Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 29 : MENGIKUTI MILAN


__ADS_3

Reno perlahan berjongkok di depan Nadia dengan rasa bersalah. “Hari ini sebaiknya kamu pulang saja, Nadia. Jangan terlalu memaksakan diri, ada saatnya kita memberi waktu untuk diri sendiri.”


“Kalian pergilah,” mengi Nadia sambil menyeka pipinya yang basah oleh deraian air mata. Bibirnya saling meremas, dia merasa tidak butuh untuk dikasihani.


”Untuk apa kalian masih di sini. Apa kalian tak mendengarkanku?!”geram Nadia dengan wajah merah padam sampai urat di keningnya menonjol sambil merebut tas dan buku-buku dari tangan Ernest ketika Nadia makin bergidik pada tatapan sinis anak-anak yang baru lewat.


Ernest mengecap-ngecap liurnya yang mengental,semua kata-kata  berhenti di tenggorokan dan hanya memandangi Nadia yang bangkit dengan bahu loyo dan mata merah dengan menghindari tatapannya dan tatapan Reno.


“Ku bilang pergi!!!” desis Nadia sambil menepis dengan kasar tangan Reno. Lalu masuk kelas dengan tertunduk di tengah cibiran panas teman-temannya yang coba diabaikannya, hatinya hancur dan  kata-kata pedas terekam dengan jelas, berputar-putar di kepalanya hingga membuatnya merasa tidak berharga.


Tidak Boleh. Nadia menepis kekalutannya dan hatinya bergetar, menguatkan diri dan harus bertahan, untuk sebentar lagi, hanya beberapa bulan lagi.


Ernest dan Reno saling tatap, seolah satu sepemikiran untuk mencari jalan keluar atas penderitaan Nadia, tetapi pikiran itu buntu untuk saat ini. Setidaknya Reno ada kelegaan karena masih ada Ernes yang mengawasi Nadia dari kekejaman anak-anak.


Dengan tatapan makin dingin Ernest melirik jengah pada anak-anak yang semuanya menunduk seolah lari dari tatapannya. Anak-anak yang biasa kesulitan berbicara dengan Ernest kini justru bergidik dan ngeri dengan aura kuat penuh  kekesalan tertahan yang dipancarkan Ernest. 


Sehingga suasana kelas yang biasanya ramai dengan teriakan dan ocehan kini seperti kuburan, nyenyat, hanya suara saling berbisik. Tubuh anak-anak membeku karena Ernest duduk di belakang, mereka tahu sedang diawasi. Mereka takut bila Ernest melapor pada papanya yang adalah pengusaha kaya, takut lalu Ernest membuat perhitungan hingga merambat pada keluarga mereka.


Pasalnya keluarga mereka  rata-rata pegawai di pabrik industri makanan yang sudah dikenal sampai luar negeri, milik papanya Ernest. Walau terlihat Ernest yang tak pernah mengandalkan nama orang tuanya dan terlihat mandiri, tetapi tetap saja,mereka takut pada nasib pekerjaan orang tuanya.


 


“Kamu saja yang deketin dia,” bisik Ernest pada Sera. “Dia mungkin mau berbicara denganmu.”


“Tidak, Er. Dia mungkin ingin sendiri,” bisik Sera lalu mengangkat bahu karena tidak tahu harus berbuat apa.  


Sepanjang waktu, Nadia tidak menghadap ke depan, dan sering membungkuk atau membenamkan wajahnya di meja dengan terus menyembunyikan wajah dengan rambut pendeknya. Tampaknya rambut pendek itu kini sangat berguna bagi wanita itu yang terlihat tak bernyawa.


Berulang kali Ernest menggaruk punggung, tidak tahu bagaimana harus bereaksi, dia yang tidak terbiasa dengan kesedihan Nadia.Dan berandai-andai jika dia datang lebih awal, semua ini tidak akan terjadi.


Nadia tidak memiliki waktu untuk kesedihan walau dunia ini menenggelamkannya. Apapun yang terjadi jangan sampai dirinya kalah dari keadaan.


Nadia menuruti Ernest untuk mengantarkannya ke tempat kerja karena motornya dibawa Shelin.


Ini dilakukan Nadia juga karena dia tidak ingin Ernest terlalu memikirkannya. “Er, tidak usah jemput aku, ya. Hari ini aku sudah janjian pulang dengan Lila.”


“Beneran nggak di jemput?” Ernest memutar bola mata ke atas, mengira Nadia menghindarinya. Dia tidak mau memaksa sehingga  hanya membuat  Nadia tertekan. “Baiklah, jika itu maumu. Kabari aku terus dan jangan terlalu kelelahan.” Ernest menatap Nadia yang mulai melangkah. “Nad, tunggu! Ini ketinggalan.”


“Iya, apanya yang tertinggal, mmhh?” Nadia berhenti dan berbalik saat pria itu berlari dan membuka ransel dan memberikannya seplastik lolipop.


Nadia memiringkan kepala ke kiri memperhatikan plastik yang kini di pegang Nadia, dan  diambil Ernest lalu dibuka bungkus besarnya, sampai  diambil 2 batang dan dikupas kulitnya.


“Sungguh, yang benar saja! permen, Er, seperti anak kecil!?” pekik Nadia sambil tersenyum geli dan pria itu lalu mendorong lolipop ke mulutnya. “MMMhhh-”

__ADS_1


“Hari ini adalah hari permen sedunia, mulai hari ini aku dan kamu harus suka permen.” Ernest tersenyum dengan menawan lalu menjulurkan lidah memamerkan lolipop rasa susu di mulut  Ernest sendiri.


Nadia menarik lolipopnya rasa melon, manisnya mengurangi rasa kecut-pahit akibat asam lambungnya yang kambuh. “Why?”  menyipitkan mata coklat, dia menyibak rambutnya yang terus terbang ke depan wajah. ”Apa ini karena kejadian tadi?”


“Tidak, Nad. Sebenarnya aku sudah beli ini kemarin, tetapi … ya, karena di kosmu ada pamanmu, aku jadi malu memberikannya, aku tidak mau pria tua itu sampai mengejekku. Jadi, aku memberikannya sekarang. Jangan bilang aku harus menunjukkan struk pembelian permen ini?” Ernest beralasan dengan berbohong, padahal ini baru dibelinya tadi. Semoga Nadia tidak menanyakan struknya.


“Ah, jadi  begitu? atau jangan-jangan ini untuk pacar kamu?” Nadia melirik Ernest yang merebut plastik lolipop lalu memutari tubuh Nadia dan  memasukan ke dalam ransel milik Nadia.


“Aku masukan ini di sini. Dan aku tidak punya pacar, ya. Lalu jika kamu sedih, hisap ini dan ingat wajah aku.”


Alis Nadia terangkat satu dan tersenyum penasaran. “Kenapa harus sambil mengingatmu, apa korelasinya?”


“Supaya rasanya semakin manis, kayak aku! Hahaha.”


Nadia geleng-geleng kepala menatap kedipan Ernest  yang kini di depan wajahnya persis, dengan jarak sekilan. Pria ini selalu saja berhasil menghibur, dan sangat baik tabiatnya. Jika dia belum mengenal Guskov, pasti dia pun akan jatuh cinta pada keramahan Ernest. Dia masih saja mengagumi pria di depannya yang selalu punya aura kuat  positif dan pekerja keras.


Ernest menatap lekat-lekat mata Nadia yang masih merah, bibir mungil itu mulai mengukir senyuman yang sangat mempesona. “Nah begitu, dong ketawa. Yaudah, gih, sana masuk. Aku menunggumu di sini takut ada mak lampir menculikmu.”


Pria itu langsung berdiri tegak saat keinginan untuk mencium bibir Nadia kembali muncul, dia menggigit bibir bawah lalu kembali menjulurkan lidah sambil menghindari pukulan Nadia.


“Why? kamu aneh! Bersikaplah seperti biasa.” Nadia berusaha tersenyum dan menatap serius mata hazel sahabatnya. “Jangan kasihani aku, aku kuat, kok, kan ada kamu dan Shelin.”


Ernes mengangguk dengan trenyuh terus memandangi kepergian Nadia sampai akan memasuki pintu lalu pria itu melambaikan tangan. Pemuda itu terus bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyatakan perasaanya. Lagi Pula bagaimana bisa dia memiliki kesempatan itu saat pria tua itu terus membanduli Nadia. “Huft da..sar pria tua.”


*


“Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat menerima panggilan.”


Suara operator lagi, dan lagi. Guskov meremas ponsel dan menatap deretan jalanan yang selalu dilewatinya saat jam makan siang.


“Teleponmu tak di angkat, kan?” Jerry mengemudikan Rubicon putih di jalan raya sibuk. Dia melirik spion kiri dan memperlambat laju kendaraan, kemudian pindah ke lajur kiri. 


Banyak kendaraan yang baru keluar dari perkantoran di jam istirahat dan angkot yang suka berhenti mendadak di bahu jalanan memperparah kemacetan.


 “Enggak, padahal aku ingin berbicara baik-baik dan menyelamatkan pernikahan kami. Dia pasti belum menghubungi pengacara, kan?” Wajah Guskov makin terlihat tertekan, dia ingin berbicara terlebih dulu dengan Milan sebelum bertemu dengan ayah Nadia.


“Ya, tetapi jelas kamu sudah dilarang memasuki kantor. Tetapi ngeselin banged si sampai security yang kamu gaji selama ini berani-beraninya kasar kepadamu.” Jerry geleng-geleng dan mengepalkan tangan lalu melirik kanan kembali ke lajur kanan. “Hah kenapa pada ngode di tengah jalan si, apa tidak bisa minggir dikit, memang jalan milik mereka apa.”


“Sabar, Jerr. Di jalanan memang panas, kalau hatimu panas, bisa BUBAAAR.”


“Kau haru pecat mereka segera setelah kau bisa balik ke Bramansyah Group!” Jerry kembali ke topik. “Mengapa mereka memutuskan sepihak.” 


Jerry begitu kesal pada pegawai Guskov yang tadi begitu merendahkan Guskov sampai mendorong kursi roda Guskov hingga jatuh. “Harusnya kau kasih aku waktu buat menghajar wajah sombong mereka, ya  elah!”

__ADS_1


“Guskov, sepertinya pegawaimu tidak mengenal betul siapa kamu. “Mengapa kau biarkan saja mereka, seharusnya kau membela diri, jangan mau diinjak-injak seperti itu. Kebiasaan manusia memang ya, habis manis sepah dibuang. Lihat tatapan mereka SOMBONG! Sombongnya ngalahin presiden. Presiden negara ini juga tidak sombong. Aku yang memiliki modal saja biasa saja, aku semakin ingin menarik dana ku dari sana, itu benar-benar tak dapat dimaafkan.” Jerry meremas stir kuat-kuat dengan nafas tersengal dan mulai membelokkan setir ke kiri memasuki Jl. KH Ahmad Dahlan.


“Aku minta maaf atas sikap mereka, Jerr. Sungguh mereka hanya tidak tahu, jangan salahkan mereka.” Guskov menghela nafas panjang dan melirik sahabatnya yang sudah berwajah merah padam , sahabatnya  itu tengah melonggarkan dasi dengan tidak sabar, dia menduga Jerry benar-benar marah.


“Aku dan Milan sepertinya … banyak kesalahpahaman di antara kami. Entah apa yang dia pikirkan tentang aku dan Nadia. Aku tidak mau dia berpikir selama ini aku berbuat macam-macam.”


“Huft, Tapi kamu memang sudah satu macam.”


“Itu tak sengaja, namanya …. Kupikir Milan juga paham seperti apa aku, pasti dia mau mengerti karena aku mabuk.”


“Apa Nyonya Bram belum menghubungi mu? Ku pikir dia pasti paling awal yang tahu semuanya.”


“Belum.”


“Sungguh aneh.” Jerry menginjak rem saat lampu lalu lintas menyala merah, lalu mengoper tuas ke N.


Jerry mengelus-ngelus rahang yang berjambang tipis, dia tidak heran pada Guskov yang mungkin sedang banyak pikiran. Namun sikap mertua Guskov sungguh tidak wajar. “Biasanya kan Nyonya Bram yang paling galak pada tiap kesalahan sekecil apapun yang kamu lakukan.”  


“Jerr, bantu aku berbicara dengan Milan dong, kasihan anakku.”


“Iya, nanti aku bantu.” Jerry mengoper tuas ke D dan mulai menginjak gas. “Aku juga belum mengucapkan selamat atas kehamilannya, tetapi sungkan juga, jangan bilang nanti Milan mencurigaiku karena ikut menyembunyikan hubungan kamu dan Nadia.”


“Ayolah, Bung. Kamu, kan rajanya pembohong, ksn?”


“Rese- lu, Kov! Ehm aku ingat betul waktu jaman kuliah. Milan kalau sudah galak nyeremin. Jangan sampai aku kena damprat, apalagi  kakanya –si Vaya itu, wanita yang dulunya tomboy dan ditakuti para pria karena jago beladiri.”


“Sorry.”


Dari kejauhan Jerry melihat mobil Milan. ”Eh lihat itu mobil Milan!  Dia mau keluar ke mana? So, kita mau ke rumahmu atau-”


“Ikuti dia, Jerr! aku mau berbicara dengannya. Sepertinya, dia sengaja mematikan ponsel untuk menghindariku. Cepat! Lebih cepat! selip mobil Milan! Kali ini dia tidak bisa menghindariku.”


Guskov dengan hati berdebar, makin meremas ponselnya. “Pasti dia habis makan siang dan baru akan menuju kantor.”


Mobil Jerry terus mengikuti ke arah kampus Nadia, dan berhenti di dekat pintu gerbang kampus.  “Kau tidak bermaksud turun di sini dengan kondisimu seperti ini, kan, Kov? Lihat!”


Guskov dan Jerry terperangah dan saling tatap begitu seorang pemuda berusia 23 an masuk ke dalam mobil Milan di jok depan.


“Apa itu-?” Guskov menepuk bahu dan mengguncang bahu Jerry dengan wajah menegang. “Cepat-cepat, mereka mau kemana!”


“Aku sepertinya pernah lihat di mana ya?” Jerry mulai  melajukan kendaraan jadi ikutan panik karena Guskov yang tak sabar, walau berusaha mengikuti tetap saja  terselip satu mobil  yang baru keluar.


“Sama, aku juga sepertinya pernah melihat.” Guskov mencoba untuk  mengingat-ngingat. “Padahal, ini sudah mau jam kantor tetapi mereka ke arah batas kota, memangnya mau keluar kota?” Setelah mengikuti begitu lama, mobil Jerry terjebak di  jalanan macet akibat putaran balik di depan. “Di mana mobilnya?”

__ADS_1


“Tadi, di depan. So? kemana kita?” Jerry melirik Guskov yang terus menelpon nomor Milan yang tidak aktif.


__ADS_2