Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 28 Teori Cokelat


__ADS_3

Ch. 28 Teori Cokelat


Rumah Sakit Umum Daerah AW. Syahranie. Pukul 12.00 tepat.


Sekarang hari Senin. Walau dalam masa libur sekolah, para guru tetap harus masuk bekerja. Mereka wajib membuat silabus dan rencana pembelajaran.


Jadi, dapat dikatakan Pak Haris mangkir dari pekerjaan. Walaupun guru mata pelajaran Kewarganegaraan itu menunjukkan sikap mulia. Menyelamatkan Agustin.


Saat ini Pak Haris duduk dengan gelisah di depan ruang ICCU. Duduk miring ke kiri salah, ke kanan pun salah. Bahkan duduk dengan lurus pun salah. Serba salah jadinya.


Pak Haris pun berdiri. Lalu berjalan ke sana ke mari seperti gosokan.


Selain meresahkan kondisi Agustin, Ia juga tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan anak didiknya itu.


Seorang perawat tiba-tiba menghampiri. “Pak, istrinya sedang sekarat. Seperti ada kata-kata terakhir yang ingin Ia sampaikan.”


“Istri? Dia itu muridku. Bawa Aku ke sana!” Pak Haris mengikuti si Perawat. Pergi masuk ke ruang ICCU.


Belum berhenti goyangan pintu menuju ruang ICCU, Asna dan Godel datang. Mereka berdua menggantikan Pak Haris duduk di teras.


“Sedari tadi matamu jelalatan. Pasti Kau mencari sesuatu yang dapat dicuri,” ujar Asna.


Godel membalas, “Sejak awal perjalanan Kita ke sini, matamu yang terus jelalatan. Pasti Kau mesum yang kurang pelampiasan!”


“Yah. Akhir-akhir ini Aku terlalu sibuk. Mandi pun dibatasi hanya dua menit. Waktu sesempit itu memang hanya bisa buat mandi.” Asna bersandar di kursi. Meratapi nasibnya sebagai pejuang virtual mula.


“Kata Datu kau punya kekuatan ‘kage bushin.’ Ajarkanlah padaku. Kau, kan, sudah Ku ajarkan skill [Unlock].” Godel menampilkan wajah bersahabat pada Asna.


“Hanya skill rendahan. Kalau tidak diancam Datu Busu, Aku tidak akan mempelajarinya. Kau pun sama. Tidak mungkin mengajarkan kalau tidak diancam,” balas Asna.


Si Mesum itu tiba-tiba memegang tangan Godel. “Tidak perlu mengancam. Kau tidak takut dengan diriku yang lain?” ujarnya. Seolah sudah tau apa yang dipikirkan si Pencuri.


Godel mengurungkan niatnya mengeluarkan belati. Sekarang Ia mulai memperhitungkan Asna dengan sungguh-sungguh.


Berdasarkan analisa si Panjang Tangan ini, ucapan Datu Busu sangat cocok dengan pengalaman yang Ia alami lima hari terakhir. Di Serikat Burung Kaliyangan dan di Paguyuban Anggrek Bulan.


Ada sosok tak terlihat yang sudah mencuri isi di dalam [Zakery Stone] yang dicurinya di Serikat Burung Kaliyangan. Sosok itu pula yang Ia yakini menolongnya di Paguyuban Anggrek Bulan. Godel memastikan itu kemampuan Asna.


“Kau sudah memprovokasi Serikat Burung Kaliyangan. Memicu dendam Nini Seke. Terakhir Kau menyinggung Paguyuban Anggrek Bulan. Musuhmu terlalu banyak dan termasuk kuat.” Godel pura-pura bersimpati dengan Asna.


Tapi upayanya itu seperti tidak mempan. Asna memilih bermain gawai.


Si Panjang Tangan belum menyerah. Malah Ia berani mengancam Asna. “Bertemanlah denganku. Kau akan mendapat banyak keuntungan. Bermusuhan denganku malah membuat Kau kesulitan kelak.”


Suara permainan MOBA terdengar dari gawai Asna. Itu menunjukkan kalau Asna tidak tertarik.


“Ada pepatah yang mengatakan bahwa seribu teman itu kurang. Satu musuh itu kebanyakan,” lanjut Godel.


“Peribahasa itu bertentangan dengan Teori Cokelat,” sahut Asna yang masih menatap gawainya. “Aku memilih suka makan cokelat. Sehingga penyuka cokelat menyukaiku dan kami berteman baik. Tapi penyuka kopi yang tidak suka cokelat akan memusuhiku.


“Saat Aku memilih berteman dengan penyuka kopi, Aku harus meminum kopi. Lebih pahit dari cokelat. Setelah aku mulai terbiasa meminum kopi dan menyukainya, teman-temanku penyuka cokelat yang tidak suka kopi berbalik membenciku.


“Aku jelas ingin berteman dengan semua orang. Tapi saat Aku berteman dengan satu kelompok, kelompok lawannya akan membenciku.”


“Kau, kan, bisa minum kopi mocca. Kopi cokelat. Ah, Ku pikir Kau pintar sangat,” ledek Godel.


Asna menggeleng. “Namanya tidak suka, mau dicampur sekalipun tetaplah tidak suka, bro! Setiap orang itu berbeda. Seperti kamu.”


“Aku?”


“Iya, Kamu.”


“Kenapa Aku?”

__ADS_1


“Iya. Kau banyak merugikan orang lain. Jadi banyak yang tidak suka.”


“Itu pilihan hidup, bos!”


“Akhirnya kembali ke jawabankuk di awal. Kita semua memiliki pilihan yang berbeda. Seperti Teori Cokelat.”


Tiba-tiba Pak Haris datang dengan wajah merah. “Ku pikir Agustin mati. Ternyata bini orang yang mau mati.”


Asna dan Godel terdiam saat ditatap Pak Haris. “Kalian tidak menyuruhku sabar? Di mana kepedulian kalian pada senior sekaligus guru?”


Sembari menunjuk Pak Haris, Asna melanjutkan penjelasannya pada Godel. “Seperti ini, Del. Sebagian orang yang emosional benci disuruh sabar. Kalau Pak Haris tidak. Justru beliau minta disabarkan.”


“Oh, kalian sudah akrab rupanya.” Pak Haris mengangguk  melihat Asna dan Godel. “Sulit mencari tandem Godel. Tidak salah Datu Busu memilih Asna.”


“Alasan Godel dipertahankan di SMA mulai jelas. Hehehe…!” sindir Asna.


Pak Haris tersenyum disindir Asna. “Itu salah satu alasannya. Dalam lima tahun keikut-sertaan GWM kita pada Samarinda Run, hanya Godel yang selalu sanggup bertahan. Sedikit mati, kill banyak.”


“Samarinda Run?” gumam Asna.


Pembina GWM itu mulai menjelaskan  tentang Samarinda Run. “Bukan lomba lari, tapi pertandingan membunuh dan bertahan di dunia virtual. Lari menyerang dan lari bertahan. Tiga puluh pejuang virtual melawan tiga puluh pejuang virtual. Tanpa ada tempat sembunyi.


“Ini simulasi perang antar GWM di Kota Samarinda. Pemenang Samarinda Run akan mewakili Kota Samarinda di ajang Kaltim Run. Begitu seterusnya sampai tingkat nasional. Termasuk prestise GWM.”


Asna mulai paham. Sebenarnya tidak sesederhana itu. Ia pun berkomentar, “Pasti Datu Busu ada kepentingan di situ. Makanya Datu memiliki perhatian.”


“Kau ini. Datu Busu memang selalu memiliki target. Target aneh. Datu menargetkan bertahan lebih lama di turnamen. Kalau memang juara, ya, cuma bonus,” lanjut Pak Haris.


Pak Haris dan Asna memandang Godel. Kalau ingin bertanya lebih dalam, dia orang yang tepat. Si Pencuri inilah yang paling tau masalah Samarinda Run. Sebab Ia mungkin pemegang rekor ikut serta terbanyak. Empat kali.


Godel bersenandung sambil menatap plafon. Tidak mau ditanya tentunya.


Gawai Pak Haris berbunyi. Pesan singkat dari seorang bernama Bocah Liar masuk. “SMS Datu,” terang Pak Haris. Ia lalu membaca isi pesan. “Wah, Na. Kau ditargetkan juara. Hahaha…! Aku senang dengan target ini.”


Ditargetkan juara, pikiran Asna sedikit berkecamuk. “Kegiatannya seminggu lagi. Tapi Datu menargetkan juara. Sepertinya Datu Busu tau banyak tentangku.”


Tapi tidak selelah Pak Haris.


Tidak hanya tubuhnya saja yang lelah. Batinnya juga. Sangat-sangat lelah malah.


“Aku sudah menggadai motor untuk menebus biaya pengobatan Agustin. Sekarang Aku harus menampungnya pula. Apa kata istriku, nanti? Ya, Tuhan…” Pak Haris meratapi kesialannya hari ini dalam angkutan umum kota. Duduk di sebelahnya, Agustin.


---------------------


Pulang ke rumah Iyan pukul 17.00, Asna tidak ditegur oleh si pemilik rumah.


Asna merasa tidak nyaman.


Oleh karena itu Ia pergi mandi dan menyempatkan diri untuk tidur. Seolah rumah Iyan adalah rumahnya sendiri.


Pada pukul 19.30, Asna mulai menjelaskan kepada Iyan isi rapat yang Ia ikuti. Semua apa adanya. Tapi tetap harus ada yang ditutupi.


Iyan mengerti dengan penjelasan Asna. Bahkan sangat senang mendengar kalau Rode penjahatnya kemarin. Ia juga antusias menyambut Samarinda Run. Ini event perdananya.


Cuma satu poin yang membuat mood dan antusiasmenya seketika redup.


Dewi Kematian jadi pejuang virtual.


Iyan merasa ngeri membayangkan dirinya beradu tanding dengan Agustin. Walau kematian di dunia virtual itu fana selama ada [Resurrection Mandau], tapi itu tetap sakit.


Bayangan itu muncul tiba-tiba tanpa Iyan inginkan.


Usai menyantap masakan yang disediakan Iyan, duo sahabat ini memilih masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Asna menghabiskan waktu dengan membuka materi pelajaran untuk semester depan. Sedangkan Iyan terlalu mementingkan profesinya sebagai pejuang virtual. Ia bermeditasi.


Meditasi dilakukan agar daya pikiran (INT) dapat meningkat.


Sambil belajar, Asna memikirkan tiga hal lain di saat bersamaan. Total empat pikiran Ia gunakan. Itu tidak akan memicu asam lambung. Sebab Ia sudah menyantap makanan.


Pikiran pertama tentu mempelajari materi pelajaran. Pikiran kedua ada pada sosok dirinya yang sedang berpatroli di lingkungan sekolah, Jiwa Senin. Pikiran ketiga ada pada Jiwa Selasa yang mengawasi aktivitas Rode. Terakhir, pikiran keempat Asna gunakan untuk memahami catatan di dinding warisan yang diinginkan Rode.


Asik berpikir, Asna dikejutkan dengan kehadiran ayah Iyan, Rizal Handoko. Wajah Rizal yang semula hangat berubah saat melihat Iyan sedang bermeditasi. Bersila dan menutup mata.


Sebuah tamparan mendarat di pipi Iyan. Rizal lalu menanyai Iyan. “Apa yang Kau lakukan? Ingin jadi pahlawan super?!”


Melihat hal tersebut, Asna mengambil buku pelajarannya dan berencana meninggalkan kamar. Urusan keluarga Iyan, Asna tidak ingin ikut campur.


Baru selangkah menuju pintu, Rizal menceleng ke arah Asna. “Kau jangan keluar! Kembali duduk!” Asna pun menuruti perintah Rizal.


Iyan langsung berdiri di atas kasur, mencoba membela diri. “Apa-apaan ini?! Kenapa tiba-tiba menamparku?” Iyan jelas protes. “Tidak perlu acting! Kau sedang bermeditasi, bukan?!” Rizal menunjuk wajah Iyan dengan amarah.


“Ayah, Kau bisa tanyakan Asna! Kau tidak boleh menuduh sembarangan!” seru Iyan.


Mendengar argumentasi Iyan, Rizal menatap tajam Asna. Tatapan ini membuat Asna pura-pura gelagapan. “Ancrit, nih, Iyan! Kenapa Aku jadi dibawa-bawa?” Asna membatin.


“Kalian ingin jadi super hero, bukan?!” tanya Rizal kepada Asna. Mendapat pertanyaan bernada tuduhan seperti ini Asna tentu saja menggeleng.


Tidak cukup menggeleng, Asna menjawab, “S-super hero…? Barusan, I-Iyan lagi menghafal tabel periodik unsur kimia, Om…”


Jawaban Asna sudah tepat, walau berbohong. Asna memang sedang memegang buku pelajaran kimia.


Rizal merebut buku pelajaran di tangan Asna. Ia lalu menatap tabel golongan unsur kimia yang ada di sampul. “Sekarang, sebutkan unsur  kimia golongan pertama!”


Segera Iyan menyebut satu per satu unsur kimia yang masuk golongan pertama. “Hidrogen, lithium, natrium…” Iyan pura-pura lupa. Padahal tiga unsur itu saja yang Ia tau. Selama satu semester Ia benar-benar jarang belajar.


“Kau jelas berbohong! Kau sengkongkol dengannya!” Rizal menunjuk marah kepada Iyan. Lalu menunjuk Asna.


Iyan tidak mau kalah beradu argument. “Berbohong bagaimana? Namanya juga lagi menghafal! Ayah jangan menuduhku berbohong tanpa bukti!”


“Aku ini penyidik! Bukan hakim atau jaksa! Kalau Aku bilang Kau berbohong, berarti Kau berbohong!” sahut Rizal.


Iyan langsung bangkit dan mengambil buku laporan belajar. Sambil memberikan buku laporan belajar kepada ayahnya, Iyan berkata, “Selama ini Aku dibantu Asna belajar sungguh-sungguh. Nilaiku bagus! Kau bisa memeriksanya.”


Rizal langsung memeriksa buku laporan belajar Iyan dengan cepat. Sejurus kemudian mengulang pemeriksanaan dengan perlahan. “Apa ini? Kau ranking 23!”


“Lihat nilainya! Kalau di kelas lain Aku bakal ranking satu!” bela Iyan.


“Nilaimu banyak A-Plus. Paling rendah B-Plus.” Tensi Rizal mulai menurun.


Melihat ayahnya slow-down, Iyan menambahkan, “Aku dan Asna masuk kelas favorit. Nilaiku itu hanya beda lima poin dengan Asna.” Sejurus kemudian Iyan membongkar laci dan memberikan laporan belajar Asna.


Rizal membandingkan nilai Asna dan Iyan dengan seksama. Itu sudah jadi bukti konkrit. “Kenapa tidak bilang? Aku bisa memberikanmu hadiah….”


Iyan menunjukkan wajah jumawa, merasa menang dalam perdebatan melawan ayahnya sendiri. “Bagaimana bisa bilang kalau Ayah jarang di rumah? Sekarang Aku harus membalas tamparanmu!”


Rizal menyodorkan pipinya kepada Iyan. “Balaslah…. Aku salah telah terbawa emosi.”


“Hahaha… Tidak mungkinlah. Aku takut kualat.” Iyan tertawa sambil berdiri di atas kasur. Sebuah pukulan Rizal di kaki membuat Iyan terbaring di kasur. “Kau tidak takut kualat karena berani membentakku!” balas Rizal.


Perdebatan antara ayah dan anak akhirnya usai. Asna bisa bernafas lega. Terlebih Iyan. Dua sahabat itu memilih untuk tidur cepat sebelum Rizal lebih curiga lagi.


Rizal terlihat sangat membenci pahlawan super (super hero).


Di zaman sekarang, super hero sudah menjadi idola masyarakat di belahan dunia manapun. Ini efek dari keberhasilan mereka menyelamatkan bumi dari serangan makhluk dari planet dan galaksi lain berulang kali.


Di Indonesia pun ada super hero nasional. Mereka memiliki kemampuan khusus yang dapat membantu pemerintah memberantas kejahatan. Ada super hero nasional, tentu ada pula super hero lokal. Perbedaanya ada pada cakupan wilayah yang dapat diatasinya.

__ADS_1


Terkait nilai Iyan yang sangat bagus walau hanya ranking 23, sebenarnya peran Asna sangat besar.  Diketahui atau tidak oleh Iyan, tugas-tugas sekolahnya selalu dikerjakan Asna. Bahkan Asna rela menulis dua kali jawaban ujian agar Iyan dapat nilai bagus.


***


__ADS_2