
Ch. 32 Bersatu, Biosilk!
Permen karet itu tidak ada rasanya di lidah Jiwa Senin. Di lain kesempatan Asna akan mencoba mewujudkan sistem indra pengecap.
Indra yang sangat penting untuk menikmati rasa makanan maupun minuman.
Dengan mengetahui rasa, Jiwa Senin dapat membedakan makanan basi atau tidak.
Seperti sekarang. Ia memakan permen karet tanpa bungkus. Tanpa rasa, Ia tidak tau permen karet itu masih baru atau sudah bekas dikunyah orang lain.
Mengambil barang orang lain adalah suatu kejahatan. Apalagi orang yang sudah mati.
Asna lalu terinspirasi memberikan nama Jiwa Senin dengan kode…
-- Darkmanday --
Usai bersolek, Darkmanday mulai turut menghajar pasukan tengkorak yang ada. Ia pun berteriak, “Akulah. Darkmanday!”
Darkmanday memukul dan menginjak tulang-tulang hingga remuk. Secara teori, tengkorak hanya akan bergabung dengan tulang yang masih utuh. Tulang yang patah tidak akan digunakan lagi untuk sementara waktu.
Sosok Jiwa Senin yang telah memiliki nama baru itu menghempaskan satu prajurit tengkorak yang hendak menebaskan pedang kepada seorang wanita. Tulang bagian depan pejuang tengkorak remuk.
Menggetarkan suara bak pahlawan, Darkmanday bertanya, “Kenapa kalian memprovokasi mereka ini?”
Wanita itu menjawab, “Sebelumnya terima kasih. Sebenarnya keberadaan Kami di sini untuk menyelamatkan boneka yang dimiliki teman Kami.”
“Boneka Biosilk kucing?”
“Y-ya…”
“Itu jelas punyaku! Ah, baiklah. Aku hanya perlu ke atas dan mengalahkan Raja Tengkorak. Lalu mengambil sesuatu yang sudah menjadi hakku…” pikir Darkmanday.
Berdasarkan pengamatan Jiwa Selasa, Raja tengkorak merupakan entitas yang terdiri dari milyaran kepala tengkorak dan membentuk sosok yang sangat besar. Kaki di lantai dua dan tingginya mencapai lantai lima. Bentuk istana menyesuaikan besar Raja Tengkorak sehingga setiap lantai yang di daki akan terlihat oleh Raja Tengkorak.
Tanpa basa-basi Darkmanday bergerak ke lantai berikutnya. Setiap prajurit tengkorak yang menghalangi akan dihancurkan satu tangan, satu kaki dan kepalanya. Dengan demikian, jumlah prajurti tengkorak yang terbentuk kembali, menjadi menyusut.
Di lantai kedua, Darkmanday menatap Tuwill yang dengan gagah berani bertarung. Sangat berbeda saat pertama kali bertemu tiga bulan yang lalu. Kalau saja saat itu berhasil membawa Tuwill, Asna sangat yakin kalau dia akan menjadi super hero.
Saat ini harapan itu sebenarnya semakin besar. Darkmanday cukup mengancam Gadis dan Tuwill dengan kekuatannya. Inilah alasan orang-orang yang memiliki kekuatan bisa berbuat semaunya.
Sembari mendekati Tuwill, Darkmanday terus menghajar prajurit tengkorak. Tidak terhitung banyaknya prajurit tengkorak yang telah dihajar.
Pergerakan Darkmanday sayangnya tidak kunjung mendekati Tuwill dan Gadis. Ini memuakkan Asna. Untungnya, Asna saat ini telah sampai di depan gerbang. Ia harus cepat turut masuk dan merebut Tuwill.
Neon seperti pria hidung belang yang birahi saat melihat kerumunan prajurit tengkorak. Ia langsung menerjang masuk. Permainan tongkatnya tidak cukup hebat, tapi masih bisa diandalkan. Belasan tengkorak terjatuh ke lantai karena kakinya hancur dihajar Neon.
Iyan tidak mau kalah. Sabetan Mandau berhasil menebas satu tengkorak. Dua, tiga hingga lima tengkorak lain ikut tertebas. Semua tengkorak yang ditebas Iyan kembali menyatukan tubuhnya. Teknik berpedang Iyan jelas tidak efektif.
__ADS_1
Asna mendekati Iyan seraya mengayunkan [B-Shock]. Bagian tulang prajurit tengkorak yang terkena serangan Asna langsung hancur. “Teknik yang digunakan harusnya menghancurkan, bukan membelah. Kau jelas tidak cocok berpedang, Yan,” terang Asna.
Ia lalu mengambil pedang Iyan dan menyimpannya dalam anjat. Dibanding menyayat, Iyan lebih jago meninju. Hal ini sangat dipahaminya.
Benar saja, setelah bertarung dengan tangan kosong, serangan Iyan jauh lebih efektif.
Godel yang sedari tadi berdiam diri, turut melakukan pergerakan. Gerakan menghindari serangan. “Aku akan naik duluan,” seru Godel. Ia lantas berlari menuju tangga.
Pergerakan Godel seperti itu mengingatkan Asna pada tugas mengikuti Samarinda Run. Godel terus dipertahankan sekolah dan menunggu tandem yang tepat. Alasan itu cukup logis memang.
Lima belas menit bertarung, prajurit tengkorak di lantai satu sudah dibereskan. Kini, selain Asna, Iyan dan Neon, ada 11 pejuang virtual tersisa. Mereka berlari menuju lantai dua.
Di lantai dua, Darkmanday sudah cukup dekat dengan Tuwill dan Gadis. Ia lalu menegur, “Hei, kalian! Lelah Aku mencari, ke mana saja kalian?”
“Siapa Kau? Aku tidak mengenalmu…” ucap Gadis kebingungan. Darkmanday menyahut, “Aku yang kemarin… coba saja Kau tanyakan Tuwill!”
“Dari mana Kau tau namaku Tuwill, meow?” Tuwill langsung protes.
Darkmanday menjelaskan kepada Tuwill bahwa Ialah yang telah merasuki Tuwill hingga bisa kabur dari rumah angker.
Tuwill ingat dengan kejadian itu. Tapi masih belum bisa mempercayai Darkmanday seutuhnya.
Sambil menerangkan, Darkmanday terus menghajar prajurit tengkorak yang mendekat. “Sebaiknya kalian kabur dulu dari sini! Kita akan berbincang lebih lanjut di luar.”
Gadis menolak, “Tidak bisa. Ada tiga teman Tuwill yang saat ini diculik prajurit tengkorak.”
“Kau tidak perlu risau, meow. Sampai sekarang kami belum menemukan manusia yang tepat. Menggunakan kelebihan kami sebetulnya sangat beresiko, meow…” sahut Tuwill yang juga masih ikut menghajar prajurit tengkorak.
“Seberapa besar resikonya?” tanya Darkmanday. Gadis ikut menjawab, “Resikonya kematian. Cara Biosilk bergabung dengan makhluk lain adalah dengan menerkamnya. Seseorang pernah mencoba dan tewas seketika.”
Asna yang pastinya mengetahui informasi baru itu mulai berpikir. Rasa ngeri menghantuinya. “Memaksakan Tuwill bergabung denganku akan sangat berbahaya ternyata. Aku tidak mau mati. Bagaimana kalau Ku coba pada Darkmanday?”
Asna yang sudah berada di lantai dua, sebenarnya mulai tidak bersemangat saat mengetahui ada Biosilk lain, selain Tuwill.
Persaingan menjadi super hero keren tidak terhindarkan.
Sebagai seorang gamer, Asna memang sudah biasa berkompetisi. Namun Ia lebih senang kalau menang dengan cara yang mudah. Kalau perlu, ya, pakai cheat atau cara curang lain. Akhirnya Ia memutuskan mencoba menggunakan Tuwill untuk dirinya yang lain, Darkmanday.
“Kalau begitu, cobalah menerkam diriku! Tubuhku ini sangat kuat…” Darkmanday membuat sebuah permintaan. Gadis dan Tuwill masih sangat ragu. Tapi situasi saat ini menuntut adanya improvisasi. Mereka benar-benar kewalahan menghadapi prajurit tengkorak yang seolah tiada habisnya.
Demi menyelamatkan teman-temannya, Tuwill bersedia menerkam Darkmanday yang tidak lain adalah orang asing bagi mereka. “Baiklah, meow… Katakan, ‘bersatu, Biosilk.’”
“Bukankah itu seperti Kamen Rider?! Kalau bergabung, bergabung saja! Tidak perlu bacot-bacotan…” protes Darkmanday. Tuwill menepuk dahinya mendengar protes Darkmanday. “Bisa dibilang itu suatu permintaan, meow. Sudahlah… ikuti saja skenarionya, meow!”
Dengan gaya seperti Kamen Rider, Darkmanday berseru, “Bersatu, dong, Biosilk!”
Tubuh Tuwill menyala, diikuti dengan mulutnya yang terbuka lebar. Tuwill menerkam Darkmanday seutuhnya lalu kembali ke bentuknya yang awal. Boneka kucing setinggi 40 senti meter. “Tuh, kan, meow,” ucap Tuwill.
__ADS_1
Darkmanday benar-benar sudah ditelan!
Begitu Tuwill berpindah tempat, sosok Darkmanday terlihat, sedangkan Tuwill berubah menjadi kain cokelat, hitam dan ungu.
Sejurus kemudian tubuh Darkmanday sepenuhnya terbungkus kain cokelat.
Bagian kain yang bercorak hitam membalur pinggang, membentuk sepatu pada kaki, sarung tangan dan membentuk pola batik khas Kaltim pada bagian kiri wajah.
Kain ungu panjang membentang menutupi kepala, melilit di leher terus menjuntai panjang ke belakang. Ini sudah sama persis seperti Super Hero!
Pejuang virtual yang hadir bertepuk tangan. Begitupun dengan prajurit tengkorak. Neon bersiul-siul kagum.
Asna belum pernah sesenang ini. Dielu-elukan.
Darkmanday berjingkat-jingkat seperti penari balet. Kemudian memukul kepala prajurit tengkorak sampai remuk.
Sadar kalau sedang berperang, prajurit tengkorak kembali melakukan pertarungan dengan pejuang virtual.
Tidak ingin berlama-lama melawan prajurit kroco, Darkmanday langsung mendaki Raja Tengkorak yang hanya terlihat kakinya saja di lantai dua.
Saat ini Gadis menatap dengan senyuman ke arah Darkmanday. Ia pun membatin, “Akhirnya Tuwill menemukan orang yang tepat…”
Lengah, Gadis terkena tinjuan seorang prajurit tengkorak. Beberapa prajurit tengkorak berpedang mulai mengayunkan pedang kepada kepada Gadis. Untungnya Gadis masih bisa menangkis pedang dengan kedua tangannya yang menggunakan sarung tangan khusus dari kulit.
Asna melemparkan [B-Shock] untuk membantu Gadis. Bagian tubuh tengkorak yang terkena [B-Shock] hancur berantakan.
Tanpa [B-Shock], Asna mendapat berbagai pukulan dari prajurit tengkorak. Iyan datang membantu tapi kemudian terdesak. Neon yang berada tidak jauh dari Iyan ikut melindungi Asna dengan pukulan tongkatnya. Gelombang serangan prajurit tengkorak terus bermunculan dari tubuh Raja Tengkorak.
Di saat pertarungan tengah berlangsung di lantai dua, Jiwa Selasa meneliti tubuh Raja Tengkorak sejak beberapa waktu yang lalu.
Dari pandangan Jiwa Selasa, di dalam tubuh Raja Tengkorak terdapat aktivitas manusia kerdil sedang memproduksi prajurit tengkorak.
Rel-rel memutar panjang menjalankan tulang belulang di atas lembaran hitam. Tulang-tulang itu secara bertahap masuk ke dalam tiga buah tabung. Tabung pertama menyusun, tabung kedua merekatkan, dan kemudian diberi roh. Pemasangan baju zirah perunggu pada tabung ketiga menjadi proses akhir pada produksi ini. Aktivitas yang tidak ubahnya seperti pabrik tengkorak.
Lebih mendekat pada proses produksi, Jiwa Selasa melihat sebuah kurungan yang di dalamnya ada tiga Boneka Biosilk. Ada papan nama dan penjelasan tentang ketiga boneka itu.
Boneka kucing hitam bernama --Lusi--, Biosilk macan dahan bernama -- Faris-- dan Biosilk beruang madu bernama -- Benjo --.
Seorang nenek tua bungkuk tampak mengambil Biosilk kucing hitam, Luci. “Bersatulah… Biosilk!” ujar si Nenek.
Luci memijar, membuka lebar mulut, lalu menerkam si nenek.
Tubuh si nenek sempat masuk ke dalam perut sebelum akhirnya Luci berubah menjadi kain hitam. Kain ini membalur seluruh tubuh si Nenek, membentuk lekukan tubuh wanita dewasa yang menarik perhatian pria hidung belang.
Seluruh tubuh tertutup, kecuali bagian sekitar hidung hingga dagu. Kulit keriputnya hilang seketika, berubah mulus dengan bibir merah merekah.
Kain hitam kembali membalur, membentuk selendang yang terus melambai, ada atau tanpa angin.
__ADS_1
“Hihihi… Aku akan menebar pesonaku di bawah sana… Hihihi…” Si Nenek segera menghilang.
***