
Ch. 19 Jurit Malam
Pada Malam hari, di hari Asna dan Iyan mengikuti tes di serikat Burung Kaliyangan.
Asna dengan santai membaca buku pelajaran untuk semester berikutnya. Gaya belajar yang membuatnya bisa menembus ranking lima besar di kelas secara konsisten. Gaya itu sudah diterapkannya sejak sekolah dasar.
Saat si Mesum memilih untuk belajar, Iyan malah duduk di atas kasur. Memejamkan mata. Melatih pikirannya untuk meningkatkan status INT. Ini menunjukkan obsesinya untuk menjadi pejuang virtual hebat sangatlah tinggi. Mengalahkan hal-hal lain seperti pelajaran di sekolah.
pikiran Iyan seketika buyar setelah mengingat peristiwa yang terjadi di Serikat Burung Kaliyangan. Ada dewa penolongnya pada saat itu.
Ingin sekali Ia mengkonfirmasi hal tersebut kepada Asna. Yaitu melalui pertanyaan frontal. Tapi urung Ia lakukan karena sahabatnya yang mesum itu sedang melakukan kegiatan positif. Belajar.
Daripada mengganggu Asna yang bisa beralih ke kegiatan negatif, Iyan memilih untuk tidur. Ia memang perlu mempersiapkan fisik dan mental untuk mengikuti Upacara Kenaikan Tingkat dan Pelantikan Anggota Baru di GWM SMA 25 Samarinda.
-----------------
Singkat cerita...
Sehari sebelum Upacara Kenaikan Tingkat dan Pelantikan Anggota Baru digelar, para anggota Gerakan Wira Muda terlebih dahulu berkumpul di dunia virtual. Mereka bersiap untuk melakukan ritual apel pembukaan untuk menyelenggarakan tradisi ujian dari para senior, Jurit Malam.
Pada apel pembukaan, calon anggota yang mayoritas berasal dari siswa kelas 10 dikumpulkan dalam satu barisan dan mengucapkan janji sebagai calon anggota GWM. Janji pertama untuk sang Pencipta, janji kedua untuk Bangsa dan Negara, dan janji ketiga untuk sesama makhluk hidup.
Dengan mengucapkan ketiga janji ini, anggota GWM terikat pada cita-cita luhur untuk membangun masyarakat. Hal ini sejalan dengan profesi mereka sebagai Pejuang Virtual yang tidak lain menjaga masyarakat dari gangguan makhluk virtual.
Acara pembukaan ditutup dengan membaca syair rahasia GWM 25 Samarinda yang berjudul, “Pataka di Medan Perang.” Pembacaan syair rupanya dilakukan oleh Rode.
Siswa yang sempat berseteru dengan Iyan dan Asna ini membawa senjata khas Kalimantan di pinggangnya, Mandau.
Setelah berdiri di tengah lapangan upacara, Rode mulai bersyair…
Pataka di medan perang
Simbol atau hanya sekedar simbol?
Panji membara jiwa
Martabat ibu pertiwi yang bersemayam di dadaku
Pataka itu adalah simbol… dan simbol itu adalah diriku…
atau…
Panji membara jiwa
Martabat ibu pertiwi yang pantas kau pertahankan
Panji itu hanya sebatas simbol… dan dirimu tetaplah dirimu…
Usai bersyair, Rode menarik Mandau dari sarungnya. Terlihat bilah Mandau mengeluarkan cahaya kuning nan bening yang memancar ke wajah para peserta upacara pembukaan. Sejurus kemudian Rode menancapkan senjata itu ke dalam tanah. Lantas Pak Haris berjalan mendekat dan mengambil sarung Mandau dari Rode.
Pak Haris kemudian memegang hulu Mandau yang tertancap di tanah. “Dengan dibacakannya Syair Rahasia dan ditancapkannya [Resurrection Mandau], maka rangkaian tradisi untuk upacara kenaikan tingkat Gerakan Wira Muda SMA 25 Samarinda telah dimulai. Kalian yang tewas di dunia virtual ini, akan dibangkitkan selama [Resurrection Mandau] tertancap. Masing-masing peserta jangan lupa untuk menyentuhnya…” terang Pak Haris.
Setiap anggota GWM berjalan munuju [Resurrection Mandau] dan menyentuhnya. Di mulai dari para senior, lalu dilanjutkan anggota baru.
Item seperti [Resurrection Mandau] sangatlah langka. Biasanya hanya ada satu dalam suatu komunitas. Dibuat oleh ahli tingkat tinggi dari kalangan pejuang virtual terdahulu. Pembuatnya sangat dirahasiakan karena benda yang Ia ciptakan itu sangat vital dalam peperangan. Prajurit yang mati di dunia virtual dapat hidup kembali asal sebelumnya menyentuh item resurrection.
Irvan mendekati Asna dan Iyan. “Kalau Kau ingin tau rasanya mati, inilah saatnya. Hehehe…”
__ADS_1
“Soplak! Setelah mati, Kau baru kembali hidup saat acara penutupan!” sahut Iyan.
Irvan tertawa mendengar sahutan Iyan. Keberadaan [Resurrection Mandau] memang sedikit memberikan rasa aman pada anggota GMW 25 Samarinda.
Sayup-sayup terdengar teriakan seorang senior. “Mohon untuk bekerja sama. Jangan sampai ada yang mati dalam kegiatan ini! [Resurrection Mandau] hanya bisa menyimpan tiga jiwa. Saat sudah ada dua jiwa di dalam [Resurrection Mandau], acara kita hentikan!”
Wajah Irvan sedikit berubah saat mendengar pemberitahuan tersebut. “Ku harap Kalian tidak tuli…” ujar Iyan seraya berjalan mendahului Irvan dan Asna.
Keberadaan [Resurrection Mandau] memang sedikit memberikan rasa aman pada anggota GMW 25 Samarinda. Hanya sedikit karena jatahnya cuman tiga.
Mati di dunia virtual akan seolah nyata selama masih ada benda misterius yang dapat membangkitkannya. Sayangnya [Resurrection Mandau] hanya bisa membangkitkan tiga orang anggota GWM yang tewas di dunia virtual. Jadi, saat kuota tiga orang terpenuhi, mati artinya mati.
Datang duluan, Iyan menjadi yang pertama memegang [Resurrection Mandau] sebelum Asna dan Irvan. Asna lebih memilih untuk memegangnya setelah Irvan.
Seperti biasa, ketika Asna mengikuti suatu aktivitas, jiwanya yang lain turut berkeliaran. Kali ini bahkan Asna dapat mengeluarkan dua jiwa dari raganya untuk melihat persiapan panitia pada ujian anggota nanti malam. Asna menyebutnya, Jiwa Senin dan Jiwa Selasa. Jiwa Senin untuk mengawasi Rode, Jiwa Selasa untuk mengamati lingkungan di luar.
Jiwa Senin menandakan semangat hari kelahiran Asna yang bertepatan pada hari Senin. Bagi Asna, hari Senin merupakan hari di mana para wanita karir dan gadis-gadis sekolah umumnya mengenakan seragam yang telah dicuci dan disetrika rapi. Wajah ceria sangat nampak di wajah mereka. Tak heran, sejak sekolah dasar, Asna sangat senang bergerilya menyapa para gadis di hari Senin.
Jiwa Selasa menandakan gelora jiwa Asna yang terpendam. Pada hari-hari Selasa, Asna lebih senang bermalas-malasan untuk memandang keindahan yang terpancar dari para gadis. Asna sangat malas bergerak pada hari itu. Sebab energinya sudah terkuras pada hari Senin. Ia akan kembali beraksi di hari Rabu. Itupun kalau panjang umur, sih.
“Harusnya Kau memberinya nama jiwa muda, ******!” seseorang tiba-tiba berbisik di telinga Asna.
Sekonyong-konyong Asna menjawab ketus, “Itu terdengar seperti ‘istri muda’ di telingaku!”
Setelah beberapa detik tidak ada tanggapan dari orang yang berbisik, Asna penasaran dengan siapa yang tadi berbisik di telinganya. Asna pun menoleh.
Seketika bibirnya menjadi bergetar.
“J-Jiwa Muda itu nama yang bagus! Ya, tidak ada yang lebih bagus dari nama itu!” ujar Asna, gelagapan.
Sebuah pukulan mendarat di kepala Asna hingga membuatnya tersungkur di tanah. Pukulan dari seorang yang telah menjebaknya bergabung Paguyuban Tutur Pusaka.
“Kau menyindirku punya istri muda, hah?! Kau benar-benar tidak sayang dengan nyawamu, ******!” umpat Datu Busu seraya menginjak-injak punggung Asna. Orang-orang di sekitar tidak bisa berbuat apa-apa.
Itu bagus.
Pukulan kepada pejuang virtual termasuk latihan.
“Ampun datu… ampun…” Asna memelas di kaki Datu Busu dengan wajah hampir menangis. Asna tidak pernah menyangka Datu Busu akan datang.
Pak Haris menghampiri Asna dan Datu Busu. “Oh, rupanya Datu mengenal Asna…”
“Dia budakku! Bagaimana Aku tidak kenal?” sahut Datu Busu. Ia lalu berjalan bersama Pak Haris meninggalkan Asna dan teman-temannya.
Irvan dan Iyan segera menghampiri Asna dan membantunya berdiri. “Sialnya Kau, Na. Bukankah Dia Kakek di rumah sakit waktu itu?” ujar Iyan. Asna tidak berani menyahut perkataan Iyan karena takut Datu Busu akan kembali.
Tidak mendapat tanggapan dari Asna, Iyan melanjutkan, “Kata Ayahku, kakek itu pimpinan paguyuban pahlawan lokal. Aku ingin sekali bergabung dengan komunitas seperti itu.”
“Sudahlah. Kau jangan berkata yang bukan-bukan tentangnya. Kau bisa kualat!” ujar Asna. Ia lalu ikut memegang hulu [Resurrection Mandau]. Sejurus kemudian Asna bertanya, “Ke mana Kita sekarang?”
“Ke situ!” jawab Irvan yang menunjuk ke arah salah satu tenda dengan bibirnya.
Di dalam tenda yang ditunjuk Irvan, para senior yang berjumlah tiga puluh orang berdiri di depan para calon anggota baru.
Seorang panitia berjubah kulit kayu memberikan arahan, “Tradisi malam ini ditujukan kepada para anggota baru dan anggota lama yang akan mengikuti upacara kenaikan tingkat besok.
“Anggota lama dapat dengan bebas memilih calon anggota untuk membentuk sebuah squad. Antara empat hingga enam orang.
__ADS_1
“Setiap squad akan diuji oleh tim penguji dari panitia pelaksana yang terbagi dalam empat pos. Tiap pos akan menguji STR, VIT, INT, DEX, dan MEN yang selama ini kalian tingkatkan. Ada pertanyaan?”
Teman sekelas Asna, Addin mengangkat tangan kanan. Seorang panitia berseru kepada Addin, “Biasakan mengangkat tangan kiri saat minta izin bicara. Silahkan bertanya.”
“Ya, Aku mohon maaf. Tadi dikatakan kalau anggota lama dapat dengan bebas memilih anggota squad mereka. Kenapa Kami tidak?” sahut Addin.
Panitia tersebut menjawab, “Pertanyaan dari orang yang berani. Mulai sekarang sampai upacara pelantikan besok, kalian calon anggota harus paham posisi seorang calon.
“Kalian hanya memiliki hak berbicara setelah diberi kesempatan bicara. Selebihnya kalian wajib diam. Seperti yang tertera di papan pengumuman, depan tenda ini.
“Aku ingatkan. Hanya ada dua aturan yang wajib kalian taati. Pasal pertama, panitia selalu benar. Pasal kedua, apabila panitia melakukan kesalahan, maka kembali ke pasal pertama.”
Suasana menjadi hening setelah panitia menjawab pertanyaan Addin. Mereka paham kalau panitia memegang kendali dan bertanggung jawab penuh terhadap peserta.
“Kalau tidak ada lagi sanggahan, kita lanjutkan pada tes status pertarungan. Setelahnya kami minta para senior yang menjadi peserta melakukan perekrutan anggota. Waktunya lima belas menit. Silahkan…”
----------------------------------------
Dua jiwa Asna terus bergentayangan dengan keponya. Jiwa Selasa mencari peta jalur dan letak pos yang harus mereka lewati. Sekaligus menggali informasi tentang jenis dan bentuk ujian yang akan Ia terima. Sedangkan Jiwa Senin masih mengamati gerak-gerik Rode yang belum menunjukkan tanda-tanda akan memasuki ruang rahasia warisan.
Saat ini Jiwa Selasa sedang mendengarkan rapat persiapan tim penguji yang sudah berlangsung selama sejam. Dari rapat tersebut diketahui bahwa jarak dari bumi perkemahan ke pos empat setidaknya 10 kilo meter. Jarak itu dapat ditempuh dalam durasi dua setengah jam dengan berjalan kaki.
Sejauh pengetahuan Asna, pos satu akan menguji kekuatan (STR) dan daya tahan (VIT) peserta ujian. Pada ujian itu, besar poin STR dan VIT tidak menjadi patokan. Para peserta akan melalui halang rintang yang membutuhkan efektivitas dan efisiensi penggunaan STR dan VIT. Yaitu rintangan dalam mendaki bukit ****.
Pos dua akan menguji STR dan kelincahan (DEX). Ada rintangan berupa serangan kawanan gagak putih saat melompati jurang,
Rintangan pada pos tiga adalah meniti jembatan bergerak untuk menyeberangi jurang sejauh tiga ratus meter. Rintangan ini untuk menguji intelijensia (INT) dan mentalitas (MEN) peserta ujian.
Ujian terakhir yaitu menguji VIT dan MEN peserta ujian yang akan dilakukan di pos empat. Peserta cukup beristirahat selama lima menit di dalam barak.
Sambil istirahat peserta akan dihajar oleh manusia ****. Tanpa boleh melawan balik.
Semua ujian sangat tidak cocok dengan status pertarungan Asna saat ini. Kabar baiknya, panitia akan memberikan perlakuan khusus pada Asna sebagai calon anggota yang paling disukai.
Mengetahui hal ini, Asna merasa enak diperlakukan seperti itu.
Beralih ke Jiwa Senin…
Saat ini Rode tidak beranjak dari bumi perkemahan. Selayaknya senior dengan posisi penting, Rode berjalan kesana-kemari melihat persiapan setiap unit kepanitiaan.
Bahkan dua kali sudah Jiwa Senin bertemu dengan Jiwa Selasa. Pertemuan ini bagi Asna sangat mubazir. Menjalankan tiga pikiran sekaligus tentu saja membutuhkan MEN dan INT yang tinggi pula. Terlebih status Asna sangatlah rendah. INT dan MEN masing-masing 1 poin.
Setidaknya Asna masih bersyukur karena situasi masih aman. Ia jelas tidak ingin mati di sini.
Perekrutan anggota squad yang dilakukan para peserta senior telah usai. Takdir menentukan Asna, Iyan dan Irvan tergabung dalam satu squad dengan dua pejuang kuat di GWM SMA 25 Samarinda. Mereka adalah Timpakul dan Lelaki Keibuan, Mawart, yang beberapa waktu lalu ikut menggebuk Bovak.
Irvan mendapat wewenang menjadi pemimpin squad. Sedangkan Asna mendapat kehormatan untuk memilih nama yang pas untuk squad mereka.
“Perintis Jalan Skuad Kesetanan! Bagaimana?” ucap Asna, memberi saran.
“Penjaskes?!” seru Iyan kaget. “Itu nama mata pelajaran!” lanjutnya.
Mawart turut berkomentar. “Apalah arti sebuah namui… Eike setuju aje!”
“Kalau Kakak senior sudah setuju, kita tetapkan saja nama itu untuk skuad kita,” sahut Irvan yang langsung menanggapi. Ia lantas berdiri. “Aku segera pergi mendaftar…”
Iyan melirik ke arah Asna dan bertanya, “Kemana Kakak senior yang satunya, Na?”
__ADS_1
***