
Ch. 13 Giant Bos-Roh Pendekar Pedang
Pasukan Virtual musuh mulai berjalan menuju Eltow ring pertama tengah. Untungnya laju pasukan virtual musuh terhambat oleh pasukan virtual tim B.
Lima orang musuh segera menghabisi pasukan virtual itu.
“GAWAT! ASNAAA…!!!” Iyan berteriak marah kepada Asna.
“Heh?!” Iyan kaget setelah Novia memegang pundaknya. Iyan masih berupaya bersikap dingin.
Begitu pasukan virtual musuh datang mendekat, Iyan dan Novia menghajarnya sambil menjaga jarak dari kelima musuh.
Suara ledakan kembali menggemuruh. Eltow Tim A ring ketiga sebelah kiri hancur dihajar Edi dan Hansel yang tanpa pengawalan.
Novia mencoba memprovokasi, “Kita lihat… Eltow ini yang duluan hancur, atau teman kami berhasil menghancurkan base kalian!”
“Hahaha…!” Ranggas tertawa terbahak-bahak. “Tentu saja kami yang duluan!” Mereka sengaja membiarkan sebagian Tim B menyerang, sehingga mereka leluasa untuk menekan Eltow terakhir di tengah.
Tiba-tiba Mauli masuk ke dalam jangkauan Eltow dengan sebuah pukulan ke arah Novia. “Aaagghhh…!” Novia terlempar ke dalam base. “Munduuurrr…!!!” teriak Novia kepada rekan-rekannya di sisi kiri.
Tanker musuh itu langsung mendapat serangan dari Eltow. Iyan hendak ikut menyerang Mauli. Namun urung Ia lakukan. Soalnya, empat musuh yang lain ikut masuk ke jangkauan Eltow.
Sial...
Ranggas tiba-tiba menusuk perut Iyan. “Aaagghhh… Asnaaaa…!”
Buan dan Bleck segera menyerang Iyan yang sudah tak berdaya. Iyan langsung KO saat Mauli dan Bustar menyerangnya dengan tenaga dalam!
“Hiiiiaaattt…!!!” Asna masuk ke jangkauan Eltow dan memukul Mauli yang sudah begitu sekarat. Mauli langsung Knock-Out.
Seburuk-buruknya Asna, Ia masih bisa dapat kill. Dengan bantuan Eltow tentunya.
Empat musuh yang tersisa mundur untuk menghindari serangan Eltow. Tidak berapa lama pasukan virtual musuh datang mendekat.
“Pasukannya…!!!” teriak Novia yang segera berlari ke kaki Eltow walau sudah sekarat.
Lagi-lagi Eltow ring kedua musuh di sisi kiri dihancurkan Edi dan Hansel. Suara bergemuruh sedikit membuat perhatian Tim A terpecah.
Pasukan virtual musuh kembali masuk ke dalam jangkauan Eltow Tim B ring pertama tengah dan mulai menyerang.
“Utamakan pasukannya…!” Novia lagi-lagi berteriak.
Asna paham dan mulai memukuli satu pasukan. Sekarang Ia perlu setidaknya 8 pukulan untuk mengalahkan satu pasukan virtual. Masih terlalu lemah....
Akibatnya, tidak ada akibat yang disebabkan Asna.
Novia ikut membantu Asna. Tampak kerusakan yang disebabkan Novia lebih besar dari pada Asna. Tiga pasukan virtual musuh dibersihkan.
“Hajar yang cewek!” seru Ranggas seraya masuk ke dalam jangkauan Eltow. Buan menyayatkan pedang ke perut Novia di saat Bleck turut menembakkan pistol. Dua serangan sudah cukup membuat Novia KO.
Setelah Novia, Asna menjadi sasaran empat orang musuh. “Aaaagghhh…” Asna mengerang kesakitan saat tombak merobek pinggangnya.
“HIIIAAAAAA…!” dengan segenap tenaga Asna fokus memukul pasukan virtual terakhir yang berada di dalam jangkauan Eltow. Pasukan virtual musuh sudah dibersihkan.
Bleck menembak Asna. Tiga peluru menembus ke dada dan dahi si Lemah itu. Ia pun harus kembali ke aula.
__ADS_1
Lagi-lagi Asna tewas dan kembali ke Aula dengan kondisi tidak sadarkan diri.
<“SUCCESS!”> Suara remaja asing terdengar di benak Asna.
“WHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO…!!!” para peserta lain langsung mencemooh.
“Anak ini tidak cocok jadi pejuang virtual. Bahkan menjadi Pengumpan untuk memancing musuh pun tidak layak!!! Huahahahaha…” Rinduan ikut mencemooh Asna.
Mendengar perkataan Rinduan, Zai Kumbang terlihat tidak begitu senang. “Pasukan pengumpan adalah posisi paling hina dalam perang. Di bawah mereka hanyalah sampah. Rinduan begitu hebat mencela orang!” ujar Zai Kumbang dalam hati.
“Lempar anak itu ke lubang! Akan tidak adil kalau 4 melawan 5! Hahaha…!” titah Rinduan.
Sesaat sebelum keluar dari [Resurrection Base], Iyan menyaksikan bagaimana Asna dibunuh di dalam Eltow sendiri. Perasaannya campur aduk, antara sedih dan marah. Novia mendekati Iyan seraya berkata, “Mmmm… Aku minta maaf karena terlalu egois tadi.”
Iyan menyadari keberadaan Novia tapi Ia tidak tertarik membalas perkataannya.
“Sejak awal kami memang meremehkan Kalian dan musuh. Akhirnya kondisi sekarang jadi seperti ini. Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Novia.
Tidak mengindahkan Novia, Iyan langsung keluar dari [Resurrection Base] menuju Eltow ring pertama tengah. Tidak berselang lama, Novia ikut keluar dan menuju Eltow kanan.
Sesaat kemudian Asna muncul di [Resurrection Base] dengan kondisi masih tidak sadarkan diri. Ketika itu pula Edi dan Hansel terbunuh dan kembali ke aula serikat.
“Na, jaga base setelah Kau masuk!” perintah Iyan. Asna tidak menjawab karena masih tidak sadarkan diri. “Na?!” tegur Iyan. “Pingsan lagi nih orang!” pikirnya.
Iyan lalu menghajar setiap pasukan virtual yang datang. Mulai dari tengah, ke kiri, kembali lagi ke tengah. Sesekali Iyan melirik ke peta.
“Di peta tidak ada tanda-tanda musuh. Mungkin… Hah?! Ini gawat!” Iyan bergegas maju menahan gelombang pasukan virtual musuh berikutnya.
Begitupun dengan Novia.
Selesai membersihkan pasukan virtual musuh, Iyan menuju ke hutan, mengendap-endap untuk melihat apa yang dilakukan musuh. “Setidaknya ini sudah menit ke sepuluh. Mereka bisa saja menghajar Giant Boss,” pikir Iyan.
Iyan tidak menyangka Novia masih berkomunikasi dengannya. Ia pun sempat terhenyak, “Sebentar lagi dua kawannya akan datang. Tidak perlu Ku hiraukan Dia.” Iyan lantas berburu makhluk virtual di hutan musuh untuk meningkatkan status bertarungnya.
Tidak mendapat jawaban dari Iyan, Novia lantas mengambil langkah realistis. Membunuh makhluk virtual.
Edi dan Hansel sudah berada di dalam Ressurection Base menunggu waktu untuk keluar. Mereka harus menunggu lebih lama karena sudah berulang kali mati.
Hansel menatap tubuh Asna yang masih tidak sadarkan diri. “Haruskah kita bangunkan dia?”
Tidak sulit bagi Edi untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi ia lebih memilih diam.
Tiba-tiba Giant Boss meraung. Suaranya yang parau menggema hingga ke aula serikat. “MEREKA SUDAH MENGALAHKAN GIANT BOSS!!!” seru Novia setelah kembali dari hutan.
Tanpa perlu peringatan dari Novia, Iyan sudah mengetahuinya. Saat ini Giant Boss langsung terbang menuju sisi kiri base! Tepat di depan Iyan yang berada di hutan musuh.
Giant Boss yang pertama…
ROH PRAJURIT PEDANG!
Edi yang sudah keluar bersama Hansel pun sudah mengetahuinya. “AKU MENYERAH!!!” pungkas Edi.
Dari jarak 200 meter Iyan melihat Giant Boss sedang terbang dengan perlahan. Menuju sisi kiri pertahanan.
Mauli, Pengumpan tangan kosong dan pria berpistol, Bleck mengiringi di belakang Giant Boss.
__ADS_1
Kecepatan Giant Boss memang sangat-sangat rendah. Tapi tentu saja kelemahan ini ditutupi dengan STR (Kekuatan) dan VIT (Vitalitas) paling tinggi di dalam arena. Setidaknya untuk lima belas menit pertama.
STR merupakan status kekuatan yang dimiliki seseorang. Manifestasi dari hasil olah fisik untuk menyerang dan sedikit untuk bertahan.
Sedangkan VIT merupakan vitalitas atau daya tahan pejuang. Bertalian erat dengan seberapa besar daya tahan tubuh terhadap serangan fisik ataupun serangan sihir. Semakin besar vitalitas yang dimiliki seorang pejuang, semakin besar kemungkinan pejuang tersebut bertahan hidup.
Sayangnya tidak ada health point pada fitur [Poor Ordinary Stone] sehingga pejuang tidak dapat memperkirakan dampak kerusakan yang diterimanya dari serangan lawan.
Berbeda saat sebelum dikalahkan, Giant Boss dapat diperintah untuk maju atau mundur, sesuai keinginan anggota tim. Tentu saja anggota tim yang paling akhir melancarkan serangan hingga Giant Boss dikalahkan.
Peluang Tim B untuk menang sangat kecil saat ini. Empat orang harus berjibaku melawan lima orang plus. Plus Giant Boss...!!!
Tak heran Edi menyerah karena sudah tidak ada harapan. Sedangkan Iyan lebih memilih untuk memanfaatkan waktu untuk mencari makhluk virtual hutan. Meningkatkan status bertarung.
Pertandingan baru memasuki menit kesebelas, tapi tim sudah 18 kali mengalami kematian. Sedangkan musuh baru tiga kali tewas.
Iyan kembali ke sisi tengah untuk membunuh pasukan virtual musuh yang datang. Statusnya sudah naik secara signifikan. Bahkan dari empat item yang Iyan beli memiliki atribut pasif, yaitu meningkatkan kecepatan serangan dan lari.
Koin virtual: 9
STR 60+80+195
VIT 45+60
INT 26+20
DEX 34+40+105
MEN 35+40+15
Kekuatan serangan Iyan sudah sangat menjanjikan. Dengan satu pukulan saja Iyan berhasil membunuh dua pasukan virtual musuh sekaligus.
Dua pasukan yang tersisa menyerang Iyan dengan pukulan jarak dekat dan tembakan tongkat sihir. Serangan ini tidak begitu membahayakan diri Iyan.
Melihat ada dua orang musuh datang mendekat, Iyan berbalik menuju Eltow di sisi kiri peta.
Di saat bersamaan Novia berhasil menghabisi pasukan virtual musuh di sisi kanan peta. Tiba-tiba dari arah hutan, Buan si pendekar pedang menebas ke kepala Novia.
Dengan sigap Novia menangkisnya menggunakan pedang. Suara dua pedang bersentuhan membuat gigi Novia ngilu. “Hiaaatttt...!!!” Buan mengangkat tangannya dengan cepat dan kembali mengayunkan pedang ke perut Novia.
“Hah?!” Novia kaget karena serangan ini begitu cepat. Perbedaan Battle Status sangat terlihat dan berpengaruh di sini.
Novia masih sempat menangkis pedang Buan dengan pedang miliknya, hanya saja gelombang energi yang dikeluarkan cukup keras hingga merobek perut Novia.
Novia terlempar beberapa meter dan menghantam pagar arena. “Aaaaaggghh....!!!!”
Belum sampai satu detik Novia terlempar, Buan sudah kembali menyerang. Kali ini Buan melompat tinggi, bersiap membelah bahu Novia menjadi dua bagian.
“WHOOAAAAAAA...!!!!” teriak Buan yang ingin mengerahkan serangan dengan kekuatan yang besar.
Cahaya kuning dari gelombang energi mengelilingi pedang dan tubuh Buan. Cahaya ini semakin membesar dan panjang di sekitar pedangnya.
Ini serangan ultimate Buan!!!
[JURUS PEDANG: MEMBELAS KASIHAN]
__ADS_1
Novia melihat serangan itu dan segera menggerakkan pedangnya. Sebagai pesilat berpedang, reflek Novia sangat bagus dalam menahan serangan. Namun, ini serangan ultimate! Gelombang energinya saja dapat mengembalikan Novia ke aula serikat.
***