Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 31 : GULING TEMAN SETIA


__ADS_3

Guskov menunggu di dekat jendela, berulang kali mengecek ponsel, chat masih centang satu. Telepon Nadia masih tidak aktif. ”Kemana si anak ini jam satu pagi, apa ada sesuatu di dapur atau …. “


Dia mengarahkan kursi roda keluar dari kamar, dan menuangkan air bening ke cangkir. Di gelegaknya dua gelas air, tak lantas menghilangkan dahaganya. Bila di rumahnya pasti tersedia di kulkas minuman ion dan akan bermangfaat seperti saat ini.


Ini mah yang ada bikin bolak-balik kamar mandi, tapi malam ini begitu gerah, sepertinya mau hujan. “Nadia nggak bawa payung, ya, apa di sana hujan? jika benar hujan, kan bisa telepon. Memangnya di resto tidak ada telepon duduk? ya kalau misal baterainya habis, kan, pakai telepon kantor bisa. Atau tidak mendapat gojek?!"


Shelin menuruni tangga tidak tahan ingin buang air kecil dan berlari melewati ruang tengah, ke dapur dan masuk  toilet. “Huft leganya.” Keluar dari toilet dia mengambil rompi di jemuran samping dan menutupi singletnya, dia lupa di rumah ini ada laki-laki.


Shelin menuangkan air bening dan duduk di kursi kayu panjang, lalu menggelegak air bening secangkir. “Apa kamu belum tidur?” tanyanya pada pria di seberang meja.


“Jam segini Nadia belum pulang.”


“Tahunya? mungkin sudah tidur di kamarnya.” Shelin meletakan gelas dan meraih map di ujung kursi. “Panas banged sih.” Shelin tidak tahan memakai  rompi, dan terus kipas-kipas dengan kertas map. “Eh apa kamu tidak bisa memperbaiki kipas angin, aduh pakai acara mati segala.”


“Shel! Nadia belum pulang, ponselnya tidak aktif, bagaimana jika dia-”


“Kayanya tidur di kos Lila, soalnya si Ernest bilang semalam, nggak akan menjemput Nadia saat aku mau nitip sate, katanya Nadia pulang bareng Lila.”


“Teleponlah temanmu itu.”


“Ogah, udah malam. Sudahlah, aku mau tidur.” Shelin pergi tidak mempedulikan panggilan Guskov.


Guskov kembali mengarahkan kursi roda ke ruang tamu, tapi lalu kembali ke kamar, dan dengan susah payah berpindah ke kasur. Sepertinya, benar, mungkin di rumah Lila.


Ini hanya kekhawatiran tak beralasan.


"Nadia, Nadia ... " Guskov terpejam di kamar gelap, dia memeluk guling. Selalu saja malam kesepian. Saat menikah Milan jarang di rumah. Kini sendirian pun berteman guling.


"Memang guling teman setiaku."

__ADS_1


*


Milan tidak tahan buang air kecil, dia menyibak selimut dan menyingkirkan tangan Dicky dari perutnya. Pria itu sangat lelap tidur. Milan memelorotkan G-string pink, melempar ke sprei dan sedikit berlari. Keluar dari toilet dengan lilitan handuk di pinggang.


Dia mengambil gelasnya dan menuangkan tiga sendok susu bubuk dan mengisi air panas dari dipenser. Susu kehamilan ini baru dibelikan Dicky, sepertinya harganya 200 ribuan, pria itu perhatian sekali.


Dia memegangi gelas bening panjang, uap mengepul menghangatkan telapak tangannya, di tengah ruangan yang sudah sangat dingin.


Waktu tidur pertama di sini, dia sangat kepanasan hingga flu dan terus bersin-bersin, karena itu lalu hari berikutnya langsung membeli AC yang low watt.


Awalnya Dicky ngambek dan tidak mau berbicara dengan nya sampai satu minggu lebih dan tidak mau menemuinya karena dia diam-diam memasang itu tanpa sepengetahuan Dicky.


Pria itu bilang itu namanya menginjak harga dirinya, dan melarangnya untuk membeli apapun dari uangnya. Sampai sekarang pun, Milan gamam karena Dicky tidak mau menerima apapun, apalagi hadiah mahal.


Pemuda itu gengsinya sangat tinggi.


Duduk di tepi kasur, Milan terpaku pada suara low battery ponsel Dicky. Dia menaruh susu di nakas samping tempat tidur. Dan berjalan ke meja bundar di depan TV. Dia berputar mencari charger dan ditemukan ujung kabel di ujung tas diki. “Ya ampun, ponsel sudah retak masih saja dipakai, kasian banged si kamu, sayang.”


“Apa ini untukku? manis sekali,” batin Mila, membolak balik makanan yang dihiasi bungkus dan pita sangat cantik, dia mau membuka kartu ucapan tapi ditahannya, dia akan kaget nanti saat Dicky memberikannya.


Di masukan lagi coklat itu ke dalam tas, dia membawa charger dan hp dengan hati berbunga-bunga. Lalu meminum susu sampai setengah, Milan bersandar di tempat tidur, dan membuka ponsel dengan menempelkan telunjuk Dicky di sensor.


Di buka satu persatu chat, instagram, facebook, banyak wanita mencari perhatian dengan begitu beraninya.


Akan tetapi Dicky mengabaikannya, dan hanya melihat, karena mereka protes kenapa hanya dibaca.


“Dia belum membayar uang kuliah?”batin Milan, matanya meredup, karena itu sampai tiga kali ditagih.


”Kenapa tidak memintaku? kau terancam tidak bisa ikut ujian. Ah aku akan membayarkan diam-diam!” batin Milan, dan melihat chat keluarga.

__ADS_1


Milan mengagumi Dicky yang penyayang dan hobi berkelakar terutama pada adik perempuannya. Dan adiknya sebentar lagi kelulusan mau mendaftar kuliah di tempat yang sama dengan Dicky.


“Apa aku merekomendasikan ayah Dicky ke perusahaan temanku ya? dengan begitu mereka takkan kesulitan biaya, apalagi mengandalkan Dicky yang penghasilannya tidak seberapa.


Mata Milan menyipit pada grup para pria, ia tertegun.


“Kenapa mereka menyebut nama Nadia?” batin Milan lalu mengklik video setelah menyusuri semua kalimat jelek yang merendahkan Nadia.


Milan sangat tidak membenarkan ucapan mereka yang sangat kotor dan mengira keponakannya mendapatkan uang dari … om-om?


Klik.


Suara keras video membuat Dicky yang tadi mendengkur langsung berbalik menghadapnya. Milan memelankan suara, dan menaikan selimut hingga menutupi dada polos Dicky.


Mata Milan melebar pada wajah kakaknya, kenapa ada Vaya, dia sampai mengulang video dari awal dan mendengar dengan headset yang sempat tertindih di bawah bantal.


Milan menutup wajah dengan nafas memburu, tidak habis pikir dengan kakaknya yang begitu tega mempermalukan Nadia di depan umum.


"Ini kampus loh. Gila," batinnya dengan dada terasa sesak.


Milan menghabiskan susu, melepas handuk dan memakai celana longgar dan hoodie milik  Dicky, pakaian atasnya basah karena ulah Dicky sampai bajunya terkena benih pemuda itu, lalu justru melanjutkan dengan kamar mandi hingga atasan dan b.r.a nya basah, tidak dapat dipakai.


Dengan tenang, Milan menempelkan sticky note di layar ponsel Dicky, lalu pulang dan mengendarai Pajero di jalan yang hanya dilewati satu atau dua mobil.


*


Nadia keluar dari rumah, dan meremas ransel. Lelah leseh, dia ingin tidur. Habis mencuci baju kak Vaya dan Bibi Milan lalu menjerengnya.


Dia menutup tudung di kepalanya dan menutup rapat-rapat, padahal dia memakai kaus kaki dan sepatu, entah mengapa masih menggigil begitu terkena angin dingin jam tiga pagi yang menyapu wajahnya. Sampai uap nafasnya terlihat di depannya.

__ADS_1


Di depan, Nadia menunggu angkot. "Jam berapa si lewat?" Pintu gerbang masih sedikit terbuka, security itu masih baru jadi tidak tahu kapan jadwal angkot lewat. "Sepertinya sebentar lagi pada pergi ke pasar."


Mobil MPV putih bertulisan Vellfire, melewati gerbang dan lalu mundur lagi sampai kaca mobil sopir diturunkan. Nadia menatap mobil itu saat Pak Heru memanggilnya.


__ADS_2