
Iyan dalam satu tahun berjalan sudah 99 kali mengikuti tes di serikat ini, tanpa sekalipun lulus dari ujian pertama. Lebih parah dari Asna yang sudah gagal 33 kali dalam dua bulan.
Gagal 33 kali dalam dua bulan... Asna lebih parah, sih.
Iyan sungguh sudah sangat malu. Tapi keinginannya membantu Asna meningkatkan status pertarungan terlampau besar.
Sedangkan Asna memiliki motiv tersembunyi dari kemauannya mengikuti Iyan. Dirinya ingin membantu Iyan bergabung serikat dan mendapatkan warisan.
Bagi Asna yang hanya memiliki status pertarungan anak SD, akan sangat mubazir memberikan warisan status pertarungan kepada dirinya. Jadi, fokuslah pada peningkatan karakter yang lebih kuat.
Begitulah gaya strategi Asna dalam bermain Role Playing Game. Gaya yang ingin Ia tularkan dalam kehidupan nyata.
Tes pertama untuk masuk Serikat Burung Kaliyangan cukup sederhana. Cukup melihat keseimbangan status pertarungan untuk melihat tipe pejuang virtual dan bertarung dengan sesama tipe.
Ada puluhan tipe pejuang virtual. Semua itu dikelompokkan dalam lima kelas.
Kelas Pejuang Mula, Pejuang Muda, Pejuang Madya, Pejuang Ahli dan Pejuang Utama.
Di kelas Pejuang Mula, ada lima tipe pejuang virtual. Pengumpan, Prajurit Pendukung, Pencuri, Kurir dan Pembantu.
Seorang pengumpan memiliki status pertarungan yang lebih besar pada komponen VIT dibanding komponen yang lain. Adapun prajurit pendukung adalah pejuang virtual yang memiliki STR yang dominan. Pencuri dominan pada DEX, Kurir dominan pada MEN dan Pembantu dominan pada INT.
Pejuang virtual kelas Mula bisa naik ke kelas Pejuang Muda, saat komponen status pertarungan dominannya melebihi 100 poin. Itu juga harus dibarengi peningkatan poin status komponen dominan kedua. Dua status itu menjadi komponen utama dan menentukan tipe pejuang virtual dalam perjalanan karirnya.
Ada tujuh tipe pejuang virtual di kelas ini. Tipe umum.
Prajurit Pelindung, main komponen status pertarungannya VIT dan MEN.
Pendekar Pendukung dengan main status STR dan VIT.
Assasin, main statusnya DEX dan STR.
Penyihir Pendukung, INT dan MEN.
Pendekar Tenaga Dalam, INT dan STR.
Penyihir Pembunuh, DEX dan INT.
Penyerang Jarak Jauh, DEX dan MEN.
Masih banyak penyebutan lain tipe Pejuang Virtual di kelas yang lebih tinggi. Tak heran jumlahnya menjadi puluhan.
Penting bagi pejuang virtual untuk tau. Tapi tidak perlu dihapal. Nama-nama tipe pejuang virtual tidak akan ditanya di alam kubur.
Adapun tipe Asna…
Prajurit Pendukung. Inilah tipe Asna yang memiliki status pertarungan dominan pada STR. Sembilan. Iyan juga termasuk pada tipe ini.
Kala naik kelas Pejuang Muda, kemungkian besar mereka bakal menjadi Pendekar Pendukung.
Hanya saja. Selama ini mereka selalu tersisih dari orang lain yang memiliki STR lebih tinggi. Mereka kalah saat bertarung.
Tapi Iyan seolah tidak kenal menyerah. Walau merasa malu.
Sedangkan Asna tergantung Iyan. Kalau Iyan masih ngotot, Asna akan membantunya.
Asna tidak tertarik bergabung Serikat Burung Kaliyangan.
Bergabung Paguyuban Tutur Pusaka saja Ia lakukan dengan terpaksa karena jebakan Datu Busu.
---------------------------
Tujuh menit berlari, Asna dan Iyan akhirnya sampai di depan aula Serikat Burung Kaliyangan.
“Hah-hah-hah-hah… Apakah aku terlambat?” ujar Asna, ngos-ngosan setelah berlari, kabur dari sekolah.
Saat ini ia berada tepat di depan meja panitia pendaftaran tes. Di hadapannya ada seorang wanita.
Sebuah pukulan mendarat di kepala Asna hingga mengeluarkan suara letupan. Itu pukulan dari Iyan.
“Kalau kau tidak berasyik-masyuk tadi, kita tidak akan terlambat, ****!!!!” bentak Iyan.
Tiba-tiba otak Asna kembali error selama sepersekian detik. Akhir-akhir ini, otak Asna memang sering seperti itu. Tapi Asna tidak memperdulikannya.
__ADS_1
Setelah sadar, wajah Asna yang semula gugup berubah menjadi mesum. “Salahkan doi lah… kenapa juga pake rok mini… hehehe…” kilahnya.
“Kalian sebelas-dua belas! Selain roknya yang mini, otakmu juga mini! Mesummu itu tidak berubah sedikitpun sepertinya!” sahut Iyan.
Ia langsung menghadap panitia pendaftaran. “Masih bisa mendaftar, kan?”
“Sudah tutup…” jawab si wanita, SPD. Singkat, Padat dan Djelas!
“Ini pendaftaran keseratus kami! Setidaknya, berikanlah kami kebijakan!” lanjut Iyan.
Si wanita menggeleng. “Aku cuma bawahan di sini… bagaimana punya kebijakan?”
Perkataan wanita ini benar. Hanya Irvan dan Asna yang terlalu memaksakan kehendak.
Seketika aura cadas menekan naluri Asna. Anehnya, Iyan tidak merasakan hal tersebut. Padahal dari status pertarungan saja Asna kalah jauh dari Iyan. Begitupun saat latih tanding.
“Tidak perlu risau,” ujar seseorang yang tiba-tiba datang di belakang Iyan dan Asna.
“Oh?! Pak Ketua?!” si Wanita kaget dengan kehadiran Ketua Harian Serikat.
Mendengar kata “ketua” dari si Wanita, Asna dan Iyan langsung berbalik. Mereka kemudian terkesima melihat sosok pria yang berhasil menjadi Ketua Serikat Kaliyangan di usia muda.
Pemuda berusia 27 tahun ini bernama, --Rinduan Syah--
“Ariyan Handoko dan Asna Hamran, bukan?” Tebak Rinduan. “Kalian masih bisa mendaftar!” timpalnya.
Mata Iyan dan Asna melebar. “Hah?! Anda kenal kami?! Terima kasih, ketua!” seru mereka, kompak.
“99 kali mengikuti tes perekrutan, tapi tak pernah sekalipun lulus tes pertama. Kalian terlalu terkenal, bagaimana mungkin aku tidak kenal? Hahahaha…” ujar Rinduan dengan nada melecehkan.
Iyan dan Asna saling menatap. Wajah mereka berubah masam. Mereka merasa begitu terhina.
Iyan menarik lengan Asna seraya berkata, “Na, ini penghinaan namanya… Ayo kita balik.”
Rinduan melambaikan tangan tanda melarang. “Jangan pergi dulu! Semangat kalian harusnya semakin terbakar!!!” serunya.
“Kita sudah sejauh ini, Yan… Ketua berkata benar. Kita harus lebih bersemangat. Toh, yang tidak lolos 99 kali itu Kau. Bukan Aku.” Asna menolak pergi. Semangatnya untuk membantu Iyan terlanjur tinggi.
“Sejak kapan aku menjadi ketua kalian?” pikir Rinduan. “Bagus kalau kau berkata seperti itu,” timpalnya.
“Ancrit nih orang! Ini penghinaan kedua darinya,” ujar Asna dalam hati. Iyan hanya berdiam diri saja saat itu. Tidak suka dengan Rinduan membuatnya tidak menyimak apapun yang dikatakan.
Asna lalu menundukkan kepala seraya berkata, “Terima kasih, Ketua! Kami akan melakukan yang terbaik.”
Tidak beberapa lama, Rinduan masuk ke dalam aula, diikuti Asna dan Iyan.
-----------------------------------
Sesampainya Rinduan di panggung, Zay Kumbang memberikan pelantang suara kepadanya untuk memberikan sambutan.
Setelah berbasa-basi, Rinduan mengeluarkan keputusan yang disambut gembira para peserta tes.
“TIDAK ADA TES PERTAMA! KALIAN SEMUA AKAN MENGIKUTI TES KEDUAAA…!!!” teriak Rinduan yang diiringi dengan suara riuh para peserta tes. “WHOOOOAAAAAA….!!! HIDUP SERIKAT BURUNG KALIYANGAN!!!”
“Kenapa tiba-tiba?!” seseorang mengajukan pertanyaan.
Rinduan mencari asal suara. “Siapa itu?”
Seorang perempuan bernama…
--Novia Scorvia--\ mengangkat tangannya. “Aku! Aku ingin bertanya, mengapa aturannya bisa tiba-tiba berubah?”
Asna dan Iyan yang berada di belakang Rinduan kembali saling menatap saat Rinduan berbalik menghadap mereka.
Sejurus kemudian Rinduan kembali menghadap para peserta tes. “Kalian harus berterima kasih pada dua remaja ini. Sebab, saat ini mereka mengikuti tes yang KESERATUS kalinya!! Merayakan pencapaian mereka, aku memberikan kalian kebijakan. Kalian ku nyatakan lulus tes pertamaaaa…!!!”
“HEEEYAAAAA…! TERIMA KASIH, KETUAAAA…!!!!” peserta tes berteriak riuh.
“Blep… PUAAAAHHHAHAHAHA…!” tiba-tiba seorang peserta tertawa nyaring. Lalu diikuti peserta yang lain, “WHOAHAHAHAHAHA…!!!!”
“SERATUS KALI?! KENAPA TIDAK MALU?! HAHAHAHA…!!!”
Pencapaian Asna dan Iyan begitu memalukan memang. Hal ini memang bisa memicu gelak tawa peserta lain.
__ADS_1
Iyan mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Ini sudah dua kali!” ujar Iyan, geram.
“Tidak, ini yang ketiga! Tahan, Yan!” saran Asna.
Iyan semakin mengeratkan kepalan tangannya. “Akan ku tumpahkan amarahku di tes nanti!!!”
-------------------
Kala Asna dan Iyan ditertawakan. Di negeri antah berantah. Seorang Guru dan murid berbaring di atas atap jerami sambil menatap berbagai tayangan yang memenuhi langit.
Salah satu tayangan memperlihatkan semua aktivitas perekrutan di aula Serikat Burung Kaliyangan.
Melihat apa yang terjadi di aula Serikat Burung Kaliyangan, Si Murid bergumam, “Asna dan Iyan. Guru suka yang mana?”
“Asna dan Iyan, ya? Heh, buat apa Kau memperhatikan mereka? Tiada yang Ku suka dari dua bocah ini…” jawab Sang Guru.
Pandangan si Murid beralih kepada Sang Guru. “Yang satunya berbakat dan yang satu misterius. Kalau Murid suka yang misterius…”
“Ya, itu bagus.” Sang Guru menyahut seadanya. Tanpa memandang balik muridnya.
Si Murid kembali berkomentar, “Buat apa mereka capek-capek ikut kelompok seperti itu? Bikin kelompok baru jauh lebih seru…”
“Terkait kemampuan elemen tanah yang sudah Kau kuasai, apa Kau sudah bisa merasakan adanya elemen air di dalamnya?” tanya Sang Guru, mengalihkan pembicaraan.
Menjawab pertanyaan sang Guru, si Murid menengadahkan tangan kanannya. Seketika di telapak tangan si Murid muncul sebercak lumpur.
Si Murid lalu menerangkan, “Mana air dan mana tanah, murid paham, Guru. Dalam wujud lumpur, mereka tampak menyatu, padahal tidak. Tanah, ya, tanah dan air, ya, air.”
Bercak lumpur di telapak tangan si Murid berubah menjadi tanah kering. “Dalam wujud tanah gersang tampak tidak terdapat air. Padahal kelembaban pada tanah tidak lain adalah air. Molekul air hampir menyelimuti sekalian alam. Baik dalam bentuk cair maupun gas. Selama masih terikat dua unsur hydrogen dan satu unsur oksigen. Murid merasakannya, Guru.”
Sang Guru mengangguk mendengar penjelasan muridnya. “Saat Kau bisa merasakannya, di situlah keyakinan bermula. Bagus, hari ini Guru akan menerangkan hakikat unsur tanah dan unsur air di tubuh manusia…”
--------------------------
Kembali ke aula Serikat Burung Kaliyangan yang berada di pusat Kota Samarinda. Gedung serikat berada tidak jauh dari tepi anak sungai Mahakam, Sungai Karang Mumus…
Dari dalam aula, Asna dan Iyan masih bisa memandang sungai Karang Mumus yang sedang mengalami pasang perbani. Mereka setia menunggu tes kedua yang akan diselenggarakan beberapa saat lagi.
Sambil menunggu, Asna dan Iyan beradu skill bermain catur. Itu dilakukannya secara online.
Ini gaya yang dilakukan anak muda sekarang untuk membunuh waktu dan kejenuhan. Sekaligus mengurangi rasa gugup karena ini kali pertama Iyan mengikuti tes kedua.
Hanya Iyan yang gugup. Sedangkan Asna terlihat tidak begitu peduli. Walaupun Ia tulus membantu Iyan memulai karir sebagai pejuang virtual.
Perjalanan karir seorang pejuang virtual tidaklah dimulai saat Ia menerima pengetahuan virtual. Melainkan saat Ia bergabung dalam sebuah komunitas pejuang yang memberikannya berbagai keuntungan dan menuntut kewajiban anggota.
Seyogyanya, seorang yang mendapat pengetahuan virtual harus membangun fondasi diri terlebih dahulu sebelum terjun dalam dunia profesi pejung virtual. Seperti yang telah mereka lakukan selama lebih dari dua bulan terakhir pada Gerakan Wira Muda SMA 25 Samarinda.
Setelah merasa memiliki fondasi yang cukup, pejuang virtual dapat memasuki suatu komunitas formal maupun non-formal.
Komunitas formal adalah komunitas yang harus ada dalam masyarakat untuk mempermudah tatanan kehidupan sosial. Baik yang diselenggarakan oleh pemerintah, swadaya masyarakat atau kerjasama antara keduanya.
Tapi ingat. Harus bukan berarti wajib!
Serikat Burung Kaliyangan salah satu dari sekian banyak komunitas yang diselenggarakan atas kerjasama pemerintah dengan masyarakat. Hanya saja masyarakat untuk urusan dunia tahayul dalam kasus ini adalah masyarakat tertentu saja.
Komunitas Serikat Burung Kaliyangan dibentuk untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan ketenteraman masyarakat dari gangguan makhluk virtual. Komunitas formal yang keberadaannya sudah menjadi kebutuhan primer.
Bergabung dalam komunitas formal tentu bakal ada jenjang karir yang menanti. Efek dari adanya hierarki dalam suatu organisasi.
Bagi mereka yang tidak dapat bergabung atau tidak ingin bergabung dengan komunitas formal serikat pejuang virtual, diperbolehkan membentuk komunitas sejenis, sebuah paguyuban.
Tentu saja ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi untuk membuat sebuah paguyuban pejuang virtual. Keberadaannya yang jelas tidak boleh merugikan masyarakat dan bertentangan dengan dasar Negara. Pancasila.
Sama halnya dengan serikat, dalam paguyuban ada pula jenjang karir yang menanti pejuang virtual. Bedanya, untuk meniti karir di paguyuban bisa lebih sulit atau bahkan lebih mudah dibanding di serikat.
Sebab, pemerintah tidak bisa mengatur rumah tangganya.
Paguyuban bebas intervensi? Tentu saja tidak. Dengan sebuah kebijakan, paguyuban bisa saja dilarang keberadaannya.
Asna dan Iyan paham kalau saat ini mereka akan mengikuti tradisi untuk menjadi anggota Serikat Burung Kaliyangan.
Tradisi khas yang berbeda-beda antara satu serikat dengan serikat yang lain.
__ADS_1
***