Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 37 Penculikan


__ADS_3

Ch. 37 Penculikan


“Ada apa?! Kalian berdua, cobalah untuk terbuka!” desak Pak Haris.


“Empat puluh empat orang anggota Kita menghilang,” terang Asna. “Lebih tepatnya diculik.”


Tentu saja Pak Haris langsung kaget. “Apa?! Jangan sembarangan, Na! Kau jangan main-main.”


Naluri seorang guru humanis memang seperti Pak Haris. Mereka akan terpancing dengan hal yang berkaitan dengan anak didik. Walaupun Pak Haris berupaya untuk tidak mempercayai perkataan si Mesum, namun sulit ternyata baginya untuk tidak percaya. Wajah Asna dan Datu Busu tampak tidak sedang bermain-main. Ditambah lagi sekarang juga bukan bulan April.


Dengan berupaya menampakkan wajah tenang, Asna menghubungi Iyan. Panggilan yang dilakukannya ternyata tidak terjawab. “Kak Haris, coba hubungi anggota Kita yang ada di kontak Kakak. Cukup tanyakan posisi dan segera telepon yang lain.”


Mata Pak Haris seketika membesar. “Ini serius?!” ujarnya seraya mengeluarkan gawai. Pikirannya mulai berkecamuk. Ia membayangkan kegelisahan para orang tua jika tau anaknya telah diculik.


Asna tidak menghiraukan kekalutan yang dialami Pak Haris. Ia sibuk menghubungi Iyan. Tiga kali panggilan yang dilakukannya tidak mendapat jawaban dari Iyan, Si Mesum beralih menghubungi Irvan dan sahabat-sahabat lain yang ada di kontak gawainya. Setali dua uang. Semua tidak mengangkat telepon.


Tiba-tiba pesan singkat masuk ke gawai Pak Haris. Pemberitahuan pengisian pulsa sebesar 10 ribu rupiah.


“Itu dari Aku,” terang Datu Busu. “Kau kumpulkan anggota tersisa di sekretariat selepas senja. Jangan lupa aktifkan temon.”


Pada masa-masa krusial yang membutuhkan banyak pulsa untuk menelpon, penggunaan paket hemat seperti temon seolah diwajibkan bagi. Wajib bagi mereka yang memiliki jatah pulsa di bawah 20 ribu untuk satu bulan. Oleh istri-istri mereka tentu saja.


Temon atau telepon monster adalah layanan paket telepon sepuasnya plus seharian yang dijual oleh provider nasional, Tuyulsell. Ada alasan khusus mengapa provider itu menggunakan frase tuyull. Istilah yang digunakan untuk makhluk yang gemar mencuri uang untuk minum susu.


Pak Haris sangat yakin sekarang. Perkataan Asna pasti benar.


Traktiran pulsa dari si Kikir jadi bukti valid.


Selama mengikuti Datu Busu, Pak Haris tau benar bahwa si Tua Bangka itu tidak pernah mentraktir dirinya. Barang sepenggal permen sekalipun.


Segera Ia menghubungi semua anak muridnya yang tergabung dalam GWM SMA 25 Samarinda. Seorang murid berhasil Pak Haris hubungi. “Hallo, di mana Kau?”


“Saya di sini, Pak!” sahut Asna. Sekonyong-konyong Pak Haris memandang layar gawai yang bertuliskan “Asna Mesum” dan segera panggilan itu Ia akhiri. Kepanikan malah membuat Pak Haris malah menelepon Asna.


Asna hanya bisa menghela nafas melihat kepanikan Pak Haris. Ia sebenarnya merasakan hal yang sama saat ini. Tapi tidak boleh Ia tunjukkan. Tenang adalah sikap utama yang harus dimiliki kala menghadapi krisis. Hikmah seperti itu yang si Mesum dapatkan dari mempelajari bab pertama buku The Wisdom of General.


Tenang dalam hikmah yang Asna dapat bukan dalam arti masalah yang dihadapi masih bisa ditangani. Sebab semua masalah memang pasti ada jalan keluarnya. Tenang yang dimaksud adalah tidak tergesa-gesa menemukan solusi. Perlahan, cermat dan tepat.


Sebagaimana pada bagian Mukadimah buku The Wisdom of General, Gerbang Langit selaku penyusun buku mengutip tiga kalimat dari Kitab yang Mulia.


“Janganlah Kau mempercepat bacaanmu hanya untuk mendapat kecepatan paham. Pelankan bacaanmu. Kamilah yang akan memberikan paham kepadamu.”


Kutipan tersebut menggunakan tiga jenis kalimat. Yang pertama kalimat larangan, kedua perintah, dan ketiga kalimat yang digunakan untuk masa yang akan datang.


Kalimat pertama digunakan untuk mensucikan diri. Suci dari nafsu rendahan yang akan merusak hati. Nafsu untuk segera paham dilarang adanya.


Setelah suci, barulah sesudahnya meresapi kesucian diri dengan perlahan. Seperti perintah pada kalimat kedua.


Hanya untuk meresapi diri.


Bukan untuk mendapatkan paham.


Sebab Merekalah yang akan memberikan paham pada si Pembaca.


Walau berhasil bersikap santai, Asna sesungguhnya merasakan kecemasan di dalam hati. Tidak pernah sahabat Iyan itu segugup sekarang setelah menjadi Pejuang Virtual. Ia merasa sudah mengatur semua dengan hati-hati. Tapi ternyata ada hal lain yang masih belum bisa diakomodir.


Sungguh manusiawi.


Kenyataan yang terjadi memang seperti yang Asna katakan. Sekeluarnya mereka dari dunia virtual dan menemui Datu Busu, ratusan pejuang virtual kelas madya menculik empat puluh empat anggota GWM SMA 25 Samarinda.


Si Mesum Asna mengetahuinya setelah Jiwa Selasa yang sedang mengawasi Rode bertemu dengan sekawanan penculik. Tiga anggota GWM SMA 25 digiring kawanan penculik-penculik itu. Tepat di hadapan Rode dan Jiwa Selasa.


Dari percakapan Rode dengan kawanan itu, terlihat jelas Rode tidak tau ada rencana penculikan. Walaupun Rode menjadi senang dengan kondisi demikian. Tepat 44 orang telah diculik. Meninggalkan 30 orang tersisa. Termasuk Rode. Sekarang Ia 99 persen pasti masuk tim untuk mengikuti Samarinda Run.

__ADS_1


Asna baru menyadari ada orang yang mengawasi rapat. Jika tidak, mana mungkin mereka bisa tau strategi darinya. Menunggu Pak Haris pergi. Lalu segera bergerak. Suatu strategi yang tidak Asna inventaris. Ini jelas suatu kesalahan.


Kesalahan sekecil apapun, seperti biasa akan mendapat teguran keras dari Datu Busu. Tapi anehnya sekarang si Tua itu turut merasa bersalah. Tiada lagi senyum di wajahnya.


“Na, cari lokasi di mana mereka menyekap anggota kita,” ujar Datu Busu dengan lirih dan tiba-tiba. Ia memandang Godel kemudian dan berlalu pergi begitu saja.


Mengerti dengan maksud dari pandangan Datu Busu, Godel mengikuti si Tua Bangka itu. Entah ke mana mereka pergi.


Selepas Datu Busu pergi, Pak Haris bergumam. “Kenapa tidak melapor pada Provost Pejuang Virtual? Mereka memiliki kewenangan untuk urusan seperti ini. Bagaimana menurutmu?”


“Provost?” sahut Asna. Tidak pernah Asna mengetahui adanya Provost Pejuang Virtual. Bahkan di memori ayahnya sekalipun.


Pak Haris baru sadar kalau Asna adalah pejuang virtual newbie. Ekspektasi besar Datu Busu pada si Mesum itu membuat Pak Haris sempat berpikir sebaliknya.


“Provost itu polisinya pejuang virtual,” terang Pak Haris. “Masalah-masalah terkait kode etik profesi pejuang virtual berada di bawah yuridisnya.”


“Kode etik?” gumam Asna. “Ada kode etik berarti ada sidang etik. Pasti ada dewan etik.”


“Ya. Begitulah…” sahut Pak Haris.


Asna terdiam. Diamnya si Mesum adalah berpikir. Setelah tampak berpikir sejenak, Asna tiba-tiba saja berpamitan dengan gurunya itu.


“Kemana Kau?”


“Tentu saja mengikuti perintah Datu. Datu bilang belum terlambat,” jawab Asna.


Pak Haris memang seorang guru. Tapi berbicara bahasa Asna dan Datu Busu, Ia angkat tangan. Tidak heran Ia bingung dengan jawaban Asna. “Belum terlambat… Apa maksudnya? Masih adakah asa?”


“Datu yang bilang. Aku hanya memperbesar asa saja. Kak, Asna pergi dulu.” Setelah berpamitan Asna berjalan dengan cepat. Meninggalkan Pak Haris dan Agustin. Dalam pikiran Asna, kasus penculikan memang harus dilaporkan kepada pihak berwajib. Tapi bukan kepada Provost.


Provost hanya berurusan dengan pelanggaran kode etik pejuang virtual. Sedangkan kasus penculikan ini belum ada bukti konkrit. Bukti yang menjadi bahan dasar penindakan pelanggaran kode etik oleh seseorang atau sekelompok pejuang virtual.


Penculikan adalah tindak kriminal. Kasus pidana macam penculikan sudah menjadi tugas kepolisian. Maka Asna tidak akan melaporkan penculikan itu kepada polisi.


Akan ada masalah yang muncul saat melibatkan polisi. Sebab ini berkaitan dengan pejuang virtual yang notebene sangat dirahasiakan keberadaannya. Di belahan da-dunia manapun.


-----------------


Pak Haris memandang Agustin yang masih dalam kondisi terluka. Rasa sedih seketika menusuk di hatinya. Masalah berat dialami murid-murid sekaligus adik-adiknya hanya dalam dua hari.


Rasa sedih membuat nafasnya menjadi berat. Padahal Ia sudah berhenti merokok beberapa minggu terakhir. Atau mungkin itu karena tanggung jawabnya yang teramat besar sebagai Pembina GWM.


Jadi Pembina GWM memang berat. Mereka harus mengelola dirinya untuk bisa mengelola orang lain.


Tidak sedikit Pembina GWM yang berbuat tidak pantas ke pada adik didiknya. Mereka bermasalah pada nafsu.


Yaitu nama lain dari kehendak hati. Jika si Nafsu cenderung kepada kebaikan, maka kebaikanlah yang akan dilakukan. Jika si Nafsu cenderung kepada keburukan, nafsu setan namanya.


Pak Haris tentu memiliki nafsu. Makanya Ia menikah. Agar nafsu bisa diarahkan kepada kebaikan. Membuat hati menjadi tenang.


Namun hati Pak Haris benar-benar teriris sekarang. Nafsunya dipancing dengan penculikan yang menimpa para anggota GWM SMA 25 Samarinda. Angka 44 orang itu lebih banyak dari 4. Empatnya ada dua itu!


Merasakan hati terasa terus teriris-iris, nafsu Pak Haris mulai berganti nama menjadi nafsu amarah.


Bahayanya. Tatkala nafsu amarah bergabung dengan nafsu setan, kerusakan pasti akan terjadi sesudahnya.


Pak Haris memutar otak. Bukan dalam arti berpikir untuk mencari solusi. Tapi untuk menghilangkan akal budi.


Hilangnya akal budi membuat guru idola di SMA 25 Samarinda yang juga pejuang virtual itu tersenyum. Matanya melirik kesana-kemari. Lalu menepuk wajahnya dengan keras. Ia sudah tidak waras! Lupa diri. Lupa dengan hal baik dan hal buruk.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah…”Penculik itu kawan Rode! Kawan Rode harus mengembalikan adik-adikku! Hahaha…!”


Pak Haris berlari dengan cepat dan melompat ke udara. Ia hilang begitu saja. Meninggalkan Agustin di antara pedagang yang menyaksikan keanehan perilakunya.

__ADS_1


Seorang anak pedagang bergumam melihat lompatan Pak Haris. “Saitana Sensei…”


----------------------


 Lupakan dulu Pak Haris yang lupa diri.


Yang jelas, apa saja yang dilakukan sosok lain dari diri Asna, Darkmanday selepas keluar dari lubang virtual?


Berkostum Biosilk Tuwill, Darkmanday mencari Legcrasher di Serikat Burung Kaliyangan. Sambil mencari keributan juga rupanya.


“Mana Legcrasher?! Mana gadis sok super itu?!” Darkmanday berteriak-teriak di depan kantor Serikat Burung Kaliyangan.


Seorang penjaga mendekati Darkmanday. Penuh hati-hati.


Kostum ketat dan kain melilit di leher. Penampilan yang mirip dengan Legcrasher. Si Penjaga ragu mengatakan Darkmanday adalah tamu atau bukan.


“Jangan seenak-enaknya di sini, Bos. Kau harus punya tara krama.” Si Penjaga mengingatkan dari jarak 10 meter. Itu jarak aman dari pukulan. Dari pandangannya, Darkmanday tidak membawa senjata. Jadi tidak begitu berbahaya.


Tidak mandi dalam dua hari membuat kulit leher Darkmanday menjadi gatal. Usai menggaruk, Ia mengayunkan jari telunjuk ke tangan si Penjaga.


Darah di lengan si Penjaga seketika muncrat. Seolah tertusuk jarum.


“Aaagghhh…! Apa yang Kau lakukan?! Aaaaggghhh…!” teriak si Penjaga. Teriakan yang diiringi dengan rintihan manja.


Tanpa disadari Darkmanday, Zay Kumbang muncul di sampingnya. Sekretaris Serikat Burung Kaliyangan itu tau, kekuatan orang di sampingnya itu sangat kuat. Ia tidak akan membalas perilaku nakalnya.


Toh, luka si Penjaga hanya luka kecil.


“Ada apa Tuan mencari Legcrasher? Dia tidak tinggal di sini,” ujar Zay Kumbang.


Darkmanday ingin bergaya sebagai Super Hero di hadapan sekretaris Serikat Burung Kaliyangan itu. Ia lantas meremas rambut. Tapi urung Ia lakukan karena baru ingat kalau dirinya tidak punya rambut. Akhirnya Ia meremas  ketek. Di situ ada rambutnya.


“Ooo… Maaf, Ku pikir adikku itu tinggal di sini…” ujar sosok lain dari diri Asna itu.


“Kalau Kau kakaknya, harusnya Kau tau di mana rumahnya, kan?” sahut Zay Kumbang.


“Benar juga, ya? Kenapa Aku mengaku sebagai Kakaknya?” gumam Darkmanday sok berpikir.


Usai memegang ketek Darkmanday menaruh jari tangannya di hidung. Gaya berpikir sambil mengupil yang ingin Asna jadikan identitas Darkmanday. Hanya sebentar saja Darkmanday menggunakan gaya itu. Ia langsung memindahkan tangannya ke dagu untuk menunjukkan kalau dia sedang berpikir.


Meletakkan tangan di dagu juga tidak nyaman. Baunya masih tercium. Akhirnya Darkmanday menyilangkan tangan di depan dada. Lagi-lagi telapak tangannya menyisip di sela-sela ketiak. Perilaku Darmanday ini menandakan bahwa Asna belum sepenuhnya siap menjadi Super Hero. Si Mesum belum menemukan gaya yang pas.


Mengambil gaya Super Hero lain bisa saja Asna lakukan. Menjiplak. Yaitu perbuatan yang disebut dengan plagiarisme. Perbuatan ini tentu saja bisa membuat Darkmanday tersangkut undang-undang hak cipta.


Kreator memikirkan dengan sungguh-sungguh ide yang akan jadi identitas Super Hero. Tapi ada orang lain yang tanpa bersalah mengadopsinya. Untuk hal-hal seperti ini, Asna tidak mau menggunakan ide orang lain tanpa izin. Toh, masih banyak gaya yang bisa dieksplorasi.


Bagaimana mencampur gaya-gaya para Super Hero? Tetap bukan gaya orisinil, sih. Itupun harus tetap dipikirkan. Terlalu banyak gaya malah bisa membuat Darkmanday mati sebelum bertarung. Ini yang namanya gaya mati. Selagi bergaya, dihajar sampai mati.


Kesimpulan yang bisa diambil dari kesulitan Asna: sebisa mungkin mandi dua kali sehari. Mandi adalah hal penting bagi siapapun. Termasuk Super Hero.


Selama ini tidak ada Super Hero yang panuan. Jangan sampai Darkmanday jadi yang pertama.


Tiba-tiba seseorang datang ke Serikat Burung Kaliyangan.


“Ooo…! Kau yang waktu itu, kan?” Zay Kumbang sepertinya mengenal orang tersebut. Seseorang yang tentu saja Darkmanday lebih kenal.


Sebab Darkmanday adalah orang tersebut. Asna Hamran.


 


 


***

__ADS_1


__ADS_2