
Dicky dengan motornya mengikuti Nadia dari kos hingga perempuan itu naik angkot. Di sebelah rumah Shelin adalah kos pria. Dengan ini, Dicky meminta teman prianya memata-matai Nadia. Lalu, angkot itu benar-benar berhenti di Jalan KH Dahlan.
Dada Dicky terasa mengkerut penasaran dan berdebar, dia menepi. Lalu putar balik saat angkot di belakang mulai jalan.
Dicky sempat melihat gerbang itu yang akan tertutup, terlihat security berbadan besar.
Dicky merasa makin menggila seperti ini, tetapi dia sama sekali tak memiliki takut walau harus melawan Guskov. Dia hanya sempat melihat wajah Guskov dari foto yang diam-diam dilihat dari hp Milan. Pernah juga dia melihat Milan membawa Guskov ke bioskop, saat itu perasaanya sangat hancur.
Guskov membeli sebungkus rokok dan minuman. Kemudian basa-basi menanyakan foto Milan pada penjual, ternyata benar itu foto penghuni rumah di depan.
"Oh, jadi Bu Milan berolahraga di tempat kamu, mas? pantas badannya bagus buanged ... kenceng dan bahenol."
Mata Dicky mendelik dan rahangnya mengeras, jika saja lelaki ini bukan orang sini pasti sudah diberi bogeman, hingga dia hanya mengepal kuat tangannya.
Mobil Pajero hitam berhenti dan menekan klakson. Mata Dicky melebar dan dia langsung menyebrang jalan, tepat saat pintu gerbang terbuka.
"Siapa pemuda itu?" Guskov menyipitkan mata pada pemuda yang mengetuk kaca jendela hitam.
"Jangan dibuka pak! penagih hutang!" Perintah Milan di tengah jantungnya berdebar kencang tiba-tiba. Bagaimana Dicky bisa tahu rumahnya. Pria itu bisa menggagalkan semua rencananya. "Tunggu sayang, aku lupa kemarin punya utang ama dia. Kamu masuk dulu ya," kata Milan dengan sangat lembut dia melepaskan tangan Guskov yang makin mencengkeram kuat.
"Bayar saja di sini," pinta Guskov, baru saja kemarin sore istrinya pulang ke rumah, kini tak rela untuk melepaskan tangan Milan.
"Sayang, ini anaknya pemalu, tunggu di dalam ya .... "
"Milan!! bukaa!!" Dicky menggebrak kaca jendela dan mengintip tapi tak terlihat karena terik matahari.
DEG badan Milan membeku, duh dunia ini terasa gelap seketika, keringat dingin membanjiri punggungnya pada pemuda yang mengetuk-ngetuk kaca riben.
__ADS_1
Milan melepas tangan Guskov dengan kasar saat Guskov menyipitkan mata dan terdengar nafasnya meningkat.
"Pak Kris cepat masuk, aku akan menyusul segera. Ayah Nadia sudah menunggu sarapan ini loh," kata Milan dengan penuh penekanan.
"Baik Bu," Pak Kris melirik pada Tuan Guskov yang hanya diam. Guskov sedikit melihat ke belakang pada Istrinya yang menarik lengan pemuda itu. "Apa ada masalah dengan Mereka? apa kamu pernah melihat pemuda tadi? berani sekali memanggil nama langsung?"
"Tidak, Tuan, saya tidak pernah melihatnya," jawab pelan Pak Kris berbohong, dia sudah kena ancaman dari Bu Milan untuk tutup mulut pada hubungan gelap mereka, saat dulu menjemput bu Milan dan memergoki pemuda labil itu mengecup pipi Bu Milan di tempat umum.
Pak kris parkir di loby rumah, dia mengelap keringat dingin di dahi, gugup karena merasa bersalah pada Tuan Guskov, tapi apa daya, dia seorang pekerja yang harus menghidupi dua orang istrinya dan delapan anaknya.
Sudah sepuluh tahun dia mengikuti keluarga Bramansyah, dan sebagai fokus utamanya hanya pada Bu Milan, bukan pada Tuan Guskov yang menggemparkan keluarga Bramansyah Group, karena Ayah Mila mengangkat seorang menantu yang ada seorang tukang sapu jalanan.
Kursi roda disiapkan, Pak Kris sedikit menggendong dan memapah Tuan Guskov dan mendorongnya masuk ke dalam.
Guskov mengeraskan rahangnya, dadanya kembali sakit tanpa suatu alasan jelas. Dia melirik ke gerbang yang belum tampak batang hidung istrinya.
seberang jalan rumah mengangguk senyum, tetap seperti mata-mata yang mencoba mencari tahu. Dia bingung harus menyembunyikan pria labil ini kemana.
"Milan...." Dicky mendapati wajah kekasihnya yang telah merah padam dalam diam.
"Jaga tanganmu, Dicky," geram Milan mundur beberapa langkah dan mencoba tetap tersenyum. "Kenapa kau bisa ke sini? dari mana kau tahu rumahku?"
"Bukankah aku hebat bisa menemukanmu? itu artinya aku pintar dan bisa kau andalkan," seringai Dicky dengan percaya diri.
"Lalu apa? lebih baik kau pergi, nanti siang kita bertemu okay? kalau kau tak mau menurut aku takkan menemuimu selama seminggu."
Dicky tertawa .... "Apa kamu kuat selama itu?"
__ADS_1
Milan kembali melirik kiri dan tersenyum pada tetangga nya.
"Si ... al, pemuda ini benar-benar gila," batin Milan.
"Aku ingin menemui Guskov dan mengatakan semuanya," seringai Dicky. "Dia tak pantas untukmu."
"Lalu kamu? apa kamu pantas?" geram Milan di tengah senyumnya. Si..alnya, para penjual itu seperti menonton dari balik warung, biar nanti dia tutup mulut mereka dengan lembaran merah.
"Jika aku tak pantas, kamu takkan mencariku, ya, kan?" Dicky dengan percaya diri. "Apalagi tangisan manis dan seksimu yang terus meminta lebih?" Dicky mengedipkan mata sebelah, terus menggoda Milan yang terlihat marah tetapi juga tampak malu.
"Oke sayang, aku akan pergi. Satu jam, aku menunggumu di pantai ya, satu jam ingat? satu jam lagi. Jika kamu terlambat satu menit saja, aku akan melamarmu hari ini. Okay?" Dicky yakin Milan akan menurutinya.
Milan mengembuskan nafas sesak. "Pergilahhhh," geram Milan, lalu menatap kepergian pria itu yang kembali mengedipkan mata. Milan memijat kening dan tersenyum pada para pedagang disambut anggukan mereka.
Dia berjalan ke pos security, si..al orang ini ikut mengawasi. Milan masuk ke pos, dia mengeluarkan satu juta untuk security.
"Kau tutup mulutmu, mengerti? aku bisa memecatmu detik ini. Dan kau tahu siapa bos sebenarnya di rumah ini? Bukan Guskov tapi aku. Kau paham?"
"Paham Nyonya," kata security dengan takut-takut, lalu sang nyonya mengeluarkan tumpukan lembaran merah.
"Bagikan ini pada pedagang di depan dan pastikan mulut mereka terkunci, atau aku mengusir mereka dari sana. Dan hapus rekaman cctv satu jam sekarang. Mengerti?"
"Paham Nyonya, akan saya lalukan sesuai dengan permintaan Anda."
"Bagus." Milan menatap tajam pegawainya selama 20 detik, mengintimidasi. Dia berbalik melewati halaman dengan terus mengatur nafas.
Di ruang tamu, terlihat suaminya baru akan keluar dari ruang keluarga sudah menghadang Milan.
__ADS_1
DEG