Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 25 : HARAPAN NADIA


__ADS_3

“Ayo, Nadia, cepat. Kamu bisa terlambat ngampus.” Shelin menyela situasi yang tak mengenakkan, dan Nadia mengangguk pelan sambil menaruh bunga itu di atas meja.  Ernest duduk di samping Shelin dan meraih sarung tangan plastik untuk membantu membuat bulatan adonan tepun ketan, begitu juga Nadia yang kembali membulatkan  isian kacang hijau. Sementara Guskov merekatkan biji wijen yang ke bulatan. Selama 15 menit, 200 onde-onde siap goreng telah jadi.


Nadia fokus menggoreng di dapur, di bersyukur ada pesanan snack dari anak fakultas sebelah, bisa untuk tambah-tambah biaya fisioterapi minggu depan pamannya. Mau di pikir-pikir gimanapun rasanya sesak, apa pamannya benar-benar diusir bibinya.


“Nad, jangan melamun dong, itu tuh mau gosong sebelah, ya ampun kamu. Sini aku yang nggoreng ah.” Shelin bergidik, takut rumahnya kebakaran karena ulah Nadia.


“Ma’af Sheli, a-aku. Biar aku saja.” Nadia kembali fokus, dia harus mencari uang untuk membayar biaya kos double. Kenapa semua itu memusingkan. Sebenarnya, yang lebih mengganggu pada paksaan ayahnya. “Aduh. Ya Tuhan bukannya hamba mengeluh,hamba ini hanya tidak tahu harus apa.”


Di kursi pojok  ruang tamu yang dekat jendela, Ernest duduk tak bersemangat sambil membaca chat dari Shelin yang baru menceritakan semuanya. Kini kaki Ernes selonjor di atas kursi membelakangi jendela. “Sampai kapan kamu tinggal di sini, pria tua?”


“Aku akan segera keluar.”


“Keluar kemana, lihat saja kakimu. Padahal, kau kan bisa bekerja dari rumah, toh? Jangan sampai aja terlalu menyusahkan Nadia. Dia saja sudah kelelahan pulang kerja jam 11 malam, dan kamu menambah bebannya, huh.” Ernest menggigit bibir bawah dan  melirik Guskov yang berekspresi datar.


Sampai Nadia akan berangkat kuliah, Guskov tak berdaya dengan bibir terus berkedut di kursi roda depan pintu, menatap Ernest siap di motor Shelin.


“Paman, aku kuliah dulu, dan aku baru pulang jam 11 malam.” Nadia yang sudah berlutut di depan Guskov. “Semangat dong, Paman. Aku saja semangat.” Sekali lagi Nadia tersenyum pantang menyerah, hanya bermodal semangat semua bisa terlewati, tak tega setiap melihat wajah protes Guskov yang terus menghembuskan Nafas seperti banteng.


“Ma’af, Nad.Sem-”


“Paman, sudahlah. Hem mau dikata apa lagi, nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlambat, jangan lupa minum obatnya, aku udah sempetin bawa itu.” Nadia terkikik sambil berdiri, dan wajah pamannya tak setegang tadi. “Daah … “


Guskov terus berkedip dengan hidung berkerut, menyaksikan pacarnya membonceng pria lain. Ya selamanya, dia menganggap Nadia adalah pacarnya, kekasih hidupnya. Seandainya juga Nadia menjadi istrinya, itu akan sangat membangkitkan semangatnya,


*


Pak Kris dan Bi Asih baru tiba di rumah utama keluarga Bramansyah. Hari ini Nyonya Milan dibawa pulang ke rumah oleh Vaya, karena mendadak jatuh sakit. Dokter keluarga dipanggil ke rumahnya untuk memeriksa kondisi yang mulai demam dan menggigil dari pagi.


Pak Heru, kaki tangan Nyonya Bramansyah mengetuk pintu kamar sampai terdengar perintah. Dia membuka pintu dan menahannya membiarkan dua asisten rumah tangga memasuki kamar, lalu pintu itu dikunci.


Pak Kris dengan posisi siap berdiri dengan dua tangan di depan paha, menatap Nyonya Bramansyah yang rambut putihnya bercat merah, itu digelung dengan mengenakan tusuk konde yang berbandul emas. Nyonya Besar tak beralih dan tetap memandang pemandangan diluar jendela pada view kolam dan deretan pohon palem sambil berdehem beberapa kali pertanda sudah diizinkan berbicara.


“Semua sudah berjalan lancar Nyonya. Semua orang percaya bahwa Guskov dan Nadia tidur bersama, tidak ada yang curiga pada hasil visum itu. Dan nona Vaya sudah memarahi Guskov habis-habisan, begitu juga Nadia yang jadi kena damprat melenceng dari rencana. Bahwa nona Vaya juga mendengar Guskov memanggil sayang, entah itu karena mabuknya ata-”


“Langsung ke inti, Pak Kris,” titah Pak Heru ketika mendengar deheman tidak puas nyonya besar.

__ADS_1


“Seharusnya, nona Milan hari ini sudah menemui pengacara, bila bukan karena sakitnya,” kata Pak Kris dengan ragu, tidak tahu mana yang harus diceritakan.


“Nyonya, suatu malam saya juga pernah mendapati, Guskov diatas Nadia di sofa saat ruang keluarga lampunya redup, saya mendengar geraman Tuan Guskov,” kata Bi Asih sambil berpikir, mungkin perlu dibumbui sedikit, “dan ******* Nadia. Karena begitu kaget saya lari ke lantai atas tanpa menimbulkan suara, dan saya pergi untuk menyetrika malam-malam. Saat kembali … saya melihat Nadia sudai di lantai atas baru keluar dari kamar mandi dengan membawa sesuatu di tangan, saat itu nona Vaya juga berpapasan Nadia.  Ternyata yang direbut nyonya Vaya adalah cela…na da…lam basah.”


Nyonya Bramansyah langsung mendesis dan berakhir melempar vas di dekatnya ke sembarang arah, punggungnya turun dan naik karena nafasnya yang cepat, membuat tiga orang di kamar itu panik dan ketakutan.


“Keluar,” titah Pak Heru pada dua orang itu, tanpa dua asisten bisa melihat wajah Nyonya Besar. Dua orang berjalan mundur dengan cepat ke belang, sampai gemetaran membuka kunci pintu yang jadi licin karena keringatnya.


“Cepat Pak Kris, apa kamu mau dilempar,” bisik Bi Asih pada Pak Kris yang kelamaan.


“Buka saja sendiri, kenapa aku,” bisik Pak Kris yang gemetaran masih berusaha, tetapi matanya terus tertuju pada tangan Nyonya yang siap mengambil senapan, dan pada saat yang sama Pak Heru cepat berlari  dan memukul Pak Kris agar mundur, dia bergegas memutar kunci dan cepat mendorong dua tolol ke luar pintu. “Fiuh,”


Pak Heru berusaha gerak cepat dan mengunci lagi saat berbalik tembakan tepat di pintu bergetar, dia melirik ke arah perut, paha, kaki masih utuh. Peluru itu mengenai pintu jati yang kini berlubang.


Heru berlari an mengambil ponsel milik nyonya dan berdiri di sampingnya untuk menerima senapan yang diberikan itu.


“Nenek Tua, kenapa nggak mati-mati, kerjaannya bikin orang menjadi gila saja sih,” batin Heru masih menunggu perintah pada wajah lebar sang nyonya.


“Pindahkan dua orang itu ke luar pulau,” titah nyonya sambil meraih ponselnya.


“Milan akan bosan sendiri, biar saja anak itu tahu kelakuan cecunguk kecil. Ada untungnya karena anak itu, Milan jadi tak memboboti Guskov, kenapa tidak dari dulu, sampai harus menunggu enam tahun. Hah! memalukan nama keluargaku saja.”


“Dua hari lagi, akta pengalihan perusahaan keluar, nyonya. Selamat, Bramansyah Group telah anda dapatkan kembali,”  kata pak Heru dan disambut gelak tawa wanita itu di sela asap rokok karena menikmati kemenangannya.


Nyonya Bramansyah menyeringai, pasti mantu bodohnya takkan mengira bahwa Milan membuat pria itu menandatangani pengalihan akta ketika Guskov belum lama sadar pasca operasi kakinya. “Selamanya sampah tetaplah sampah. HAHAHA.”


*


Nadia sudah lima belas menit  di kos Vivi yang didepannya terdapat tenda terpasang rapih, dia menerima empat tempat bekas onde-onde dan menerima uang 400 ribu. “ Terimakasih banyak, Vivi. Saya pamit ya.”


“Yo’i bestie … “


Nadia berjalan 60 meter ke motor, dan Ernest membawa kotak kosong ke depan motor honda beat ungu, saat Nadia memasukan uang ke dalam dompet. “Er, kamu nggak usah jemput aku ntar malam lah, deket kok.”


“Ye, siapa yang jemput elu, kepedean. Aku kan pas balik dari tempat temen.” Ernest menunggu Nadia membonceng sambil memakai helm. Lalu mulai melajukan kendaraan pelan. “Nad, kamu tidak apa-apa?”

__ADS_1


“Apanya?”


“Kamu nggak ada yang mau diceritain, gitu?” Ernest berhenti di lampu merah, menikmati sepoi angin dan bau wangi warung sate di perempatan yang bikin perutnya makin kruyuk-kruyuk. Kapan bisa makan sate lagi, pikir Ernest.


“OH, Anu bukannya kamu tadi mau kencan ya? bungamu ketinggalan dong. Apa perlu kita balik dulu?” Nadia mengingatkan.


PIM


“Ha kencan? kencan sama kamu maksudmu? Ernest mulai melajukan motor saat kena klakson mobil di belakang.


“Apa-an si. aku serius nanya kok.”


“Aku juga serius tanya kok.”


“Kamu ya, ngeselin sumpah, Er.”


“Kamu jauh lebih ngeselin, Nad.”


“Ya-udah kita memang sama-sama ngeselin. Udah tau ngeselin kenapa juga masih dianterin.”


“Mahluk kaya elu langka sih, udah harus di museumkan kamu HAHAHA.” Ernest tertawa di sambut kikikan Nadia. Hati Nadia menghangat, sahabatnya selalu punya cara menghiburnya. Nadia berpikir, akan beruntung sekali yang menjadi pacar Ernest. Baik perhatian dan Mandiri.


"Jadi siapa yang akan kamu kasih bunga, Ernest?" batin Nadia masih penasaran, dia bersyukur dan ikut senang karena itu. Semoga Ernest mendapatkan kekasih yang terbaik yang diinginkannya.


Nadia tersenyum menatap jajaran toko yang dilewatinya ditengah bau parfum ernest. Pria ini tak biasanya memakai parfum ini, dan jantung ini mulai berdebar, baunya enak dan menyenangkan, pasti siapa saja betah di sampingnya, bau yang bercampur dengan aroma tubuh khas pria ini.


Nadia terpejam inni tak seberat kelihatannya. Padahal, semalam Nadia berfikiran dunia ini akan terus gelap walau hari secerah ini. Ternyata masih ada secercah sinar meski di kegelapan hati dan pikirannya kini, 'kita akan bisa tetap berjalan jika kita mau, hanya perlu melangkah, terus melangkah' itu semboyan yang selalu digerungkannya setiap kali badai ini datang.


Seperti sebelumnya, walau terlihat tak mungkin, pasti semua akan terlewati.


Walau di relung hati terdalamnya sangat terluka, dan begitu jijik saat mengetahui dirinya telah kotor, sangat kotor, cukup dirinya yang tahu atas luka perih tak berdarah ini, atau mungkin hatinya telah bernanah hingga harus terus merasakan keperihan ini.


Sejujurnya, dia ingin, ada satu orang saja, yang tahu bahwa. AKU LELAH


Tetapi harapannya hanya satu ke depan, dia ingin membuat tersenyum orang-orang di sekitar.

__ADS_1


__ADS_2