
Usai mengusir pencuri, Asna kembali menemui Kuntilanak. Banyak hal yang diperbincangkan Asna dengan teman barunya ini. Tentu saja setelah tidak mendapatkan cara merasuki tubuh entitas lain melalui roh.
Di saat Asna asik mengobrol, rupanya Jiwa Asna melayang menuju rumah kosong yang diceritakan si pencuri. Lokasinya di seputaran jalan Ir. Juanda. Jarak yang harus ditempuh sekitar empat kilo meter dari sekolah Asna. Butuh waktu satu jam untuk pergi ke sana dengan berjalan kaki.
Untungnya Jiwa Asna ini tidak perlu berjalan kaki. Cukup terbang melayang. Menembus bangunan. Memotong kompas.
Sepuluh menit terbang, Asna telah berada di kawasan jalan Ir. Juanda. Di depannya tampak seberkas cahaya dari langit yang menyinari sebuah rumah kosong. Hanya Pejuang Virtual yang dapat melihatnya. Inilah salah satu gambaran perbatasan antara dunia virtual dengan dunia manusia.
Asna mendekati rumah kosong yang saat ini dipenuhi orang-orang dari kalangan Pejuang Virtual. Sebagian besar orang-orang ini mengenakan perlengkapan perang.
Tidak terlihat oleh Pejuang Virtual, Asna mulai mencari informasi awal tentang rumah kosong ini. Menguping percakapan orang-orang di sudut yang satu ke sudut yang lain. Ini yang dinamakan jurus “KEPO.”
Jiwa Asna telah mendapat informasi yang cukup. Ia mulai menganalisis. “Tiga kata kunci. Rumah angker 10 lantai, aquarium dan Boneka Biosilk. Dari tiga kata kunci ini, hanya Biosilk yang informasinya masih kurang dari pengetahuan Ayah. Biosilk adalah makhluk candaan untuk mewarnai dongeng pengantar tidur.
“Konon, puluhan tahun yang lalu Boneka Biosilk pernah ditemukan seorang bocah yang pada akhirnya menjadi Pahlawan Super setelah dewasa. Banyak yang mengira itu sebagai kebohongan. Tapi fenomena yang terjadi sekarang membuktikan bahwa Biosilk benar-benar ada.
“Oleh karena jiwaku ini tidak dapat diindra manusia. Aku akan mencoba mengeksplorasi rumah ini. Semoga saja makhluk virtual di dalam juga tidak bisa mengindraku.”
Jiwa Asna terbang melayang ke arah pintu rumah angker dengan sopan. Menembus tubuh Pejuang Virtual yang dilaluinya. Sesekali menggampar Pejuang Virtual tersebut. Perilaku Asna ini sangat sopan sekali.
Sampai di lantai satu, Asna menyaksikan kondisi ruangan yang dipenuhi dengan air. Meja dan kursi kayu tampak melayang. Di beberapa sudut tampak tempat bermain seperti di taman kanak-kanak. Cat dinding berwarna merah muda menambah kesan dunia anak yang semakin kental. Rumah ini sebenarnya tidak pantas disebut sebagai rumah angker.
Dua orang Pejuang Virtual terlihat sedang berenang di antara puluhan boneka setinggi 50 senti meter. Di dunia virtual, [Ordinary Stone] tampak menempel di tubuh pejuang virtual. Seperti dua orang yang ditemui Asna ini, [Ordinary Stone] menempel pada punggung tangan kanan mereka masing-masing.
Saat ini, mereka menganalisa tiap-tiap boneka, satu per satu. Lalu menyimpannya dalam kantung jaring. Ini tidak ubahnya seperti penjarahan.
Boneka bertubuh kapas dan dibalut kain sutera ini disebut dengan…
--Boneka Biosilk--
Bentuk Boneka Biosilk yang Asna lihat saat ini terdiri dari satu jenis. Yaitu, boneka yang serupa dengan boneka teddy bear. Hanya warna dan ukurannya saja yang beraneka ragam.
Asna melihat mata para Boneka Biosilk ini berkedip. Ini menandakan mereka masih hidup. Berada di dalam air tentu saja membuat mereka tidak dapat bergerak.
Jiwa Asna terbang menembus langit-langit rumah angker menuju lantai dua. Lantai ini tidak jauh berbeda suasananya dengan lantai satu. Penuh air sehingga terlihat seperti akuarium.
Ornament bertema dunia anak dan berbagai arena bermain yang lebih kompleks dibanding lantai satu sedikit menjadi pembeda di lantai dua.
Tak ingin berlama-lama, Jiwa Asna terus terbang ke lantai tiga.
Di lantai ini suasana gaduh lebih berasa. Kegaduhan berbaur dengan jingle musik lagu Pada Hari Minggu Ku Turut Ayah Ke Kota.
Kedalaman air di lantai tiga cuma sepuluh senti meter. Tinggi air bisa saja bertambah karena air dari lantai empat terus mengalir melalui tangga.
Sebuah pertarungan tidak akan terlalu sulit untuk dilakukan di lantai ini. Tak heran, sebanyak 15 orang Pejuang Virtual dan 10 Boneka Biosilk teddy bear ukuran dua meter sedang melakukan pertarungan. Lebih tepatnya pertarungan segitiga.
Pejuang Virtual seolah terbagi menjadi dua kubu. Hal ini menarik perhatian Asna untuk memeriksa rumah ini lebih jauh ke lantai berikutnya.
Di lantai empat terlihat seorang Pejuang Virtual sedang berhadapan dengan satu Boneka Biosilk berbentuk harimau yang memiliki tinggi 180 senti meter.
Pejuang Virtual ini mengenakan equipment lengkap yang terbuat dari logam mengkilat dan bersenjatakan tombak. Ada dua goresan bekas cakaran pada equipment di dada dan paha si pejuang. Sedangkan Boneka Biosilk Harimau tidak terluka sedikitpun.
Jiwa Asna tersenyum setelah mencapai lantai empat. “Ini baru lantai empat. Ada lima lantai lagi yang harus Ku lalui untuk mengetahui apa yang ada di atas sana. Ini sama seperti multiplayer game dalam dungeon. Semua orang bertarung dengan penghuni dungeon untuk mencapai lantai atas. Sedangkan Aku seperti pengamat yang tidak diketahui keberadaannya. Andai Aku bisa mengambil keuntungan di sini… Hmm… senangnya.”
Di lantai lima suasana pertarungan sangat terasa. Ada 30 Pejuang Virtual dan 90 Boneka Biosilk melakukan pertarungan segitiga. Pejuang Virtual melawan sesamanya adalah sesuatu yang biasa terjadi di dunia ini. Perbedaan tujuan memungkinkan hal itu terjadi.
Lebih jauh di lantai enam, Jiwa Asna sedang menyaksikan dua Pejuang Virtual tingkat tinggi dan satu Boneka Biosilk Orang Utan saling menatap.
Seorang Pejuang Virtual berkacamata ungu mengenakan seragam militer berwarna hitam yang dilengkapi dahrim, kopolrem, dan tas ransel lengkap dengan senjata mesin di tangannya.
Pejuang Virtual lain mengenakan baju zirah berwarna emas dan bersenjatakan pedang. Dapat dipastikan mereka bertiga adalah petinggi di kubunya masing-masing. Tampak jelas terdengar pembicaraan yang memuat berbagai kepentingan.
Sebenarnya Asna ingin menguping, tapi urung Ia lakukan karena lebih tertarik dengan apa yang ada di lantai berikutnya.
Saat di lantai enam terjadi perbincangan antar petinggi, di lantai tujuh suasana terlihat lenggang. Hanya ada empat boneka Biosilk Kucing yang sedang bermain kartu. Asna mengitari tubuh-tubuh boneka ini sebelum terbang ke lantai delapan.
Mata Jiwa Asna terbelalak melihat situasi di lantai delapan. Di ruangan ini ratusan boneka Biosilk saling membunuh. Banyak korban yang telah jatuh dengan kapas terburai.
Di antara kerumunan boneka ini ada beberapa manusia. Para Pejuang Virtual dari kalangan manusia itu ikut campur dalam pertarungan ini.
Jiwa Asna mengitari perang saudara yang tengah berlangsung. Sesekali tubuhnya ditembusi beberapa boneka dan Pejuang Virtual yang sedang bertarung.
Segera ia beralih ke lantai Sembilan. Situasi yang sama terjadi. Kali ini dengan jumlah yang lebih besar. Di lantai ini ada tiga Ikan Berkepala Pria seukuran bus bertingkat. Ikan ini disebut dengan…
--Headman Fish--
Makhluk Virtual amfibi yang memiliki mulut besar. Melalui mulut inilah air keluar tiada henti.
Di lantai ini pertarungan antar Boneka Biosilk sangat kental. Satu kubu ingin menjatuhkan Headman Fish, kubu yang lain mencoba melindunginya.
Seperti biasa, Jiwa Asna melewati kerumunan dan bergegas menuju lantai puncak, lantai sepuluh.
Berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya, di lantai ini terdapat puluhan monitor melayang yang menggambarkan situasi dari lantai satu hingga lantai sembilan. Di bawah monitor terlihat berbagai macam tombol yang berkedip secara bergantian.
Asna melihat dengan jelas sosok boneka singa bermahkota emas dan berjubah raja setinggi dua meter. Dapat dipastikan sosok inilah pimpinan tertinggi di rumah ini.
Di belakangnya ada belasan boneka berjenis wanita yang memiliki berbagai macam rupa. Sedangkan di depannya berdiri dengan gagah tiga Boneka Biosilk berbentuk anjing.
Saat ini mereka dihadapkan pada Boneka Biosilk lain yang dipimpin Boneka Biosilk berjenis Kucing dengan tujuh warna. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, ungu dan abu-abu.
Boneka Biosilk Kucing Tujuh Warna menengadahkan telapak tangannya kepada Raja Boneka Biosilk Singa. “Hari ini Aku telah membuktikan kalau Aku sudah pantas mewarisi tahtamu, Ayahanda. Berikan Aku mahkota itu sekarang. Sebelum manusia mengambil keuntungan dari ras kita.”
Raja Biosilk Singa mengaum dan mengeluarkan gelombang energi yang dahsyat. Boneka-boneka yang ada di depannya berputar-putar di udara terkena gelombangnya. Hanya Biosilk Kucing Tujuh Warna dan Jiwa Asna yang tidak terdampak oleh auman ini.
Boneka-Boneka Biosilk yang berputar beberapa kali menabrak Jiwa Asna. Sesuatu hal yang sudah biasa hingga membuat Jiwa Asna tidak berpindah tempat.
Sesuatu yang disangka-sangka terjadi. Jiwa Asna ikut berputar dalam gelombang energi!
Tentu saja Asna yang sedang ngobrol dengan Kuntilanak di ruang UKS kaget.
Kuntilanak melihat ekspresi Asna yang tiba-tiba berubah. “Ada apa, mas bro?” tanya si cantik ini.
“Aku lupa kalau besok ada tes Duta Siswa Ganteng. Para gadis akan kecewa jika Aku melewatkannya. Aku tidur dulu, ya…” Asna bergegas kembali ke ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
“Hihihi… Aku jadi ingin tau rasanya tidur. Baiklah, Aku akan mengawasimu…” ucap Kuntilanak yang segera menjalani aktivitas rutin unfaedah. Mondar-mandir tak jelas.
Di dalam selimut, Asna kesulitan mengekspresikan perasaannya saat ini. Hal ini berkaitan dengan apa yang terjadi di rumah angker.
Jiwa Asna telah merasuki salah satu Boneka Biosilk!
Boneka setinggi 40 senti meter ini adalah jenis kucing dengan warna coklat tua berbelang ungu dan hitam.
Asna tidak tau kenapa hal itu bisa terjadi. Tapi yang jelas, Ia telah menemukan batang tubuh yang bisa diisinya.
Walaupun merasa senang, Asna tidak menutupi kalau situasi di rumah angker saat ini sangat mengkhawatirkan. Ia tidak dapat memprediksi apa yang akan terjadi nanti.
Di lantai sepuluh rumah angker, gelombang energi akibat auman Raja Biosilk Singa telah reda.
Boneka Biosilk yang dirasuki Asna membentur dinding. Tidak lama kemudian boneka lain menabraknya.
Boneka Biosilk yang dirasuki Jiwa Asna mendengus seraya berkata, “Pukhirnya…” Ekspresi bingung tergambar di wajah boneka ini. Ia lalu mengulang perkataan sebelumnya. “Pusirnya…”
Boneka Biosilk yang asli berpikir, “Itu tadi kok jadi ‘pusirnya’ yang Ku katakan. Padahal Aku mau bilang ‘pusingnya?’”
Di saat yang sama, Jiwa Asna juga berpikir, “Aku ingin berkata ‘akhirnya.’ Kenapa yang keluar malah milik wanita?”
“Aku harus kabur… Aku pasti mati saat ini,” ujar Boneka Biosilk yang asli. Ia bernama…
--|| Tuwill ||--
“Ini?!” Jiwa Asna sempat kaget namun berangsur-angsur mulai paham. “Aku mengerti sekarang. Jiwa boneka ini sedang tidak stabil sehingga saat Ia membentur jiwaku ini, Aku jadi tersedot ke dalam batang tubuhnya. Sama persis yang dikatakan si cantik Kunti.”
Boneka Biosilk Anjing mendengar perkataan Tuwill yang ingin kabur. Ia mengingatkan, “Kau ingin kabur, Tuwill?! Pangeran akan membunuhmu jika melakukan itu!”
“Tidak bisa. Aku sangat takut saat ini, meow…” Tubuh Tuwill terus bergetar. Wujud dari rasa takutnya.
Menyadari hal tersebut, Asna mencoba memanfaatkan Tuwill. “Ini kesempatanku. Hehehe…”
Asna berkata melalui mulut Tuwill, “Tuwill, menurutlah kepadaku…!”
“Meow! Kenapa Aku?” Tuwill kaget karena mulutnya berkata tanpa Ia kehendaki.
“Bukan seperti itu pertanyaanmu. Tapi, ‘Meow! Siapa kamu?’” Asna mengoreksi. Mengajarkan cara menyusun pertanyaan yang benar dengan logat kucing.
Mulut Tuwill bergetar dan mengikuti arahan Asna. Bahkan hampir sama persis karena saking takutnya. “B-bukan sepert-ti itu pertanyaanmu. T-tapi, ‘Meow! Siapa kamu?’”
“Anak baik, Aku adalah keberanian yang akan menyelamatkanmu. Kosongkan pikiranmu, Aku akan mengambil alih tubuhmu untuk sementara waktu…” titah Asna dengan nada yang meyakinkan.
Demi untuk bertahan hidup, Tuwill mencoba mengosongkan pikiran. Ia hanya butuh tiga detik untuk mengosongkan pikiran dan melupakan segala hal. Selayaknya tidur tanpa mimpi. Ini adalah efek dari rasa takut yang berlebihan.
Akhirnya Asna berhasil mengambil alih tubuh Tuwill untuk sementara waktu. Sekarang Ia tinggal kabur dari rumah angker dan membawa Tuwill ke sekolah dengan selamat. Jadi Super Hero yang dicintai para gadis tinggal menunggu waktu.
Mengendalikan tubuh Boneka Biosilk bernama Tuwill membuat Asna selangkah lebih maju untuk menjadi Super Hero. Sekarang yang harus Ia pikirkan adalah cara untuk kembali ke sekolah dengan Tuwill bersamanya.
Saat ini Tuwill masih berada di lantai sepuluh rumah angker. Pertarungan antara Raja Boneka Biosilk dan Boneka Biosilk Kucing Tujuh Warna baru saja berlangsung. Kekuatan mereka sepertinya cukup untuk menghancurkan rumah angker ini. Asna tentu tidak ingin berlama-lama di situ.
Asna dalam wujud Tuwill berjalan dengan santainya menuju tangga. Memanfaatkan situasi krusial yang tengah terjadi. Tiba-tiba saja Boneka Biosilk Anjing meneriakinya. “Will, Kau masih ingin kabur?”
“Oh, iya. Mereka mengenal Aku,” pikir Asna. Ia lalu menjawab, “Aku ingin ke toilet, meow! Pengen berak!”
Tuwill tetap berjalan ke arah tangga tanpa menoleh. “Kalau mau bunuh, bunuh aja, meow. Yang namanya efek takut, mau boneka, mau hantu, semua bisa sakit perut. Terserah kalau nanti keluar kotoran atau air ketuban, meow. Yang penting Aku pengen berak!”
“Kalau Kau pergi, Kau pasti akan Kami buru!!!” teriak Boneka Biosilk Anjing.
Tuwill yang dirasuki Jiwa Asna tidak mengindahkan teriakan Biosilk Anjing. Ia terus berjalan menuruni anak tangga dari lantai sepuluh.
Di bawah tangga ada pertarungan antar boneka yang menghalanginya. Ini bukan masalah besar. Masalah besar sesungguhnya ada pada Headman Fish. Air yang berlimpah ruah dari mulutnya bisa saja menggenangi seluruh lantai dan menyulitkan Asna membawa lari Tuwill.
Selain Headman Fish, masalah besar lainnya ada pada Pejuang Virtual. Para manusia ini datang untuk memperkeruh suasana. Tidak ada undangan untuk manusia buat hadir dalam pesta pertarungan antarboneka. Mereka jelas ingin mengambil keuntungan.
Asna tentu tidak ingin hal itu terjadi. Semakin banyak Pejuang Virtual hebat, akan semakin banyak saingan dalam upaya mendapatkan cinta para gadis.
Asna membuat skenario pelarian. Pertama Ia harus memprovokasi Boneka Biosilk untuk menyisihkan para manusia. Setelahnya Ia akan berbohong untuk menghentikan Headman Fish. Genangan air akan surut.
Ada kemungkinan pengikut Boneka Biosilk curiga dengan Asna, sehingga Ia harus segera turun mengikuti surutnya air. Rencana ini bisa saja tidak berjalan dengan lancar. Artinya, Asna harus melakukan improvisasi saat melihat celah untuk kabur.
Empat Boneka Biosilk sedang bertarung menggunakan pedang, tepat di hadapan Jiwa Asna. Mana teman dan mana kawan, Asna jelas tidak tau. Tapi Ia tidak akan mengambil pusing. Ia mulai berteriak, “Kalian, hentikan pertarungan sementara waktu!”
Boneka Biosilk yang saling menyerang tidak mengindahkan peringatan Asna. Ia langsung mengerti bahwa tidak perlu ada peringatan kedua dalam bentuk perkataan. Yang ada hanyalah peringatan dalam bentuk pukulan.
Benar saja, dengan kekuatan Tuwill, Asna meninju satu boneka yang sedang akan menyerang. Sesudahnya Ia memukul lawan boneka tersebut. Belum sempat satu boneka bangkit, Asna menerjang boneka itu dan memberikan tiga pukulan. “Dengarkan!!! Para Biosilk, dengarkan Aku!!!” teriak Asna.
Pertarungan di sekitar tangga mengalihkan perhatiannya kepada Asna. dengan sekuat tenaga Asna kembali berteriak, “Biosilk, Dengarkan Aku!!! Ada informasi penting!!!”
Para Boneka Biosilk menghentikan pertarungan dan menjaga jarak dari lawan-lawannya. Bahkan para Pejuang Virtual ikut menghentikan serangan.
Mereka kini memperhatikan Asna dalam tubuh Tuwill. Ini kesempatan Asna menggunakan salah satu kemampuannya di sekolah. Retorika. Ilmu dan seni bersilat lidah.
Asna mulai berpidato. “Biosilk. Raja dan Pangeran saat ini sedang bertarung secara adil. Mereka meminta Kita, para Biosilk, untuk menghentikan perang saudara untuk sementara waktu. Ada pengacau yang bisa merugikan Kita secara keseluruhan.”
“Diam Kau!” Seorang Pejuang Virtual berteriak. Mencoba memotong pidato Asna. Ia mengerti kalau pengacau yang Asna maksud adalah para Pejuang Virtual. “Kami tidak akan kemari kalau bukan karena Kalian yang mengganggu ketenteraman Kami. Urusan di dunia Kami adalah urusan Kami!” lanjutnya.
“Kau yang diam!!!” Asna berteriak lebih nyaring. “Kami tidak pernah ingin masuk ke dunia kalian yang penuh dengan kerusakan. Kami hanya numpang lewat. Kami sekedar tamu yang sedang mengalami masalah. Pantaskah kalian para manusia memanfaatkan masalah Kami untuk kepentingan kalian?!”
“Diam! Diam! Diaaaaaaaam…!!!” Pejuang Virtual meninggikan suaranya untuk menyaingi Asna. Ia lalu merebut kembali momen untuk berbicara. “Jangan Kau…”
Belum sempat si Pejuang Virtual berkilah, Asna meraung panjang. “KAAAUU… YANG DIAAAAAAAAAAAAAM…!!!” Teriakan Tuwill yang dirasuki Asna menggelegar.
Lengkingan suara Tuwill lebih menarik perhatian mereka yang berada di lantai Sembilan daripada si pejuang. Teriakan ini juga menembus lantai sepuluh dan lantai delapan.
Dapat mempertahankan momentum, Asna harus mempersingkat teks orasinya. Ia kembali fokus pada tujuan, yaitu memprovokasi para Boneka Biosilk.
Dibarengi dengan satu tunjukkan jari ke arah tangga, Asna berkata, “Biosilk. Di bawah sana para manusia mencoba menculik Biosilk yang tenggelam. Kalau Kita biarkan, mereka akan menjadi lebih kuat. Cepat atau lambat mereka juga akan membawa kerusakan di dunia mereka ke dunia kita. Biosilk, bersatulah! Setidaknya untuk kali ini!”
“WHOOOOOOAAAAAAAAA…!!!” Seluruh Biosilk di lantai Sembilan Menyeringai panjang. Penutup pidato Asna disambut penuh semangat oleh para Boneka Biosilk. Mereka langsung menerjang para manusia.
Tidak ada pilihan lain bagi para manusia ini selain bersatu. Pertarungan hidup mati kembali terjadi.
__ADS_1
Rasa senang dan bangga menyelimuti hati Asna. “Hihihi… Padahal Aku sedang mencuri satu Biosilk. hihihi…” ujarnya membatin. Demi keuntungan pribadi, Asna telah memberikan kemalangan kepada para pejuang virtual yang lain.
Asna melihat ke salah satu dinding. Di sana tengah terjadi perdebatan antar Boneka Biosilk di dekat Headman Fish. Ia segera menghampirinya. “Ada apa gerangan?” tanya Asna begitu sampai di tempat terjadinya perdebatan.
Boneka Biosilk Gajah menjawab, “Headman Fish menyebabkan Biosilk di bawah tidak dapat berbuat apa-apa. Para Pengikut Pangeran ini memang sudah gila!”
Boneka Biosilk Serigala ikut menjawab. “Aku sudah menjelaskan kepadanya. Headman Fish adalah peliharaan Pangeran. Hanya Ia yang bisa menghentikan ini.”
Asna menepuk bahu Biosilk Serigala lalu berjalan mendekati Headman Fish seraya berkomentar. “Begitukah? Berarti cuma ada satu cara untuk menghentikannya, meow.”
“Bagaimana caranya?” tanya Biosilk Gajah dengan semangat. Senyum tergambar di wajah Tuwill. Asna menjawab, “Caranya, ya, Pangeran harus menghentikan peliharaannya ini, meow. Hehehe…”
Biosilk Serigala mendengus. “Bah, Kau ini. Ku pikir ada cara lain…”
Asna juga tidak habis pikir. Headman Fish yang tidak dapat Ia hentikan ini akan mempersulit rencananya. Saat ini Ia perlu menyusun rencana tambahan.
Terlebih saat Tuwill melirik ke arah tangga, Ia melihat Biosilk Anjing dan beberapa Biosilk lain menuruni anak tangga. Sangat mungkin mereka sedang mencari Tuwill.
Asna mengalihkan pandangan ke sekeliling pertempuran.
Matanya lalu tertuju pada seorang gadis berjubah besi yang sudah sangat terdesak karena dikeroyok belasan Biosilk. Gadis ini mengenakan [Ordinary Stone] sebagai anting di telinga kanannya.
Segera Asna pergi memanfaatkan situasi di sana.
“Hentikan!” perintah Asna.
Biosilk yang hendak membunuh si Gadis menghentikan serangan setelah dikejutkan Asna.
Sembari menarik tangan gadis pejuang, Asna menerangkan kepada boneka lain agar tidak mencurigai dirinya. “Ini bidak bagus untuk meredam manusia, meow. Aku akan membawanya ke bawah untuk mengancam mereka agar pergi dari rumah kita.”
“Aku akan ikut!” ujar salah satu Boneka Biosilk. Asna menggeleng. “Tidak perlu. Kalian habisi saja manusia-manusia itu. Mereka bisa membawa teman Kita lebih banyak lagi kalau tidak dibunuh.”
Asna melirik ke arah gadis Pejuang Virtual. “Kau. Bangunlah. Tubuh kecilku tidak ingin menggendongmu.”
Dengan terhuyung, gadis pejuang berupaya untuk berdiri. Jubah besi yang membalur si gadis terlihat sangat mengganggu gerakannya.
Asna segera melompat ke pundaknya. “Lepaskan jubahmu! Atau Ku bunuh Kau sekarang!” titah Asna. Ia lalu berbisik, “Setelah ini larilah ke bawah. Aku sedang menyelamatkanmu.”
“Menyelamatkanku…?” si Gadis terlihat kebingungan dengan perkataan Asna.
Melihat si Gadis kebingungan, Asna kembali berbisik, “Nanti Ku jelaskan.” Asna lalu melirik ke arah Boneka Biosilk Anjing yang masih mencari dirinya.
Jubah besi sudah ditanggalkan oleh si Gadis.
Ia lalu berjalan menuju tangga.
Naas, Biosilk Anjing melihat Tuwill yang dirasuki Asna berada di pundak si Gadis. Saat ini Asna bertatap-tatapan dengan Biosilk Anjing.
“Lari!!!” seru Asna. Si Gadis langsung berlari begitu diperintah.
Melihat hal itu, Biosilk Anjing mengeluarkan pedang sihir kecil dan terbang menyergap Asna.
Biosilk Anjing mengayunkan pedang ke leher Asna. “Kau sudah jadi pemberani, Will!!!”
“Benar sekali, Guguk!” balas Asna seraya menghindari tebasan.
Tidak tepat sasaran, Biosilk Anjing terlewat sejauh sepuluh meter.
“Lebih cepat!” pinta Asna. si Gadis mempercepat langkahnya.
Biosilk Anjing kembali melesat. Gerakan kali ini sangat cepat hingga membuat Asna tidak dapat menghindar dan terkena tebasan di pinggang.
Sobekan bekas tebasan mengeluarkan kapas. Tubuh Tuwill menjadi berat untuk digerakkan. Luka ini rupanya mempengaruhi fisik Tuwill, walaupun tidak pedih.
Sebuah serangan kembali dibangun Biosilk Anjing. Melihat itu, Asna menepuk kepala si Gadis. “Berteriaklah minta tolong!” si Gadis mengikuti Asna sambil berteriak minta tolong.
Biosilk Anjing sudah begitu dekat menebaskan pedangnya ke leher Asna.
Beruntung beberapa butir peluru melesat ke arah Biosilk Anjing.
Tak pelak si Gadis dapat memperpanjang nyawanya. Tebasan ke leher Asna tentu akan mengenai lehernya juga.
Suara benturan besi yang disertai ledakan senjata mesin terdengar sangat intens di telinga Asna.
Biosilk Anjing ternyata dapat menangkis semua tembakan senjata mesin hanya dengan pedang. Gerakannya sungguh cepat dan akurat.
Si Gadis terus menuruni anak tangga dari lantai delapan, tujuh, enam, hingga akhirnya Ia sampai ke lantai dua yang sudah tidak lagi dipenuhi air. “Cepat, bawa Aku keluar!” ujar Asna.
Nafas dan adrenalin si Gadis terus-terusan berpacu. Tapi Ia masih dapat berpikir dan penasaran dengan motiv Asna menyelamatkan dirinya. “Siapa Kau? Kenapa Kau menyelamatkanku?”
“Sebelumnya Aku manusia. Tapi entah mengapa Aku bisa jadi boneka seperti ini…” jawab Asna menutupi sebagian informasi. Tentunya akan sangat berbahaya kalau si Gadis mengetahui kedoknya.
Tidak ingin berlama-lama di rumah angker, si Gadis memeluk Asna dan mulai menyelam ke dalam air.
Ia terus menyelam hingga menemukan pintu rumah.
Setelah melalui pintu rumah, si Gadis terlempar ke teras sambil memeluk Tuwill.
Seorang pria paruh baya mendekati si Gadis. “Kau membawa satu dari mereka. Sini, berikan padaku!”
Si Gadis memeluk erat Tuwill. Itu gerakan memeras sampai-sampai mengeluarkan air.
Sebuah tamparan mendarat telak ke wajah si Gadis. Tamparan itu mengeluarkan suara yang menarik perhatian Pejuang Virtual di sekitar.
Dengan kasar pria paruh baya berhasil merebut Tuwill dari pelukan si Gadis. “Ini jatahku! Hahaha…!”
Si Gadis merangkak menuju pria paruh baya, menarik celananya dan berupaya merebut kembali Tuwill.
Pria paruh baya menatap jijik si Gadis. “Bocah ingu…” belum sempat pria itu menyelesaikan perkataannya, sebuah tendangan melontarkannya ke dalam rumah angker.
Kakek berusia sekitar 80 tahunan mengambil Tuwill yang tergeletak di tanah. Selangkah demi selangkah Ia mendekati si Gadis dan memberikan Tuwill.
Si Gadis langsung mengambilnya seraya berkata kepada Tuwill, “Siapa Kau sebenarnya? Kenapa Kau menyelamatkanku?!”
__ADS_1
Baik Tuwill maupun Asna tidak merespon. Kondisinya yang basah kuyup dapat menjadi alasan untuk kasus ini. Gadis kembali memeluk Tuwill. “Terima kasih…” ucapnya.
***