
Dua tangan Jerry di depan wajah, mengepal-menepuk-mere..mas satu sama lain, menunggu pemeriksaan dokter yang belum kunjung keluar. Dia tahu sahabatnya menaruh perasaan pada Nadia, tapi tidak menyangka sampai kecelakaan pun bersama Nadia malam-malam di batas kota, mau kemana coba?
Sudah dari awal Jerry mengingatkan Guskov untuk tidak main-main dengan wanita. Sikapnya yang menjadi seperti bocah SMP yang kasmaran, padahal dulu waktu akan menikah dengan Milan, pria itu tak sebegitu impulsif, belakangan ini cenderung bertindak tanpa berpikir dan kontrol dirinya sangat buruk.
Belum lagi bila sahabat pria itu mengganggu tidur malamnya, ketika Guskov menelpon untuk bertanya pendapat ini-itu. Misal, jaket atau setelan kemeja warna apa yang harus dikenakan besok setiap akan menemui gadis penjaga toko.
Jerry menggelengkan kepala lalu memilin dengan intens di kening. Waktu berlalu, netra hitam Jerry menyoroti Milan dan pemuda itu yang saling menatap berulangkali. Atau mungkin hanya perasaanya saja. “Hei, siapa kau namanya? Apa kau tak pulang?”
“Aku Dicky menjaga sepupuku di ruang itu," dengan Santai Dicky menunjuk salah satu ruang, "di dalam kamar bau muntah. Jadi, lebih baik aku di sini, bukan?” Dicky mengedipkan mata pada Milan yang matanya melotot, ketika Jerry tertunduk.
“Ya, ya, ya benar.” Jerry sambil menangguk, ya bukan urusannya juga.
"Keluarga Bapak Guskov?" tanya seorang dokter yang baru keluar diikuti asistennya, pintu dibelakang tertutup otomatis.
"Saya istrinya," Mila dengan mata menyipit mendekat dan Dicky ikut berdiri di samping Milan.
"Pemuda ini ikut menyimak dengan seksama. Seakan-akan anggota keluarga. Aneh," batin Jerry. Dia menyipitkan mata pada jarak lengan mereka yang tidak lebih dari sepuluh senti.
__ADS_1
“Kau istirahat di rumah, Mil. Aku akan berjaga malam ini. Lagian Dokter bilang, mereka belum bisa diganggu.” Jerry meminta istri dari temannya, yang terlihat letih dan diangguki Milan dengan ucapan terimakasih. Setelah Milan hilang diujung lorong. Jerry pindah duduk di samping Dicky yang berulangkali menggoyangkan kaki seolah gelisah.
“Aku butuh kopi, Ahhhhh ngantuk." Dicky menguap dan bangkit sambil merentangkan tangan.“Sudah jam satu rupanya. Aku mau hirup udara segar.”
“Titip satu kopi untukku, Bung?” Jerry dengan malas mengangkat kepala menjauh dari tembok.
“Sorry, aku akan kembali ke ruang kerabat.”
Jerry tak kuasa untuk tidak menguap melepas kepergian pemuda itu. Lalu menutup mata dengan memeluk lengan setelah mengedarkan pandangan ke lorong, dimana beberapa anggota keluarga para pasien berjaga di depan kamar inap masing-masing.
Hidung mampet itu dijepit berulangkali. Jerry sendiri tak bawa sarung atau jaket untuk sekadar melindungi diri dari terpaan suhu yang makin turun, hingga dia sedikit menggigil dan tak tahan.
Setiba dibalik tembok Masjid, Jerry mendapati punggung pria muda yang tidak jauh, Jerry akan memanggil dan sekejap kata-kata menjadi buih di udara.
Terlihat istri Guskov membawa bungkus plastik dan 2 cup kopi sedang tertawa karena sebuah kecupan dari pemuda tadi, yang kini merangkul bahu Milan dan berjalan beriringan.
“Kapan aku terakhir cek mata?” Kepala Jerry terdorong ke depan, jantungnya berdebar . Dia mengucek mata Berulang kali. "Apa yang kulihat nggak mungkin. Milan begitu mencintai Guskov."
__ADS_1
Jerry membuka mata dan pandangan itu menjelajah sekitar. “Nah! Mana!? Tidak ada? Sepertinya benar ada masalah dengan isi kepalaku.”
Jerry menggelengkan kepala bingung dan menapaki pavling ke warung.
Mobil Pajero Sport Hitam mulai menjauh dari rumah sakit, Milan memandang wajah kekasihnya dari samping. Wanita dengan rambut seleher itu menikmati keindahan mata Dicky yang begitu memperhatikan jalan aspal basah sisa hujan, jarak pandang terbatas karena kabut.
Milan teringat bagaimana dirinya mendatangi tempat Dicky dengan rasa bersalah bercampur malu, setelah kepergian Guskov yang pergi tak memberitahu. Dimana saat itu Dicky langsung menyambut sambil menyembunyikan air mata untuk mendekapnya di jam setengah 12 malam.
Namun, belum lama saat dirinya akan mendaki puncak kenikmatan bersama saat itu teleponnya terus berdering. Sampai Milan keluar dari kamar mandi untuk menjawab dering panggilan yang ke 10, ternyata dari rumah sakit.
Milan sudah melarang Dicky ikut tapi pria itu pantang menyerah langsung meraih kunci mobilnya untuk mengemudi. Milan merasa nyaman dan terlindungi.
Milan sendiri semakin yakin tidak mau melepaskan Dicky dari hidupnya. Milan mengencangkan genggaman di telunjuk kiri Dicky yang bersemayam di paha. Pria itu meremas pahanya membuat wajah Milan terbakar karena tersipu. Dia jadi terbayang akan selucu apa putranya, Dicky saja seimut ini.
Lagi dan lagi Milan terkubur dalam banjir keringat panas dari tubuh Dicky di atasnya. Pria itu selalu berhasil mengguncangnya. Sprei yang tadinya putih rapih kini tak beraturan dipenuhi cetakan basah oleh cairan dosa. Dia ingin menghentikan ini, tetapi kelembutan dan kata-kata yang keluar dari bibir seksi pria itu selalu membuainya.
Itu terdengar hampir tak ada rayuan, sepertinya pria ini bahkan tak pandai merayu. Pancaran mata tajam yang selalu meminta dan tak pernah puas itu benar menggambarkan sosok Dicky. Lalu jiwanya tenggelam dalam perasaan terlarang.
__ADS_1
Dia akan menjadikan hubungan ini bersih ke depannya, dan sang anak akan bisa mendapat cinta ayah sepenuhnya. Milan menutup mata dan menyeringai dalam rengkuhan kehangatan belahan jiwanya. Dia akan segera mendepak Guskov dari rumah dan membuang ke tempat asalnya, ke tempat yang seharusnya.
“Maaf Daddy aku harus membuangnya. Bukankah Bramansyah Group sudah terlalu baik hati pada tukang sapu jalanan ini? Bagiku dia tetap sampah Daddy. Itu salah Daddy sendiri mengapa mengalihkan semua itu pada Guskov. Aku akan membuat dia tak menikmati secuilpun ke depannya,” batin Milan dengan hati gemetar. Bau kemenangan semakin nyata, dan makin merengkuh tubuh kekasihnya.