
Mobil Ferary merah memasuki gerbang besi berwarna emas yang baru bergeser sendiri.
Wanita itu terkesiap dan menarik ujung rambutnya, semakin terpukau karena rumah tiga lantai berwarna emas yang disorot cahaya kuning. "Kita dimana?"
"Ini rumahmu dan rumah calon anak-anak kita, bagaimana perasaanmu, Nyonya Guskov?"
"Apa maksudmu, mas?"
Guskov tertegun dengan apa yang di dengarnya. Dia kembali menoleh bersemangat dengan menahan gas sangat pelan hingga mobil melaju sangat pelan. "What! Kamu panggil aku apa?"
"Paman."
"Bukan itu yang kudengar loh?"
Nadia menunduk malu. "Mas -ah ini keceplosan."
Guskov begitu gemas dan tidak sabar, sontak mengecup tangan Nadia. "Aku menyukai panggilan mu yang terdengar mesra."
"Mas." Kepala Nadia terayun dan meringis geli.
"Iya, calon istriku."
"Ya, Tuhan!" batin Nadia sampai liurnya hampir jatuh melewati bibir tapi ditelan lagi, dia benar-benar salah tingkah, lehernya jadi gatal dan dia menggaruknya. "Anu, itu, kenapa kamu bilang 'anak kita' " Nadia rasanya ingin loncat-loncat saking senangnya, perutnya sampai keram menahan kegembiraan yang membeludak.
"Kenapa kamu jadi sering telmi? jangan bilang gara-gara diet?! Kamu minta waktu dua tahun ... dan ini sudah lewat. Kita akan menikah dan memiliki ANAK." Guskov menginjak rem dan beralih ke Nadia.
"Mas, apa kamu serius dengan kata-katamu soal pernikahan?" Nadia memandang mata Guskov yang seperti singa lapar sehingga Nadia menurunkan pandangan ke leher berjakun yang naik turun dan malah membuatnya semakin mabuk.
Sambil membelai rambut Nadia, Guskov sedikit mengangkat dagu kekasihnya agar bisa melihatnya. "Lihat, aku sayang. Tatap aku."
"Aku malu," mengi Nadia dan ingin menangis saking enggak kuatnya.
"Tenang."
"Tenang-tenang! jantungku sudah mau meledak dan kau bilang tenang!"
Guskov tertawa, lalu kecupan mendarat di pipi mungil dan Nadia memekik saat kepalanya diarahkan di dada bidang Guskov. "Kamu mendengar? aku juga akan meledak."
Nadia merasakan deguban jantung Guskov dan bau ocean.
"Nadia, aku merasa utuh, jiwaku utuh dan begitu hidup saat bersamamu."
"Tapi umurku sangat jauh dibawah mu, apa kamu akan malu karena ini."
"Aku tidak pandai dalam mengutarakan perasaanku, Nadia. Tetapi aku yakin padamu, dan aku tidak pernah malu tentang siapa kamu, melainkan aku bangga karena memilikimu. Aku bahagia bersamamu, kau dengar.
Elusan mendarat di dada Guskov, "PAMAN, I LOVE YOU."
"Tuhan seandainya waktu berhenti sekarang," batin Nadia tidak rela lepas dari dada bidang yang sudah menenangkannya.
Mata Nadia memanas dan kelopak matanya bergetar. "Aku mencintaimu, Paman."
__ADS_1
"I lebih mencintaimu."
"Aku takut kamu melihat cewek lain."
"Ya ampun, sayang. Aku kan punya mata, ya, aku melihat." Guskov mengelus rambut lembut bergelombang, tak biasanya Nadia mewek.
"Mas!!"
Pria itu terkekeh. "Tapi, yang kucintai cuma kamu, loh. Bahkan aku berdebar hanya denganmu, wanita paling cantik di mataku."
"Gombal," kesal Nadia.
"Nadia, aku takkan berselingkuh dan untuk masa lalu, saat itu tidak ada yang menemaniku, aku kesepian, aku butuh teman untuk mendengarkan kala itu
Jika sudah ada kamu di sisiku seperti ini, aku takkan kemana-mana.
Dan setelah dua tahun ini, perasaan kita tidak berubah. Jadi, jangan memintaku untuk menunggu lagi, ya?
Jangan lagi kamu menyiksaku dengan penantian. Aku sudah merindukan kehadiran bayi yang meramaikan rumah dengan tangisan." Guskov merasakan suaranya makin parau dan tangannya gemetar mengusap ujung mata, jangan sampai Nadia melihatnya cengeng.
"Dua bulan lagi aku akan pulang, mas. Jenguk bapak dan ibu."
"Kita pulang bersama, tetapi aku tidak bisa lama di sana. Alangkah baiknya saat kita pulang ke sini, kita harus sudah menjadi pasangan suami istri.
Kamu akan tahu waktu ku, Dik, yang sibuk di kantor dan di rumah, tidak bisa ke mana-mana.
Besok mas akan menelpon mas Joko dan mba Kumala."
Klik
Guskov menekan tombol safty belt di kirinya, dan menjauhkan dari perutnya. Pria itu mengurangi jaraknya dengan Nadia, memindai mata kekasihnya yang berubah ketakutan.
"Mas, kamu mau apa?" bisik Nadia lalu gelagapan karena detik berikutnya merasakan bibir lembut panas Guskov yang menggesek bibirnya.
Udara yang tadinya dingin menjadi mulai panas, atau badan mereka yang panas, di tengah nafas yang mulai membakar dengan keinginan.
Nadia membeku, tidak tahu harus apa saat Guskov terpejam dan memberikan rasa mint, dia merasakan lidah Guskov di dalam mulutnya dan dia terus menerima rasa mint, membingungkan, ujung lidah saling bertemu, bermain-main.
Apa ini tradisi modern?
Ini ciuman ke tiga atau ke empat
Apa ciumanku buruk? Apa seperti ini, kenapa aku tak bisa bernafas.
DOG DOG DOG! Ketukan jendela kaca dari luar mengejutkan Nadia yang tadi sudah terbang keluar angkasa, lalu kebingungan dan dia lupa bahwa dirinya masih di bumi.
"Bang! Lama amat!!" suara dari luar, disertai suara handel yang berusaha dibuka tetapi tak bisa karena terkunci dari dalam.
Guskov membuka mata dengan tatapan terbakar, mendesis saat masih memagut kekasihnya. Dia sangat tidak rela melepas lidah manis Nadia, yang telah membakar jiwanya. Semangatnya menggantung karena masih mencokol di kepala dan belum puas.
Nadia mendorong dada pamannya dengan gemetar dan jantungnya takut copot karena berdebar begitu kencang.
__ADS_1
Klik-
Tangan Guskov menjauh dari Nadia dan safty belt telah terlepas dari Nadia.
Gukov keluar dan adiknya mengoceh.l saat Nadia berjalan mendekatnya.
"Sayang, dia Vera adikku. Vera, dia calon istriku."
"Assalamualaikum, saya Nadia Adelia." Perempuan dengan dress sedikit kusut, mengangkat tangan di depan perut.
Vera menyipitkan mata pada perempuan yang lebih muda darinya. Dia mengabaikan jabatan tangan. "Vera Taghir."
"Vera!" Bentak Guskov pada nada ketus adik tirinya yang sudah melengos.
"Sudah, mas, tidak apa-apa." Nadia menghembus nafas berat, belum apa-apa sudah mendapat penolakan.
"Maaf, dia memang kurang ajar, tetapi sebenarnya ya ... ? kaku."
Sepasang kekasih berjalan beriringan melewati depan tangga, terlihat di depan TV seorang pria berusia kepala lima yang terus mengonta-ganti chanel.
Nadia terus menarik nafas dengan terus berdoa di dalam hati semoga calon mertuanya tidak menentangnya, semoga doa diterima, semoga dia menjadi kriteria mereka. Sekali lagi, tarik napas dalam-dalam, dan lagi, dan lagi, dan lagi… jadi… begitulah!
Guskov mendekati ayahnya dan duduk di sampingnya dengan mengajaknya mengenal Nadia.
Adhithama condong ke depan dan Guskov memberikan segelas besar air teh tubruk, airnya sudah bening karena berkali-kali diisi ulang air bening.
Nadia yang akan mendekati Guskov, merasakan dingin, barusaja menyambar wajahnya. Nadia ternganga karena pakainya basah dan penuh teh. Dia menatap Guskov yang langsung berdiri saat Vera justru tertawa terbahak-bahak.
"Ayah? Mengapa menyiram Nadia dengan air teh?" tanya Guskov dengan lembut dan sangat pelan agar tidak menyakiti hatinya.
"Dia orang India."
Mata Nadia menyipitkan bingung, apa dia terlihat seperti orang india.
"Dia akan membunuhku, itu dia membawa granat di kantongnya.
Guskov dengan bingung, saat ayahnya kembali delusi.
"Tidak ayah, dia Nadia, calon istri Guskov." Pria itu sambil mengelus tangan sang ayah, dia melirik adiknya agar membantu menangani ayahnya.
Vera berjalan ke samping ayah, melewati Nadia. "Ayah, ayo tidur, sudah malam, katanya besok mau main golf?"
"Orang India akan menyakitiku! Dia mengikutiku sampai ke sini. Kalian jangan dekat-dekat." Adhitama menatap orang yang baru datang.
"Ayo ayah, nanti abang Gus yang mengusir orang india itu," sindir Vera pada Nadia yang masih kebingungan. Dan Adhitama mau menuruti saat Vera menuntun ayahnya ke kamar yang terletak di bawah tangga.
Saat Guskov mencium kening Nadia, pria itu menatap matanya, dan mata dipenuhi emosi.
"Sayang, maaf, ayah ku kadang seperti itu." Guskov meremas bahu Nadia yang gemetar mungkin kedinginan, "ayo ganti bajumu," mengajak Nadia ke lantai dua dengan perasaan bersalah.
"Kenapa dia menyebutku orang India?" tanya Nadia dengan memunguti daun teh yang menempel di baju
__ADS_1
Bergidik, Nadia teringat tatapan tajam dan galak ayah Guskov. Apa ke depan dia akan tinggal dengan ketakutan karena kebencian ayah Guskov?