
Ch. 27 Super Hero Kaltim
Di markas Paguyuban Tutur Pusaka…
Dion makan dengan lahapnya. Ditemani Godel.
Anehnya, Dion saat ini sangat bersih sekali. Ia juga sudah berganti pakaian. Sehingga tidak tampak Ia sedang terluka.
“Bagaiman, Doin? Kami baik, kan? Aku bisa membaca memorimu! Kau tidak akan bisa berbohong kalau Rode pelakunya,” terang Asna.
Dion menggangguk sambil melahap makanan. Itu ayam KPC.
Tidak jauh dari sana, Pak Haris memanggil Asna dengan lambaian. Ia kemudian berbisik pada Asna. “Kau yakin cara ini akan berhasil?”
“Tentu saja. Aku sudah bisa membaca pikiran Doin. Rode ternyata menyuruh anak buahnya menaruh lubang virtual Paguyuban Anggrek Bulan di dunia virtual kita,” jawab Asna.
Pak Haris meninju dinding. Bagian markas yang terbuat dari kayu rapuh itu berlubang.
Dion menghentikan aktivitasnya. “Ada apa, kak?”
“Oh, makan aja, Dion. Aku merasa kesal dengan Rode!” Pak Haris menjawab seadanya.
Ia lalu kembali berbisik pada Asna. “Aku tidak curiga dengan Rode. Ia selalu Ku awasi. Masuk akal kalau anak buahnya yang menaruh. Tapi apakah memberi Dion makanan yang enak bisa membuktikan Rode pelakunya?”
“Hahaha…!” tawa tua terdengar.
Siapa lagi kalau bukan Datu Busu. “Kau baik sekali, Ris. Banyak uang kau ternyata. Sampai-sampai mau memperbaiki markas.” Datu Busu kembali tertawa.
“Astaga. Aku tidak sadar menghajar dinding!” sahut Pak Haris. “Aku akan mengganti dindingnya Datu!” lanjutnya.
Datu Busu membalas, “Dinding emas! Aku tidak mau kayu atau beton! Hahaha…!”
“Terserah Datu, lah! Salahku memang…” usai berkata demikian, Pak Haris lalu merangkul Asna.
“Na, uangku sudah habis membeli makanan buat Dion.” Ia lalu melihat Dion makan bersama Godel. “Bersama Godel tentunya. Kau harus pastikan Rode pelakunya dengan makanan itu. Kepastian itu membuat Kita bisa menganulir warisan Rode secara sah.”
“Hahaha…! Misi pertama sudah usai. Tapi sebenarnya Aku sudah tau Rode pelakunya. Makanya Aku bersikeras ingin merebut warisan bocah itu,” ujar Datu Busu. Ikut-ikutan berkomentar.
Tidak ada yang membalas komentar Datu Busu. Tentu saja Pak Haris dan Asna paham, Datu Busu sedang berbual. Kalau memang si Tua ini sudah tau, kenapa Ia tidak menceritakan dari awal?
Datu Busu lalu mendekati Dion. “Anak baik. Kau datang ke sini mencari perkara tapi malah mendapat makanan. Nikmati makanan itu. Setelah ini jangan sampai Aku melihat wajahmu lagi, ya, anak pintar,” ujar Datu Busu.
Itu bukan kata-kata pujian. Malah lebih ke arah ancaman.
“Na!” Datu Busu berseru. Setelah Asna berpaling padanya, Datu Busu memberi kode lirikan kepada Asna.
Pak Haris dan Asna paham. Ada sekelompok orang sedang mengintai mereka. Inilah kehebatan seorang pejuang virtual tua berpengalaman. Datu Busu bisa mengindra situasi tanpa melihatnya.
Tidak demikian dengan Pak Haris dan Asna. Mereka belum bisa melakukan itu.
Mereka semua lalu menggerumungi Dion yang masih asik makan. Akhirnya tidak ada celah bagi para pengintai untuk membunuh Dion.
Mantan teman Bovak itu memang harus dibunuh oleh orang-orang dari Paguyuban Anggrek Bulan agar tidak bernyanyi. Menyanyikan lagu berjudul, “Pelangi-Pelangi Rode Pelakunya.”
Keributan terjadi di luar markas.
“Apa yang terjadi di luar sana?” Dion hendak berdiri. Tapi ditahan Datu Busu. “Sssttt…! Itu Balung Baja dan Manusia Ulin!”
“Super Hero?!” Asna berseru kaget.
--------------------------
Beranjak ke markas Paguyuban Anggrek Bulan…
Situasi krusial sedang terjadi. Parang Bawang Putih sudah ditebaskan. Darah Agustin yang masih perawan mengalir pada parang.
Tebasan parang Bawang Putih ditahan Agustin dengan tangan!
Kata-kata Jiwa Senin sebelumnya membuat Agustin bersemangat meladeni Bawang Putih. Dewi Kematian itu tidak akan menahan diri.
Jiwa Senin yang berada di tembok bangunan markas berkomentar, “Seberapa tinggi vitalitas Agustin, ya? Aku saja terlempar. Padahal terkena gelombangnya saja! Ini bakal jadi pertarungan seru. Sayangnya Aku tidak bawa hape.”
Bawang Putih kembali mengangkat parang sembari memejamkan mata. Menyiapkan serangan berikutnya. Gerakan itu seolah sedang mengisi tenaga guntur yang lebih dahsyat lagi.
__ADS_1
Agustin yang tidak memiliki skill atau jurus khusus berinisiatif menyerang. Namun gelombang udara di sekitar Bawang Putih membuatnya tidak dapat mendekat.
Dengan segenap tenaga Agustin memaksakan tubuhnya.
Tekanan udara semakin kentara. Bahkan sampai menekan Jiwa Senin.
Parang Bawang Putih sudah tidak tampak lagi. Tertutup angin puyuh yang semakin lama semakin membesar.
Agustin terlempar beberapa meter.
Kakak kelas Asna ini masih berupaya untuk berdiri.
Lagi-lagi Agustin terlempar lebih jauh. Kali ini dudukpun jadi sangat sulit. Ia terus berupaya bangkit.
Seketika pusaran angin puyuh menerjang Agustin. Tubuhnya lenyap dalam pusaran itu!
-----------------------------
Di luar markas Paguyuban Tutur Pusaka, dua puluh orang anggota Paguyuban Anggrek Bulan berjubah putih menerjang seorang anggota Paguyuban Tutur Pusaka. Pria berusia 40 tahun yang mengenakan jaket kulit.
Tanpa senjata, pria itu menangkis setiap tebasan parang lawannya dengan tubuh. Inilah satu-satunya kemampuan pria yang bernama kode:
--Balung Baja--
Kekebalan tubuh Balung Baja sudah sangat terkenal di Pulau Kalimantan. Bukan karena item atau hasil latihan. Tubuh kebal Balung Baja memang sudah didapat sejak lahir. Anugerah dari Yang Maha Kuasa.
Tak heran Balung Baja dikenal sebagai salah satu Super Hero lokal.
Hanya Super Hero lokal karena Balung Baja tidak seterkenal Pahlawan Super yang ada di Pulau Jawa.
“Hentikan!!!” teriak Anjay Depkan. Sontak penyerang Balung Baja mundur dan bergerak menuju dirinya.
Saat ini Anjay Depkan sedang terbelenggu akar pohon ulin. Ia sudah berusaha menyerang akar-akar itu. Tapi akar selalu muncul dan membuat kesal.
Ini adalah perbuatan anggota Paguyuban Tutur Pusaka yang lain.
Pria berusia 30 tahun ini walau tampak kurang ganteng, tapi sebenarnya sangat keren. Baik dari segi berpakaian, maupun dari segi sikap. Aura keren itu memancar bak vokalis Grup Band Naoh. Iril.
Manusia Ulin hanya mengenakan T-Shirt dari karung tepung dan celana kain yang dipotong seperempat. Pakaian itu malah terlihat mahal di tubuhnya.
Beda kalau Asna yang mengenakan. Asna akan dikira tukang sampah.
Saat bertarung, tidak ada banyak gerakan yang dilakukan. Bertahan dan menyerang dilakukan Manusia Ulun dengan efektif dan efisien. “Slow” dan “Santai” menjadi motonya.
Di luar itu. Perilaku Manusia Ulin sangat humanis. Itu terlihat dari gayanya yang menegur orang-orang yang ada di markas saat ini. Bahkan menyalaminya.
Gaya Manusia Ulin yang keren menginspirasi Asna. Sangat patut ditiru.
“Manusia Ulin? Izin copy paste gayamu, ya…” ujar Asna.
Manusia Ulin tersenyum manis. “Hahaha…! Kau ini lucu! Imut!”
“Imut? Makasih…” balas Asna. “Imut itu sudah dekat dengan keren. Mantap, nih!” pikirnya. Asna lalu memandang jumper putih berlengan biru yang dikenakannya. “Itu mungkin pengaruh jumper ini. Kalau ada lagi, Aku membeli jumper ini selusin.”
Sayup-sayup terdengar teriakan Datu Busu. “Anjay! Kau mau menyerang ke mana bawa banyak anggota?”
“Kami cuma lewat. Tapi Manusia Ulin dan Balung Baja menghalangi Kami! Sekarang Kami harus pergi.” Anjay Depkan dan seluruh anggotanya berlalu melewati markas Paguyuban Tutur Pusaka.
Datu Busu tiba-tiba sudah berada di samping Anjay Depkan. “Singgahlah, dulu. Aku baru panen 10 kilo buah keledang. Itu cukup sebagai jamuan.”
“Tidak usah, Datu. Terima kasih. Kami sudah makan di warung tadi,” tolak Anjay Depkan.
Datu Busu menarik paksa Anjay Depkan di leher. “Akan ada pertumpahan darah kalau Kau tidak singgah. Kau wajib singgah. Asna, Balung, singkirkan meja ke samping!”
Pada akhirnya Anjay Depkan dan anggotanya terpaksa berjejalan di markas Paguyuban Tutur Pusaka. Mereka disuguhi air mineral.
Hanya air mineral. Buah keledang yang disebutkan Datu Busu cuma bualan saja.
Mata Anjay Depkan melotot kepada Dion yang saat ini dirangkul Manusia Ulin keluar markas. Sikap ini diikuti anggot Paguyuban Anggrek Bulan yang lain.
“Ulin! Antar anak baik itu ke rumahnya. Kalau Dia mati, Kau akan Ku bunuh!” titah Datu Busu.
“Asyiap, Datu! Kalau Dia mati, Aku akan bunuh diri!” balas Manusia Ulin.
__ADS_1
Si Tua penuh ancaman itu berbalik kepada tamunya dengan senyum kemenangan. “Maaf. Maaf. Anak itu baik sekali menyebut siapa yang membuka lubang virtual kemarin buat kalian. Namanya itu kalau bukan Rode, boleh jadi Rode. Hahaha…! Aku sudah tua. Maklum.”
Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan Anjay Depkan untuk membalas Datu Busu. Lidahnya kelu. Padahal amarahnya sudah sulit dibendung. Ingin sekali Ia mencaci.
“Orang tua ini. Aku bukanlah lawannya. Liat saja. Sepulangnya para pimpinan dari dunia virtual, tidak aka nada lagi Paguyuban Tutur Pusaka.” Anjay Depkan hanya bisa membatin.
Datu Busu menunjuk-nunjuk wajah Anjay Depkan dengan senyuman. “Ya. Aku baru ingat kalau Paguyuban Anggrek Bulan memiliki dua orang pejuang virtual kelas Utama. Selama ini mereka memang ingin menenggelamkanku. Tapi selalu gagal. Di mana mereka sekarang?”
Wajah Anjay Depkan menjadi kelu. Sama kelunya dengan lidah.
“Ooo… Jangan-jangan mereka masih menjalankan misi dunia virtual, ya? Setua itu Kalian peras tenaganya! Kurang ajar! Kalian sebut diri kalian pejuang virtual? Pelindung masyarakat? Harusnya kalian malu!” Datu Busu mengomel tidak jelas.
Asna mengambilkan Datu Busu air mineral. Tenggorokan orang tua itu pasti kering karena kebanyakan membuang air liur.
Suara ribut kembali terdengar di luar markas. Keributan itu disertai suara guntur.
Datu Busu melirik Asna. Wajahnya sinis. “Kau tau kalau Aku akan mengomel lagi di luar sana. Anak kurang ajar! Ikut Aku keluar!”
Semua orang yang berada di dalam markas berhamburan keluar. Melewati pintu selebar 80 senti meter tentu saja mereka berjejalan.
Ini kesempatan Godel berjejalan. Ia menari-nari di antara kerumunan. Sambil mencopet.
Seorang anggota Paguyuban Anggrek Bulan berseru, “Itu Agustin!”
Pak Haris membonceng Agustin menggunakan kendaraan roda dua. Agustin terlihat sedang terluka cukup parah.
Jiwa Senin yang tidak lain adalah Asna masih bisa kabur ke markas Paguyuban Tutur Pusaka bersama Agustin. Sekuat-kuatnya Jiwa Senin dan Agustin bisa saja mati terkena serangan Bawang Putih jika tidak sempat kabur.
“Itu Nona Putih!” Anggota Paguyuban Anggrek Bulan lain ikut berseru.
Bawang Putih berlari membawa parang. Di belakangnya awan hitam turut berarak mengikuti.
Datu Busu berdiri dengan santai di depan markas. Ia lalu berteriak, “Asna! Hari akan hujan. Ambil jemuran di atas atap!”
Asna bergegas menaiki atap. Tidak ada jemuran di sana. Cuma ada sebuah peti.
Asna membawa peti kepada Datu Busu.
“Ini bukan jemuran, pintar! Tapi memang ini yang Ku butuhkan,” ujar Datu Busu.
Peti dibuka. Datu Busu mengambil dua jenis rempah di dalamnya. Bawang merah dan cabai.
Dua rempah itu ditusuk dengan lidi. Sejurus kemudian Datu Busu memberikan jimat berupa sate bawang-cabai kepada Asna. “Tancapkan ini di tanah.”
Arak-arakan awan hitam hilang setelah Asna menancapkan jimat Datu Busu. Dahsyat!
Bawang Putih keheranan. Sedangkan Anjay Depkan dan bawahannya melongo. Ikut-ikutan heran.
“Jay, bawa majikanmu itu pulang sebelum Pak Polisi datang!” titah Datu Busu.
Anjay Depkan melongo melihat Datu Busu. Ia masih heran dengan skill tradisional yang baru Datu Busu keluarkan.
“Cepat, sebelum Aku menelepon polisi!” timpal Datu Busu.
Iring-iringan anggota Paguyuban Anggrek Bulan akhirnya menjadi tontonan masyarakat. Mereka menerima saran Datu Busu. Bahkan Bawang Putih dipukul sampai pingsan biar bisa dibawa pulang.
Sepeninggalnya Anjay Depkan, Bawang Putih dan anggotanya, Datu Busu memanggil Balung Baja.
“Ada apa?” tanya Balung Baja.
Datu Busu memberikan gawainya pada Balung Baja. “Telepon polisi. Bilang, ada pengeroyokan gadis SMA!” Datu Busu mengatakan demikian sambil masuk ke markas.
“Orang tua munafik! Mereka mengikuti saranmu. Tapi kenapa masih dilaporkan?” protes Balung.
Datu Busu tidak menghentikan langkahnya sambil terus berjalan masuk ke markas. “Aku tidak bohong, Lung! Aku menyuruh mereka untuk cepat karena Aku akan menelepon polisi sesudahnya. Otakmu memang terbuat dari logam. Dibakar, Lung, biar encer!”
Asna hanya menganga saja melihat percakapan Balung Baja dengan Datu Busu. Super Hero seperti Balung Baja tidak ada harga diri di hadapan majikan tuanya itu.
Sembari menoleh pada Asna dan Godel, Datu Busu berkata, “Kalian berdua. Susul Pak Haris ke rumah sakit. Kalian hanya budak di sini! Kalau ada hal penting akan Ku hubungi.”
Godel dan Asna tidak ada pilihan lain. Kalau ke rumah sakit, ya, ke rumah sakit.
***
__ADS_1