
Ch. 38 Pendekar Anjing vs Orang Gila
“Apa yang menyebabkan Adik datang kemari?” tanya Zay Kumbang kepada Asna. “Sekarang sudah senja. Adik pasti akan dicari orang tua.”
Si Mesum itu menunduk dengan hormat pada Zay Kumbang. Ia terkesan dengan keramahan Sekretaris Serikat Burung Kaliyangan itu. Sangat berbeda dengan Rinduan.
Dipanggil adik, Asna balik menyebut Zay Kumbang dengan sebutan kakak. “Kakak Sekretaris, Aku hidup sebatang kara, tidak memiliki keluarga. Tapi teman-temanku yang Kalian culik, mereka semua memiliki keluarga.”
Dahi Zay Kumbang mengerucut dengan perkataan Asna. Kata-kata itu tidak ubahnya sebuah tuduhan.
“Bocah, jelek! Pergilah sana! Kau tidak tau Aku juga ingin mengkonfirmasi itu kepada Serikat ini! Pergilah!” teriak Darkmanday. Dialog antara Asna dan sosok lain dari dirinya itu tidak lain adalah sebuah drama. Dua diri yang sama.
Sejauh ini Asna memang belum pernah berbincang dengan Darkmanday. Ternyata berbicara dengan diri sendiri yang memiliki dua batang tubuh tidak buruk-buruk amat.
“Penculikan apa yang kalian maksud? Aku tidak mengerti,” tanya Zay Kumbang.
Asna segera menjawab, “Teman-temanku sesama pejuang virtual di GWM SMA 25 diculik. Aku yang sempat sembunyi mendengar nama Serikat Burung Kaliyangan.”
“Aku juga mendengar itu dari seorang anak yang berhasil Ku selamatkan. Aku meminta Kalian bertanggung jawab!” timpal Darkmanday. Sosok diri Asna yang lain itu jelas berbohong. Dari pengamatannya, Paguyuban Anggrek Bulan yang disebutkan. Bukan Serikat Burung Kaliyangan.
Pada kenyataannya, Asna tidak mengetahui keterlibatan Serikat Burung Kaliyangan dengan pasti. Tapi melalui drama ini, Asna mengharapkan Serikat Burung Kaliyangan bergerak untuk menuntaskan masalah. Jika tidak, ada kemungkinan mereka juga ada hubungannya dengan penculikan.
Mendengar perkataan dua orang tersebut, Zay Kumbang menundukan kepala. Ekspresi orang kebingungan yang sedang berpikir Ia tunjukkan. “Apakah ada kaitannya dengan Rinduan. Saat ini Dia dan para petinggi serikat ada di Kecamatan Samarinda seberang. Sembilan puluh persen anggota diangkut ke sana. Di masa perangan dengan makhluk virtual, tidak mungkin dia.”
“Hanya ada lima orang di serikat. Termasuk Aku,” ujar Zay Kumbang. Ia lalu menatap Darkmanday. “Aku akan menemani Tuan untuk mencari mereka yang diculik. Kita akan bertiga. Dengan Legcrasher yang sebentar lagi akan Ku hubungi.”
Darkmanday mengangguk setuju.
Sekretaris Serikat Burung Kaliyangan itu lalu menghubungi Legcrasher. Berdasarkan pandangannya, mereka bertiga sudah cukup untuk mengusut kasus ini.
Oleh karena itu, Zay Kumbang menyuruh Asna untuk mengamankan diri di Serikat. Baginya, masih ada kemungkinan Asna akan menjadi korban penculikan. Tinggal di markas serikat tentu lebih aman untuk sementara waktu.
--------------------
Saat Darkmanday, Zay Kumbang dan Legcrasher sedang mengatur pertemuan, keributan terjadi di markas Paguyuban Anggrek Bulan. Bersama Godel, Datu Busu masuk ke markas tersebut tanpa permisi. Tentu saja ketidak-sopanan itu dibalas dengan senjata.
Hanya sebelas orang anggota Paguyuban Anggrek Bulan di markas. Jumlah itu tidak sebanding dengan seorang Pejuang Virtual tua yang berpengalaman. Balasan mereka justru melukai diri sendiri.
“Apakah Aku tidak boleh bertamu kemari? Kita sesama pejuang virtual harus saling berpegangan tangan tangan!” tegas Datu Busu yang duduk dengan santainya di ruang tamu.
Anjay Depkan yang kebetulan sedang berada di sana membalas, “Kau pikir Kita pacaran?! Terakhir kali Kau laporkan Kami ke Kepolisian. Itu benar-benar memalukan kami! Sekarang Kau datang untuk apa? Mau menertawakan?!”
Datu Busu tersenyum. Menunjukkan kalau memang benar Ia yang telah melapor. Paguyuban Anggrek Bulan pasti tau kalau dirinyalah yang melaporkan masalah Agustin ke Kepolisian. Untung saja masalah itu dapat mereka selesaikan.
“Tidak mungkin Aku menertawakan. Hahahaha…! Walaupun itu memang lucu. Hahahaha…!” Tawa Datu Busu santer terdengar. Membuat anggota Paguyuban Anggrek Bulan geram. Tapi takut.
Si Tua Bangka melanjutkan. “Kalian punya seratus lima puluh Pahlawan Super. Mana mungkin Aku berani tertawa. Hahaha…!”
“Jaga sikapmu, Tua Bangka! Kita satu level. Sama-sama Ketua Paguyuban. Jadi jangan memberikan contoh yang tidak baik. Pergilah sebelum Aku…” Anjay Depkan tiba-tiba tidak dapat menyelesaikan kata-katanya.
__ADS_1
“Sebelum apa, Jeung? Setauku Kau Ketua arisan. Hahaha…!” sela Datu Busu. Ia lalu menghentikan tawa dan masuk mode serius. “Kita harus bersatu, Jay! Kita sedang diserang. Atau Kau takut? Makanya Kau tidak pergi ke sana.”
“Takut?!” balas Anjay Depkan. “Aku hanya pulang sebentar. Tujuh puluh persen anggota kami sudah berada di sana. Paguyubanmu? Oh, mungkin Kalian yang penakut. Ha…”
Balasan Anjay Depkan itu ingin diakhiri dengan tawa. Tapi tawanya terhenti begitu saja. Meninggalkan mulut yang menganga. Seolah sedang tersedak.
“Kalau mau tertawa tertawa saja,” ujar Datu Busu. Sejurus kemudia si Tua itu menyombongkan diri. “Kami tidak ada kepentingan di sana. Masalah kecil seperti itu bukan level Kami. Kalian mengatasi perang virtual. Kami mencegah perang. Kalau Kau tidak paham dengan perkataanku, sana, kembali sekolah! Makanlah bangku Sekolah Dasar…! Hahaha…!”
Seketika suara gaduh terdengar. Sebagian bangunan markas Paguyuban Anggrek Bulan runtuh.
Datu Busu menepuk jidat. “Ini yang Aku tidak suka dari Haris.”
“Sekarang akan jadi sangat ramai,” sahut Godel.
Seluruh anggota Paguyuban Anggrek Bulan pergi menuju asal kegaduhan. Tidak terkecuali Anjay Depkan.
Melihat situasi di luar pemikirannya, Datu Busu menatap tajam Godel. Si Pencuri paham apa yang harus dilakukannya. Seperginya Godel, si Tua Bangka berjalan menuju kegaduhan yang saat ini terjadi.
Di tengah puing-puing bangunan, Anjay Depkan beradu kekuatan dengan Pak Haris. Ini pertarungan Pendekar Anjing melawan Orang Gila.
Biarpun sudah bergabung dengan makhluk spiritual virtual, Houdog, Anjay Depkan tidak dapat mengimbangi kecepatan gila Pak Haris. Gerakan guru mata pelajaran Kewarganegaraan itu seperti bola kasti yang dipukul dengan keras pada meja bilyard. Membentur kesana kemari. Melukai setiap orang yang ada pada jalurnya.
Pukulan keras Anjay Depkan berhasil memukul punggung Pak Haris. Bukannya berhenti, pergerakan Pak Haris malah menjadi semakin cepat.
Datu Busu menyaksikan pertarungan Pak Haris sambil makan jagung bakar. Dari jarak cukup jauh tentunya.
“Hajar, Ris! Tunjukkan kehebatan orang gila!” Datu Busu berteriak memberikan dukungan. Ia memang tidak pernah memprediksi kegilaan Pak Haris terjadi terlalu dini. Sekarang si Tua itu memilih menikmati tontonan gratis. Siaran langsung UFC, Ultimate Fighting Cemungut.
Sudah puluhan kali Anjay Depkan terkena serangan. Tapi Ketua Paguyuban Anggrek Bulan itu masih belum goyah. Sebanding dengan stamina Pak Haris yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mengendor. Kalah cepat ternyata tidak menjadi masalah untuk Anjay Depkan.
Anjay Depkan mulai menyadari sesuatu. “Aku mengerti sekarang. Orang ini pasti memiliki main status tertinggi pada DEX. Tapi tidak diikuti STR. Melihat stamina dan kerusakan ditubuhnya yang tidak sedikitpun berkurang, VIT dan MEN orang ini pasti hanya pejuang virtual kelas Madya! Kapten Pengumpan!” teriaknya.
Datu Busu menyahut Anjay Depkan, “Kau benar. Orang yang Kau lawan itu si Payah kelas Madya. Buktikan seorang pejuang kelas Ahli bisa mengalahkannya! Hahaha…!”
Sejauh pengetahuan Datu Busu, Anjay Depkan adalah seorang pejuang virtual kelas Ahli. Satu langkah lagi menuju kelas Utama. Satu kelas di atas Pak Haris yang saat ini berada di kelas Madya.
Pejuang virtual kelas Madya adalah mereka yang berhasil mencapai angka 800 sampai dengan 1000 untuk tiga main statusnya. Gabungan dari tiga main status itu menunjukkan jenis profesi pejuang virtual.
Pak Haris memiliki status unsure DEX yang paling tinggi di antara unsur yang lain. Serangannya akan sangat cepat. Pun dapat menghindar dengan mudah. Hanya saja serangannya tidak akan begitu memberikan dampak karena status VIT dan MEN yang jauh lebih tinggi dari STR.
Seorang pejuang virtual dengan status seperti Pak Haris dikategorikan dalam profesi Kapten Pengumpan. Dalam perang virtual, Kapten Pengumpan memimpin pasukan Pengumpan untuk menginisiasi penyerangan. Merekalah yang akan mati duluan dalam perang.
Sedangkan pejuang virtual yang masuk kelas Ahli adalah seorang yang sudah melewati 2000 total status pertarungan. Entah bagaimana sebaran total status pertarungan yang dimiliki Anjay Depkan hingga masuk ke dalam kelas Ahli. Sebab, Ia masih belum bisa mengimbangi Pak Haris yang berada di bawah kelasnya.
Tiba-tiba sebuah lubang virtual muncul di samping Datu Busu. Seorang kakek berusia hampir 90 tahun keluar dan duduk dengan santai sambil mengecap pirikan garam dan cabai dalam mangkuk.
Tanpa berpaling, Datu Busu menyambut kakek yang dikenalnya tersebut. “Kau cukup makan garam dan cabai saja, Kak Yus. Jangan meminta jagungku. Iodium bagus buat otak. Tapi hati-hati dengan tekanan darahmu. Hahaha…!”
Datu Busu tentu saja sangat mengenal kakek kurus yang saat ini berada di sampingnya. Orang tersebut adalah Anggota Dewan Pembina Paguyuban Anggrek Bulan. Bernama gelar…
__ADS_1
--Nene Kucing Kuyus--
“Busu, busu… Fisikmu terus berubah. Tapi selera humormu begitu-begitu saja.” Perkataan si Kakek ini sama sekali tidak terganggu dengan olokan Datu Busu. “Busu. Ku dengar Kau jadi Ketua paguyuban. Apa Kau sudah naik ke kelas Ahli?”
Tiada balasan berupa kata-kata dari Datu Busu. Si Tua Bangka itu malah membalas dengan senyuman dan sebuah gigitan pada butiran jagung. Sedangkan Kucing Kuyus melanjutkan aktivitas mengecap garam.
Baru satu kecapan, Kucing Kuyus menunjukkan ekspresi kaget. Seolah teringat dengan sesuatu hal. “Oh, iya. Aku baru ingat. Kau, kan, paling anti pakai [Ordinary Stone]. Takut ketauan lemah, ya? Hehehe…”
“Buat apa pakai batu yang tidak akurat. Kak Yus jangan seperti orang kebanyakan. Terlalu mainstream,” balas Datu Busu. Ia lantas kembali menggigit jagung.
Mencoba memprovokasi Datu Busu, Kucing Kuyus berucap, “Dunia terus berputar. Perubahan pasti terjadi. Seperti diri kita yang semakin menua. Agar tidak tertindas, kita harus menguasai perubahan itu dan mengajarkannya pada yang muda. Mengetahui status itu penting. Biar tau diri. Tau apa target yang dituju.”
“Ya. Aku setuju denganmu, Kakak. Tapi jangan terlalu naïf.” Datu Busu mengutarakan pemikirannya yang abu-abu. Setuju, tapi tidak setuju. Ia lalu melanjutkan, “Memang Kau lebih hebat dari pada Aku yang tidak pernah menang bertarung melawanmu. Tapi siapa yang lebih bahagia. Aku yang selalu melihat ke bawah… atau Kau yang selalu melihat ke atas?”
“Kau tidak melulu kalah dengan Ku. Setidaknya kau selalu menang saat kita beradu argument,” ujar Kucing Kuyus. Sejurus kemudian Anggota Dewan Pembina Paguyuban Anggrek Bulan itu mengeluarkan satu set kartu remi. “Sambil menunggu orang-orang kita bertarung, kenapa tidak bermain kartu.”
“Permainan apa yang kakak mau mainkan? Aku ikut saja,” balas Datu Busu.
Sambil mengocok kartu, Kucing Kuyus menyebut nama salah satu permainan kartu, “Karena anak buah kita sedang bertarung, kita bermain… Jenderal!”
-------------
Permainan kartu jenderal adalah permainan yang mengutamakan keberuntungan, kecermatan, dan daya ingat. Tiap pemain memegang satu set kartu yang berjumlah 13 lembar. Biasanya dimainkan oleh empat orang. Pemenang dari permainan ini adalah mereka yang duluan menghabiskan semua kartu di tangan.
Awal mula permainan, seseorang yang memiliki kartu terendah harus mengeluarkan kartu tersebut. Dalam permainan ini kartu terendah adalah 3 keriting. Lawannya wajib mengeluarkan kartu yang lebih tinggi untuk mendapatkan giliran. Dengan syarat daunnya sama. Semisal 4 keriting atau yang lebih tinggi.
Jika lawan tersebut memilih mengeluarkan kartu yang lebih tinggi, maka pemain yang mengawali permainan harus mengeluarkan kartu yang lebih tinggi lagi. Tentu saja jika ingin memenangkan putaran pertama dan kembali mengawali putaran adu kartu berikutnya. Atau memilih membiarkan lawan yang duluan.
Set kartu yang dikeluarkan bisa berupa straight tiga atau empat kartu berurutan. 3, 4, dan 5 atau 9, 10 dan J (Jack). Bisa pula Ace, King dan Queen. Set kartu lain bisa berupa three of kind. Tiga kartu dengan angka yang sama. Triple 3 atau triple Ace dan triple kartu lain.
Apa jenis kartu tertinggi? Bukan Ace. Tapi 2. Lebih tepatnya kartu Jenderal. Kartu 2 bisa mengalahkan semua kartu lain. Jenderal hanya bisa dikalahkan jenderal. Yaitu kartu 2 yang lain. Urutan jenderal terendah hingga tertinggi. Yaitu 2 keriting, 2 diamond, 2 heart dan yang paling tinggi adalah 2 sekop.
Kembali ke permainan Datu Busu melawan Kucing Kuyus. Masing-masing mereka sudah memegang 13 lembar kartu.
“Kartu 3 keriting?” ujar Datu Busu. Kucing Kuyus menjawab dengan menggelengkan kepala. Sekonyong-konyong Ia mengeluarkan kartu 3 diamond. Itu kartu terendah yang ada di antara mereka berdua. Artinya kartu tiga keriting ada pada tumpukan kartu. Tidak ada yang punya.
Datu Busu melewatkan kesempatannya untuk menurunkan kartu yang lebih tinggi. Ia membiarkan lawannya mengawali putaran kedua.
Kartu 4, 5 dan 6 Kucing Kuyus keluarkan.
“Pas!” Putaran kedua dilewatkan Datu Busu.
“Kau jangan mulai memainkan gaya yang membosankan. Kita hanya bermain satu kali. Kalau Kau kalah, anak buahmu akan mati, Busu! Hehehe…!” terang Kucing Kuyus. Ia lalu menonton pertarungan antara Anjay Depkan dan Pak Haris.
Tiba-tiba saja Pak Haris berhenti bergerak. Tentu Anjay Depkan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.
“Wow! Akhirnya Kau berhenti bergerak!” seru Anjay Depkan yang seketika menghunuskan pedang ke tubuh Pak Haris. “Hahaha…!” tawanya menggema setelah pedang menembus perut anak buah Datu Busu tersebut.
__ADS_1
***