
Nadia menjil4ti es krim cone berwarna orange. Dia tersenyum teringat saat menjalani perawatan tubuh paket pasangan. Ruangan spa yang dipisah oleh tirai, hingga Nadia dapat mendengarkan setiap obrolan Guskov dengan terapis pria. Entah, saat mendengarkan percakapan Guskov dengan orang lain membuat Nadia senang, atau dia terlalu mengagumi calon suaminya.
Kini Ferari Merah keluar dari Orchad Road, yang adalah pusat retail dan hiburan di Singapura.
Nadia masih terheran, memiliki sebuah mobil di Singapura sama saja seperti menyewa mobil, karena harus membayar sewa per 10 tahun, tak peduli walau kendaraan hanya diparkir, jika tidak maka kendaraan akan dibuang oleh negara.
Jika Guskov memiliki Ferari di sini, artinya Guskov kini telah menjadi seorang jutawan. Hanya orang-orang yang benar kaya yang memiliki mobil di negara dengan pulau kecil ini, yang besarnya sekitar wilayah Yogyakarta.
Ferari di Singapura bisa sampai 200K dollar, ini karena pajak impor 200%. Bila dirupiahkan harga mobil ini sudah menyentuh angka 5,6 Milyar.
Belum lagi sebelum membeli mobil harus memiliki sertifikat kepemilikan mobil (COE) sekitar S$80K atau 800juta hanya untuk selembar sertifikat selama 10 tahun, ini setara dengan satu harga rumah di Malaysia.
Apalagi ini Super Car mungkin COE itu menyentuh $160K senilai 1,8 Milyar lalu setelah sepuluh tahun harus memperpanjang COE, bila tidak akan diekspor. Itupun tak sembarangan, karena jumlah kendaraan tetap dibatasi. Itulah Kendaraan dianggap mewah di sini, karena semua tak mampu membelinya. Namun, beberapa orang meski biaya-biaya itu sulit masuk akal, mereka tetap membelinya daripada harus berdesak-desakan menunggu transportasi umum, walau transportasi umum di sini adalah yang terbaik di dunia.
Nadia geleng-geleng kepala untuk apa Guskov membuang-buang uang seperti itu. Maxud Nadia, bisa, kan membeli mobil biasa saja. Apa Guskov tidak tahu diluar sana banyak yang kelaparan, kan, bisa uangnya di sumbangin ke orang-orang yang kurang beruntung.
"Aku kangen ibu. Pengen bikin telur asin dengan Ibu." Nadia melahap es krimnya, dari pada memikirkan angka yang membuatnya pusing. Dia kembali mabuk bila harus mengingat belanjaan hari ini yang menyentuh angka 500jutaan rupiah. Meskipun Nadia sempat menolak, tetapi paksaan Guskov membuatnya tak berdaya. Tak apalah, nabung perhiasaan. Jadi, bisa dijual lagi, kan ?
Dingin menyebar ke setiap inchi langit-langit mulut Nadia, lidahnya kebas. Pikirannya pun tersesat pada nikmatnya es krim rasa kuning telur asin.
Guskov melirik sebentar ke Nadia yang terpejam. "Ayo, kita buat dengan Ibu saat kita pulang, ya?"
"Mas harus merasakan asiknya meremukan batu bata merah, yah ... Tapi, kalau ibu yang bikin, perendamannya bisa sampai 6 minggu. Besok aku telpon ayah dan minta dibuatin. Pas kita pulang, jadi tinggal rebus saja."
"Tapi-apa tidak sebaiknya beli jadi. Kasian mereka kerepotan?" Guskov menjadi tidak tega pada Mas Joko dan Mbak Kumala.
"Mau gimana lagi. Ah itu cuma ngerendam pakai butiran batu bata doang. Prosesnya simple dan pasti mereka senang." Nadia memejamkan mata. Rasanya tak sabar, ingin sampai hari H. Tadi dia sudah telepon bapak ibu, agar kedua orangtunya melakukan persiapan pernikahan. Terlebih Guskov sudah mengirimkan 40 juta ke rekening ayah.
"Emmmhh!" Mata Nadia terbuka karena tarikan tangan Guskov. Bibir seksi pria itu ikut mencaplok dan menjila4t bulatan bekasnya, sambil memperhatikan laju kendaraan.
"Mmh kupikir ... jelas lebih enakan bibir kamu, Sayang." Guskov menjilat bibir atas dan mengecap-ngecap, kuning telur yang terlalu manis menurutnya.
"Mas,jangan membuatku malu." Nadia mengurangi jarak mereka, lalu mengusap bibir atas Guskov. "Misi, nih, belepotan."
Gerakan tangan Nadia terhenti, saat tangan kiri Guskov menahannya, aroma cendana menguar dari bahu Guskov. Bibir dingin Guskov mulai mengecup telapak tangannya. Secara harafiah jarak kepalanya dengan Guskov 20 senti. Wanita itu harus menempelkan dada ke bahu Guskov karena tangannya lelah.
"Aku tidak menggodamu. Tapi aku menginginkan semua yang ada padamu, tidak hanya ini." Guskov menjil4t telapak tangan itu dengan pola aneh, lalu menatap Nadia dua detik sambil mengedipkan satu mata dengan cara nakal. "Kamu mau?"
"Ih Mas!" Nadia merasakan sensasi dingin dan lembab hingga dia berusaha menarik tangan, dan butuh beberapa waktu sampai Guskov melepasnya. Nadia memalingkan wajah dan memandang langit yang makin gelap. Debaran jantungnya yang makin cepat dan membuat seluruh tubuhnya menghangat terutama di wajah. Padahal suhu AC mobil menyala, tetapi tubuhnya terasa gerah kini.
Guskov jadi senang bukan main karena membuat Nadia salah tingkah.
Mereka diam begitu lama sampai getaran panjang di pangkuan Nadia, menggangu pikiran pria yang masih mengemudi.
Nadia lupa membuat mode senyap, karena sejak siang belum membuka ponsel. Biskuit cone terakhir di kunyah dengan perlahan, dia berharap ponselnya berhenti bergetar, tetapi TIDAK. Nadia dari mulai-sampai selesai mengelapkan tisu basah ke mulutnya, tetapi ponsel itu terus bergetar.
Mata Guskov menatap kaku ke jalan yang dilewati. Dia melirik saat Nadia berusaha menutupi tas pesta dengan kedua tangan. "Siapa yang telepon, kenapa tidak diangkat?"
Guskov jadi teringat acapkali Milan memegangi ponsel, saat itulah mungkin Milan selingkuh. Dia yakin Nadia tidak seperti itu.
"Teman, paling teman, tidak penting." Nadia akhirnya menarik ponsel dari tas mini dengan nafas tertahan. Jarinya mengusap layar ke sisi atas. Dia menelan saliva karena itu telepon Ernest.
__ADS_1
"Speaker," suara teredam Guskov karena mencium gelagat aneh. Hatinya mendadak seperti ditekan dan seolah-olah tersumbat batu besar.
"Ha-lo," suara Nadia retak. Deretan gedung pencakar langit yang dilewatinya menjadi buram dan terdistorsi oleh kemarahan Guskov di masa lalu. Nadia yakin tidak melakukan kesalahan, tetapi mengapa aura Guskov kini mengisyaratkan ada yang salah.
"Nadia Adelia, sekarang kamu dimana? Aku jemput, ya?!" suara Ernest begitu bersemangat.
"Tapi aku-"
"Semalam aku sudah mencari mu, tetapi yang keluar teman tengilmu."
"Aku masih di luar-"
"Iya, kata Shinta kamu tidak pulang ke asrama. Aku menelpon Dhita juga tidak diangkat, dimana kamu? Sharelok, ayo ikut aku."
Ernest berbicara tanpa jeda, tak memberi kesempatan Nadia untuk berbicara. Sedangkan Nadia lebih tegang karena gigi Guskov yang saling bergemertuk.
"Aku sedang ada acara." Nadia ingin melanjutkan kata-katanya bahwa dia sedang bersama Guskov.
"Ah, ada acara, dimana? Ehm ... Okelah, jadi aku tak bisa membawamu. Ehm .... tapi, kapan kamu mau menjawab soal perasaanku?" Suara Ernest terdengar ragu-rau dan tampak gugup.
DEG. Nadia merem4s kuat tasnya. Kenapa Ernes membahas ini, si ?! Suara mesin mendengung keras dan tubuh Nadia terayun ke belakang, terjengkang dan membentur jok, setelah Guskov meningkatkan kecepatan tiba-tiba. Jantungnya berdebar saat melirik rahang Guskov yang mengeras.
"Berikan." Guskov melirik sebelah sebentar dan tangan mungil melepas dengan kaku, seakan tidak rela. Nadia menggigit bibir bawahnya karena Guskov sejenak diam, ponsel di depan mulut Guskov, mata perak sangat tajam ke depan seolah memikirkan apa yang akan dikatakan pada Ernest.
"Guskov?" suara Ernest meninggi. "Jadi, kamu bersama Nadia?"
"Dua bulan lagi kami akan menikah. Semoga orang yang tidak tahu diri seperti Kecoa, segera menjauh dari detik ini."
"Siapa yang kamu bilang .... Kecoa-aaA?!"
"Kau hanya pendatang di sini ! lalu menunjukkan taringmu di tempat yang salah!" Suara Ernest meninggi dan Guskov tersenyum kecut.
"Kau bukan siapa-siapa pria tua. Papa Dawan bukan lawan mu. Jadi, kembalikan telepon ini ke Nadia!"
Nadia membeku dan gemetar karena sebelumnya tidak pernah menjumpai bentakan Ernest. Apa bisa orang berubah sebegitu cepat. Er, maafkan aku ....
Guskov memutuskan panggilan dan meletakan ponsel di Dashboard. Kalimat Ernest seakan menamparnya, membuat dia berpikir lebih dalam. Guskov menelan saliva dan mempercepat laju kendaraan, di jalan berbayar. Apa aku sudah salah berbicara, benar kok kami akan menikah. Dia memang pengganggu.
Nadia menatap ke luar jendela dengan perasaan yang berubah jadi lelah. Nafasnya tertahan. Dia mencoba mengambil nafas panjang untuk menghilangkan kekecewaan hatinya setelah mendengar nada kekecewaan Ernest. Bisa, kan, Guskov berbicara baik-baik.
Guskov melirik Nadia yangmana wajah ayu itu tertekuk, dan tampak kesedihan dari sana. "Dia menembakmu? Kamu, kan, bisa langsung menolak."
Tak semudah itu, Mas. "Iya, nanti. Tapi, kamu jangan asal cemburu pada Ernest, dan berkata aneh-aneh. Dia sahabatku, Mas."
Guskov mengangguk dengan terpaksa, dia menyesal bersikap impulsif tadi, jika ini hanya membuat Nadia sedih. "Benar, ya, tidak lebih dari itu?"
⚓
Nadia turun dari Super Car yang begitu mengkilap, di loby hotel.
Orang-orang berpakaian mahal langsung terperanjat kearahnya, beberapa media dan lampu kamera menyilaukan mata Nadia, yang tidak terbiasa hingga matanya harus menyipit di tengah kebisingan pada tiap pertanyaan yang kini menyerang Guskov.
__ADS_1
Untuk pertamakali Nadia mendapat pusat perhatian seperti ini, rasanya tidak nyaman seperti ditel4nj4ngi di depan umum.
Guskov berdiri di dekatnya dengan tampang sangat dingin, genggaman tangan kekar itu mampu meringankan rasa gugupnya saat memasuki Hall room dengan musik romantis. Dia mengendus wangi dekor bunga warna-warni dan parfum-parfum mahal yang memanjakan.
Orang-orang memberi tepuk tangan pada Jefri dan mempelai wanita. Mereka memotong kue pernikahan bertingkat 6 dengan pedang, yang tinggi kue itu melebihi Jefri.
Guskov memeluk Jefri yang terus tersenyum haru, lalu dan memberi selamat. Jefri memeluk Nadia dan memperkenalkan istrinya yang sangat cantik dengan mahkota indah bak ratu di negeri dongeng yang penuh nuansa biru. Jefri mengenalkan Nadia yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri pada sang istri.
Sepanjang pesta Nadia menjumpai banyak pria-wanita berkelas yang teru mencari perhatian Guskov.
Meja bundar di VIP terus di datangi makanan lezat dan Nadia menikmati bersama Guskov. Seorang pria dari keluarga Ernest menyapa Guskov, lalu menyapa Nadia dengan senyum hangat. "Nadia, kamu datang bersama Ernest? Dimana dia?"
"Ah Paman.Nadia datang bersama Mas Guskov- calon suami Nadia." Nadia tersenyum malu-malu saat paman Ernest tampak terkejut, dan mata Guskov sempat berkedut tetapi berusaha tenang.
"Serius? kalian akan menikah? Tiba-tiba, apa Ernest tahu ini?" tanya Paman dengan serius.
"Apa ada masalah dengan kami akan menikah? dan semua ini jelas tidak ada hubungannya dengan Ernest." Guskov dengan tersinggung berusaha memasang wajah tenang. Memang dia tahu keluarga Wijaya selalu disebut-sebut Jefri dan masuk dalam deretan konglomerat di negara ini. Tetapi bukankah sudah jelas, Nadia telah memberitahu bahwa dia adalah calon suami Nadia. "Ernest bukan siapa-siapanya Nadia, bukan?"
Axel Wijaya tertawa dengan cara elegan mendapati tatapan tak nyaman dari pria yang adalah pendatang baru dan tersohor, yang popularitasnya mengalahkan keluarga besar Wijaya karena dikenal dengan inovasi dan gebrakan ide-idenya yang briliant. "Apa saya menyinggung Presdir Axxa Petroleum?"
Guskov tersenyum miring. "Kami mengundang lebih awal untuk pernikahan kami, dua bulan lagi."
"Dengan senang hati." Paman Ernest beralih dari Nadia yang menatap Guskov dengan gugup, lalu beralih pada ponakannya yang tampak baru datang.
Nadia sering ke acara seperti ini setiap kali ada acara di pesta bersama keluarga besar Ernest.
Si4lnya bukan cuma paman, tetapi beberapa keluarga Ernest yang lain juga datang kemari, dan menyambut Guskov sekaligus mengajaknya berbicara.
Jangan bilang Ernest juga di sini. Nadia melirik ke sekitar saat Guskov diajak mengobrol.
Wajah Guskov semakin suram setelah beberapa orang mengenali Nadia yang sering berpasangan di pesta dengan Ernest.
"Hei, Nadia!"
Nadia yang terkejut, menyemburkan air dari mulut. Dia tak sempat melirik siapa, reflek mengelapi dada dengan serbet putih. Ini sangat memalukan sekali.
Di sisi ruangan, Ernest membeku pada tatapan lembut Nadia pada Guskov saat pria itu mengelap dagu Nadia dengan gentle. Sedangkan ada Arya Wijaya- adik Ernest yang baru duduk di sebelah Nadia.
"Er, ayo, ku kenalkan Presdir Guskov padamu."
Ernest, menarik tangan sang kakak, yang akan menariknya. "Tak perlu."
"Tapi, perusahaan kita akan menjalin dengan perusahaan Kilang mereka."
"Kak, sudahlah!" sentak Ernest di tengah kebisingan, cukup terdengar dan mampu mengalihkan perhatian Nadia dan Guskov, yang kini menatap ke arahnya.
Akhirnya, Ernest melangkah mendekat ke Nadia yang gaun merahnya basah di dada. Dia berhenti di ujung meja dan mengulurkan tangan pada Guskov, sambil berulangkali menatap tajam ke mata Nadia.
Guskov menyeringai dan langsung berdiri, lalu membalas jabat tangan Ernest.
Semua orang yang mengitari dua pria itu menyadari aura dingin yang tidak biasa, seolah diliputi persaingan sengit, tetapi tidak tahu persaingan apa. Tentu Adik dan kakak kandung Ernest, tahu itu soal Nadia.
__ADS_1
Seluruh keluarga besar Ernest, tahu akan rencana Ernest, untuk melamar Nadia. Mereka pun telah akrab dengan Nadia, setiap kali ada pesta, Ernest selalu mengajak Nadia, bahkan sejak dulu saat bergonta-ganti pacar, yang selalu dibawa ke pesta selalu Nadia.
Keluarga besar Ernest mendukung keputusan Ernest, Ernest telah menyiapkan gedung dan keluarganya sudah mendapat arahan untuk muncul saat Ernest melamar Nadia. Namun, ini adalah hal tak terduga dan sangat mengejutkan, fakta bahwa wanita itu sendiri justru memperkenalkan calon suaminya-Guskov Adhitama -Sehari sebelum rencana lamaran Ernest.