
Ch. 20 Nini Seke Menyusup
Iyan melirik ke arah Asna dan bertanya, “Kemana Kakak senior yang satunya, Na?”
Menjawab pertanyaan Iyan, Asna menunjuk ke keramaian di tenda panitia. “Kak Timpakul! Dia selalu berada di tempat yang ramai. Aku suka gayanya!” jawabnya.
Timpakul sebenarnya adalah nama hewan air yang hidup di pulau Kalimantan. Tidak seperti ikan pada umumnya, hewan ini gemar berkumpul di atas batang kayu yang mengambang pada pinggiran sungai.
Seseorang yang diberi gelar timpakul adalah tipe orang yang lebih mengutamakan keramaian dalam pertemanan. Saat pertemanan itu mulai sepi, dia “out” begitu saja mencari kawan lain yang lebih ramai.
Aktivitas peserta sebelum jurit malam tentu saja melakukan persiapan. Mempersiapkan fisik dan mental. Secara fisik, peserta harus dalam keadaan sehat wal afiat. Harus sudah mengisi kantong tengah, yaitu makan dan minum secukupnya.
Selain fisik harus bugar, peserta tidak boleh dihantui ketakutan. Ragu-ragu sebaiknya mundur dan jadi penonton. Ketakutan jelas akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain.
Demi keamanan, peserta diwajibkan mengenakan equipment. Kalau tidak punya, ya, seadanya. Artinya kewajiban yang tidak dipaksakan.
Memiliki satu juta sembilan ratus ribu koin virtual di kantong, tentu saja tidak ada alasan bagi Asna untuk tidak memanfaatkannya. Asna mengajak squad untuk pergi berbelanja di tenda Arnabshop.
Melihat Asna kesulitan mengenakan vest dari perunggu, Iyan langsung berkomentar, “Kau tidak bisa membeli item bagus kalau statusmu rendah, ***!”
“Beli yang sesuai dengan statusmu, lah, Na. Ini...” sahut Irvan seraya memberikan rompi motif kotak-kotak yang biasa dipakai siswa sekolah dasar.
Asna mengambil rompi yang disodorkan Iyan. Ia sedikit termangu dengan kondisi saat ini.
Sambil menatap status pertarungannya, Asna berpikir, “Ku pikir statusku ini cuma sekedar kesalahan. Nyatanya angka-angka ini memang menunjukkan status pertarunganku! Untung Aku punya itu…”
“Hihihihi… Hahaha….” Irvan tidak dapat menahan tawa setelah Asna menerima rompi tersebut.
Asna hanya memandang rompi yang diberikan Irvan yang saat ini ada di tangannya. “Ah, pintarnya Kau, Yan! Pakai ini membuatku terlihat bodoh.”
Ia lalu berpaling pada Arnabshop. “Rekomendasikan Aku set equipment yang sesuai dengan statusku…!” pinta Asna.
Segera Arnabshop mengeluarkan satu set seragam olah raga sekolah dasar. Melihat seragam itu, Asna menggebrak meja. “Tidak adakah item yang terlihat lebih dewasa?! Kenapa juga Kau jual perlengkapan anak SD di sini? Aku jamin tidak pernah laku!”
Arnabshop melirik ke salah seorang pelanggan yang mendekati Asna. “Kau harus menerima takdir, bos. Status rendah, kok, milih-milih? Terima saja!” ujar si pelanggan yang kala ini mengenakan seragam sekolah dasar.
“Ya, Kau benar. Tapi tolong berikan Aku model lain. Ku mohon,” rengek Asna.
Akhirnya untuk equipment yang dikenakan, Asna hanya menggunakan rompi dan sarung tangan dari kulit kayu. Item yang menambah VIT +2 dan STR +1 serta sepatu ringan untuk meningkatkan INT +1. Item yang lebih murah dan rendah dari seragam sekolah dasar.
Sisa koin virtual Asna gunakan untuk mentraktir anggota squad membeli equipment yang cocok bagi mereka.
Koin virtual Asna hanya tersisa 112 keping setelah Ia membeli obat-obatan dan beberapa daging.
------------------------------------------
Tepat pukul delapan malam, peserta mulai meninggalkan bumi perkemahan secara periodik. Satu squad per sepuluh menit. Ada lima belas squad yang terdaftar.
Squad Asna menjadi yang pertama pergi karena menggunakan nama “perintis” pada squadnya, Perintis Jalan Skuad Kesetanan. Awalnya Iyan dan Irvan menganggap nama ini hanyalah nama lelucon. Rupanya Asna memang berencana menjadi squad yang paling pertama pergi untuk merintis.
Dalam kelompok Asna tidak tampak Timpakul di sana. Asna berlari di barisan kedua dari depan dalam squad. Tepat di belakang Mawart. “Dengan begini, Aku bisa lebih cepat melaksanakan jurit malam. Semoga tidak ada hal-hal menyusahkan terjadi…” pikirnya.
Walaupun di sepanjang perjalanan Asna sering menemukan sepasang mata merah yang mengintai, Ia masih tampak menikmati jurit malam.
Iyan berlari lebih kencang menghampiri Asna. “Seharusnya Kita menyimpan tenaga untuk melewati pos demi pos dengan santai,” ujarnya.
Mendengar perkataan Iyan, Irvan menyahut, “Inginnya seperti itu. Tapi kalau Kita lambat bergerak, makhluk virtual liar bisa menghambat pergerakan Kita.”
Benar saja, sekawanan serigala bertanduk dan berbulu kambing yang semula hanya mengintai mulai menunjukkan sosoknya. Itu Goathair Wolf. Predator yang hampir selalu ada di dunia virtual.
Asna yang semula mengetahui keberadaan Goathair Wolf telah membeli banyak daging sebelum berangkat. Sehingga sangat mudah melewati kawanan ini.
Asna cukup memberi mereka daging. Kawanan itu untuk sementara waktu dapat ditangani.
Sembari mempercepat pergerakan, Irvan mengomentari keputusan Asna. “Ku pikir Kau beli daging untuk makan Kita besok pagi. Ternyata buat guguk. Boleh juga…”
“Sepertinya status INT bukan kecerdasan yang sesungguhnya. Hehehe…” balas Asna dengan nada bercanda.
__ADS_1
Irvan mengernyitkan dahi saat mendengar balasan Asna. Selama ini Asna adalah siswa yang lebih cerdas dari dirinya. Tapi anehnya status INT Asna hanya ada satu poin seperti yang tertera pada [Ordinary Stone].
Tanpa ada halangan dari makhluk virtual liar, Perintis Jalan Skuad Kesetanan tiba di pos satu dalam waktu kurang dari enam menit. Irvan langsung melapor kepada tim penguji untuk mengikuti ujian yang disiapkan.
“Tidak perlu tergesa-gesa melewati halang rintang di pos ini. Ku lihat Timpakul tidak ada di squad kalian. Sebaiknya kalian menunggu gadis aneh seperti dirinya. Bersantailah…” ujar seorang tim penguji.
Iyan memandang tebing curam nan vertikal. Tebing itu di penuhi benang-benang berwarna-warni seperti nylon. “Kenapa kita tidak langsung ke sana?” tanya Iyan kebingungan. Dengan kondisi tubuh yang masih sangat bugar, Iyan tentu saja memiliki semangat yang tinggi untuk mengikuti ujian.
“Ini tidak cucok!” seru Mawart sembari memandang ke kedalaman hutan yang ada di sekitar pos satu. Sebagai yang terkuat kedua setelah Timpakul di Perintis Jalan Skuad Kesetanan, Mawart merasakan adanya tekanan dari luar pos.
Melihat Mawart sedang resah, seorang tim penguji datang menghampiri. “Aku juga merasakan ada tekanan yang tidak biasa sejak beberapa menit yang lalu. Satu orang dari Kami sedang memeriksa lingkungan di sekitar sini.”
Asna tampak santai, berdiri di belakang Iyan dan Irvan yang sedang mengobrol. Padahal di saat yang bersamaan, Jiwa Senin telah menemukan pergerakan dari orang-orang berjubah putih.
Dengan santainya Jiwa Senin bergerak ke arah asal orang-orang berjubah putih itu datang.
“Delapan, Sembilan, sepuluh…” Jiwa Senin menghitung semua orang berjubah putih yang ditemuinya. Sampai akhirnya Ia bertemu dengan kerumunan orang berjubah sama yang terus keluar dari lubang virtual.
Di antara kerumunan, seorang dengan equipment silver di balik jubah putih berseru rendah, “Cari dan bunuh tiga anak itu segera!” Suara orang tersebut terdengar seperti nenek penyihir.
Mendengar perintah nenek tersebut, puluhan orang berjubah putih pergi meninggalkan lokasi.
Si nenek membuka tudung jubahnya hingga tampak wajah keriput yang dipoles dengan riasan pengantin. Dia adalah nenek dari Bovak, Nini Seke.
Nini Seke adalah seorang pejuang virtual veteran yang cukup dikenal karena kepelitannya hampir dalam segala hal. Termasuk pelit terhadap kematian cucunya yang tidak lain karena salah cucunya sendiri.
Ibunda Bovak menarik jubah Nini Seke dengan wajah memelas. “Ni… Sudahlah. Aku sangat ikhlas dengan kematian, Bovak.”
“Kau memang seperti bapakmu yang dengan enaknya melepas sesuatu. Aku yang memelihara Bovak. Aku yang sangat kehilangan!” tegas Nini Seke.
“Aku mengerti, Ni. Tapi yang begini malah akan membuat Kita mendapat masalah… Membayar orang malah membuat uangmu berkurang.”
“Kau pikir Aku sedermawan itu? Aku berbohong kepada mereka. Sekarang Kau cukup lihat. Tidak perlu Kau berkomentar lagi!” tandas Nini Seke. Ia lalu membuat sebuah pola denga jarinya ke arah ibunda Bovak. Seketika guratan cahaya terbentuk lalu membuat sebuah kurungan.
“Ibu…!” seru Ibunda Bovak. “Membalas dendam tidak mengubah segalanya. Toh, anakku yang lain lebih ganteng dari Bovak!” lanjutnya.
Nini Seke meraung marah. Ia tidak terima dengan perkataan anaknya sendiri. “Sejelek-jeleknya Bovak, Ia tetaplah cucuku. Milikku! Kalau Kau bicara lagi, Aku potong kakimu!”
Tiba-tiba leher orang tersebut ditebas Nini Seke dengan pedang. “Yang Ku maksud adalah kaki lidahnya, biar tidak lari ke mana-mana!”
Kepala seseorang yang tertebas itu masih dapat berbicara. “Lidah tidak punya kaki, Ni! Carilah kosa kata lain!”
Jiwa Senin menyaksikan drama tak bermutu yang terjadi antara Ibu dan Nenek Bovak. “Beginilah kalau Kau jarang membaca. Miskin diksi dalam percakapan.
“Makanya penting untuk mengunduh aplikasi novel atau komik yang mementingkan kualitas teks di atas segalanya. Cari developer yang mereview tulisan sebelum dipublish, itu adalah langkah yang sangat baik!” ujar Jiwa Senin sembari melayang menuju lubang virtual.
--------------------------------
Di saat ini Perintis Jalan Skuad Kesetanan telah diperbolehkan melewati rintangan pertama ujian. Mawart yang paling pertama mencoba mendaki dengan hanya boleh menggunakan kekuatan dan daya tahan.
Sehelai benang tipis berada di telapak tangannya. Lebih tepatnya rambut dari makhluk virtual Hairy Woo! Menarik terlalu keras rambut itu bisa membuat Hairy Woo membalas dengan membelitkan rambutnya kepada semua pejuang yang mendaki.
“Keynya ntu ada di pusar kekuatan Kita. Di udel!” ujar Mawart sambil memperlihatkan perutnya yang buncit.
Ia lalu menunjuk wajah Irvan dan Iyan. “Ganteng, ganteng, kudu mengontrol udel biar si kekuatan menyebar di badan. Cus, tekanan pade tarikan bisa diminimize, beib,” terang Mawart.
Irvan menggaruk kepalanya saat mendengar penjelasan Mawart. “Yang seperti ini Aku belum pernah belajar!”
Maksud Irvan, Ia tidak pernah belajar dengan manusia seperti Mawart.
“He-eh!” sahut Iyan. Setali dua uang dengan Irvan.
Asna mendekati Mawart. “Bisa Kau contohkan, beib?” tanyanya.
“Kau itu, lho, Na. Gak usah panggil Aike beib. Kau, kan, gak ganteng!” protes Mawart. Asna tersenyum polos seraya membalas, “Hehehe… Contohnya donk, bosku! Biar mereka mengerti…”
“Engkau seperti paham-pahamnya aja!” sahut Mawart yang mulai membelai rambut Hairy Woo. Sejurus kemudian Ia berjalan secara vertikal dengan bertopang pada rambut.
__ADS_1
Seorang tim penguji berlari ke arah Squad Penjaskes. Ia pun berteriak, “Kalian, cepatlah naik!”
Mendengar teriakan tim penguji, anggota Squad Penjaskes menoleh.
“Sepertinya ada yang tidak beres,” ucap Mawart.
Ia urung mendaki dan malah berencana menemui tim penguji.
-----------------------------------
Di saat Squad Penjaskes melalui ujian di pos satu, aktivitas lain terjadi di suatu rumah mewah kawasan elit Kota Samarinda.
Plafon ruang makan rumah mewah tersebut seketika dijebol seorang pencuri.
Kalau Asna bertemu dengan pencuri ini, maka Ia akan segera tau, pencuri inilah yang digebuknya pada malam pertama Ia menjadi pejuang virtual.
Dia adalah…
--Godel Si Maling--
Fokus pertama Godel dalam aksinya kali ini adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan manusia. Yaitu nutrisi, alias makanan.
Rupanya Ia sudah dua hari bersembunyi di rumah tersebut hanya untuk menunggu momen mencuri.
Pencuri waras tentu saja akan menunggu momen. Momen pada saat rumah dalam keadaan sepi.
Kalau rumah target dalam keadaan ramai, itu bukan mencuri namanya. Tapi merampok.
Namun karena Godel hanya seorang diri, mengemis lebih cocok Ia lakukan ketimbang merampok.
Lapar yang tidak tertahankan mengharuskan Godel mengisi perutnya terlebih dahulu. Segera Ia membuka tutup saji di meja makan dan melahap apa yang ada di sana.
Saking lahapnya makan, Godel tidak sengaja mengunyah garpu.
Sebagai seorang pejuang virtual, Godel memiliki gigi yang lebih keras daripada besi. Tak heran garpu yang dikunyahnya menjadi tercabik-cabik.
Sekuat apapun gigi, memakan garpu tetaplah tidak enak. Godel lantas memuntahkan garpu ke meja makan.
Garpu pun jatuh berserak di meja makan bersama dengan dua buah gigi Godel. Plus tetesan darah.
Gigi Godel memang lebih kuat daripada garpu, tapi tidak dengan gusinya.
Gusi Godel sama seperti gusi manusia pada umumnya…
Puas makan dan mengunyah garpu, Godel berkumur-kumur di westafel dan bergegas pergi ke toilet. Ada racun di dalam perut yang harus Ia buang. Racun yang terus ditahannya selama melakukan pengintaian.
Sekeluarnya dari toilet, Godel tampak memegang sebuah batu sebesar kelereng yang di dalamnya ada fosil kepiting. Ia lalu membisikkan mantera pada batu tersebut. “Yuk, yayu… keluarlah…”
Batu di genggaman Godel berpijar.
Cahaya dari batu meresap ke tubuh Godel dan mengubah permukaan kulitnya menjadi karapaks. Sesudahnya lengan kiri Godel berubah menjadi sapit.
Tubuhnya terus mengalami perubahan.
Perubahan yang tidak mengenakkan Godel adalah kaki. Jumlahnya kini bertambah menjadi tiga pasang. Akhirnya Ia harus berjalan miring. Persis seperti kepiting.
Seperti halnya Rode yang bersekutu dengan makhluk spiritual Bronzehair Bekantan dan menjadi Pendekar Bekantan, Godel sekarang menjadi Pendekar Yuyu…
Tidak ingin berlama-lama, Godel bergerak dengan cepat ke sebuah dinding dan berupaya membuat lubang.
Lubang terbentuk.
Dengan senyum kemenangan, Godel menatap ruang penyimpanan harta yang saat ini tanpa penjagaan.
Pada dinding ruangan tertempel foto-foto anggota GWM SMA 25 Samarinda yang menggebuk Bovak. Salah satu foto menjadi perhatian Godel. Itu foto Asna.
“Orang ini…” Sedikit teralih perhatiannya, Godel tidak menyangka ada seorang berjubah putih mengayunkan parang ke punggungnya.
__ADS_1
***