Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 31 Tuwill


__ADS_3

Ch. 31 Tuwill


Memperhatikan sepanjang perjalanannya, Asna semakin paham kalau dunia virtual tidak ubahnya seperti game multiplayer. Entah bagaimana Datu Busu memiliki lubang virtual ke dunia ini. Asna sungguh penasaran.


Di tujuh bukit yang ada di Gnombell Fairyland, selalu Asna temukan pejuang virtual yang berlomba menaikkan poin status pertarungan.


Situasi seperti itu membuat negeri Gnombell Fairyland menjadi sangat semarak.


Di sana, para pejuang virtual melakukan pemburuan binatang virtual liar tanpa takut punah. Memang di dunia ini, tidak seperti di dunia manusia, binatang liar seolah tiada habisnya. Spesies demi spesies binatang liar terus berkembang biak.


Selain berburu, ada pula upaya negosiasi barang yang dilakukan antar pejuang. Tepatnya, transaksi jual beli. Ada juga yang barter.


Umumnya, pejuang virtual dengan status pertarungan tinggi, yaitu kelas menengah ke atas, tidak lagi mengejar makhluh vitual liar rendah untuk meningkatkan status. Mereka perlu pengalaman bertarung dengan makluk tingkat tinggi pula.


Untuk memudahkannya, mereka memperkuat diri dengan equipment.


Harga equipment tingkat tinggi yang dijual di toko sangat tidak masuk akal. Millyaran Koin Virtual dibutuhkan.


Beda kalau menggunakan jasa  pengrajin. Harga yang dikeluarkan bisa sepuluh hingga seratus kali lebih murah.


Oleh sebab itu pejuang virtual kelas menengah ke atas cenderung mengumpulkan materi sisa kematian makhluk virtual. Materi itu digunakan untuk memproduksi equipment.


Hanya saja, akan terjadi dilema pada diri pejuang saat mereka mengumpulkan bahan dengan membunuh makhluk virtual rendah. Banyak waktu yang akan terbuang saat melakukan itu. Padahal mereka harus melakukan hal lain yang bermanfaat.


Tak pelak mereka menawarkan proposal kepada pejuang virtual lain yang lebih rehdah. Pejuang virtual rendah akan mendapatkan bayaran dari menjual benda yang dibutuhkan pemohon. Mereka akhirnya saling memberikan keuntungan.


Hal ini terjadi pula kepada Asna, Iyan dan Neon. Mereka tiba-tiba dipanggil seorang wanita pejuang virtual yang tengah beristirahat.


Wanita itu meminta Asna untuk mengumpulkan cukup 10 kulit Goathair Wolf. Ia akan membayar Asna 90 koin virtual. Asna tidak tau berapa harga normalnya, pun tidak ada waktu untuk memeriksa harga di pasar.


“Goathair Wolf itu seperti nama serigala. Sepertinya akan ada makhluk itu di bukit ini.” Iyan berbisik di telinga Asna.


Asna tersenyum pada si wanita. “Tante cantik. Kalau memang Aku menemukannya, Aku akan memberikan semuanya kepadamu. Jangankan 10. Sejuta, pun, akan Ku berikan.”


Si Wanita memalingkan wajah dari Asna, lalu menggangguk setuju.


Trio itu kembali melanjutkan perjalanan.


Memasuki hutan bukit abu-abu, mereka mulai mempersenjatai diri.  Neon merogoh tongkat kayu sepanjang satu setengah meter dari udara. Itu seperti kantong tak terlihat.


“[Virtual Inventory]!!! Dari mana Kau dapat?!” Iyan terkejut dengan atraksi yang dilakukan Neon.


Bukan atraksi, sih. Tapi sebuah item. Kantong yang wajib dimiliki pejuang virtual untuk menyimpan equipment. Iyan tentu sangat ingin yang seperti itu.


Sejauh pengetahuan para pejuang virtual, banyak cara menyimpan benda di dunia virtual. Tas ruang virtual, ranah pikiran dan kantong ruang dimensi yang dimiliki Neon, [Virtual Inventory].


Di antara tiga tempat penyimpanan ini, ranah pikiran adalah tempat paling aman. Sedangkan yang dimiliki Neon sangat tidak aman karena suatu benda diletakkan di dimensi tak diketahui. Orang lain bisa saja mencurinya.


Asna lalu mengeluarkan [B-Shock] dari anjat. Lagi-lagi Iyan terkejut. “Itu, di mana Kau menemukannya? Pemberian Datu juga?”


“Fasilitas budak Datu! Kau ini. Aku menemukannya di belakang sekolah. Kau lupa benda ini sering kita mainkan di sana?” jawab Asna dengan wajah datar.

__ADS_1


Asna sedikit tersenyum melihat ada perbedaan status pertarungan yang ia miliki sekarang.


STR 9+350


VIT 3+50


INT 1


DEX 1+700


MEN 1


Penambahan poin status pertarungan dari [B-Shock] sangat super. Asna tidak kaget melihat statusnya. Tentu saja Ia telah tau kehebatan [B-Shock] sejak bergabung dengan GWM.


Sulitnya menemukan gaya bertarung menggunakan [B-Shock] membuat si Mesum jarang mengeluarkannya. “Ini materi hebat! Bekantan Rode aja sampai KO! Kalau dijadikan bahan senjata, bagusnya jadi parang atau Mandau, ya?!” seru Asna dalam hati.


Iyan kebingungan melihat ekspresi Asna. “Kau kenapa?” tanya Iyan sembari menghulurkan tangan hendak mengambil [B-Shock].


Tiba-tiba seseorang remaja dengan pakaian formal yang tidak formal datang mendekat.


Siapa lagi kalau bukan Godel.


“Kalian ingin pergi ke puncak bukit, kan? Aku, Godel, akan ikut kalian. Kehadiranku pasti sangat membantu!” Godel langsung mengajukan diri ikut ke dalam party tanpa diminta dan tanpa persetujuan.


Iyan melirik Asna. Sahabatnya itu hanya mengangguk.


“Baiklah. Selama tidak merugikan tidak masalah…” sahut Iyan. Ia lalu berbisik di telinga Asna, “Tidak apa-apa?”


Belum sempat Asna menjawab pertanyaan Iyan, Godel sudah menghampirnya. “Ku dengar di atas sana ada Istana yang muncul tiba-tiba. Kalau kita bisa bekerja sama, kita bisa mendapatkan harta atau hal lain yang berguna. Hasilnya bisa kita bagi nanti,” terang Godel.


Berulang kali Godel menjelaskan kehadirannya kepada Asna sambil berbisik. Tapi Asna hanya membalasnya dengan jawaban singkat atau senyuman.


“Pasti ada barang berharga yang diincar Godel di atas sana. Ini menarik. Hehehe…!” Asna merasa senang di dalam hatinya. Tapi itu tidak akan ditunjukkan.


Seorang seperti Godel jangan diberi hati.


Kalau diberi hati, Ia akan minta nasi. Makan sesudahnya.


Saat ini ada dua kemungkinan alasan kehadiran Godel. Pertama atas perintah rahasia Datu. Kedua tanpa perintah. Dua kemungkinan itu menjurus pada sesuatu yang berharga. Hal ini membuat Asna bersemangat. Jiwa Selasa menambah kecepatan.


Asna, Iyan dan Neon kembali berjalan mendaki bukit, diikuti Godel.


Sesekali mereka bertemu dengan dua hingga tiga kulit Goathair Wolf. Asna lantas mengumpulkan dan menyimpannya dalam anjat. Begitupun dengan Godel yang tanpa malu mengambilnya pula.


Goathair Wolf adalah jenis binatang virtual yang sangat offensive dibanding binatang virtual lain di hutan bukit abu-abu ini.


Binatang ini sebenarnya sudah dibersihkan Jiwa Senin. Diri Asna yang lain. Sehingga membentuk sebuah jalur yang sangat aman.


“Aku mulai bosan dengan tidak adanya tantangan,” keluh Neon. Iyan pun kebingungan. “Ini sangat aneh memang. Seolah ada yang membantu Kita!”


Godel membatin, “Skill Asna, nih. Makanya Dia berlagak sok keren begitu.”

__ADS_1


Kalau saja Asna mengetahui isi pikiran Godel itu, Ia akan kegirangan. Salto tujuh kali ke belakang.


Seketika langkah Asna terhenti. Begitupun dengan tujuh jiwanya yang lain.


Di saat sekarang, Jiwa Selasa menemukan wanita yang dimaksud Datu Busu. Wanita itu sedang berada di puncak bukit abu-abu. Tepatnya di dalam Istana Virtual lima lantai!


Wanita yang mengenakan kain dan pernak-pernik serba merah muda itu bernama…


--Nona Pinky--


Asna kembali melangkahkan kakinya.


Namun langkah itu kembali terhenti. Sesuatu yang lain ditemukan Jiwa Selasa. Sosok yang selama ini diidam-idamkan si Mesum.


Tuwill!


Tuwill sedang membantu seorang gadis yang bertarung melawan pasukan tengkorak berzirah perunggu. Asna tapi ragu kalau si Gadis adalah orang yang Ia selamatkan saat di rumah angker.


Gadis yang bersama Tuwill bernama…


--Gadis Nurhayati--


“Ayo cepat, nanti keburu malam!” seru Asna sambil berlari.


“Santai, Na! Kita harus menikmati momen di sini. Toh, ayahku dua hari lagi baru pulang.” Iyan masih berjalan dengan santai. Asna tetap berlari, diikuti Neon dan Godel. Iyan tentu tidak ingin sendiri. Karenanya Ia ikut berlari.


Asna mengumpulkan kembali jiwanya yang berada di bukit lain. Sekarang hanya tersisa tiga jiwa. Jiwa ditubuhnya, jiwa pertama di Jiwa Senin, dan Jiwa Selasa yang saat ini mengamati Tuwill.


Asna menggunakan tiga ranah pikiran.


Jiwa Selasa yang mengamati Tuwill mulai merasuki Tuwill di saat Jiwa Senin terus membantai binatang virtual yang akan mengganggu jalur Asna. Merasuki Tuwill ternyata tidak mudah. Sebab, jiwa Tuwill yang sekarang tidak selabil yang dulu.


Ini masalah yang perlu Asna selesaikan. Untuk sementara, Jiwa Selasa cukup menjadi pengamat dan pergi ke lantai-lantai berikutnya.


Jiwa Senin telah berada di depan gerbang Istana Virtual yang berbentuk tengkorak manusia bertanduk dengan mulut menganga.


Istana dibangun dari bahan yang terbuat dari tulang belulang putih yang besar. Di puncak istana ada tulang runcing yang dikelilingi empat cula. Cula-cula itu menghadap sebuah bola berwarna hitam yang terus berputar pada poros tulang runcing.


Dengan santai Jiwa Senin memasuki gerbang. Dibanding saat berada di arena virtual serikat, Jiwa Senin Asna sudah tidak lagi transparan. Warna ungunya sedikit pekat. Membentuk tubuh pria dewasa kurus tapi atletis. Sesuai imajinasi Asna.


 Melihat ke dalam, ada belasan pejuang virtual sedang bertarung dengan ratusan prajurit tengkorak. Pejuang virtual itu sudah mulai kelelahan melawan prajurit tengkorak.


Makhluk virtual jenis tengkorak memang selalu membuat kesal. Mereka membentuk kembali wujudnya setelah dikalahkan.


Sebagian besar pejuang virtual manusia dan makhluk virtual lain banyak yang tergeletak. Sebagian terluka parah. Sebagian lain tidur untuk selama-lamanya.


Inilah akibatnya jika pejuang virtual tidak bergabung dengan suatu komunitas yang memiliki Resurrection Item. Saat mati, jangan pernah bermimpi hidup lagi.


Ya, tentu saja orang mati tidak bisa bermimpi…


Jiwa Senin mengambil pakaian seorang pejuang virtual manusia yang telah tewas. Satu setelan baju kaos oblong dan celana panjang. Tidak lupa Ia mengenakan sarung tangan dan sepatu boot pejuang tersebut.

__ADS_1


Menutupi kepalanya, Jiwa Senin mengambil jubah seorang pejuang virtual lain, lalu menutupi kepala dan wajahnya. Merogoh kantung celana, menemukan sebungkus permen karet. Ia lantas mengunyahnya.


***


__ADS_2