Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 16 Lelah Mengumpat


__ADS_3

Ch. 16 Lelah Mengumpat


Di saat Tim A fokus menghajar Giant Boss, Iyan dan Hansel langsung menyerang pasukan virtual musuh di sisi kiri. Tepat di saat pasukan virtual itu baru keluar dari base. Dalam tiga detik pasukan virtual musuh di sisi kiri peta sudah dibersihkan.


Demikian dengan Novia yang memotong laju pasukan virtual musuh di sisi kanan. Berkat item yang memberikan 60% kerusakan tambahan untuk makhluk virtual, Novia sangat mudah membersihkan jalur.


Di peta, terlihat semua musuh masih menghajar Giant Boss.  Tim A tidak terpancing untuk balik bertahan karena Giant Boss sudah menunjukkan tanda-tanda akan tumbang.


Seperti satu pemikiran, Iyan, Hansel dan Novia bergerak menuju tempat Giant Boss diserang Tim A.


“Aagghh... Aku sudah tidak tahan lagi! Tidak seperti di game Moba, Giant Boss kedua ini sangat sulit ditundukkan!” teriak Buan.


“Sebentar lagi ditaklukkan! Semua mundur! Biar aku yang menyelesaikan...” ujar Bleck.  Letupan pistolnya seolah menembak tiada henti.


Ayunan pedang mengenai tubuh Bleck. “Ughh... Ancriitt!” kutuk Bleck yang terkena serangan Roh Raja Pedang.


Ranggas masih menemani Bleck di saat tiga rekannya yang lain pergi menuju hutan wilayahnya untuk sembunyi. Sambil melindungi Buan yang sedang kritis, Mauli sesekali mengitari hutan, memastikan musuh tidak berencana mencuri Roh Raja Pedang.


Iyan menampakkan dirinya di hadapan Buan dan Bustar. “Ada musuh!” teriak Bustar. Fokus pada Iyan membuat Hansel leluasa menyerang. Dalam waktu satu setengah  detik, tiga anak panah Hansel menghujam tubuh Buan. “Aakkhh...!” Buan merintih dan perlahan memudar. Kembali ke aula.


Mendengar teriakan Bustar, Mauli langsung menuju lokasi terakhir Buan dan Bustar. “BUAAAANNN...!”  teriak Ranggas setelah melihat tanda Buan di peta berangsur-angsur lenyap.


“WHOOOAAAAAAAAAAAAAAAAAA...!!!!!” Roh Raja Pedang tertunduk setelah dibunuh Bleck. Roh ini kemudian muncul di Resurrection Base Tim A.


Bleck berseru, “Bantu Buan!” Ranggas dan Bleck langsung menuju lokasi di mana Buan dan yang lain berada. Tentu tidak jauh dari tempat Giant Boss bersemayam.


Tiba-tiba Novia menampakkan diri kepada Ranggas dan Bleck dari balik hutan. “Haiiii...!” Novia memprovokasi dan bersiap menyerang.


Berkat adanya indikasi keberadaan Tim A pada peta, Tim B dapat dengan mudah membersihkan jalur, meningkatkan status dan membeli item di toko. Ranggas sebenarnya sudah lama menyadari ada sesuatu yang tidak beres terjadi. Untung Ia sudah berhasil menginisiasi Tim A untuk membunuh Giant Boss kedua, Roh Raja Pedang.


Tidak jauh dari Ranggas dan Bleck, Mauli menyergap Hansel yang berhasil membunuh Buan dengan satu pukulan. Hansel terkena pukulan Mauli. Sakit, tapi tidak meninggalkan luka.


Memanfaatkan situasi yang mana Hansel disergap Mauli, Iyan melompat ke arah Bustar. Bersiap melepaskan pukulan. Dengan sigap Bustar menghentikan momentum Iyan. Sahabat Asna itu terkena skill dan jatuh terduduk di tanah.


Tidak mengindahkan Mauli, Hansel kembali menyerang Bustar. Tiga anak dilesatkan Hansel secara beruntun. “Uuugghh...!” Bustar merasakan perih saat tiga anak panah menancap di leher, dada dan bahunya. Kesehatannya sudah menurun setelah berjibaku dengan Roh Raja Pedang. Ditambah dengan serangan Hansel, Bustar kini sangat kritis.


Hansel kembali terkena pukulan Mauli hingga terlempar. Kali ini membuatnya muntah darah. Pada momen ini Ranggas sudah berada di sisi Bustar. “Ancrriiiiitt...!!!” umpat Ranggas.


Bustar melihat Hansel terkena pukulan. Ia lalu mengerahkan telapak bertenaga dalam ke arah Hansel. Hansel merasakan tubuhnya tidak bisa digerakan. Mauli kembali melepaskan pukulan. ”Uuuugghhhh...!” Hansel lagi-lagi memuntahkan darah dari mulutnya.


Serangan Bustar dan Mauli membuat Hansel menjadi kritis. Tiba-tiba...


Dentuman pukulan Iyan menghantam dengan keras kepala Bustar hingga pecah. Bola mata Bustar jatuh tepat di telapak tangannya. Kesalahan fatal dilakukan Bustar. Menyerang musuh yang lebih lemah, tapi tidak mengindahkan musuh yang sedang mengincar.

__ADS_1


Kesalahan ini juga berkat Ranggas yang lengah saat berada di sisi Bustar. Membayar kesalahan, Ranggas menusuk perut Iyan dengan tombak. Iyan merintih sambil memuntahkan darah. “Huuuaaaggghhh...!”


Bleck ikut menembaki Iyan dan sesekali menembak Hansel. Ranggas menarik tombaknya dan hendak menusuk Iyan kembali. “HIIIIAAAAA...!!!”


“Akhhh...!!” Iyan merintih dan berguling menghindari Ranggas. Tiba-tiba ada sosok yang memegang tangan Iyan, lalu memutar Iyan hingga membuat Ranggas mundur lima langkah. “Whoooaaa...!!” Iyan berseru, kemudian terlempar ke dalam hutan. Memberikan jarak antara dirinya dan Ranggas.


Iyan betul-betul sudah kritis. Hal ini memancing nafsu Ranggas. Mengikuti hawa nafsu, tentu saja Ranggas tidak ada alasan untuk tidak mengejarnya.


Lagi-lagi Ranggas melakukan blunder dengan meninggalkan Bleck yang mulai fokus menembak Hansel. Tanpa penjagaan, Bleck tidak sadar kalau Novia berada di belakangnya. Belasan tebasan dilayangkan Novia ke tubuh Bleck. Serangan Novia sangat cepat dan tepat mengenai persendian Bleck. Dengan mata terbelalak dan mulut menganga, Bleck terpotong-potong, jatuh ke tanah dan lalu memudar.


Di kala itu, pukulan Mauli berhasil membunuh Hansel yang sedari tadi sudah kritis. Situasi sekarang, Tim A tinggal 2 orang dan Tim B tinggal 3 orang. Asna tentu tidak dihitung. Sedangkan Edi masih malu-malu tapi mau melanjutkan pertandingan.


---------------------------


Di aula serikat...


Penonton bersorak melihat suguhan pertandingan antara tiga orang melawan lima orang! “WHOOOOOOAAAAAAAAA....!”


Tim B harus kehilangan Hansel untuk merontokkan pembuat kerusakan di Tim A, Buan, Bustar dan Bleck. Ini pertukaran yang tidak adil! Tim A dengan status pertarungan lebih tinggi kalah dalam adu siasat dan kehilangan damage dealer.


Pertandingan ini tentu menginspirasi mereka.... Kekompakan memang sangat penting untuk situasi seperti ini.


Di lubang virtual terlihat bagaimana Iyan bergerak menghindari Ranggas. Berputar, bersembunyi di antara pepohonan. “Annccriiittt...!” lagi-lagi Ranggas meluapkan emosinya dengan mengumpat. Bahkan suaranya jelas terdengar di aula.


Adegan berubah ke lokasi Novia yang bergegas menuju toko untuk membelanjakan koin roh.


“Mantaaappp... Tim B!”


“Come back is reeeaaaaalll...!”


“Tim A! Semangaaaattt...!!!”


Di tengah kegaduhan, Zay Kumbang menatap santai ke arah lubang virtual. “Strategi yang baik! Mereka seolah sudah saling mengerti satu sama lain. Usaha yang sangat sistematis!” pujinya kepada Tim B.


Rinduan menunjukkan wajah yang tidak bersahabat. Ia pun mengumpat, “Ini bukan lagi bodoh, tapi DUNGU!!! Aku akan menerapkan sistem pertandingan Big Three!”


“Tidak bisa begitu! Ini tes kerja sama tim, bukan turnamen!” tolak Zay.


Rinduan langsung meremas baju Zay dan menekan, “Aku ketua serikat! Aku bisa merubah aturan!”


“Untuk kebaikan? Atau untuk memuaskan nafsu setan?!” balas Zay sembari mengikis tangan Rinduan dari bajunya.


Rinduan sempat menatap kosong, tapi langsung berubah tersenyum. “Setidaknya anak yang pingsan itu tidak akan mendapat penilaian. Yang satunya biarlah... Hahahaha...!”

__ADS_1


----------------------


Memasuki menit kelima belas, gelombang pasukan virtual sudah setengah perjalanan menuju batas wilayah. Saat itu Roh Raja Pedang berjalan keluar melewati Eltow menuju Resurrection Base Tim B melalui sisi kanan pertahanan Tim B.


Tanpa Bleck, Roh Raja tidak dapat diperintah untuk mundur atau pergi menuju sisi lain dari arena. Sekali ia pergi ke satu sisi arena, ia akan menyerang musuh yang menghalanginya mendekati Resurrection Base.


Di peta terlihat Ranggas bergerak menuju sisi kiri. Sedangkan Mauli bejalan lurus ke bagian tengah mengawal pasukan virtual. Mereka masih tidak menyadari kalau posisi mereka terlihat di peta Tim B.


“Hiiiaaaaa...!!!” teriak Novia seraya menyerang ke arah pasukan virtual yang dijaga Mauli. Ia mengayunkan pedangnya sebanyak dua kali. Dua sabetan pedang Novia sangat presisi dan kuat. Tiga pasukan virtual langsung hancur.


“Kurang ajar!” Mauli mengumpat sambil meninjukan kedua tangannya ke wajah Novia. Pukulan demi pukulan Mauli lancarkan. Sebuah pukulan normal. Dengan santai Novia bergerak mundur menghindari tiap pukulan.


Mendapat momen, Novia mengambil kesempatan menebaskan pedang dari bawah ke atas. Segaris luka terbentuk dari pinggang sampai dada kiri Mauli. Pedang Novia masih berada di atas saat dirinya mengeluarkan energi berwarna putih kebiruan di tubuhnya. Ini sebuah skill tentunya…


[JURUS PEDANG: TEBASAN SEDINGIN ES]


Satu ayunan pedang Novia membuat luka diagonal dari bahu sampai pinggang kiri Mauli muncul. Tebasan ini diiringi dengan membekunya tangan kanan dan kaki kiri tanker Tim A itu. “Aaaagghhh...!!!!” Mauli meringis karena kali ini lukanya sangat dalam hingga banyak mengeluarkan darah di antara batu es. Sabetan pedang Novia juga membunuh dua pasukan virtual yang berada dekat dengan kaki kanan Mauli.


Novia segera mundur saat melihat Ranggas bergerak menuju Mauli, sesuai yang terlihat di peta. Bahkan Ranggas belum sempat membereskan pasukan virtual Tim B. Mauli mengutuk, “Cantik...! Jangan kabur!!!” Novia melirik dan memberikan kode dengan nada mengejek, “Giant Boss!”


Ranggas yang sudah datang, mendengar ejekan Novia. Seperti biasa, Ranggas hobi berkata kotor. “Dasar Sundel...!!!” umpatnya. Mereka lalu menghajar pasukan virtual Tim B yang ditinggalkan Novia.


-------------------------------


Pada saat Novia menghindari Ranggas dan pergi ke hutan, Iyan bergegas mundur setelah menghabiskan pasukan virtual Tim A di sisi kanan pertahanan. Ia mengalami luka yang cukup parah dari serangan Roh Raja Pedang.


Tiada Iyan, Roh Raja Berpedang bertarung dengan pasukan virtual Tim B. “Setidaknya pasukan ini dapat memperlambat kedatangan Giant Boss,” Iyan membatin.


Ranggas dan Mauli saat ini sudah berada di sisi Roh Raja Pedang. Ia terus-terusan kesal dengan situasi yang sudah mulai berbalik. Keberadaan Roh Raja Pedang tidak bisa menghiburnya. “Lelah mulutku berkata ancrit,” ujar Ranggas.


Mauli berkomentar, “Barusan kau katakan!”


“Hah... itu cuma contoh...” terang Ranggas.


Ranggas melirik ke arah peta. Di sisi kanan pertahanan Tim A, ada dua orang peserta dari Tim B yang sedang menghajar Eltow. “Bangsay...!” umpat Ranggas, lemah. “Bagaimana ini?” tanya Mauli.


Sambil berjalan di sisi Roh Raja Pedang, Ranggas berkomentar, “Bagaimana apanya? Aku sedang bingung sekarang! Serangan musuh sangat berpola. Dan aku tidak tau kapan Bleck dan yang lain kembali ke sini?”


“Akupun tidak tau. Jadi bagaimana sekarang?” kembali, Mauli mempertanyakan pertanyaan yang sama.


“Kita mundur, pintar!” titah Ranggas.


Eltow ring pertama di sisi kanan pertahanan Tim A tumbang. Pasukan virtual merengsek masuk dan mulai mendekati Resurrection Base. Mengetahui Ranggas datang, Novia segera kabur ke hutan.

__ADS_1


Ranggas dan Mauli sudah sangat dekat dengan Eltow tengah dan menyaksikan Eltow sisi kanan pertahanan mereka telah tiada. Ia sudah benar-benar lelah mengumpat dan memilih membersihkan pasukan virtual Tim A.


***


__ADS_2