Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 32 : BERBOHONG


__ADS_3

Langit masih gelap, udara segar menyambut Nadia setelah turun dari angkot. Dia menurunkan tiga kantong belanjaan dan membayar angkot.


Para ibu-ibu berlalu lalang akan pergi ke masjid dan Nadia menyapa, begitu pun mereka menjawab dengan ramah.


Kunci diputar, dia mendorong pintu perlahan dan mengunci dengan hati-hati. Dia ternganga ke jendela.


"Guskov, kenapa tidur di sini?" batin Nadia. Lalu berjalan sambil menahan nafas, membawa tas kresek pada kedua tangan tanpa menimbulkan keributan.


"Dari mana kamu, Nadia?"


DEG. Jantung Nadia rontok seketika dan tubuhnya begitu dingin seperti jatuh di kolam es. "Pasar!" pekik Nadia tanpa menoleh lalu kembali jalan "Sebentar."


Nadia menaruh belanjaan di dekat meja dengan terus menahan nafas karena merasakan pamannya itu makin mendekat.


"Kamu dari mana?" Guskov menyipitkan mata dari jalan tertatih wanita yang melenggang ke dapur dan cuci tangan. Kini wanita itu entah sengaja atau tidak langsung sibuk mencuci beras dengan masih memakai jaket dan kaus kaki.


"Nadia? kenapa kakimu mu?" Guskov memperhatikan Nadia yang beraktifitas menggunakan tangan kiri. Dia makin mendekat.


"Kaki ku, tadi kesleo di pasar," kata Nadia berbohong, dia menyembunyikan fakta bahwa dia terjatuh dari mobil Pak Heru, karena kata-kata vulgar yang diucapkan pak Heru saat mengantarnya ke pasar.


Kata-kata tak senonoh pak Heru membuat Nadia yang ketakutan langsung turun dari mobil yang masih berjalan dan dia jatuh di aspal hingga lututnya membentur pinggir trotoar.


"Lah, kamu jalan tidak hati-hati." Guskov meraih lengan mungil itu dan Nadia mengadu, terlihat telapak tangan Nadia lecet. "Masa separah ini? memangnya pasarnya miring dan kamu tergelinding?" menyipitkan mata pada Nadia yang menjauhkan diri.


"Ah namanya juga jatuh, nanti ku obati sendiri." Nadia menumpangkan beras ke panci besar, makin canggung karena pria itu tidak segera beranjak dari dapur.


"Di mana kamu semalam?"


"Kerja." Nadia memutar bola mata ke kiri, dan mulai was-was hingga nafasnya mulai meningkat. "Pulang jam 11 dan langsung pulang, saat paman sudah tidur. Lalu jam 3 aku ke pasar seperti biasa," kata Nadia berbohong dengan percaya diri sambil meraih dua baskom, dengan berusaha tetap tenang melewati Guskov.

__ADS_1


"Jelas aku dari jam dua mulai menunggumu di ruang tamu karena tidak bisa tidur menunggumu dari jam satu, itu kamu belum pulang, loh. Kenapa berbohong? bilang saja tidur di kos Lila?" batin Guskov dengan tangan terkepal.


Pria itu menahan keinginan untuk bertanya lagi dan mulai membantu Nadia membersihkan kulit daun bawang, di atas meja panjang. "Lepas jaketmu?"


"Dingin paman, enak seperti ini." Nadia bersyukur pamannya tidak bertanya macam-macam berarti Guskov percaya dengan ucapannya.


"Apa sih, ini anak, apa dia tidak tidur? wajahnya pucat sekali seperti habis bergadang dan perjalanan ke luar kota berjam-jam. Lihat kenapa terkantuk-kantuk. Eh beneran tidur!" batin Guskov yang terus mengamati Nadia sejak Nadia menyetel TV.


Guskov mengupasi bumbu, memetik gagang cabai, merasa trenyuh dengan perjuangan Nadia.


Pria itu ke dapur untuk mencuci bahan-bahan, beruntung westafel tidak terlalu tinggi, hingga walau dengan duduk di kursi roda, bisa mengerjakan semua.


Setelah beberapa kali mengamati cara membuat bubur ala Nadia. Jam Lima bubur sudah matang.Hatinya menghangat, ada perasaan senang yang sulit dijelaskan. Mungkin Nadia akan bangga dengannya.


Shelin turun dari tangga dengan membawa handuk, dilihatnya pria itu mengamati Nadia yang sedang tidur.


"Apaan si pria aneh itu," batin Shelin dan berlalu ke kamar mandi.


Pesan 1


~Aku baru ingat pemuda yang dijemput Milan di kampus. Aku melihatnya saat duduk bersebrangan dengan Milan di rumah sakit. Pemuda itu adik dari teman Milan, kalau tidak salah namanya Dicky.


Pesan 2


Katanya Dicky menunggu kerabat di rumah sakit. Lalu Milan aku suruh pulang, si Dicky ini pamit beli kopi. Ketika aku beli kopi di kantin rumah sakit, aku melihat Dicky mencium pipi Milan. Eh tapi, ini yang aku lihat dengan mataku loh ya!


Jangan salahkan aku, jika aku salah melihat~


Guskov meremas ponselnya, dan mencoba mengingat-ngingat siapa pemuda itu, sepertinya dia juga pernah melihatnya tapi di mana.

__ADS_1


*


Nadia merentangkan dua tangan dan baru sadar bahwa dia telah tertidur. "Bubur!"


Nadia berlari ke dapur dan mendapati kompor sudah dimatikan, kotak-kotak makanan telah tersaji, berisi potongan daun bawang rapih, berikut ayam goreng yang sudah di swir dan bahan lainnya sudah siap saji.


"Kok bisa semua sudah siap? Wah makasih Shelin," gumam Nadia dengan senyum ceria karena sahabatnya memang sangat baik dan selalu membantu.


Nadia kembali murung teringat kata kasar Nyonya Bramansyah tadi malam.


"Kalian sudah tidur bersama, kenapa kau tidak minta dinikahi Guskov sekalian? lagian kemarin itu bukan pertama kali karena malam sebelumnya kata Bi Inah kalian dengan tidak tahu malu : memadu kasih di sofa di balik selimut. Kamu picik juga yah?"


Nadia geleng-geleng kepala, kenapa Nyonya Bram terus menuduhnya. "Tidak, Nyonya, ini salah paham, saat itu aku hanya mengantar selimut untuk Paman."


Kembali Nadia teringat pada kata-kata Pak Heru di mobil.


"Nih, jangan bilang siapa-siapa. Guskov itu tukang minum, aku sering mengantarnya pulang, dia sering memacari gadis-gadis saat 'malam' makannya bibimu tidak betah di rumah karena Guskov seperti itu," kata Pak Heru.


"Tapi, apa kamu tidak merasakannya saat Guskov menggaulimu?" kata Pak Heru dengan cibiran. "Kenapa diam, Nadia? Eh eh, sudahlah jangan sok suci. Ngomong-ngomog, saya lebih jago loh dari Guskov di atas ranjang."


"Berhenti, Pak Heru!" Nadia meraih tas dari belakang dan membuka kunci langsung membuka pintu dan melompat dari mobil yang mulai berjalan lambat.


"Hei ngelamun terus!"


Nadia dengan jantung berdebar menoleh pada Shelin yang baru mandi. "Makasih, Shel, sudah masak ini semua."


"Aku tidak masak, mungkin Guskov. Soalnya ketika aku baru bangun, aku melihat Guskov terus mengamatimu. Eh semalam jam 1 Guskov masih menunggumu, jadi aku bilang kamu tidur di rumah Lila."


"Apa?!" Nadia menelan Salivanya. "Guskov semalam menunggu sampai jam satu?"

__ADS_1


"Mati aku," batin Nadia sambil meringis, merasa Guskov tahu kebohongannya.


__ADS_2