
Nadia menarik pandangan dari Pajero hitam di depannya dan menunduk karena sesuatu basah di tangannya. Matanya melotot karena dia sudah meremas dua biji cabai di tangannya tanpa sadar sampai sudah terbelah.
Sari cabenya telah membasahi permukaan tangan, terutama biji-biji yang terdapat di sela jari, entah sejak kapan Nadia sudah meremasnya. Bergegas Nadia membuang uwesan cabai ke dalam tampah dan berlari ke dalam untuk membilas tangan. Dia menabrak Reno yang baru keluar dari dalam dan merasakan dirinya terperangkap dalam pelukan Reno, Nadia yang kebingungan di ruang tamu karena elusan tangan Reno di bahunya.
"Its oke Nadia, tidak apa, ada kami selalu ada buat kamu. Cepat cerita, cepat cerita."
"Re-re-no!" pekik Nadia karena pria itu tak membiarkan dia terbebas, sedangkan dia tak bisa menyingkirkan dengan telapak tangannya yang kena cabai.
"Iya, ceritakan tentang perasaanmu, cepat." Reno kini menggenggam kedua tangan Nadia, bahkan tangan wanita itu sudah berkeringat.
"Kami ada untuk kamu, Nadia. Kamu pasti sedih, ya," imbuh Shelin dengan penuh ekpresi kesedihan dan ikut mengelus bahu Nadia.
"Apaan sih kamu ya jelas sedih buktinya dia berlari, Shel!" seru Reno pada Shelin saat Nadia geleng-geleng. Lalu berbicara lagi tanpa memberikan kesempatan Nadia untuk berbicara. "Kamu tidak apa-apa, kan?" Reno mendapati Nadia yang terus memberontak dari, dia yakin pasti Nadia begitu terpukul karena kedatangan tantenya. "Tidak apa-apa Nadia cerita saja padaku. jangan memendam sendirian."
"Memendam apa, Reno? lepaskan, panas-" Nadia bingung dengan sikap sahabatnya itu.
"Iya sama sepertiku ketika melihatmu dekat-dekat dengan orang lain, aku mengerti Nadia rasanya. Rasanya panas. Benar seperti ini, jangan menyembunyikan dariku lagi, pasti mereka membuatmu marah, kan?"
Reno mendorong bahu Nadia lalu mengusap pipi Nadia dan mata wanita itu memerah perlahan mengeluarkan tetesan air mata. "Tidak apa menangis Nad, menangis aja."
"Lepas Reno, lepas, panas! " Nadia geram dan matanya begitu perih.
"Iya aku tahu rasanya pasti panas aku tahu."
"Reno, lepas mataku pedas!" Nadia kesulitan saat Shelin memeluk bahunya.
"Ada apa si mereka, ya Tuhan mataku perih, tapi dua orang ini terus mengoceh," batin Nadia dan mendorong perut Reno.
"Iya, iya, aku tahu pasti rasanya juga pedas! tapi kenapa pedas?" Reno makin mengusap pipi Nadia.
"Tanganmu pedas!"
"Kamu kacau sekali Nadia." Reno menatap lekat-lekat mata Nadia yang terus berkedip dan sangat merah.
"Oh begitu terpukulnya, Nadia," batin Reno, dia kebingungan sambil berpikir mencari jalan keluar.
"Ya ampun Reno mataku pedas kena cabe dari tanganmu!!!"
__ADS_1
"Cabe? cabe apaan? aku tidak pegang cabai." Reno merasakan tepisan kasar tangan Nadia dan wanita itu langsung berlari dan Reno mengikutinya sampai ke wastafel, terlihat Nadia membasuh wajahnya dengan begitu cepat.
"Kamu gimana sih Reno! aku kan sudah bilang panas kenapa kamu menahanku!? ya ampun mataku begitu panas pedas!!"
"Ampun Nadia kasihan banget kamu ya! kamu gimana sih Reno payah!"
"Kenapa jadi aku yang salah!? kan aku cuman mau menghibur Nadia. Aku tidak memegang cabai."
"Aku yang pegang cabai dan kamu memegangi tanganku. Lalu tanganmu memegang mataku!" pekik Nadia masih kesal bukan main.
Reno yang terlanjur mengusap mata sendiri, seketika merasakan perih di matanya. "Si..Al, kenapa nggak bilang dari tadi!"
Reno berlari ke westafel dan bergantian dengan Nadia sama-sama matanya perih.
"Kasihan si, tapi Reno benar- benar bodoh," batin Shelin sambil menahan tawa, tapi tidak bisa karena dia begitu geregetan karena tingkah dua orang itu.
Mereka lalu berbalik ke serambi, setelah melihat ke pintu kamar Guskov, sama-sama penasaran apa yang mereka bicarakan.
*
"Apa menurutmu mereka akan kembali?" tanya Shelin yang mengupas kulit mangga dan duduk diantara Reno dan Shelin.
Nadia menatap tajam pada Shelin yang meringis, mengapa mulut Shelin ember sekali.
"Auuww Auuw uwww!! Shel, sakit!" Reno menghindar dari cubitan Shelin yang masih mendelik padanya. "Apa? matamu mau keluar itu!"
*
Sebelumnya ...
Milan berdiri mengamati ruangan sempit 3m x 2,5 m pengap dan sempit. Milan mengipasi wajahnya dengan tangan. "Aku kesini hanya mau mengabari bahwa aku telah mendapatkan pengacara. Sepertinya kamu senang tinggal di sini? Tega sekali kamu Mas?!”
Milan berbalik menatap Guskov yang menjauhi pintu, lalu menepuk kasur.
"Duduk, Milan ... kita perlu terbuka dengan semuanya."
Milan tertawa sinis menahan kesal, selama ini dia merasa dihinggapi rasa bersalah sendirian.
__ADS_1
“Milan Bramansyah,” kata Guskov dengan tenggorokan tercekat, dia menggenggam tangan Milan yang berada di pangkuan istrinya, matanya terpaku pada perut Milan lalu tersenyum menatap kehamilan Milan yang sudah lama Guskov nantikan. “Tolong, maafkan aku, ya?”
Mata Milan meredup, dan entah hatinya menghangat, tidak, tapi dia tidak ingin kembali dengan Guskov, hingga dia geleng-geleng kepala tanpa menatap suaminya. Dia membenci akan rasa kasian yang selalu menghinggapinya setiap menatap wajah sedih suaminya.
Guskov mengambil nafas dalam-dalam dan tersenyum penuh harap. “Aku akan memperbaiki semuanya dan tidak akan mengecewakanmu lagi. Kamu mau memaafkan saya, kan? Sayang, tolong itu takkan terulang.”
Milan geleng-geleng dengan bahu merosot dan berbicara dengan putus asa, “aku sudah tidak mencintaimu, mas. Bahkan aku mungkin tidak pernah mencintaimu.”
Mata Guskov melebar, itu pasti karena Milan sedang marah. “Bohong, bukan kah kamu ke sini karena kamu mau memaafkan ku?”
Milan melepaskan jari-jarinya dari genggaman Guskov. “Ada yang tidak pernah aku ceritakan padamu, Mas. Saat malam pertama kita, kau tahu kenapa aku tidak pulang? Karena aku pergi ke rumah mantanku. Ya aku menginap di sana, berkumpul dengan adik-kakaknya.“
“Apa karena itu sehingga kamu saat itu begitu mengabaikan ku?” Guskov melihat waktu ke belakang, dan baru di bulan ketiga usia pernikahannya saat itu dia bisa menjamah istrinya dengan sedikit memaksa, lalu selama seminggu dia makin diabaikan Milan karena merenggut keperawanannya. Namun setelah itu sikap Milan mulai luluh.
“Dan kemudian aku tetap sering mendatangi mantanku, tetapi aku dikejutkan saat mendapati ponsel mantanku ada begitu banyak chat dari para gadis, dia membohongiku sejak lama, dia cinta pertamaku, ah bodoh.
Aku bodoh berpacaran dengannya selama lima tahun dan dia hanya mengfaatkan ku, karena barang-barang mahal yang kuberikan.
Suatu waktu aku melihat mantanku menemui gadis, dan Papa Bram tiba-tiba sudah di belakangku dan berkata, ‘kau lihat sendiri, putriku. Bobi hanya memanfaatkan mu, dia menjual semua pemberian darimu dan membelikan hadiah untuk merayu para perempuan dengan uang itu.’
Aku tidak tahu sejak kapan papa mengawasi Bobi. Tetapi Papa Bram saat itu memintaku untuk membuka hatiku padamu.
Tetapi nyatanya aku tidak bisa membuka hatiku, walau aku senang bersamamu.
Dan di bulan ke tiga kau memaksaku menjalankan kewajiban ku sebagai istri padahal saat itu masa-masa aku terpukulnya karena begitu sakit hati karena Bobi, itu membuatku makin membencimu Guskov, sejujurnya aku membencimu.
Dan aku saat itu bersumpah tidak akan memiliki anak denganmu. Kau hanya pelarian sakit hatiku dari Bobi.”
Guskov menatap Milan tak percaya dengan ketel dalam diri yang mulai mendidih, dan menjauhkan tangannya dari paha Milan. “Jadi ini alasanmu selalu menampilkan kemesraan di depan semua orang tapi dingin saat kita hanya berdua .... ini?” tanya Guskov dengan kekecewaan tak terhankan, tulang-tulang penyangga tubuhnya seolah rontok seketika.
“Kamu selama ini menjalankannya terpaksa dan baru menceritakan ini setelah enam tahun? Milan, seharusnya kau tak merahasiakan dariku, jika kau memang tidak nyaman hidup denganku, aku bisa menolak perjodohan Papa Bram-“
“Dan lalu apa Guskov? Membiarkan semua aset papah beralih padamu? Kau bukan siapa-siapa enak saja mendapatkan semuanya dengan mudah, lalu aku? mamah, kakak dan adikku? menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa? Lucu ya kamu, apa kau dari awal memang mengatur ini semua untuk merayu Papa Bram?”
“Tidak-tidak Milan, aku bisa pergi dan meninggalkan semua aset yang memang dari awal bukan milikku.”
“Dan kau tahu kita tak bisa melawan kehendak Papa?! Bahkan setelah papa meninggal pengacaranya selalu siap mengawasi gerak-gerik kita?”
__ADS_1
Guskov menghembuskan nafas berat, dan menggerakkan kursi roda menatap ke luar jendela.
“Milan, Milan. Kamu telah banyak menderita selama ini karena aku. Dan aku pun begitu. Setiap malam aku kesepian di rumah tiap kamu jarang pulang, dan saat itu aku berfikir apa pernikahan sebegitu menyepikan seperti ini. Aku ingin memberitahumu Milan, lebih dari setahun terakhir aku sering bertemu Nadia di tokonya, dan aku telah mengenal Nadia sejak lama.”