Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 29 Professor Virtual Void


__ADS_3

Ch. 29 Professor Virtual Void


Melompat ke masa depan…


Incredible Thing, seorang pria tua berumur seribu tahun dengan gagah berdiri di tengah-tengah para pejuang Gerakan Iblis. Terpojok oleh para pahlawan super.


Ia pun mulai berorasi, “2000 tahun setelah resolusi dari berbagai gejolak… Manusia Super dan Makhluk Super lain sekarang sudah berjumlah juta-an. Mereka membawa pesan kedamaian dan keadilan di bawah naungan Penguasa.


“Tapi mereka benar-benar tidak sadar jika sedang diperalat. Mereka ku yakini tidak bersalah. Situasi saat ini, satu sisi manusia merasa damai, di sisi lain manusia tertindas. Anak-anakku…”


“Hentikan, Pak Tuaaaan…!!!” seorang pemuda tiba-tiba berada tepat di hadapan Incredible Thing.


“Berani sekali kau, Voiiddd…!!!” Incredible Thing marah meraung. Aura singa raksasa keluar dari tubuhnya dan segera menyergap pemuda yang dikenal dengan julukan Virtual Void, seorang Profesor Komunikologi.


“Jangan terbawa emosi, pak!”Profesor Virtual Void dengan santai memecahkan aura singa raksasa milik Incredible Thing.


“Pembunuh ratusan juta nyawa… Kau sama saja dengan penguasa! Kau bahkan tidak pantas bergabung dalam Gerakan Iblis!” Incredible Thing merasa murka melihat wajah Profesor Virtual Void.


Pejuang dari Gerakan Iblis lain juga merasa marah dengan Virtual Void. Hanya saja mereka tidak berani melakukan provokasi karena reputasi Profesor Virtual Void. Terlebih sosok Profesor Virtual Void yang hadir saat ini bukan tubuh asli dari dirinya.


Profesor Virtual Void duduk melayang di udara lalu membalas, “Bukankah iblis yang tidak pantas disandingkan dengan kita? Wahai saudaraku… Seberapapun besar usaha kita, kekalahan tetap tidak terhindarkan.”


“Apa kau ingin meruntuhkan semangat kami, hah?!” Incredible Thing menyela seraya mengayunkan tombak raksasa ke arah Profesor Virtual Void.


Ledakan besar terjadi saat gelombang ledakan tombak yang mengenai tubuh Profesor Virtual Void melemparkan seluruh pejuang Gerakan Iblis. Hanya Profesor Virtual Void yang masih bisa berdiri tegak walau dipenuhi kepulan asap.


Profesor Virtual Void meletakkan jari telunjuk ke bibirnya seraya berkata, “Sssttt… Huh… Aku membawa satu solusi dari jutaan kemungkinan yang terjadi. Engkau mau mendengarkan?”


Incredible Thing tidak menjawab karena masih dalam perasaan marah. Tapi ia sedikit tertarik dengan solusi yang ditawarkan Profesor Virtual Void.


Sungguh Incredible Thing tidak menyangkal kepiawaian Profesor Virtual Void dalam menangani suatu krisis.


Profesor Virtual Void berorasi, “Dengarkan! Ada pihak-pihak internal organisasi penguasa yang meminjam tangan kita untuk memenangkan pertempuran dengan Penguasa. Dalam perang ini kemungkinan kita akan menang melawan penguasa sebenarnya lumayan besar.


“Tapi sayangnya setelah kemenangan itu kita akan dibantai. Artinya kita tetap kalah.


“Aku mendapatkan fakta bahwa pengkhianat di tubuh organisasi penguasa telah menemukan cara untuk membuka Portal Endless Time. Kembali ke masa lalu untuk merubah sejarah.


“Mereka yang memiliki kemampuan ghaib dapat keluar masuk portal tersebut semau hati mereka.”


Profesor Virtual Void lalu menatap wajah-wajah para pejuang. “Tidak ada yang menyela?”


“Baiklah… Kalian harus tau, kalau motivasi mereka adalah menghancurkan umat manusia melalui jalan menghentikan garis keturunan, keturunan makhluk super. Itu jelas adalah ujian, mohon bersabar, ini ujian, mohon bersabar ini ujian, ujian dari Tuhan. Ada yang berpikir ini omong kosong?” jelas Profesor Virtual Void.


Dengan santai ia melanjutkan, “Dari pada kita meniti tali takdir sesuai apa yang orang-orang suci itu inginkan, sebaiknya kita pulang dan menciptakan jalan kita sendiri.


“Dengan pengetahuanku, aku bisa mengirim pesan kepada salah seorang nenek moyangku. Membuatnya menjadi kuat.


“Kalian yang mampu memiliki pengetahuan yang sama denganku dapat pula melakukan hal serupa. Strateginya, jika mereka ingin bermain-main di masa lalu, maka nenek moyang kita akan mempermainkan mereka di masa itu!”


Mata para pejuang yang mendengarkan pidato Profesor Virtual Void mulai berbinar. Sesaat sebelumnya mereka terkejut dengan fakta tentang Portal Endless Time yang sudah dapat diaktifkan. Sesaat kemudian mereka masih mendapat harapan dari solusi yang diberikan profesor.


Beberapa hari sebelum peperangan terjadi, Profesor Virtual Void telah berhasil mentransfer informasi kepada salah seorang nenek moyangnya. Dengan memilki informasi dari Profesor Virtual Void, nenek moyang itu dapat mengembangkan kekuatan yang sama dengan yang ia miliki.

__ADS_1


Orang tersebut adalah remaja SMA di Indonesia… Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur…


Asna Hamran…


-------------------


Hari ini adalah hari Selasa.


Artinya, lima hari telah berlalu sejak Asna mendapat warisan dari keturunannya di masa depan. Beban untuk mengubah sejarah sedikit merubah sikap Asna dalam menanggapi profesi sebagai Pejuang Virtual. Asna jadi lebih serius.


Saat berjalan kaki bersama Iyan menuju rumah, Asna tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Datu Busu. Orang tua ini baru saja turun dari angkutan umum.


“Hahaha… ketemu juga akhirnya.” Datu Busu terlihat sangat senang.


Dari dalam angkutan umum seorang pria paruh baya mengeluarkan kepalanya melalui jendela. “Datu, Kau tidak berniat menyuruhku membayar angkot, kan? Aku tidak punya uang sekarang!” teriak pria tersebut.


Iyan terkejut melihat wajah pria paruh baya tersebut. “Ba-Balung Baja! Super Hero kita!” serunya.


Benar sekali, sosok yang berada di dalam angkutan umum itu adalah…


--Balung Baja-- Super Hero tingkat Provinsi Kalimantan Timur.


“Balung Baja, kok, naik angkot?” ledek Asna.


“Sudahlah, dia bukan orang penting…” ujar Datu Busu.


Majikan Asna itu kemudian berjalan menemui supir angkot. Sambil menunjuk Balung Baja, Datu Busu berkata kepada sopir, “Jalan, pir! Orang ini yang akan bayar.”


Sekonyong-konyong sang sopir menginjak gas, meninggalkan Datu Busu. “Dasar, tua bangkaaa…!!!” kutuk Balung Baja.


Setelah ditinggalkan Balung Baja, Datu Busu mengutarakan niatnya kepada Asna. “Nah, ini kesempatan bagus. Karena Kau sudah jadi karyawanku, mari kita bermain-main ke Dunia Virtual. Di sana ada Pejuang cantik yang masuk daftar calon istriku!”


“Dunia Virtual?!” Asna kaget, kemudian berucap, “Yah, walaupun Aku menolaknya, Datu tetap akan mengirimku ke sana. Tapi, Aku mohon tidak usah…”


Belum selesai Asna menyampaikan kegelisahannya, Datu Busu langsung memotong. “Dia juga jarus ikut! Temanmu ini harus ikut kalau tidak mau lehernya patah!”


Niat Asna untuk tidak membawa Iyan tidak dituluskan Datu Busu. Bahkan sebelum niat itu diutarakan.


“Ikut ke dunia virtual?! Aku tidak keberatan!” Iyan sangat bersemangat


 “Itu bagus!” ujar Datu Busu.


Selesai berujar, Datu Busu mengeluarkan sebuah kotak berukuran 10 cm kubik yang tiba-tiba muncul di telapak tangannya.


Ini adalah kemampuan menyimpan barang di dalam ranah pikiran. Kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki tekad kuat. Selain juga harus memiliki pengetahuan virtual yang luas dan mendalam.


Iyan yang belum pernah melihat skill itu hanya melongo. Kagum.


Dia jelas Akan iri jika mengetahui Asna sudah menguasai skill tersebut.


Kotak di telapak tangan Datu Busu terbuka dengan sendirinya. Di dalam kotak ada seekor cacing besar dengan warna jingga bercak coklat sedang tertidur. Tubuh cacing ini mengeluarkan cahaya di sekujur tubuhnya. --Virtualroad Worm--


Virtualroad Worm adalah sejenis cacing purba yang menjadi salah satu pintu masuk dan keluar antara Dunia Manusia dan Dunia Virtual.

__ADS_1


Setiap komunitas Pejuang Virtual memiliki minimal satu Virtualroad Worm. Beda cacing, beda pula wilayah Dunia Virtual yang dimasuki.


 “Bawa ini...” Datu Busu memberikan sebuah foto gadis cantik kepada Asna.


Asna menatap foto dengan heran. Sesekali Ia menatap Datu Busu.


Ia membuka mulut untuk bertanya. Pertanyaan tidak terucap, lolongan yang terdengar ketika Asna tersedot ke dalam Virtualroad Worm bersama Iyan. “Aaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!”


-------------------


Tujuh bukit yang memiliki warna berbeda, merah, ungu, jingga, kuning, biru, putih dan abu-abu  menjadi latar sebuah negeri bernama Gnombell Fairyland. Suatu negeri di Dunia Virtual yang bebas dari diskriminasi. Siapapun boleh berkunjung. Inilah tempat yang Asna dan Iyan akan kunjungi.


Arsitektur bangunan di negeri ini mengambil konsep khas timur tengah, atap dan menara kubah.


Dibangun dengan sentuhan sihir hingga tampak bercahaya saat terpapar sinar matahari dunia virtual. Menampilkan pantulan semarak dengan berbagai macam warna bila dilihat dari kejauhan.


Sesekali tampak makhluk virtual darat terbang mengendarai mobil yang melayang di udara.


Ada pula makhluk lain yang terbang menggunakan sebuah tas seperti roket.


Teknologi di bumi tentu tidak ada apa-apanya.


Seluruh Gnombell Fairyland dikelilingi sungai lebar yang mengalirkan air jernih dari atas gunung lalu memasuki sepuluh cabang sungai.


Cabang sungai ini membelah hutan menuju laut.


Di atas sungai ada benteng yang berdiri kokoh untuk menangkal serbuan Makhluk Virtual lain.


Benteng ini dijaga oleh Pejuang Virtual dari berbagai macam ras makhluk virtual. Tidak ketinggalan para Pejuang Virtual  dari ras manusia.


Di antara bangunan-bangunan besar, ada tenda-tenda pusat perbelanjaan, kasino dan gelanggang bertarung. Tempat-tempat ini hampir tidak pernah sepi dari pengunjung.


Suatu sudut pasar tampak sangat ramai dijejali berbagai ras.


Ada bangsa manusia setengah hewan (Semi Human). Itu terdiri dari ras Manusia Arnab, ras Manusia **** dan ras Manusia Kadal.


Jumlah bangsa Semi Human tapi tidak sebanding dengan Manusia Kerdil. Ini negeri Manusia Kerdil memang. Tentu mereka mendominasi kerumunan ini.


Tak heran manusia yang diwakili Pejuang Virtual tampak menjadi minoritas.


Ada sebuah pertarungan rupanya.


Seorang Pejuang Virtual berusia 14 tahun sedang berhadapan dengan ras Manusia ****...


--Borsa--


Borsa adalah Pejuang Virtual tangguh dari kalangan Makhluk Virtual.


Dibanding lawannya, saat ini, Pejuang Virtual berusia 14 tahun, Borsa terlihat empat kali lebih besar dengan tinggi mencapai 198 senti meter.


Walau demikian, Pejuang Virtual yang masih tergolong bocah itu tidak tampak ketakutan menghadapi Borsa. Ini terlihat dari gerakan mengorek kuping yang dilakukannya.


Bocah 14 tahun ini bernama...

__ADS_1


--Neon Alamshah--


***


__ADS_2