
Inilah Aku, Asna Hamran. Siswa SMA 25 Samarinda yang populer tapi belum punya pacar.
Selain wanita, tidak banyak hal lain yang membuatku tertarik.
Aku senang melihat mereka tertawa dengan riang.
Menatap jutek.
Menyapa kasar.
Merengek manja.
Ingin sekali Aku menerkam siswi-siswi seperti itu di sekolah ini. Siapapun, asal cantik. Kalau tidak cantik, ya, Aku mikir-mikir.
Toh, cita-citaku adalah menjadi suami dari istri yang cantik. Istri yang membuatku betah tinggal di rumah.
Sayangnya, wajahku tidak mendukung untuk mewujudkan ambisiku itu. Mereka bilang Aku “kurang” ganteng. Kata ganti “tidak” yang diperhalus.
Padahal untuk ukuran anak SMA kelas 10, tinggiku sudah lumayan. 167 senti meter. Aku juga termasuk 50 siswa terpandai di sekolah yang mendapatkan beasiswa. Bahkan di tahun pertama sekolah, Aku sudah terpilih menjadi pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Pun terpilih menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera pada Upacara Hari Kemerdekaan.
Dua hari yang lalu seniorku di OSIS - sebut saja namanya Mawar, nama sebenarnya, nih- mengatakan kalau wajahku itu manis. Aku tentu sangat senang mendengarnya.
Hanya saja, kalimat setelah kata “tapi” dari Kak Mawar membuatku terhenyak.
Kata-katanya masih terekam rapi di benakku…
“Bisa dibilang wajahmu itu relatif manis. Kau juga populer di sekolah. Tapi, Kau kelewat percaya diri. Seruduk sana-sini kalau liat cewek. Cara berpakaianmu pun terlalu menjijikkan. Uang beasiswamu tidak dibelikan buat seragam sekolah? Biaya sekolah udah gratis, lho! Dengan bermodalkan kenistaan, Kau ingin Aku jadi pacarmu?! Ya, Tuhan, jauhkan bala dari diriku....”
Semua yang dikatakan Kak Mawar memang benar. Wajahku ini walau kurang ganteng, masih terbilang manis. Aku juga populer. Hampir seluruh siswa dan guru mengenalku sebagai siswa yang cerdas namun berperilaku di luar batas.
Cara berpakaianku menjijikan? Sepertinya iya, sih.
Uang beasiswa Ku gunakan untuk makan sehari-hari. Tak ayal Aku tidak memprioritaskan seragam sekolahku. Selama masih bisa menutupi tubuh, Aku akan mengenakannya.
Memang hanya sahabat-sahabatku yang tau. Selama ini Aku melanglang buana. Tinggal di rumah sahabat yang satu, pindah ke rumah sahabat yang lain. Hidup tanpa orang tua, tanpa sanak keluarga, tanpa satu rupiahpun warisan ditinggalkan.
Padahal dulu Ayahku adalah orang yang sukses. Punya banyak uang. Entah apa profesinya hingga bisa begitu.
Ya, Aku jadi teringat peristiwa di hari-hari terakhir meninggalnya Ayahku.
Tiga bulan yang lalu, persis pada minggu perdanaku sekolah di SMA 25 Samarinda, Ayah tiba-tiba saja memberikan semua hartanya untuk fakir miskin, janda-janda kaya... eh, miskin. Tidak lupa untuk anak-anak yatim piatu.
Menjelang ajal, Ayah berpesan, “Orang tuaku, Kakekmu, dulunya orang miskin. Dengan pengetahuannya Ia meraih kesuksesan. Menjadi kaya harta. Tapi saat menjelang ajal, semua harta kekayaan Ia berikan kepada orang lain. Akhirnya Aku menjadi gelandangan di usia remaja. Berbekal pengetahuan yang diberikan Ayahku, Kakekmu… Aku menjadi orang yang sukses. Kaya harta. Pada akhirnya Aku juga memberikan semua harta bendaku kepada orang lain. Bukan kepadamu. Maka, pengalaman dan pengetahuan yang kau dapat dariku… itulah warisanku… gunakanlah...”
Aku sangat paham dengan beberapa bait pesan yang disampaikan Ayah. Mungkin pengalaman dan pengetahuan adalah sesuatu yang lebih berharga dari dunia dengan segala isinya.
Hanya saja ada satu yang tidak Aku pahami dari kematian Ayah. Selama hidupnya, Ayah sering berpergian saat Aku tidak ada di rumah. Pulang di saat Aku sedang tidur. Tidur di saat Aku berangkat sekolah.
Padahal Ia bukan Bang Thoyib.
Sedikit sekali pengalamanku bersamanya.
Kami jarang berkomunikasi.
Pengetahuanku lebih banyak didapat dari berbagai situs berjaringan, kehidupan sosialku, buku dan guru di sekolah.
Apa yang Ayahku maksud dengan “warisan” ini?
Terus, kenapa Aku jadi menceritakan diriku sendiri?
Oh, sekarang hidungku mulai mengeluarkan darah. Artinya, sudah sangat lama Aku terperangkap di sini. Persis di bawah jendela, dinding belakang gedung sekolahku. Kepala di bawah dengan kaki terikat di tanaman liar.
Kemana teman-temanku? Biasanya mereka menghabiskan banyak waktu di tempat ini untuk mendonor darah kepada nyamuk. Untuk mengusirnya sebagian dari mereka menghisap rokok. Alasan perokok pemula, ya, seperti ini.
Sekarang Aku seorang diri.
Aku akan mati bila terlalu lama berada di posisi ini. Mataku seperti hendak keluar. Darah pasti sedang memenuhi otakku.
Kalau ditemukan tewas, Aku akan masuk berita dengan judul, “Siswa Tewas Tergantung Gara-Gara Salah Teknik Ketika Mengintip Teman Sekolah.”
Emmm... Sebelas kata bukanlah judul yang baik.
Sebaik-baiknya judul itu seperti ini, “Kematian si Mesum Amatir.”
Empat kata sensasional. Tapi... itu seperti judul Novel laknat.
Kalau ada Author yang mengambil judul itu, Aku akan mengutuk dirinya. Keluarganya. Itu plagiarisme, bukan?! Kreatiflah!!!
Judul berita seharusnya jelas, padat dan merepresentasikan isi di dalam berita itu. Pembaca juga harus terprovokasi untuk membacanya. “Intip Teman Sekolah, Siswa SMA Ditemukan Tewas Tergantung.” Delapan kata! Ini jauh lebih baik.
Yah, sepertinya Aku lagi-lagi meranyau.
Mengintip siswi ganti baju adalah perbuatan yang nista memang. Aku sadari itu. Kalau Tuhan masih memberikan kesempatan hidup kepadaku. Aku akan merubah sikap mesumku. Setidaknya tidak terlalu mesum. Mengintip dengan cara yang bermartabat.
Perbuatan nista yang bermartabat? Uh, otakku mulai absurd.
Baru tiga bulan semester gasal Tahun Ajaran 2019/2020 dimulai, kenakalanku sudah merajalela. Pikiranku liar. Tiada hari tanpa masalah. Guru BP menyebutku sebagai remaja yang tengah mencari jati diri.
Tentu saja Aku tidak sependapat.
Aku berperilaku di luar batas hanya untuk tampil keren. Orang yang keren akan menarik perhatian siswi-siswi di sekolah.
Selain untuk menunjukkan eksistensi kelelakianku.
Di samping itu Aku ingin dikenang gadis-gadis di sekolah ini.
Semua yang telah Ku lakukan ini juga untuk memenuhi hasrat terpendamku terhadap wanita.
Seharusnya memang tidak hanya.
Ayah, kalau Kau bertemu dengan Tuhan, itupun kalau Kau ketemu. Katakan kalau Aku janji tidak akan berbuat mesum lagi.
Kalau nanti tetap melakukan, Aku mohon untuk selalu diampuni.
Ah, Kepalaku semakin berat.
Mata Ku mulai kabur.
Malaikat maut sepertinya sedang menarik-narik rohku.
Kalau mau cabut, cabut aja Mas Bro! Seburuk apapun diriku, janganlah dipermainkan seperti ini....
<“Asna Hamran”>
Waduh, itu namaku…
Kayaknya malaikat Izra’il terbawa perasaan. Matilah sudah...!
<“Anakku....”>
Mmmm... Di dalam benakku, terdengar suara yang tiada asing.
<“Dasar Anak yang beuntung betuah!”>
What?! Ini seperti suara Ayahku!
<“Ini memang Ayah…”>
Ayah?!
Ya, Itu jelas suara Ayah!
Kau sekarang jadi malaikat?!
<“Jangan ngawur...!”>
Ayah, apakah Aku sudah mati?
<“Kau hampir mati! Tapi ini bagus. Sangat sulit menghubungkan diriku dengan dirimu. Seolah Kau bukan anakku.”>
Bukan anakmu?! Tentu saja Aku tidak dilahirkan olehmu.
Tapi kalau bukan perbuatanmu, siapa yang menghamili ibu?
<“Tidak perlu panjang kali lebar kali tinggi. Aku akan mewariskan pengalaman dan pengetahuanku kepadamu. Perkara Kau mati atau tidak nantinya bukan urusanku.”>
Perkataan Ayah ini... seolah Kau bukan Ayahku.
< “Hahaha...!” >
Ayah tertawa? Tidak pernah Ku mendengar tawamu semasa Kita hidup bersama.
Tapi, tunggu sebentar! Warisan apa ini?
<“Ini warisan yang dapat membuatmu memiliki kemampuan melebihi manusia biasa.”>
Manusia biasa...?
Manusia Super?!
Jadi Super Hero Aku pasti mau, lah, Yah....
Tidak terbayang banyak wanita yang akan memuja diriku!
Bukan hanya pacar, para wanita ini akan antri menjadi istri pertama, kedua, ketiga...
Baiklah, Aku mau.
<”Bagus!”>
Aku siap merasakan sensasinya.
Asal betulan jadi Super Hero, Aku oke aja.
Mau perih maupun enak sekalipun...
..............................
..............................
..............................
__ADS_1
Ehm... Yah, kok tidak ada efek rasa seperti yang Ku tonton di anime?
..............................
..............................
..............................
Sebentar, memori ini...
<“Ini pengalaman dan pengetahuanku. Kalau Kau masih bisa bertahan hidup, Kau lanjutkan perjuangan Ayah menjaga dunia nyata dari makhluk halus. Da-dah...!”>
Da-dah?! Tiga bulan yang lalu Kau meninggalkanku.
Woi, Ayah...! Belum ada dua menit kita bertemu, Kau sudah main pergi!
Ayah… memori pengalaman dan pengetahuanmu kini telah berada di benakku. Seolah ini pengalamanku sendiri.
Pengalaman ini...
Meninggalnya Ibu. Tangis Ayah kala itu. Ternyata Aku masih berusia lima bulan.
Cinta kasih Ayah kepadaku...
Aku digendong, diberi makanan yang bergizi.
Dibawa bertarung...
Saking sayangnya sama anak, nih.
Sampai-sampai Kau harus berurusan dengan Komisi Perlindungan Anak.
Kehadiran Ayah terus mengiringi tumbuh kembangku, hingga Aku berusia tujuh tahun.
Setelahnya Ayah sering meninggalkan Aku bersama sosok dirinya yang lain. Skill rahasia Ayah…!
Sosok ini sangat halus, hingga Aku selalu merasa sendirian di rumah.
Banyak sekali penjahat dan makhluk virtual dihalau oleh sosok ini.
Bahkan saat Aku membuka situs-situs JAV, Jungle Animal Video, sosok rahasia Ayah ikut menonton. Semua tanpa sepengetahuanku rupanya.
Menyediakanku makanan, mencuci piring dan pakaian, dan membereskan rumah.
Di saat Aku tertidur lelap, Ia memainkan gawaiku dan menelusuri video Kakek Sugiono!
Sahih sudah! Ini baru Ayahku!!!
Kalau Aku punya kemampuan ini, Aku bisa mengintip sepuas hatiku! Hihihi…!
Hmmm… Ayah rupanya sangat sayang kepadaku. Hanya saja tanggung jawabnya sebagai Pejuang Virtual, memaksanya untuk menjadikanku korban.
Berapa kali Ia hampir tewas. Ya, akhirnya tewas juga karena habis umur.
Selama ini Aku butuh komunikasi.
Aku butuh teguran.
Aku butuh pujian.
Aku butuh pertengkaran.
Aku ingin Ayah bilang kepadaku, “Selamat belajar, Asna. Jangan nakal di sekolah! Ayah sayang Kamu....”
...
Aku sudah tak pernah merasakan kasih sayang ibu. Setidaknya Aku bisa disayang Ayah.
...
Aku mengerti alasan Ayah tidak meninggalkanku harta....
...
Aku mengerti Ayah meneliti penemuan sebongkah prasasti....
...
Aku mengerti selama ini Ayah mengemban tanggung jawab sebagai Pejuang Virtual.
Istilah yang digunakan kepada mereka yang memiliki pengetahuan virtual. Mengerahkan segala apa yang dimilikinya untuk menangkal serbuan makhluk halus dari dunia lain. Dunia yang (seolah) nyata. Dunia Virtual.
Eksistensi makhluk ini bisa dikatakan diragukan, tahayul. Mereka ada, tapi pada kenyataannya tidak bisa disensasi.
Antara ada dan tiada.
Tidak ada bukti konkrit yang dapat membuat semua orang percaya kalau makhluk ini ada. Sebagian orang pernah melihatnya, sebagian yang lain tidak.
Keberadaan makhluk ini benar-benar tidak berlaku universal di dunia ini.
Dari pengalaman Ayah ini, Aku menjadi paham motivasi makhluk yang juga memiliki hati, salah satunya untuk mengambil tubuh kasar yang ada di muka bumi!
Mengambil alih dunia manusia!
Tak terbayang kalau semua manusia diambil alih jasadnya. Baik pria maupun wanita.
Aku belum menikah, bos!
Ingin sekali Aku menghajar makhluk ini sebelum semua terlambat.
Namun Aku akui tanggung jawab ini terlampau berat. Aku belum siap mati.
Jujur, Aku menolaknya!
<“Asna, Mara jangan dipukat, rejeki jangan ditolak. Jangan Kau mencari bahaya dengan menolak ketetapan yang telah digariskan. Tidak ada yang bisa Aku dan Kau lakukan saat bahaya itu muncul.”>
Oh, Rupanya Ayah masih berada di benakku. Padahal Kau sudah bilang “Da-dah....”
<“Kau ingin punya pacar, kan? Jadi pejuang virtual itu bisa membuat pria menjadi keren!” >
Kenapa tiba-tiba menyinggung masalah pacar...?
Tentu sekarang Kau tau motivasiku selama ini.
Wanita cantik, pacar cantik dan istri cantik.
Motivasi yang tidak berguna saat ini.
<“Seriuslah jadi Pejuang! Kau pasti akan dapat istri di kisaran usia 25 sampai 27 tahun. Jangan seperti Ayah yang baru menikah di usia 50 tahun…” >
Sudahlah, jangan menghiburku!
Sekarang Aku benar-benar tidak dapat merasakan tubuhku.
Saat ini, mungkin hanya indra pendengarku yang berfungsi karena suara sayap nyamuk terdengar dengan jelas.
Sesekali suara gadis bercanda sambil menggigit upil ikut menggema.
Suara-suara ini cukup mengganggu.
Terlebih suara jilatan menjijikan yang ada tepat di bawah kepalaku.
Pendengaranku, kok, semakin tajam, ya?
Aku bisa mendengar percakapan temanku sendiri. Plus percakapan orang lain yang berada di dalam gedung sekolah.
Ribuuuttt...!!!
Kalau ngomong satu-satulah.
Jangan keroyokan…!
.........................................
Nah, begini jadi lebih baik. Sunyi, sepi… tiada lagi yang terdengar.
Sudah seperti di kuburan...
........................................
Sunyi amat!
Indra pendengaranku sepertinya sudah tidak berfungsi.
Ini...
Aku seperti berada di sebuah pabrik televisi.
Semua adegan yang ditayangkan adalah masa laluku.
Tayangan ini silih berganti dari satu set ke set yang lain. Banyak tayangan kenakalanku yang unfaedah.
Mengintip, menonton, dan mengintip.
Kalau ini ditayangkan di sekolah, wajahku akan berubah menjadi pantat saat ditertawakan gadis-gadis...
Dinia, Si Cantik Antagonis di kelas, akan mendapat data baru untuk menghinaku.
Bagaimana dengan Eli, Hana, Madina, Merry…? Itu baru gadis cantik di kelasku…
Belum termasuk gadis cantik lain di kelas sebelah, di kelas sebelahnya, di kelas seberang…
Lebih baik Aku mati saja.
Akhirnya, bayangan yang semula dipenuhi ribuan tayangan lenyaplah sudah.
Ditelan cahaya yang terang benderang.
Silau, bosku!
Apa ini?
__ADS_1
Di hadapanku kok ada muncul batu alam?
Di mana Aku?
Bayangan ini....
Sepotong prasasti!
Ditulis dengan khat dari timur tengah, berbahasa Melayu kuno.
Ini pasti pengalaman Ayah.
Pada prasasti itu tertulis...
Maut sedang menjemputku. Sesuatu yang pernah Ku dustakan.
Akhirnya Aku sedang membuktikan, bahwa cahaya yang dulunya tiada, lalu menjadi ada, akan kembali tiada.
Yakinlah, hidup kita di alam ini sebenar-benarnya (seolah) nyata... padahal... fana...
Selayaknya mimpi dalam tidur... Mimpi seolah nyata.
Tapi saat Kita bangun, sadarlah Kita, mimpi tiada nyata...
Warisan ini Ku berikan untuk melanjutkan...
Hanya sebagian pesan yang ada di batu ini. Sisanya boleh jadi tertera di bagian yang lain.
Aaaaaaaaah... PEDIH!!!! AAAAAAAAAAHHHHHHHHHH...!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH...!
............................................................................................
............................................................................................
............................................................................................
............................................................................................
Asna Hamran yang semula tergantung di dinding belakang gedung sekolah, kini jatuh ke padang ilalang. Rohnya telah terpisah dari raga.
Sosok roh ini berbentuk seperti tubuh Asna. Cuma sangat transparan.
“Akhirnya… matilah sudah…” ujar Roh Asna yang saat ini memandang tepat di atas tubuhnya sendiri.
Ia lalu berkata kepada jasadnya. “Banyak tontonan yang tidak layak kita saksikan. Sama banyaknya dengan perilaku di luar norma yang kita lakukan. Satu hal yang Aku sesalkan, kita tidak pernah berhasil mengintip secara utuh. Sudah tidak puas mengintip, dosanya tetap kita tanggung pula. Bersiaplah Kita disiksa di alam sana.”
Roh Asna sedikit kesal kala ini.
Tapi nasi sudah jadi bubur.
Kenapa tidak menambahkan suir ayam dan kacang merah goreng?
Dengan sedikit garam, kecap dan kaldu, bubur ayam sudah cukup nikmat untuk disantap.
“Oh, iya. Pada prasasti itu dikatakan kalau hidup di dunia selayaknya mimpi orang yang sedang tidur. Seolah nyata. Memang seperti itu tertanyata. Tapi Aku belum puas, brother! Di dunia sana, Aku masih belum sempat melihat wanita cantik polos secara langsung. Walaupun Aku sering melihatnya di situs-situs asoy. Sungguh mati Aku tetap penasaran!” hardik Asna yang masih meratapi nasibnya.
Setelah beberapa menit menatap jasadnya, Asna berpaling dan memutuskan untuk pergi.
Pergi memenuhi rasa penasarannya. “Dari pada jadi roh penasaran, mending Aku pergi mengintip,” pikir Jiwa Asna.
Seolah menunggu kepergian Jiwa Asna, seketika muncul belasan retakkan udara di sekitar jasad Asna.
Seekor Ular Sembur dengan permata biru di kepalanya keluar dari sebuah retakan dan langsung menghampiri jasad Asna.
Begitupun dengan seekor Ular Sawah bertanduk sepanjang 50 meter yang keluar dari retakan lain.
Sambil berdesis, Ular Sembur mengangkat kepala dan membuka mulutnya lebar-lebar seraya berkata, “Pergilah! Aku yang duluan melihatnya....”
Ular Sawah tidak mau kalah. Ia turut membuka mulutnya membalas Ular Sembur. “Satu Pejuang Virtual Baru... itu cukup untuk meditasiku selama 34 bulan purnama. Ditambah Kau.... Aku akan menambah panjang meditasiku.”
Belasan Burung Gagak turut datang, memanaskan suasana. “Yaelah… Sesama siluman ular bertengkar. Pamali, tau, di depan rezeki!”
Bersamaan dengan itu, suara langkah hewan-hewan terdengar menderu.
Tidak tanggung-tanggung, belasan spesies hewan lain ikut berdatangan bak diundang ke acara tahlilan.
“Tunggu Aku, woi!” teriak Ulat Kaki Seribu. Saat ini Ia masih sibuk memasang sepatu.
Suara mendesir terdengar di sekitar Ular Sembur. Tiba-tiba saja ular itu kehilangan kepalanya!
Ular Sawah kaget sambil menjulurkan lidah. Mengindra apa yang sedang terjadi. Menoleh kesana-kemari, kebingungan.
Tidak berapa lama, sisa tubuh Ular Sembur dibawa lari oleh entitas seperti tupai ke padang ilalang.
Tidak dapat mempersepsi keadaan sekitar, Ular Sawah memilih untuk kembali ke hutan.
Namun...
Baru berbalik ke belakang, entitas seperti tupai itu menggigit rahang Ular Sawah hingga putus. Sejurus kemudian entitas itu kembali ke padang ilalang membawa serta rahangnya.
Hewan-hewan lain mencoba peruntungan menerkam jasad Asna. Bergerak mendekat.
Hanya sampai pada jarak dua meter, mereka tampak ragu mendekati jasad Asna karena merasa ada sesuatu hal yang mengintimidasi.
Sepasang mata kecil berwarna kuning menyala menyorot ke arah hewan-hewan yang hendak menerkam Asna dari balik ilalang.
Kelompok Burung Gagak menyeringai panjang dan pergi meninggalkan lokasi.
Diikuti hewan-hewan lain sesudahnya.
Pada periode itu, Roh Asna sedang berada di dalam kelasnya. Memandang gadis cantik sekelas yang selama ini menjadi incaran untuk dipersunting.
Ia lalu beralih ke kelas lain. Memeriksa para siswi cantik yang sudah sangat dihafalnya.
Mata Asna terbelalak saat ada satu siswi yang tidak ada di kursinya.
“Toilet?!” Otak kotor Asna langsung bekerja. Segera roh mesum ini pergi ke toilet.
“Biarlah Aku jadi hantu yang mesum! Hehehe…” Asna tidak ingin mengambil pusing dari kematiannya. Ia lebih memilih memanfaatkan saat-saat langka seperti ini.
Setibanya di toilet khusus siswi, Asna malah terdiam termangu.
Ia tidak habis pikir roh mesum seperti dirinya ternyata sangat umum!
Banyak roh-roh lain berkerumun di tempat kotor seperti toilet!
Asna baru sadar kalau toilet di sekolah tidak ubahnya seperti bioskop.
Roh-roh pria hidung belang sedang antusias mengantri masuk.
Parahnya, mereka dikenakan biaya tiket!
“Kalau begini keadaannya, Aku menyesal telah mati! Ancriittt!!!” kutuk Asna. Ia kembali kesal.
Begitu hendak berbalik melihat tubuhnya di gedung belakang sekolah, para roh berterbangan.
Antrian seketika bubar.
Tidak jauh dari toilet, Pak Haris, guru mata pelajaran Kewarganegaraan tampak mengomel. “Kalian masih berani menarik retribusi?! Kebijakan sekolah untuk membiarkan kalian tinggal di sini apakah tidak cukup?! Kebijakan itu bisa kami tangguhkan!” teriak Pak Haris.
“B-Bukannya bapak a-ada tugas keluar kota...?” tanya Roh penjaga tiket toilet. Tangannya yang gemetaran membuat daun beringin yang jadi karcis berhamburan di lantai.
Merasa kesal, Pak Haris meraih kepala roh itu lalu memberikan beberapa pukulan ke perutnya. “Itu cuma akal-akalanku saja!” jawab Pak Haris.
Asna melayang mendekat. “Pak Haris?” tegurnya.
Pak Haris tak mendengar teguran Asna.
Ia lalu beralih pada roh penjaga tiket. “Woiii…!” Roh itu juga tak bergeming.
“Benar juga. Roh orang mati jelas berbeda dengan roh-roh ini! Hmm… Kesempatanku untuk mengintip!” seru Asna. Ia segera merengsek ke pintu toilet.
Seketika sosok siswi menembus roh Asna hingga membuat rohnya sedikit terpencar. “Ancriitt… Dah keluar!”
“Kau!” tunjuk Pak Haris kepada si Siswi. “Lain kali kalau menggunakan toilet jangan telanjang!”
“Saya cuma cuci muka, jadi tidak telanjang…” sahut si Siswi yang segera berlari, kembali ke kelas.
Pak Haris kemudian memandang roh penjaga tiket dengan mata melotot. “Cuci muka?!”
Roh penjaga tiket semakin gelagapan terintimidasi Pak Haris. “Ma-maaf, Pak Haris....”
“Maaf Pak Haris...?” Pak Haris membeo dengan wajah merah padam. Sebuah tinju api Ia perlihatkan kepada roh penjaga tiket. “Kau menarik retribusi hanya untuk gadis cuci muka, heh?!”
Pukulan bertubi-tubi lantas Pak Haris lancarkan.
Kalau ada orang lain yang melihat, Pak Haris bisa dikatakan suspect sakit jiwa.
Di saat Pak Haris mulai mencekik roh dan membawanya entah kemana, roh Asna mulai memudar. Ia sadar kalau kesempatannya sudah habis.
“Ini gila. Ini seperti tiada tempat untukku di dunia dan di akhirat. Ya, nasib… ya, nasib… Selamat tinggal teman-teman…” tutup Asna.
Di belakang gedung sekolah...
Teriakan kawan-kawan yang biasa mengintip bersama Asna terdengar.
“Kau mengintip sendirian? Dasar dewa mesum!!!”
Mereka sudah datang rupanya. Semua tersenyum sumringah.
Wajah ceria yang semula mereka tampakkan seketika berubah.
Mereka terkejut setelah melihat tubuh Asna tergeletak di antara ilalang. Tepat di bawah jendela ruang ganti siswi di lantai dua. Tempat biasa mereka mengintip.
Mereka berteriak panik.
“ASNAAAAAAAAAAAAAAAA...!!! CEPAT BAWA KE SEKOLAH!”
Entitas seperti tupai menyaksikan tubuh Asna diangkat kawan-kawannya. Lagi-lagi dengan sorot mata tajam. Entitas itu bergumam, “Jangan memancing bahaya, teman.... Walaupun Kau punya seribu nyawa.”
__ADS_1
***