Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 24 : BUKET BUNGA


__ADS_3

Vaya  kemudian mencengkeram dan mendorong kursi roda yang diduduki Guskov, melewati di depan Milan yang terduduk tak berdaya di lantai.


Vaya bahkan membuat Guskov melihatnya sedang mengemasi sekoper pakaian Guskov. “Kau yang memulainya, Guskov. Kau pikir aku tidak tahu?” geram Vaya, dan disambut rintihan Guskov yang baru saja pecah di kamar setelah ditahan-tahan di depan Nadia dan Milan.


 “Guskov, jangan histeris. Milan takkan mendengarkanmu, dia masih muda. Para lelaki kaya akan menantinya.” Milan dengan kesal sambil menginjak-nginjak pakaian Guskov di dalam koper.


“Apa maksudmu kau mau menjual istriku? dan itu takkan terjadi,” desisnya tertahan. "Aku akan menjaga Milan sesuai janjiku pada mendiang Papa Bram."


"Sungguh ironis. Bagai pungguk merindukan bulan. Ingatlah tempat mu, Guskov. Keturunan Bramansyah takkan membutuhkanmu. Kau yang menumpang hidup pada kami."


Para security berdatangan ke kamar dengan tatapan merendahkan pada pria cacat yang menjijikan bagi mereka. Begitu juga satu pria yang menarik kasar lengan Nadia untuk berkemas.


Sementara, Milan masih tak beranjak dan terus menatap kosong pada lantai, ingatannya jauh melayang pada setiap kelembutan Guskov dan perhatiannya setiap kali menghiburnya, saat-saat mulai muncul benih-benih ketertarikannya dan senyuman tawa Guskov. Milan memeras kepalanya dengan dua tangan seperti orang gila.


Pak Kris mendorong kursi roda Guskov keluar dari rumah, security lain menarik lengan Nadia yang membawa ransel berisi laptop dan buku. Guskov mengingat tatapan kemarahan Milan, berulang kali dia menjelaskannya, istrinya tak mau menatapnya dengan mata sudah merah berkaca-kaca.


Pintu gerbang tertutup, jam 10 malam, dan tubuh Guskov  yang sedang demam sejak semalam keributan di kamar, dan kini makin tak karuan, menatap nanar pada Nadia dengan dihinggapi rasa bersalah.


Sudah berapa banyak tombak beracun yang Telah Guskov lepaskan pada gadis yang tidak tahu apa-apa. Kini Vaya bahkan sudah merampas semua isi dompet Guskov, semua kartu debit-kredit, meninggalkan kartu identitas. Lalu terlihat Nadia memanggil grab dengan wajah kaku, nampak terlihat tegar, Guskov benar-benar malu pada gadis itu.


*


Situasi di dalam rumah :


“Milan, Guskov tidak sebanding dengan air matamu. Apakah menurutmu dia bersinar. Kamu akan menemukan pria pintar dan penyayang, seperti yang kamu impikan. Mengapa kamu membutuhkan bajingan kecil ini?” Vaya meyakinkan seraya mengelus rambut adiknya yang acak-acakan. Milan yang terbaring di tempat tidur dengan kepala di pangkuan Vaya, terlihat begitu terpukul.


“Enam tahun terbuang sia-sia, kenapa?”


“Hentikan, kamu baru tiga puluh. Ada banyak pria yang layak di depan, seluruh dunia ada di kaki mu, pilih siapa saja dan nikmati. Dan lanjutkan sekolah musikmu.”


“Mudah bagimu, kak, untuk berbicara.” Terus terang, Milan tidak percaya bahwa ini adalah perpisahan terakhir meski dia memang merencanakannya, tetapi mendengar kegilaan seperti ini benar-benar membuatnya kehilangan diri. Dan dia sendiri tidak mengerti itu apa.


Sama sekali tidak ada kesenangan karena ini, dan justru sakit menikam relung hatinya. Apa suaminya benar-benar seperti itu. Tidak mungkin, Guskov tidak seperti itu. Dia ingat bagaimana pria itu sangat menghargai kehormatan wanita. Dan tampaknya Nadia juga begitu polos, anak itu tak mungkin berani merangkak.


Dan kenapa kak Vaya justru membiarkan mereka pergi berdua. Milan menggigit bibir dengan perasaan sangat getir, hatinya kian bergemuruh seakan tidak rela. Dia yakin Guskov hanya mencintainya, kan? Pasti itu kesalahan. Pasti Guskov akan kembali dan merayunya. Pasti.


*


Masih menunggu di depan warung: Guskov dan Nadia menatap rumah itu. Nadia terus meminta maaf pada pamannya, dan Guskov menyuruhnya diam.

__ADS_1


Nadia termenung, Seandainya tujuh bulan lalu dirinya tak menginjakkan kaki di rumah ini, bahkan bila tetap menginjakkan tetap stop sampai di situ tak pernah muncul lagi di depan Guskov, mungkin dia takkan menghancurkan kehidupan milik orang yang dicintainya. Apa perlu dia menjelaskan semua pada bibinya agar mau memaafkan Guskov.


“Aku tidak tahu harus berbuat apa?” Nadia menggosok kelopak mata dengan jari-jarinya.


“Aku mengerti.” Guskov yang duduk di kursi roda,  mengangguk. “Aku mengenalmu, ini bukan kesalahanmu, Nadia.” Guskov tidak mengerti sama sekali dengan situasi ini.


“Ya, Tuhan betapa sulitnya ini.” Air mata menggenang di mata Nadia. Bagaimana dia bisa membuat kesalahan begitu besar? Bagaimana hal itu terjadi? Dia tidak mengerti.


Nadia memasukan koper saat sopir mengangkat tubuh Guskov ke dalam mobil.


*


“Selamat pagi. Apa kabar?” Shelin  pemilik rumah, mendorong teh panas ke depan meja ruang tamu.


“Tidak cukup tidur,” kata Guskov tanpa menoleh. Dia terus mengamati Nadia yang melayani pembeli di bawah pohon mangga. Gadis itu tak selemah kelihatanya, semalam sudah menangis seperti orang gila, paginya seperti tidak ada apa-apa, walau jelas tatapannya tak bisa menyembunyikan itu semua.


Guskov menoleh ke kanan, "Shelin, terimakasih karena mengijinkan ku ngekos di sini."


"Ya, mau apa dikata lagi. Kau harus mematuhi ku. Jangan pernah mengganggu Ernest. Apa lagi sampai memukulnya. Atau aku mendepak mu dari rumah ini, Tuan Guskov," kata Shelin dengan nada mengejek, lalu terkekeh, mencoba untuk mencairkan suasana, dan disambut helaan nafas kasar Guskov.


"Aku seorang pengecut. Benar-benar sampah pengecut. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa pada Milan kemarin. Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan kebenaran perasaanku tentang Nadia pada Milan," batin Guskov terus termenung.


Sungguh tak dia kira, bagaimana dunia hanya berbalik dalam satu malam. Guskov sendiri membenarkannya arti tatapan Vaya itu berulang kali. Namun, dia memaafkannya, di satu sisi memang perkataan Vaya semua benar.


Tapi, Nadia tidak ada hubungannya dengan ini. Guskov tidak tahu harus berkata apa pada Nadia. Dia belum  benar-benar  tahu atau mengerti apa-apa. Dia tidak bisa memasukkan semua yang jatuh di kepalanya.


Apa yang bisa dikatakan untuk menjelaskan pada ayah Nadia. Ayah Nadia yang memaksanya untuk menikahi Nadia. Dan Nadia terus menolak kemauan ayahnya. Apa gadis itu tidak mau menikah dengannya, padahal dia yakin Nadia selalu ada untuknya.


Shelin termenung pada ingatan semalam saat itu Guskov menempati kamar di sebelah ruang tamu, lantai satu.


Sedangkan Shelin dan Nadia di kamar di lantai dua.


“Nad, jangan menangis, sayangku.” Shelin memeluk sahabat yang masih terisak setelah menceritakan semuanya.


"Aku tidak mau menikah dengan Guskov, Shelin."


"Apa yang salah, bukannya kamu mencintainya?


Nadia menggeleng. "Aku tidak mau nyakitin Bibi Milan."

__ADS_1


"Tapi, kamu sudah menyakitinya. Apa kamu benar tak merasakan apa-apa di V mu?"


"Tidak, aku tidak tahu, Shelin. Aku tidak tahu, aku tidak tahu bagaimana aku terbangun karena teriakan Kak Vaya saat tanganku di perut polos Guskov, lalu aku mencari selimut, bahkan Kak Vaya melihat aku tak memakai baju! dan aku mendapati tubuh Guskov tertutup sepinggul. Aku tidak bisa mencernanya mengapa aku berpindah dari sofa ke kamar Guskov. Apa aku tidur berjalan? dan mengapa aku tak terbangun jika Guskov melalukannya? mengapa semua pakaianku terlepas?" Nadia lebih histeris tak bisa melanjut kata-katanya lagi.


*


Ernest siang itu memarkir motor di depan kos, setelah menggerungkannya. Dia sudah membawa sebuket bunga lili yang sudah di taruh tas ranselnya. Melepas helemnya, dia lalu memperbaiki rambut dengan berkaca pada spio mengamati bila ada kotoran di mata, hidung atau mulutnya. "Beres."


"Kenapa mereka tak mengangkat teleponku." Ernes membawa tas ke dalam jok, dan membuka ranselnya, diperbaiki lagi posisi kertas dan plastik buket yang sedikit kusut dengan senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Bila dipikir-pikir benar apa yang dikatakan Shelin, memang harus menyatakan perasaan dengan jujur agar setidaknya tahu apa kita memilki kesempatan bersama.


Ernest melangkah penuh percaya diri dengan menyembunyikan bunga di belakang punggung. Dia mengetuk pintu. "Shelin, Nadia!!! Aku datang ... "


Setelah menunggu dalam hati yang makin berdebar kencang dan keringat dingin yang menjalar dipunggunya, terdengar bunyi kunci diputar, dan terbuka nampak ....


Ernest berulang kali mengibaskan kelopak mata, dan menguceknya, dengan menyalahkan indra penglihatannya, merasa tidak percaya.


"Siapa yang datang, paman?"


Ernest mendapati Nadia yang baru muncul dengan wajah penuh coreng putih mungkin tepung, begitu juga coreng putih pada wajah pria di kursi roda, dan buket bunga terlepas dari genggaman Ernest dari belakang pinggangnya.


Guskov mengatubkan bibir begitu melihat apa yang terjatuh, tangannya meremas kursi roda.


"Eh Ernest," suara Nadia retak dan mencari apa yang jatuh, dia menyipitkan mata sambil berjalan dan mengambil bunga di kaki Ernest. "Wah apa yang kamu bawa ini? cie ... mau kasih ke siapa nih. Ayo masuk!" Nadia mendorong pinggang Ernest, tetapi sahabatnya itu tetap bertahan di tengah pintu dan langsung melepas sepatu dengan gerakan pelan.


Nadia mendorong kursi roda. "Lihat, paman Ernest sepertinya memiliki pacar."


Guskov membeku, Nadia sepertinya begitu polos. Bahkan tak menyadari itu, dari tatapan Ernest juga pasti bisa menebaknya.


Di ruang tengah di depan meja panjang, Shelin membulatkan mata pada wajah dua pria yang tersorot lampu neon yang tak begitu terang, seakan dingin langsung menyelimuti ruangan, tetapi Nadia terlihat masih santai-santai seperti tidak tahu apa-apa.


"Bodoh, kamu, Nad. Ah Ernest pasti kalah lagi, aku lupa memberitahu sahabatku ini," batin Shelin yang mendapat tatapan dingin dari Ernest yang baru berdiri di sampingnya. Shelin menjadi tak fokus membuat bulatan onde-onde, setelah melihat buket bunga yang dilihat Nadia.


"Kamu akan memberikannya ke siapa, Ernest?" Nadia menghirup dalam-dalam. "Wangi, pasti perempuan, kan?" menyipitkan mata dan tersenyum hangat. "Kamu juga harum dan rapih pasti mau kencan? Ah dengan siapa!" matanya berseri-seri. Kemudiaan tiga pasang mata hanya menatapnya tajam padanya membuat jantungnya berdebar tak tentu pada Shelin dan Ernest yang masih berdiri.


Sekarang Guskov dibanjiri dengan kecemburuan yang sebelumnya tak pernah dialami seperti ini. Atau karena dirinya merasa kalah umur, atau segala hal yang mempertontonkan bahwa dia kalah banyak dari Ernest, dari dia yang sudah menikah, cacat, tak punya pekerjaan bahkan tak punya rumah sekarang.


Guskov meremas bekas aqua gelas di atas meja, hal itu di dengar semua orang yang langsung terpaku pada wajah kelam Guskov.


"Apa aku melakukan kesalahan?" Suara Nadia patah masih tidak mengerti apa yang salah memegang bunga milik sahabtnya.

__ADS_1


"Dan apa ini. Kau cemburu?" tanya Ernest pada Guskov. Dua pasang mata saling menembak panah dingin beracun, dan berkedip perlahan mengakhiri dan menatap Nadia bersamaan.


__ADS_2