
Siang itu, Nadia mengantar Dhita ke rumah sakit terdekat, karena wanita itu terus muntah-muntah sejak pagi, sejak dari rumah Ernest. Dia begitu terkejut karena Dhita sudah hamil tiga bulan, dia pikir Dhita hanya gendutan.
Kini Nadia antri mengambil obat, sementara Dhita masih di kamar perawatan.
Guskov yang menyempatkan waktu di sela kesibukannya, untuk mengantar papanya periksa bulanan, kini tinggal mengambil obat, dia duduk di satu kursi kosong. Ini awal bulan jadi rumah sakit ramai.
Guskov menerima panggilan dari Jefri, soal apa dia bisa datang di acara pernikahan Jefri, tetapi Guskov kesulitan karena kondisi ayahnya.
“Nadia.”
Guskov berpaling ke asal suara, dan dia menatap gadis yang berjalan ke arahnya lalu berbicara dengan perempuan yang selisih empat orang di kanannya.
“Nadia?” tanpa sadar Guskov bersuara keras hingga membuat perempuan berjaket merah, dan bermasker putih itu, menoleh padanya. Guskov menyipitkan mata pada perempuan berambut hitam sepunggung yang sangat lurus.
“Guskov?” Nadia tercengang dan melepas masker mulut.
“Dhita Anastasya … “
Dhita menoleh ke tempat pengambilan obat saat Nadia berjalan ke seorang pria dewasa yang ekslusif.
“Nadia Adelia, ini beneran kamu?” Guskov tersenyum tak percaya dan wanita itu menatapnya dengan malu-malu sambil mengangguk. Guskov tak kuasa lagi dan mendekap tubuh Nadia dalam-dalam sampai wanita itu menarik jas di pinggangnya.
“Lepas, malu.” Nadia merasakan debaran jantungnya yang tidak terkendali karena bau parfum ocean yang memabukkan bercampur dengan bau khas tubuh Guskov.
“Nadia, aku merindukanmu, sangat, sangat, kangen …. ” kata Guskov dengan geregetan, lalu melepas pelukannya dan mengajak Nadia duduk di kursi yang baru kosong.
Orang-orang kembali sibuk dengan gadget setelah melihat adegan dua anak manusia yang dimabuk cinta.
“Guskov, kenapa kamu menghilang? Apa kamu memiliki pacar?” tanya Nadia to the point, pada saat yang sama Dhita datang dan duduk di sebelah Nadia.
“Ah begini, berikan ponselmu, hpku rusak, ceritanya panjang.” Guskov menunggu Nadia mengeluarkan ponsel, sementara dia menerima telepon dari kantor.
Sambil berbicara di telepon, Guskov tersenyum penuh kerinduan pada Nadia, lalu jari-jarinya memencet nomor barunya.
Dengan senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, Nadia tak berkedip memandangi Guskov.
“Astaga pria itu begitu sibuk, telepon pun sampai tak selesai-selesai,” batin Nadia sambil menyimpan nomor Guskov yang diberi nama ‘Pacar’.
Nadia mendengar bisikan Dhita yang mengajaknya pulang, saat Nadia merasakan tangannya diremas oleh Guskov yang membuat Nadia sempat terpejam dan hampir menarik tangannya karena sentuhan itu membingungkan, ada sesuatu kasat mata menggetarkan jiwa. Tampaknya itu sebuah kerinduan.
“Aditama Taghir …. “
Guskov menyela penelepon, dan berbicara pada Nadia, “tunggu, Nad, sebentar saja, jangan ke mana-mana.”
Nadia mengangguk dan menatap punggung lebar Guskov saat pria itu menebus obat, membuatnya makin berdebar kencang.
“Siapa?” tanya Dhita , dengan tatapan iri, karena pria tampan yang memakai ponsel dan jam tangan- sangat mahal.
“Ah, dia?” Nadia garuk-garuk kepala. “Teman, teman-”
“Teman??? apa aku boleh mengenalnya?!” tanya Dhita dengan mata berbinar lalu mengelus bahu Nadia, “ya kenalin aku, kenalin dong, Nad.”
“Ah--” Nadia tersenyum malu, dia belum menyelesaikan kata-katanya dan sudah diberondong tatapan penuh minat Dhita, padahal temannya itu sudah berpacaran dengan Reno. Tadinya, Nadia mau mengatakan ‘teman dekat’ atau semacam teman ' …. ' ??? Nadia sendiri bingung. Memang dia dan Guskov ada hubungan apa?
“Apa kalian sudah makan siang?” tanya Guskov dan sering tersenyum pada Nadia yang pipinya telah memerah.
“Sudah,” jawab Nadia, bersamaan Dhita yang menjawab, “Belum.”
Guskov menyipitkan mata. “Ayo, ikut makan dulu,” katanya dengan senyuman yang membuat Dhita dimabuk kepayang.
Dhita yang tertinggal, menyipitkan mata saat pria itu menggenggam tangan Nadia, dan Dhita nggak kehabisan cara, langsung menggenggam tangan kiri pria itu yang langsung tersentak melepasnya.
“Maaf?” Guskov menatap tajam ke kiri pada wanita yang tadi membelai telapak tangannya.
“Ah, sorry,” kata Dhita dengan senyuman yang dianggapnya paling seksi.
Guskov geleng-geleng kepala, dengan sangat tidak nyaman terpaksa mengajak wanita itu, sementara dia kembali tersenyum saat melirik Nadia yang berjalan terus menunduk , telinga gadis itu berubah merah.
Nadia tidak bisa menyembunyikan malu karena minder, banyak orang di sekitarnya menatap terpesona pada Guskov, dan tubuh Nadia jadi terasa dingin.
“Astaga, aku lupa.” Guskov memukul keningnya dengan wajah pucat pasi.
“Apa yang kamu lupakan?” tanya Dhita.
__ADS_1
“Nadia, aku lupa bahwa aku kesini dengan ayah ku.” Guskov garuk-garuk kepala dengan malu. “Aku akan menelpon mu, karena ayahku sedang tidak baik. Ah maksud aku, kamu yang menelpon aku, dan aku menelpon kamu.”
“Hati-hati.” Nadia menghembus nafas lega dan Dhita cemberut.
“Kenapa kamu biarkan dia pergi, sih?” Dhita mengerucutkan bibirnya saat Nadia memeluknya agar jalan lebih cepat, menatap kepergian pria menawan dengan aura tidak membosankan.
Sesampainya di asrama, Nadia merebahkan diri. Dia teringat ucapan Dhita, kenapa temannya itu harus merahasiakan kehamilan itu dari Reno. Setahunya, Reno adalah lelaki yang bertanggung jawab.
TING!
~Ke Time Zone, besok, yok. Aku dapat tiket murah!~ Ernest.
Nadia mengabaikan pesan Ernest dan mencari nomor ‘Pacar’ dan mulai mengetiknya.
~Assalamualaikum, Paman … ini nomor Nadia. Apa semua baik-baik saja? Nadia harap begitu. Paman tadi terlihat makin luar biasa.~
Laporan pesan terkirim!
Panggilan video datang dari Guskov, Nadia berlari ke cermin, memakai lipstik pink, menyisir rambut, perona merah di pipi dan bedak tipis. Dia berlari ke tempat tidur, ada yang lupa, Nadia bebalik lagi merapikan alisnya.
Dia menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali. Lalu beranjak dari tempat tidur untuk menyalakan lampu, dia takut pencahayaan tidak baik dan membuatnya terlihat tambah jelek.
Nadia melirik, itu panggilan video ke dua. Gadis itu merapikan sprei yang acak-acakan, menyingkirkan tas dari nakas, dia mundur menjauh dari tempat tidur mengatur landscape yang aman.
Kini dia membuat dua bantal ditumpuk di kepala tempat tidur seperti di tivi-tivi, dia berlari lagi mengambil buku, menyalakan laptop di tempat tidur.
Nadia menjadi gerah, dan mengangkat telepon saat sudah duduk bersandar, tetapi nafasnya sudah seperti dikejar maling.
“Nadia? Kenapa lama?”
Nadia menahan senyuman walau itu sulit, kata seorang teman, bahwa wanita itu harus menjaga gengsi di depan doi. “Ah, ketiduran!” Nadia mengangguk-ngangguk dan mencoba terlihat anggun.
“Kamu berkeringat, apa di asrama panas?”
“Keringat? Di mana, mengapa kamu bisa lihat, KERINGAT?” Nadia menyipitkan mata, dia harap salah dengar.
“Keningmu.”
“Apa?” Nadia tidak bisa fokus, kenapa dua kancing kemeja teratas Guskov terlepas, dan dasi itu dilonggarkan, ah sangat keren!
Nadia langsung mengelus kening, dan melihat tangannya yang basah. “Ah, ini, ini, ya berkeringat, sebentar, aku minum.” Nadia menaruh ponsel di kasur.
“Apa kabarmu? Kamu agak kurusan, apa kamu kurang makan?”
Nadia mengambil tisu dan mengelap wajahnya sambil memberi bedak tipis-tipis, lalu tidur tengkurap. “Aku, diet.” Nadia meletakan ponsel di nakas dan pura-pura tidak melihat ke arah Guskov.
“Apa kamu mengerjakan tugas? Kenapa kamu diet? Itu bukan diri kamu, Nadia.”
Nadia mendengar seperti ada nada kecewa. “Apa yang salah dengan diet? Lalu sejak aku dari pulang, sudah banyak tugas.” Nadia menahan tawa karena pura-pura rajin, kenapa dia juga harus berakting cuek seperti ini, sangat menjengkelkan. Apa dia harus tetap mempraktekan masukan Dhita?
“Nadia, kita hidup diberi kebebasan. Apa yang kamu kejar dari diet?”
“Mending, sekarang paman cerita dulu kenapa menghilang sampai hampir dua tahun. Sepertinya …. “ Nadia lalu menaruh ponsel di atas laptop dan menatap serius, entah kenapa nafasnya menjadi berat.
“Nadia, tunggu, kamu sedang mencoba menggodaku?”
“Maksud paman?”
“Maaf, sebagian dadamu terlihat, dan kau membuat ku pusing.”
Sh..it!
Nadia baru sadar, dan meletakkan bantal lalu dia tengkurap dengan kain tipis, setelah dia membentuk gulungan syal yang mengaman kan leher. “Maaf, Paman. aku tidak sengaja,” Nadia merasakan hangat di wajahnya, rasanya ingin kabur tapi dia ingin melihat Guskov lebih lama.
Kini Guskov terlihat tersenyum dengan wajah memerah.
“Apa kamu melakukan panggilan video seperti tadi pada pria?”
Nadia mendengar sedikit nada geram. “Tidak pernah, aku tidak pernah melakukan panggilan video dengan pria. Lagian Ernest hanya telepon biasa karena kami sering bertemu.”
“Ernest? Apa kamu perlu mengkonfirmasi sesuatu padaku?”
Nada posesif Guskov mulai kembali. “Apaan, paman yang hilang tak ada kabar, harusnya kamu tuh yang konfirmasi.”
__ADS_1
“Aku akan menunggumu di seberang asrama nanti jam tujuh, kita harus bertemu dan ya kita haru berbicara. Maaf, Nadia, sepuluh menit lagi, aku ada meeting. Jangan marah ya?”
“Iya, sampai jumpa, Paman.”
“Tunggu, kamu melupakan sesuatu.”
“Apa?”
“Kiss.”
“No!”
Tut! Nadia mematikan telepon dan membenamkan wajah di bantal dengan memukul-mukul ponsel ke kasur, kenapa dia begitu merasa malu.
*
Sudah satu jam Nadia baru selesai mandi setelah lama-lama luluran dengan aroma wangi kenanga, kantil, bercampur jeruk nipis. Teman kamarnya yang bernama Tika, baru pulang dan saat masuk langsung menjerit.
“Apa-apa-an ini kamar seperti kapal pecah! wow? wangi sekali. Apa kamu habis numpahin minyak wangi?” Tika mengendus-ngedus Nadia yang masih memakai handuk sedang memakai celana inti. “Kamu mau kencan?”
“Enggak!” Nadia buru-buru memakai dress abu-abu muda, sepanjang betis.
“Kenapa semua pakaian mu di atas tempat tidur? mau keluar dengan Ernest?”
“Anu, ya!”
“Kamu sudah menerima menjadi kekasihnya?”
“Belum.” Nadia memelankan suara dan mulai bersolek.
“O …. apa kamu mau menerimanya? Kau dandan buat dia?”
“Tika diam!! Kamu cerewet.”
Satu jam kemudian, Nadia sudah memakai jam tangan, tas jinjing, dan selop.
“Semoga kencannya sukses!”
Nadia tertawa karena Tika tahunya dia pergi dengan Ernest. Nadia tidak ingin jiak Tika banyak tanya.
Lagian ini bukan kencan. Tapi, dia berharap kencan. Setelah menunggu lima menit, wow! Kenapa ada mobil mewah menepi.
Nadia berjalan menjauh, tentu saja karena merasa minder. Lalu terdengar panggilan dari belakang. Matanya membesar dengan mulut ternganga karena Guskov hanya dengan kemeja yang dilipat lengan nya tanpa memakai jas, itu sangat keren.
Tapi, paman membuka pintu mobil merah yang hanya terdapat dua pintu. “Yang benar saja?! Paman bisa jelaskan kenapa pintu itu terbuka ke atas dan menyuruhku masuk?!”
“Ayolah, Nadia. Ini hasil kerja kerasku siang dan malam.”
“Tapi, aku malu!”
Guskov menghampiri dan mendorong lembut pinggang Nadia.
“Paman, aku malu! Ahhh!” Nadia merasakan tubuhnya melayang, terperangah saat Guskov sudah menggendong di depan dan menurunkan pelan di mobil yang bau wangi.
Joknya sangat empuk. Nadia mengangkat pantatnya dan menghempaskan berkali-kali, sangat empuk! dia melongo saat pintu mobil turun dari atas. “Ya ampun betapa aku memalukannya.” Nadia lalu menatap pamannya yang baru duduk dan pintu tertutup juga dari atas.
Guskov tersenyum melihat kebingungan Nadia. “Kamu suka?”
“Siapa yang nggak suka! Bohong kalau nggak suka! Tapi aku malu saat masuk.” Nadia memelankan suara dan mengerucutkan bibir.
“Kenapa?”
“Entah, takut ada yang melihatnya, lalu mereka tidak suka,” kata Nadia menatap Guskov yang menyetel musik.
“Kenapa ngurusin orang? Kamu harus belajar mengemudi, Nadia?”
“Untuk apa?”
“Bukankah kamu calon nyonya Guskov?”
Nadia menunduk sambil menutup wajahnya, sulit sekali dia menyembunyikan senyuman. “Paman, jangan membuatku malu atau aku tidak akan bisa tidur nanti malam.”
“Aku serius, Nadia.” Guskov dengan nada rendah. “Ah pakai sabuk pengaman mu.”
__ADS_1
Nadia memakai sabuk pengaman. “Paman, aku merindukanmu.” Nadia menatap jari-jarinya yang saling menaut dipangkuan, dia kembali tersenyum malu.
“Hm?” Guskov tersenyum dengan menawan, fokus menatap jalanan, tangan kirinya meraih tangan Nadia dan membawa ke pangkuan, saling meremas, pas sekali musiknya sangat romantis.