menutupi dadanya sambil merintih.


Sementara Joko yang berdiri di pintu masuk lebih dalam ke kamar Guskov saat mendengar teriakan Vaya bertubi-tubi.


Dan tubuh Joko membeku, sontak mundur beberapa langkah untuk mencerna situasinya pada dua anak manusia yang di atas tempat tidur.


Rasa sakit perlahan menghantam dunia Joko. “Nnnna-Naa-nadia-” suaranya retak mendapati tubuh putrinya tertutup selimut ungu, menampakkan bahu polosnya dan rambut acak-acak kan yang kusut.


“Ayah,” Nadia menggelengkan kepala dengan terus beruraian air mata, dan ayahnya terus menggerakkan tangan ke atas ke bawah sambil menyentuh kening berulang kali dan terus  mengusap sarung di tengah hujatan Kak Vaya. Tatapan ayah yang nanar dan sarat akan kecewa, mata itu mulai berkaca-kaca dengan alisnya naik sangat tinggi. "Ayah, bukan seperti yang ayah pikirkan!"


Joko melayangkan tinjuan ke wajah Guskov yang masih terpejam. "Bede..bah mesum." Didapatinya pria telanjang itu mulai sadar, Joko menutup hidungnya katena aroma alkohol begitu kuat dari suami Milan.


“Apa yang dilakukan putrimu, Mas!” Vaya berjalan ke samping dan  menampar pipi Nadia, hingga Nadia makin meringis.


“Bede..bah apa yang kau lakukan pada putriku!” Menarik lengan Guskov kasar hingga selimut turun ke pinggul polos pria itu. Dada Joko makin bergemuruh, "Paman seperti apa kamu ini. Aku menitipkan anakku agar dia aman! Dan kau menghancurkannya, apa kau masih waras?" Dua tinjuan kembali mendarat pada pria yang masi linglung.

__ADS_1


“Apa-apa-an-” Guskov menyingkirkan cengkraman di lengannya. Dia duduk tegap di tengah rasa ngilu di wajah saat umpatan terus melayang dari Kak Vaya.


Guskov menajamkan mata ke samping kiri dan terlonjak sampai refleks menjauh. “Nadia?” Guskov kebingungan dan menyentuh-nyentuh bahu polos mungil itu, “ke-kenapa?” matanya membesar pada tanda merah di bahu Nadia dan tangisan Nadia yang teraniyaya. “Si-siapa yang melakukan ini padamu, sayang?”


“Apa ‘sayang’ astaga apa?” Vaya menunjuk-nunjuk Guskov tak percaya.


Joko membeku pada kalimat Vaya yang terakhir, dia saling tatap dengan Vaya. Mungkin pria ini masih mabuk.


“Kau dengar Mas Joko, apa katanya ‘sayang’ ? kau mendengarnya?”


Joko menatap tajam putrinya yang terus menggelengkan kepala dan mengelus pipi kiri yang tampak merah bekas tamparan. “Bagaimana bisa kau di sini, Nadia?”


“Ayah, aku tidak tahu,” pekik Nadia di tengah tubuhnya gemetaran dan rasa jijik menyelimuti dirinya sendiri.


“Kau bilang tidak tahu?” Vaya menjawab dengan penuh emosi. “Aku datang ke kamar ini untuk menutup pintu kamar ini, dan menemukanmu memeluk suami dari bibimu dengan tubuh kotormu.”


Nadia terus menggelengkan kepala, tangannya makin memeluk selimut saat dingin menyelimuti sekujur tubuhnya. "Aku tidak tahu apa-apa, percayalah, Kak," mengi Nadia di tengah keringat dingin membasahi wajahnya, dia membayangkan sesuatu mengerikan telah terjadi.


Joko mengikuti arah tangan Vaya dimana pakaian putrinya dan Guskov bertumpuk, dan tidak jauh dari itu nampak cela…..na da…..lam pria.


“Kalian berzina.” Joko jatuh loyo diantara teriakan Vaya dan tangisan putrinya yang terus menampik.


“Apa kau pikir Guskov menggendongmu dengan kaki patahnya?” Vaya terus membentak Nadia, berusaha menelpon nomor Milan dengan ponsel ditangannya.


“Vaya keluarlah,” geram Joko. “Biarkan mereka berpakaian.”


“Ini salah paham, dengarkan dulu, kami tak melakukan apapun,” geram Guskov di tengah sakit kepalanya. Dia terus memijat kepalanya dengan terus mengamati Nadia yang menangis.


“Sebenarnya, apa ini, sayang?” tanya Guskov setelah dua orang pergi.


“Jangan memanggil aneh-aneh !” pekiknya bergidik.


“Kenapa kau bisa di sini? dan apa kau tak berpakaian!?” Guskov dengan refleks membuka selimut. Terlihat di mana dirinya polos, dan selimut itu sempat memperlihatkan kulit samping paha Nadia yang polos. “Tenanglah, sayang. Aku akan bertanggung jawab, jika aku melakukan sesuatu. Hentikan tangisanmu! kau membuatku bingung.”


Nadia dengan perasaan hancur dan tidak tahu apa-apa, bergegas cepat-cepat menggunakan pakaiannya dengan kesulitan karena tak fokus dan gemetar, setelah menyuruh Guskov menghadap arah berlawanan.


“Apa bisa kamu katakan, kenapa kamu bisa di sini?” tanya Guskov pelan dengan masih membelakangi Nadia.


“Aku tidak tahu Paman! Jangan memojokkan ku!” isak Nadia masih mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi, tangannya gemetar, tubuhnya sakit semua, lelah sepulang kerja dan harus ada kejadian seperti ini.

__ADS_1


*


Di ruang keluarga Joko dengan getir mendengarkan keterangan satu-persatu dari Guksov dan putrinya, di tengah bentakan Vaya yang terus menuduh putrinya.


“Jangan menyalhkan putriku! dia tidak seperti itu,” kata Joko dengan tegas.


“Mas, kamu tidak membesarkannya sendiri. Jadi kamu tidak akan tahu kelakuan asli anak kesayanganmu ini.” Vaya menatap tajam pada dua orang yang tengah di sidang. “Kalian, benar-benar, ya, menjijikan. Apa kalian coba memberikanku kejutan dengan kepulanganku? Berapa lama kalian melakukan ini? Pasti ini bukan pertama kalinya, kan.”


“DIAMMMM VAYA.” Rahang Joko mengeras, aura seramnnya membuat Nadia kian tertunduk ketakutan. Dan Vaya duduk lagi, begitu kesal, mana Milan tak kunjung mengangkat teleponnya.


“Nadia harus divisum.”


“Ayah." Nadia merasakan tenggorokannya tercekat dan panas, dia menahan nafas. “Tidak ada yang terjadi. Apa ayah tidak mempercayaiku? dan Paman juga tidak sadar. Dia tak melakukan apapun.”


“Ya, karena dia mabuk! semua akan jelas setelah pemeriksaan. Dan apa kamu cuma bisa diam saja, Guskov? Ingat kau harus bertanggung jawab dengan menikahi putriku.”


"Aku tidak mau ayah!" terik Nadia histeris. Dia menggelengkan kepala cepat dan bersimpuh di kaki sanga ayah. "Jangan Ayah, Nadia tidak mau. Tidak ada yang terjadi ayah," katanya di tengah histeris memilukan.


“Apa? Astaga mas, Apa kamu sudah gila? Aku benar-benar nggak habis pikir denganmu. Adikku baru hamil dan harus mendengar hal kotor ini!! Kalian ber dua, benar-benar sia..alan.  Lebih baik sembunyikan ini dari Milan. Dan Nadia, jangan bermimpi jika kau akan dinikahi pria Guskov, dan takkan ada yang mau menikah denganmu!” Vaya  bangkit dan mondar-mandir sambil menggigit jari. "Kalian benar-benar menghancurkan hati Milan, dan kau Nadia jangan menangis bikin pusing!"


“Tidak ada yang perlu di sembunyikan.” Guskov tegas, “apapun Milan harus tahu ini.”


Vaya menyipitkan mata dan merentangkan kedua tangan membuang kesal. “Suami tak berguna! Oh, sepertinya kau tak menyesali ini. Sepertinya kalian benar-benar selingkuh selama ini? pasti!” kata Vaya terengah-engah, tak sabar dengan kebohongan dua orang itu.


“Sudah kembali ke kamar masing-masing. Kita akan tahu besok.” Joko beralih ke putrinya. “Jika kamu tak bersalah, tak perlu takut.” Joko lalu menuntun putrinya ke kamar.


Vaya dan Guskov saling tatap, suasana terasa begitu panas.


“Kau ingat pada perjanjian Papa Bram, kau takkan mendapat sepeserpun karena ini. Kau sudah mengkhianati adikku. Da..sar hidung belang! Dan kupastikan sendiri kau akan keluar secepatnya dari rumah ini,” desis Vaya hampir-hampir menampar adik iparnya, tetapi diurungkan.


Sementara Guskov tersenyum kecut sambil memijat kening. Dia melihat kepergian kakak iparnya, dan mencoba mengingat sesuatu sebelum tidur.


Dia hanya meminum satu botol Vod*ka dengan menonton TV di kamar, lalu semua terasa ringan dan memimpikan Nadia. Dia yakin itu mimpi. Lalu dia terkena hantaman yang adalah pukulan ayah Nadia, dan kenapa Nadia sudah berpindah ke kamarnya. Apa pacarnya diam-diam merangkak ke tempat tidur sepulang dari kerja?


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2