
"Dicky! cepat kemari," seru Reno, dan sahabatnya itu berulang kali melihat ke arah Pajero hitam. Dia meyakini karena memang sahabatnya itu ingin memiliki Pajero.
Dicky melihat kepergian mobil Milan, lalu beralih menatap Reno. "Aku mau beli rokok."
Kelopak mata Dicky bergetar saat memandang Guskov dan menelan kasar salivanya. Dia sedikit takut karena menyadari di sini dia pihak yang bersalah.
"Itu disebelah ada yang jual rokok," ujar Shelin cepat tanggap sambil duduk.
Bibir Guskov terus berkedut menatap mata pemuda itu. Ini benar-benar penghinaan terang-terangan, dia tidak suka dar cara pemuda itu menatap istrinya barusan.
Bila bisa Guskov ingin mengha..bisi pemuda itu, tetapi dengan kondisi sendiri yang tidak bisa jalan ini, merasa dirinya benar-benar pecundang saat ini.
"Apa yang Milan lihat dari pemuda itu? mengapa dia tidak mau hamil dengan ku dan justru dengan yang lain?sia-sia kerja kerasku selama enam tahun. Ya, memang, aku sama sekali tidak punya daya memaksakan perasaan Milan. Dari awal aku sudah menempatkan harapan, di tempat yang salah? Atau mungkin karena ini Tuhan memiliki maksud agar aku lebih mensyukuri perasaan Nadia padaku, agar aku menjaga Nadia dengan cara yang baik," batin Guskov berusaha menepis rasa pilu yang menekan dadanya.
Nadia tidak tahan melihat kesedihan dan wajah muram Guskov dan tanpa sadar meremas pergelangan tangan Shelin karena tidak ada yang bisa diperbuatnya saat ini untuk menghibur Guskov.
"Oh aku lupa beli pulsa." Dicky berkelit lagi saat mobil kekasihnya sudah tidak terlihat.
"Di kos sebelah itu juga jualan pulsa, kok," kata Reno karena Dicky sudah berjanji padanya akan membantu mengerjakan skripsi, dengan itu dia akan memberi Dicky uang untuk kuliahnya, sahabatnya itu terlihat membutuhkan uang tapi tidak pernah cerita, dan belakang sering murung.
"Bentar ya, aku ada yang lupa. Bentar, nanti ke sini lagi oke.” Dicky langsung memakai helm dan tancap gas, yang memang mesinnya belum dimatikan.
Reno melirik tangan Guskov yang mengepal sampai buku-buku jari memutih, mata Guskov seperti iblis menatap ke tempat dimana tadi Dicky berdiri. Dari tatapan tajam itu membuat bulu kuduk Reno merinding.
Reno menutup wajahnya jadi tidak enak sendiri. Seumur-umur, baru sekarang menonton pertengkaran suami-istri. Dan Reno pikir mereka tidak tahu malu bertengkar di rumah orang.
"Eh, apa tadi yang mereka ributkan? hamil? mengapa justru Guskov yang tak percaya dengan kehamilan itu. Bukankah Milan istrinya? ya jelaslah hamil anak Guskov. Yang selingkuh siapa, yang tak percaya siapa," batin Reno bingung dan mengangkat bahu saat Shelin mengerutkan alis karena paman tua tampak murung dan cepat-cepat menggerakkan kursi roda ke dalam kamar.
Reno cemas pada Nadia yang terus menunduk dengan murung dan membawa tampah ke dalam rumah.
"Kenapa rumahku jadi kaya kuburan? hus! hus! aura-aura kesedihan dan menyeramkan sana pergi," gerutu Shelin mengusir hawa buruk, lalu ikut membawa baskom berisi bawang merah dan putih ke dapur.
.
Dicky menyelip pajero dan mengayunkan tangan ke atas-bawah, lalu menunjuk pinggir, agar kekasihnya menepikan mobil.
Pemuda itu turun dari motor dan mengetuk tidak sabar pada kaca jendela yang gelap dan jendela itu perlahan bergerak turun.
Terlihat mata kekasihnya merah. "Apa kamu baik-baik saja? Mereka menyakitimu, kah?" Dicky mendapati wanita itu yang mencoba memaksa senyum. Hingga Dicky mengusap pipi Milan yang basah karena air mata itu baru saja lolos.
"Di depan ada kafe milik temanku ku. Kita ke sana dulu. Ikuti Aku." Dicky dengan nada gentle lalu bergegas jalan, dia merasa tidak enak karena banyak pasang mata yang memandangnya dengan cara sinis. Sepertinya, karena jalan mereka terganggu.
Ketika Jefri ke tempat kost Shelin, di jalan gang kecil, dia menurunkan kecepatan karena macet. Jefri begitu terkejut karena berpapasan dengan mobil Milan.
Jefri menepi dan tidak percaya dengan apa yang di depan mata. "Ini tempat umum loh, menjijikan sekali!" Jefri merekam video sebentar dan kembali ke mobil dengan geram.
"Guskov, benar-benar bodoh, kenapa seharian ini belum ada kabar. Tidak menjawab pesanku. Dia harus menjawab segera apa sanggup terbang ke Singapore dalam waktu seminggu."
__ADS_1
.
Ernest mematikan mesin motor Ducati Hijau, Dia melirik Ducatti merah milik Reno dan masuk ke dalam. "Pintu terbuka tapi orangnya pada kemana?"
Di dapur tidak ada orang, dia lantas naik ke atas. Di atas dia melihat Reno sibuk dengan laptop di atas tikar. Ernest melirik ke dalam kamar Nadia, dimana Shelin dan Nadia sedang berbicara serius. "Hei ada apa?"
"Kamu di sini, Er." Nadia tergagap dan semoga pria itu tak mendengar percakapannya.
Nadia menatap Shelin sebentar lalu turun ke bawah dan kembali duduk di serambi.
Jefri menepikan kendaraan di depan halaman rumah Shelin, terlihat 4 orang duduk bercengkrama. “Di mana Guskov?"
Nadia menyambut Jefri lalu mempersilahkan duduk di ruang tamu dan Nadia membuatkan minum.
Ketika Shelin akan masuk ke dalam, Jefri langsung berdiri mengikuti Shelin, lalu menarik tangannya ke kursi ruang tengah.
Pada awalnya Shelin menjaga jarak tetapi pria itu minta tolong. Shelin memperhatikan dengan seksama bisikan Jefri. Dan pria itu menyerahkan kunci mobil dengan uang satu juta.
“Terima kasih Shelin, kamu kok makin cantik, ya?”
Shelin bergidik dengan wajah dan suara Jefri yang dibuat lemah lembut, dia lantas berjalan keluar menemui Reno dan Ernes untuk menyampaikan maksud Jefri, walau Ernest menolak tapi akhirnya mau menurut.
“Guskov, ini aku Jefri.” Jefri mengetuk-ngetuk pintu kamar berulang kali, tapi sahabatnya masih tidak memberikan tanggapan.
Saat Jefri duduk di ruang tamu, Nadia meminta maaf karena tidak ada tanggapan dari paman, dan menyampaikan bahwa pamannya sedang tidak enak badan.
“Ayo bantu aku cari makanan.” Shelin telah memakai jaket sambil memutar-mutar kunci mobil hingga membuat kening Nadia berkerut.
“Sudah ayo!" Shelin langsung menarik bahu Nadia ke depan.
Nadia yang memang banyak pikiran karena sikap pamannya berubah semenjak kedatangan bibi, hanya mengikuti saja walau bingung mengapa Ernes dan Reno juga jadi ikut, dan kenapa pakai mobil.
Begitu was-was Nadia terus melihat ke belakang ke arah pintu rumah karena cemas dengan Guskov. Dia kembali menatap ke depan pada Reno yang mengemudikan mobil Jefri. Dia tidak heran pada Reno yang mengemudi dengan canggih, Reno yang anak mantan bupati pasti sering mengendarai mobil.
.
“Gus Keluar atau aku dobrak pintu ini! Mereka semua sedang pergi! Ayolah.” Jefry berulang kali menggoyangkan gagang pintu.
Suara kunci diputar dan pintu terbuka berderit, lalu pandangan Jefri meredup.
Selama selama 10 tahun mengenal Gus kok dia tidak pernah menjumpai pria itu menangis seperti perempuan.
Jefry masuk kedalam kamar dan menyusul Guskov yang turun dari kursi roda dan duduk dengan loyo di lantai, kini bersandar di dinding begitu menyedihkan, sedangkan mata perak itu menatap kosong pada langit-langit kamar.
Selama 1 jam Guskov menceritakan semua panjang kali lebar tentang apa yang baru saja yang terjadi.
Apa yang ditangkap Jefri adalah bahwa Guskov tidak ingin menetap untuk sementara waktu di kota ini, perasaan yang hancur dan juga harapan tentang sang anak yang hancur lebur bersama impian omong kosong, menjadi alasan Guskov begitu muak di kota ini.
__ADS_1
"Bagus! Begini Guskov. CEO di perusahaan kilang minyak di Singapore, milik Daddy -baru-baru ini menggelapkan dana perusahaan.
Aku membutuhkanmu di sana, paling tidak untuk sementara waktu, sampai Daddy mendapatkan CEO yang baru. Tapi dalam tujuh hari ini kamu harus sudah di sana, Guskov. Mereka terombang-ambing tanpa pemimpin.
Dan Kamu sangat handal dalam ini. Bahkan Daddy ku selalu memujimi setiap aku menceritakan dana yang kutanamkan di Bramansayah, karena perusahaan itu begitu maju pesat, padahal Bramansyah dulu diambang kehancuran. Gimana, sahabatku, kamu siap?"
Jefri mendapat tatapan nanar sahabatnya yang mengangguk dengan lemah.
"Aku setuju, Jefri. Terimakasih. Kamu sahabatku terbaik. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu." Guskov dengan mata berkaca-kaca dan perasaan haru, memeluk erat-erat sahabatnya. "Dua tahun?" Guskov teringat Nadia yang meminta waktu selama dua tahun untuk melihat perasaan yang sebenarnya.
"Ya, minimal dua tahun, Guskov."
"Tidak masalah."
.
Suara motor berhenti di depan saat Jefri baru mendorong kursi roda Guskov ke ruang tamu.
Dan terlihat Dicky memasuki serambi dan berhenti di ruang tamu dengan wajah langsung berubah merah padam, membuat Guskov dan Jefri saling pandang dengan penuh kegeraman.
Dan Jefri sontak sudah menyudutkan Dicky dengan cekalan di leher pemuda itu ke pintu.
"Jefri! lepaskan dia!" Guskov menarik pinggang sahabatnya. "Ini kos Nadia! jangan membuat ulah di sini."
"Jadi, kamu waktu di rumah sakit itu sudah menjalin hubungan dengan Milan! pantas sikapmu ganjil," geram Jefri mengabaikan tarikan Guskov. "Masih berani kamu ke mari?"
Dicky yang akan menemui Reno, sekarang harus menghadapi Guskov. Kekasih Milan tak punya pilihan karena butuh uang untuk membayar ujiannya.
Memang Milan sudah menceritakan semua soal tadi, tetapi dia juga harus memikirkan masa depan sendiri, tak peduli jika di rumah ini harus bertemu Guskov.
Dicky mulai sulit bernafas sambil menahan pergelangan tangan pria di depan, tenaga itu kuat yang bisa saja mence..kik dan membunuhya. "Aku tidak ada urusan denganmu, aku akan menemui Reno di sini."
Jefri menatap pemuda itu yang berani sekali, dia begitu jijik karena pria ini bahkan yang menghamili Milan. "Da..sar baji..ngan tak tahu malu! aku harusnya menjebloskanmu ke penjara."
PIM
Reno yang baru menepikan mobil Hummer putih di halaman, langsung terkejut karena gumaman Ernest.
Dengan cepat Reno dan Ernest turun dari mobil berusaha memisahkan cekalan tangan Jefri dari Dicky yang wajahnya telah ungu membiru dan mata melotot, kehabisan nafas.
Sementara Guskov yang menyedihkan itu menarik kaki kiri Jefri dengan tenaga tak berarti, karena Guskov sendiri sudah tak memiliki tenaga sejak pengakuan Milan, terlebih saat kedatangan Dicky, rasanya dia makin tak bernyawa.
Shelin yang biasanya tak pernah takut, sekarang seolah jatuhnya ke bumi. "Apa yang kamu lakukan di rumah orang tuaku!!!" bentak Shelin dalam takut sekaligus marah, "Apa kau mau membunuhnya ! di rumahku, Jerry!?"
Nadia menatap penuh kebingungan pada Guskov, Jefri dan Dicky. Ernes telah berhasil menarik Jefri, dan Reno telah mengamankan sahabatnya yang masih batuk-batuk untuk mengajaknya di pinggir serambi di depan motor Ducatti merah.
Reno sampat melirik ke diam saat Jefri ditarik paksa untuk masuk ke ruang tengah. Terlihat di ruang tamu hanya ada Shelin, Nadia dan Guskov.
__ADS_1
"Ada apa Dicky? mengapa dia marah padamu?" tanya Reno pada sahabatnya dengan khawatir, bahu sahabatnya itu merosot dengan tangan menggosok wajah. "Apa kamu terlibat masalah?"
...\=\=\=\=FYI : Untuk Reader tercinta, Pewaris untuk Musuh masih menunggu Lolos Review besok jam 10.00 pagi. Terima kasih🤭\=\=\=\=...