Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 15 Map Hack


__ADS_3

Ch. 15 Map Hack


Di lubang virtual tampak adegan Ranggas sedang berseru kaget. Ranggas telah keluar dari jangkauan Aries Snake!


Tiada Ranggas, Aries Snake mengalihkan serangan kepada satu-satunya objek yang ada di dalam jangkauannya, Buan.


Dua tembakan cukup untuk membuat Buan si pendekar pedang mengalami kematian pertamanya.


Ini yang membuat Zay Kumbang dan Rinduan kaget.


Para peserta yang berada di aula serikat terdiam membisu. Bahkan sebagian besar sempat menahan nafas ketika pendekar pedang yang memiliki daya serang tinggi harus mati sebelum mengalahkan Aries Snake!!!


“Dasar pintar!!! Bagaimana bisa orang itu menarik tombak sampai keluar base?!” kutuk Rinduan. Ia lalu melirik Zay Kumbang yang juga kaget melihat situasi di arena sekarang.


Rinduan merubah mimik wajahnya menjadi lebih tenang. “Satu lawan satu. Tapi yang satu sudah tidak mau melanjutkan pertandingan. Kemenangan Tim A tetap tak terelakkan jika yang pakai tombak menghajar ular base,” timpal Rinduan.


-------------------------


Di antara para peserta, Godel tampak ikut kaget dalam pertarungan yang diikuti Asna. Beberapa kali Ia mengangguk melihat aksi Iyan dan anggota Tim B.


“Pertandingan yang aneh. Kenapa bisa sebegitu pintarnya?! Padahal, kan, tidak usah ditarik!!!” seseorang pria yang mengenakan pelindung bahu di samping Godel berkomentar dengan nada menyindir.


Pria tersebut meremas kerah tuksido Godel. “Aku benar, kan?”


Tidak suka diperlakukan demikian, Godel mendorong tangan pria dengan pelindung bahu tersebut. Wajahnya menatap tajam saat ini.


“Kenapa?! Kau mengajakku berkelahi?!” Pria tersebut kembali ingin meraih kerah Godel.


Dengan santai Godel berjalan mundur. Hal ini menyebabkan orang tersebut tidak dapat melakukan apa yang diinginkannya. “Anak setan!” hardiknya. Pria ini sudah terlanjur malu.


Tidak dapat kerah Godel, Ia mencoba melayangkan pukulan.


Tiba-tiba seseorang lain menahan pukulannya. “Apa yang Kau lakukan? Dia anggota tim kita!”


Pria dengan pelindung bahu tersebut meludah sembarangan. Ia jelas tidak puas kalau belum memukul Godel.


Dengan satu tarikan jari di pelipis mata kanan, Godel meledek sembari menjulurkan lidahnya. Remaja satu ini rupanya pandai memprovokasi orang lain.


Sebuah tinju dengan jari jempol terjepit di antara jari telunjuk dan tengah dilayangkan pria berpelindung bahu. Kode balasan untuk Godel. Sejurus kemudian Ia menggoreskan jari telunjuknya di leher seraya bergumam, “Kau, mati…”


-------------------------------


Kembali ke arena di dunia virtual, Ranggas masih tampak optimis. “Masih ada kesempatan! Aku akan maju sendirian,” ujarnya. Aries Snake sudah begitu kritis. Tubuhnya pucat. Sangat pucat. Beberapa tusukan tombak dapat membunuhnya sebelum membunuh Ranggas.


Pasukan virtual Tim B keluar dari Resurrection Base dan langsung menggerumungi Ranggas.


Ranggas tetap maju ke dalam jangkauan Aries Snake tanpa mengindahkan pasukan virtual. “Mati kau, Ulaaaarrrr...!!!” Ia berteriak sembari melemparkan tombak ke tubuh Aries Snake. Tombak Ranggas menancap ke tubuh Aries Snake. Segera ia mengambil kembali tombaknya walau terus terkena serangan Aries Snake.


“Satu tusukan lagi... Uuughh...” ujar Ranggas, kegirangan. Sejurus kemudian Ranggas kembali menghujamkan tombak. Darah segar menetes di ujung tombak.


Tombak Ranggas menusuk dada seseorang!


Itu Edi...!!! Tiada yang lain di Tim B saat ini kecuali dirinya. Ranggas bergegas menarik tombaknya karena terus diserang Aries Snake. Ia sangat panik.

__ADS_1


Melihat kejadian ini melalui lubang virtual, Rinduan kembali melotot marah. “Si baperan turun tangan. Dasar tidak tau malu!” hardik Rinduan.


Mendengar perkataan Rinduan, Zay kumbang berkomentar, “Akan lebih memalukan kalau dia malah membuang peluang. Ini kesempatan Tim B memukul habis Tim A. Menerapkan strategi bertahan penuh sembari mencari kesempatan menyerang balik. Peluang Tim B terus meningkat.”


Rinduan menggaruk kepalanya yang terus berkeringat. Dia sangat terlihat mendukung Tim A,serta membenci Iyan dan Asna. “Ternyata tidak berakhir cepat, ya? Tuhan sedikit mendengar doamu, Zay... Hahahaha.... Situasi tidak akan berubah. Kekalahan Tim B hanya tertunda!! Hahahahaha...!” terangnya.


Tiba-tiba Iyan keluar dari Resurrection Base dan bergegas menyergap Ranggas.


“Ini tidak baik!!! Uugghh...” rintih Ranggas yang segera keluar dari jangkauan Aries Snake. Tubuh Ranggas dipenuhi luka setelah terus menahan serangan Aries Snake. Ranggas sedang kritis!!! Ia hendak melarikan diri dari jalur tengah.


“Dia hendak kabur!” seru Novia yang masih berada di Resurrection Base. Iyan mengejar Ranggas dengan kecepatan penuh. Membunuh Ranggas akan memudahkan mereka melakukan gelombang penyerangan berikutnya.


Edi tidak bergeming, tidak ada niatan mengejar Ranggas. Ia masih berada di dalam pusaran deras rasa malu.


“Jangan dikejar!!!” larang Hansel. Larangan ini sangat beralasan. Momen Iyan tewas hampir bersamaan dengan tewasnya dua musuh. Saat Iyan masuk ke arena, dua musuh lainnya pasti juga telah masuk ke arena.


“HEEEEAAAAAAA.....!!!!” Iyan melompat tinggi, sangat tinggi berkat adanya suatu dorongan di kakinya. Tangan kanannya memerah, lalu mengeluarkan aura seolah sedang terbakar api.


Ranggas merasakan ada niat yang hendak membunuhnya. Sambil berlari, ia menoleh ke belakang, lalu ke atas. “Oh, Nooooo...!!!”


Suara dentuman terdengar sampai ke aula serikat.


Pada lubang virtual, para peserta tes melihat pukulan Iyan mengenai pundak Ranggas.


Sepersekian detik kemudian tubuh bagian atas Ranggas hancur berkeping-keping. Memuncratkan darah ke mana-mana.


Pukulan Iyan baru berhenti setelah mengenai tanah hingga membuat ledakan dan retakan!!!


Tidak ingin membuang-buang waktu, Iyan bergegas menghajar pasukan virtual musuh di bagian tengah.


Zay Kumbang tersenyum melihat situasi di arena melalui lubang virtual. “Membersihkan pasukan musuh, membeli item, lalu membunuh makhluk virtual di hutan. Mereka harus memanfaatkan momentum ini...” terang Zay Kumbang.


Rinduan ikut berkomentar, “Itu masih belum cukup. Walaupun Tim A harus bersabar untuk membangun kembali siasat. Status mereka jauh lebih tinggi. Dibanding Tim B yang tanpa Pelindung, Tim A memiliki kekuatan serangan dan bertahan yang sangat seimbang. Ini penting untuk memenangkan pertarungan terbuka. Terlebih, anak itu masih dalam keadaan pingsan. Kemenangan Tim A tidak terelakkan. Hahaha...!!!”


Rinduan menatap sinis ke wajah Zay seraya berkata, “Orang normal tidak akan mengulang kesalahan yang sama dua kali...”


--------------------


Hansel dan Novia telah kembali ke arena. Mereka langsung memanfaatkan waktu yang ada untuk bertahan dan meningkatkan status pertarungan. Serangan Hansel berhasil menghabiskan gelombang pasukan musuh di sisi kiri. Ia lalu bergerak menuju hutan.


Di dalam hutan, Novia telah membunuh beberapa makhluk virtual. Dengan koin roh yang sudah cukup banyak, Ia bergerak mendekati Iyan yang berada di hutan dekat sisi kanan.


“Hah?! Kok bisa?” Iyan kaget setelah melihat peta.


Situasi yang membuat Iyan kaget adalah adanya indikator keberadaan musuh.


Musuh terlihat pada peta!


Padahal semestinya musuh baru terlihat saat bertemu secara langsung dengan rekan setim atau pasukan virtual teman!


Ini seperti map hack!!!


Akan lebih mudah mengitari arena jika mengetahui keberadaan musuh tentunya!

__ADS_1


“Apakah musuh dapat melihat Kami juga?” pikir Iyan. Novia tiba-tiba datang dan menepuk pundak Iyan. “Mmm... Maaf... bisa temanin Saya ke toko?” Novia tampak masih ragu meminta tolong.


“Aku belum memaafkannya, tapi dia sudah berani minta tolong!” Bentak Iyan di dalam hati. “Kau tidak melihat peta?” Iyan menjawab dengan gestur malas.


“Heeeh...” Novia melirik ke peta miliknya. “Whaaaat..?!!! How?!” seru Novia. Ia melihat tiga orang musuh sedang berada di dekat Hansel yang sedang bersembunyi di pepohonan. Novia langsung menghubungi Hansel, “Hansel!! Ada musuh di dekatmu!”


<“Ya... I know. Entah kenapa pergerakan musuh di hutan terlihat di peta,”> jawab Hansel via telepati.


Novia melihat Iyan yang langsung pergi menuju toko di sisi kanan tengah. Ia pun bergerak ke arah yang sama.


-------------------------------


Di negeri antah berantah, si Murid tampak kesal dengan sang Guru…


“Waktuku tidak banyak untuk mengajarimu. Jadi, pergunakanlah kesempatan yang ada…” ujar sang Guru.


Si Murid masih menunjukkan wajah merengut. Ia menatap langit yang tidak ada lagi tayangan pertarungan di arena virtual Serikat Burung Kaliyangan. “Murid mengerti. Tapi tidak ada salahnya, kan, murid menghibur diri…”


-----------------------------


Memasuki menit ketujuh belas, gelombang pasukan virtual muncul untuk kesekian kalinya.


Berkat map hack, Tim B dapat membersihkan pasukan virtual musuh dan mendulang pundi-pundi koin roh dengan cepat dan aman.


Usai menyerang pasukan Tim B di tiga jalur berbeda, Tim A masuk ke dalam hutan untuk bersembunyi.


“Kenapa mereka sangat mudah menghindari Kita?” tanya Ranggas yang sudah keluar dari Resurrection Base.


Bleck menggeleng dan menjawab, “Entahlah... Bahkan saat kita mencoba menunggu mereka di tengah, tidak ada satupun dari mereka pergi ke toko.”


“Baiklah... Semuanya! Kita serang Giant Boss sekali lagi. Saat mereka datang, kita habisi mereka!!!” titah Ranggas. “Siaaapppp...!!!” Anggota Tim A menjawab kompak.


----------------


Usai menghabisi pasukan virtual di sisi kanan, Iyan segera mundur. Ia sedang menunggu momen gelombang pasukan virtual berikutnya sambil membunuh makhluk virtual di wilayah musuh.


Novia juga sudah selesai menghabiskan pasukan virtual musuh bagian tengah. Sesaat ia melirik peta miliknya. “Musuh menyerang Giant Boss! Kita tekan Eltownya!!” seru Novia.


Hansel segera keluar dari hutan dan menyerang pasukan virtual musuh sebelah kiri. “Aku akan tekan Eltow kiri!”


----------------


Ranggas dan tiga rekannya yang lain sedang berjibaku dengan Giant Boss kedua. Roh Raja Pedang!


“GRRRRRRRRRAAAAAA....!!!!” Giant Boss mengeram sambil mengayunkan pedang. Gelombang pedang Giant Boss melontarkan Tim A menjauh. “Aaagggh...!” Buan mengerang setelah terkena ayunan pedang Giant Boss.


Serangan Roh Raja Pedang sebenarnya tidak intens, tapi sangat bertenaga. Empat orang Tim A kembali melakukan serangan frontal. Jika mengetahui pola serangan Roh Raja Pedang, Tim A sebenarnya dapat melakukan serangan secara periodik tanpa terkena kerusakan besar.


Mauli menyusuri hutan wilayah Tim B untuk melakukan pengawasan. Namun tidak ada yang Ia temui di sana. “Sejauh ini tidak ada tanda-tanda musuh!” lapornya.


“Ke mana mereka?” pikir Ranggas, cemas. “Buan, aku akan mengawasi hutan kita. Kau teruskan menghajar GB!” Ranggas segera pergi ke hutan sisi kanan.


Iyan yang sedang berada di sana segera menyeberang ke hutan di sisi kiri. Di sana Iyan menemui Hansel yang sedang membunuh makhluk virtual musuh.

__ADS_1


Melihat tidak ada satupun makhluk virtual yang muncul, Ranggas langsung paham kalau Tim B sempat masuk ke wilayahnya dan melakukan farming. “Bangsat! Makhluk virtual kita dicuri! Semua, fokus ke Giant Boss!”


***


__ADS_2