Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 12 : BRAK


__ADS_3

-Apa belajar kelompok mu itu menonton sambil bergandeng tangan?- Guskov.


"Kau bisa ketinggalan ceritanya, Nad," bisik Ernest di atas telinga Kanan wanita yang termenung menatap ponsel. Nadia menoleh dan tersenyum lembut pada wajah tampan di depannya yang sangat dekat. Nadia memasukan kembali ponsel di tas pangkuan. Ponsel bergetar kembali, dan Nadia berniat kembali meraihnya tetapi tangan kanan diraih oleh tangan hangat Ernes, pria itu mengencangkan genggamannya. Dan tangan kiri juga digenggam oleh Shelin.


Nadia menyerah diantara keinginan kuatnya untuk membalas chat dan memikih menempelkan tulang belikat pada sandaran. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tidak harus dijawabkan, lalu jika pamannya marah atau salah sangka gimana?


Ernest dan Shelin saling bersitatap selama lima detik sambil mengulas senyuman, rencana mereka telah satu langkah berhasil. Satu dari sepersekian banyak langkah untuk menjauhkan paman tua sekaligus membalas rasa sakit sahabat mereka.


*


Guskov mere..mas stir mobil, mata peraknya menatap rumah yang ditinggal penghuninya di depan rumah. Setelah mengantar istrinya pulang dia bergegas ke kos, dilirik jam sebelas malam. "Ke mana sih?"


Gerungan suara motor khas yang baru terpakir membuat Guskov turun dari mobil, tiap langkahnya makin menambah api amarah di dalam dada tiap kali bayangan sentuhan mereka mengaduk-ngaduk hati dan meninggalkan luka.

__ADS_1


"Paman, kenapa di sini?" Nadia belum sempat melepas helm, dirinya bergidik karena tatapan Guskov yang meredup tanpa Nadia tahu maksudnya. Langkah besar itu akan mendekatinya. Tidak. Tatapan itu berubah menjadi iblis dalam gerakan cepat pria itu langsung menarik sikut Ernest yang baru melepas helm dan meninju kuat-kuat hingga mengenai rahang, dan Ernes jatuh tersungkur.


"Ernest! Apa-an kamu paman, kau melukai dia." Nadia menarik cepat lengan kokoh pamannya. "Jangan! jangan kau melukainya!" Nadia berteriak dengan susah payah memeluk tubuh paman dari belakang dan menariknya agar menjauh dari Ernest, tentu saja tidak bergeser walau nafasnya tersenggal. Dua tambahan boge..man pada Ernest tak terelakkan hingga Ernest yang tak diberi waktu membela diri, terkapar di rerumputan.


Nadia menarik tangan kiri Guskov yang terkepal menampakkan otot menyeramkan, tetapi pria itu menyentak tanga Nadia dan berlutut menahan jaket biru Ernst yang kotor.


"Jangan berani-berani menyentuh Nadia, Cukup sampai di sini." Guskov menggeram di depan wajah Ernest yang terlihat linglung. "Aku bersumpah menggagalkan proyek mu, ba..j*ngan."


"Nadia, ikuti aku." Guskov berbalik menghadap mobil dengan mencapit lengan Nadia, itu ditolak Nadia yang kakinya mengunci tak bergeser dan memilih tinggal bersama Ernes.


Mata Guskov makin terbakar, tanpa mendengarkan, menghentak lengan Nadia hingga wanita itu berjalan terseret. Dibukanya pintu dengan kasar, dan dihempaskan tubuh Nadia ke jok depan.


"Ba...ingan!" Ernest bangkit menahan nyeri, sempat terjatuh lagi, dan bangkit berusah payah untuk mengejar. Dicekalnya tangan Guskov yang baru menutup pintu sedan hitam dan justru terjengkang akibat tendangan mendadak di perutnya. Tangan Ernest terkepal kuat-kuat menjauhkan punggung dari tanah, dan menemukan fakta pahit bahwa badannya tak berdaya dan menatap nanar kepergian mobil Guskov.

__ADS_1


Mio putih memasuki halaman dan langsung berhenti, Shelin tanpa melepas helm, bergegas menolong Errnes yang terlentang di rumput, di pegang wajah Ernest. Dengan tertatih, Shelin menyangga lengan Ernes untuk membawanya ke ruang tamu. Dia keluar lagi mematikan mesin motor dan mengambil helm Ernest.


*


"Kamu tak perlu seperti itu. Kamu bisa dilaporkan polisi bila Ernes tak terima." Nadia mengingatkan dengan nada tinggi tak tertahankan di jalan yang mulai sepi, sedetik kemudian Guskov justru berkendara dalam kecepatan tinggi.


"Lampu merah!!! jangaannn!!! Ah kita bisa mati!" Nadia berteriak dengan dua tangan berpegang kuat di pegangan di atas kaca samping, matanya membesar di depan sepi, benar sepi, tapi tidak tahu apa di depan. Nadia menutup mata dan jantung benar-benar berdetak seperti orang gila. Nadia menangis histeris saat Guskov menghindari motor di lampu merah dan tetap tersenggol! "Ya ampun Tuhan, kamu gila Guskov!" Nadia mendesis histeris menatap ngeri pada spion setelah suara hantaman, di susul getaran mobil barusan. "Berhenti! jangan seperti ini!" Histeris Nadia makin tak terkendali, dia yakin sesuatu tadi menabrak mobil Guskov.


"Ayo kita mati bersama, dan takkan ada selain aku di hidupmu, ya!" Mata Guskov berapi-api dada sudah meledak, Nadia harus tahu perasaanya. Ingin Nadia bisa mengerti akan sakit yang sudah diberikan Nadia. Wanita itu egois, tak mau mendengarkannya, dan terus menyalahkannya. Mata Guskov memanas, semakin mengencangkan laju semakin dia bersemangat.


Tikungan mendadak dan tajam membuat mobil Guskov kehilangan kendali. Guskov sebisa mungkin menguasai stir, mengerem tajam dan itu tak sampai.


"Sayanggg!!!" Suara Nadia tercekik.

__ADS_1


Mobil bergetar di bagian kiri belakang. Mobil terseret pembatas jalan dan mobil berbalik tajam. Pada saat yang sama mobil yang datang dati jalur searah di belakang terkejut, lampu jauh menyorot pada wajah dua orang di mobil Mercedezz Benz Hitam, sopir box mengerem tajam decitan rem berderit kencang di aspal.


BRAKKK!!


__ADS_2