
Ch. 41 Sepasang Mandau
Dominasi hamparan putih menjadi pemandangan baru di dunia virtual GWM SMA 25 Samarinda. Latar salju itu adalah dampak dari kekuatan sihir Biosilk Beruang Kutub yang bernama…
--Koler--
Lusi menatap kostum Biosilk Koler yang saat ini dikenakan Kucing Lamak dari kejauhan. Sebagai sesama Biosilk, Lusi sangat mengenal Biosilk yang sedang ditatapnya ini. Biosilk jantan yang terkenal tapi jarang berada di kerajaan.
“Penyidik Koler… Entah kenapa Ia bisa bergabung dengan orang tua besar itu? Tapi terangnya, dia termasuk tujuh belas abdi setia raja. Tujuh belas jenderal,” gumam boneka Biosilk kucing hitam itu.
Mendengar gumaman Lusi, Gadis ikut bergumam, “Ice elemental. Elemen sekunder dalam ilmu pengetahuan alam. Dalam ilmu pengetahuan sihir, elemen es tidaklah jauh berbeda dari itu. Ada yang menggunakan mantra ada pula yang merupakan bawaan dari lahir. Lantas bagaimana dengan Biosilk level jenderal?”
“Biosilk… adalah sihir itu sendiri.” jawab Lusi dengan tatapan sayup. Diikuti tatapan serupa dari Gadis.
“Apalagi pada tingkat jenderal,” tutup Gadis.
Pertarungan yang menanti saat ini memang benar-benar tidak sebanding. Datu Busu sebagai pejuang virtual terkuat harus berhadapan dengan dua kakak seperguruannya.
Menambahkan Zay Kumbang, Legcrasher dan Darkmanday tentu saja tidak merubah ketidak-seimbangan ini. Apalagi hanya ditambah dengan si Lemah Asna dan si Pendatang Baru, Agustin.
Lupakan Anjay Depkan dan Pak Haris. Mereka sudah sama-sama kritis. Yang harus diperhatikan sekarang adalah keberadaan seratus lima puluh pejuang virtual di belakang si Kucing Kembar. Mereka semua kemungkinan besar telah menyentuh item [Resurrection]. Kematian yang nantinya mereka alami hanya sementara. Setelah dibangkitkan, mereka akan kembali dapat bertarung.
Diciptakannya item [Resurrection] sebenarnya untuk menekan jumlah kematian pejuang virtual yang berperang di dunia virtual. Akan tetapi memang ada pihak-pihak tertentu yang menggunakannya untuk kepentingan lain. Seperti yang dilakukan orang-orang di Paguyuban Anggrek Bulan sekarang.
“Zay…! Apa Kau dan gadis manis di sampingmu itu sudah memegang item [Resurrection]?” tanya Datu Busu.
Zay Kumbang sedikit kaget setelah sebelumnya terhenyak melihat penyerangan Paguyuban Anggrek Bulan. “Item itu, ya? Selama ini Zay belum pernah menyentuh item itu, Datu. Bahkan di saat Kami punya [Resurrection Totem].”
“Versi baru, ya? Kau tidak tergoda? Bagus kalau Kau masih mengikuti kata-kataku terdahulu. Ada konspirasi di balik fasilitas yang bisa kita nikmati,” ujar Datu Busu.
Tiba-tiba Kucing Kuyus membuka pembicaraan dengan pelantang suara. “Busu! Kau masih belum pakai item [Resurrection]? Kami sudah menggunakannya. Jadi saat kita saling bunuh, Kau yang mati, Kami tidak! Pertimbangkan item dari Tuhan itu!”
Wajah Datu Busu tampak tidak tertarik melakukan komunikasi dengan seniornya, Kucing Kuyus. Walau demikian, pada situasi sekarang, Ia sadar kalau komunikasi penting untuk dilakukan. “Kami lagi berdiskusi. Saranmu sedang dipertimbangkan. Aku ucapkan selamat datang. Anggap saja di sini rumahmu sendiri.”
“Hehehe…! Kalau mau minta ampun, Aku tidak keberatan memikirkannya. Kau kalah besar sekarang, Busu! Hehehe…!” timpal Kucing Kuyus.
Darkmanday berbisik ke telinga Asna, “Kalau dalam anime, yang banyak bacot seperti ini biasanya kalah. Mudahan kita ketularan.”
“Ketularan kalah?” tanya Asna.
Darkmanday mendorong pelan kepala Asna. “Jangan mengharapkan kalah, pintar!” sahutnya.
Datu Busu tersenyum menyaksikan dialog Asna dengan Darkmanday. “Jiaaah…! Orang asing, seharusnya Kau menyahut sambil memukul kepalanya dengan keras.”
“Ya. Saran Anda bisa dipertimbangkan. Tapi Aku takut membunuh diriku sendiri,” ujar Darkmanday.
Dialog yang dilakukan Asna dan sosok lain dirinya tersebut hanyalah untuk menambah panjang nafas. Meringankan ketegangan. Situasi saat ini tentu saja belum pernah Asna alami sebelumnya. Ia tidak membohongi diri sendiri kala mengalami stress.
“Busu! Cepatlah mengaku kalah! Lakukan itu sebelum beruang kutub ini menggila.” Lagi-lagi Kucing Kuyus memprovokasi. Apa yang dikatakannya memang benar. Sejauh ini Ia menahan adiknya untuk tidak menyerang sendirian. Sebab Ia butuh negosiasi dengan Datu Busu.
Adapun Datu Busu tau benar perangai kakak sepergurannya itu. Seorang yang pintar nan licik. Payahnya orang tersebut adalah bersikap sok baik. Memancing negosiasi, tapi menginginkan hasil besar. Bisnis banget, nih, orang!
Secara praktis, mereka yang meminta negosiasi berada di posisi tawar yang rendah. Seperti kata pepatah, “Tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah.” Datu Busu jelas menghindari hal tersebut. Sebab, kala Datu Busu membuka penawaran negosiasi, di saat itulah Kucing Kuyus meminta berbagai macam syarat.
“Ayolah, Busu!” terus saja Kucing Kuyus memancing Datu Busu membuka ruang negosiasi. Sedangkan Kucing Lamak sudah seperti beruang kelaparan.
“Sabarlah sedikit lagi!” sahut Datu Busu. “Kami sedang menyiapkan [Resurrection Mandau].”
Si Tua Kikir itu memberikan sebuah kotak kepada Asna. “Kau ambil dua item itu. Pastikan kalian menjaganya dengan baik. Sementara Kau jadi jenderalku,” terangnya.
“Sementara, Datu?” celetuk Asna. “Iya. Kalian harus jaga baik-baik item itu. Dan setelah ini Kau kembali menjadi budakku, Jenderal Sementara. Hahahaha…!”
Benar saja. Setelah Asna menerima kotak, dua puluh anggota GWM SMA 25 Samarinda hadir di belakangnya. Merekalah yang dimaksud Datu Busu dengan “kalian” di sini.
__ADS_1
Mereka juga terkejut dengan keberadaan Agustin. Keberadaannya mengisyaratkan bahwa sekarang Dewi Kematian itu termasuk pejuang virtual. Ini bagus. Di samping itu mengerikan. Sebab selama ini Agustin sudah tidak terbantahkan lagi sebagai siswi yang ditakuti di sekolah.
Setelah terkejut melihat Asgustin, seorang senior menepuk pundak Asna. “Na, selama ada Datu Busu dan Kau, Kami akan mengeluarkan semua kemampuan Kami. Ini demi masa depan masyarakat Kita.”
Asna mengangguk. Lalu mengeluarkan dua bilah Mandau dari dalam kotak. Setiap Mandau berbalur kain dengan warna berbeda. Putih dan kuning.
Tiba-tiba saja kain yang membalur setiap Mandau terurai dan melayang di udara. Bilah Mandau berpisah dengan sendirinya dari sarung dan menancap pada tanah.
Si Jenderal Sementara terpaku melihat dua bilah Mandau yang menancap di hadapannya. “Ada yang aneh dari dua Mandau ini. Jiwaku serasa bergelora berada di dekatnya.” Asna membatin sambil menatap teman-teman satu organisasinya.
“Perasaan ini…”
“Apa Kau merasakannya juga?”
“Aku gugup. Mau boker…!”
Apa yang dirasakan Asna rupanya turut dirasakan orang-orang di sekelilingnya. Masing-masing dari mereka lalu menyentuh dua Mandau tersebut secara bergiliran.
“Bagaimana rencananya, Na?” tanya Timpakul yang rupanya juga tidak termasuk korban penculikan.
“Teman-teman,” ujar Asna. “Kita hanya akan bertahan di sini. Menjaga item ini agar tidak direbut musuh. Bertahan sambil berharap Datu Busu dan anak buahnya memenangkan pertarungan. Anggap saja Kita sedang latihan sebelum ikut Samarinda Run.”
Seorang senior berseru melihat seratus lebih pejuang virtual lawan bergerak. “Mereka ada banyak, Na! Apa yang harus Kami lakukan sekarang?!!!”
Dari pandangan Asna sekarang. Seratus lima puluh pejuang virtual Paguyuban Anggrek Bulan terbagi menjadi dua kelompok. Seratus orang ke sisi kanan pertahanan. Lima puluh orang ke sisi kiri.
Asna mengeluarkan [Virtualspace Anjat] dari ranah pikirannya. Mengeluarkan tulang belulang dan equipment perunggu yang lengkap dari kepala hingga kaki. Plus pedang. Semua itu warisan yang Ia dapat di Istana Tengkorak.
Tumpukan isi [Virtualspace Anjat] benar-benar menggunung. Membuat rekan-rekannya berhamburan dan dua Mandau yang tertancap tertimbun.
“Kita akan menjadi penyerang jarak jauh untuk sementara waktu. Baik teman-teman yang bertipe prajurit pendukung, pengumpan, alih-alih penyerang jarak jauh,” terang Asna.
“Serius, Na? Dexterity Ku rendah. Apalagi sekarang Aku tidak punya senjata,” protes seorang senior.
“Semua pedang ini senjata kita. Begitupun dengan tulang. Kita cukup melempar musuh yang masuk dalam jangkauan lemparan. Selama ada Datu Busu, Kita pasti menang!” seru Asna.
Mendengar nama Datu Busu, anggota GWM sontak mengelu-elukan nama si Tua Kikir itu.
“Hidup Datu Busu!”
“Hidup Datu Busu!”
“Hidup GWM 25!”
Semua anggota bergerak mengambil posisi di dekat tulang belulang. Sebagian mereka mencoba menggunakan equipment yang ada.
Situasi layaknya mini perang mulai terasa kala seratus musuh di sisi kanan sudah berada di jarak seratus meter. Sedangkan Kucing Lamak mulai menerjang Datu Busu dan yang lain.
“Ladeni Ia!” titah Datu Busu yang seketika menghilang.
“Bersatu, Lusiiiiiiii…!” teriak Gadis. Secara bertahap berubah menjadi Legcrasher.
Teriakan Gadis sangat merdu dan nyaring. Pun menggema. Kalau jadi penyanyi, vibra Gadis sudah oke punya.
Darkmanday pastinya tidak mau kalah. Sosok itu memaksakan diri berteriak, “Bergabung, dong, Tuwiiilll…wil.. wil… wil..!!!”
Sosok lain dari diri Asna itu tidak bisa menyaingi suara Gadis. Pita suaranya belum sempurna. Bahkan efek vibra hanya bisa Ia mainkan di ujung lidah.
Asik berubah, Darkmanday dan Legcrasher sudah begitu dekat dengan Kucing Lamak yang saat ini seutuhnya sudah berbentuk Beruang Kutub. Pada jarak 10 meter, Beruang Kutub meraung keras. Diiringi dengan badai salju yang sangat dingin. (Namanya salju pasti dingin, lah!)
Dua super hero itu seketika membeku dalam balok es. Padahal belum sempat berubah sempurna.
“Apa-apaan ini?! Kenapa Kau tidak berubah sedari tadi?! Dasar pintar!!!” teriak Kucing Lamak. “Kalian harus belajar banyak, ya… Biar tidak ceroboh lagi,” lanjutnya dengan nada penuh kasih sayang.
__ADS_1
Kucing Lamak memang begitu. Emosinya tidak konsisten. Sebelumnya marah meraung. Eh, tiba-tiba lemah lembut dan membelai Darkmanday dan Legcrasher yang membeku.
Belaian Kucing Lamak ternyata penuh energy. Membuat duo super hero Kota Samarinda itu lolos.
Proses berubah kembali berlanjut sebelum Kucing Lamak membekukannya lagi. “Kalian ini! Benar-benar kurang ajar! Sekarang tidak ada lagi belaian dan makan malam!” ujar Kucing Lamak. Marah.
Tiba-tiba alunan seruling terdengar. Membuat bongkahan es di tubuh Darkanday dan Legcrasher retak. Perlahan-lahan mereka melanjutkan proses berubah.
Kucing Lamak menatap Zay Kumbang yang berdiri pada jarak 100 meter darinya. “Oh, Kau, ya…!”
Zay Kumbang telah berubah kostum. Kini Ia mengenakan equipment berwarna serba abu-abu. Dari atas hingga ke sepatu. Bahkan rambutnya telah berubah menjadi abu-abu.
Sebuah seruling sepanjang satu setengah meter sedang di pegang Zay Kumbang. Ini senjata andalannya: Ash Misery of Bamboo Flute.
Zay Kumbang mengayunkankan senjatanyanya.
[UNBLOWING FLUTE:-----MISERY^^ SWING>>>>]
Tiga ayunan seruling menimbulkan gelombang yang melesat ketiga arah berbeda. Mengenai Darkmanday dan Legcrasher.
Satu gelombang yang mengincar Kucing Lamak meleset. Beruang kutub tua itu ternyata sangat gesit. Tidak sesuai dengan tubuhnya yang tinggi gemuk.
Tiga gelombang kembali dilesatkan Zay Kumbang kepada Kucing Lamak. Tapi masih bisa dihindari dengan mudah.
“Jangan tertipu dengan penampilan,” ujar Kucing Lamak. “Karena Aku seorang Top Assassin…!” lanjutnya yang seketika mencakar punggung Zay Kumbang.
“Aaaghh…!” Zay Kumbang meringis kala terkena serangan. Ia baru menyadari lawan yang Ia hadapi bukan orang sembarangan. “Pejuang kelas utama?! Pantas…!”
Setelah menyaksikan Zay Kumbang yang terguling di salju karena ulahnya, Kucing Lamak melirik prajuritnya. Para prajurit Paguyuban Anggrek Bulan yang terdiri dari kelas Muda dan Madya itu sudah cukup dekat dengan anggota GWM. Tugas mereka adalah merebut dua bilah Mandau yang tertimbun tulang.
Saat ini Asna sedang menikmati sepotong roti. Tepat di puncak tumpukan tulang. Seorang senior memberinya air mineral seraya bertanya, “Kenapa mereka tidak langsung menghabisi kita saja? Pejuang kelas Madya bukan lawan kita.”
“Ini aturan dalam profesi pejuang virtual, Ferguso,” jawab Asna. Ia lalu membidik seorang musuh yang sudah begitu dekat dan melemparnya dengan tulang. “Pejuang virtual yang membunuh pejuang virtual lain akan mendapat hukuman berat dari Dewan Etik…”
Lemparan Asna menandai awal pertempuran di kubunya. Perlawanan mulai diberikan anggota GWM SMA 25 Samarinda. Melempar tulang belulang kepada tiap musuh yang mendekat.
Sayangnya tidak ada tipe Penyerang Jarak Jauh murni di kelompok ini. Dexterity mereka berada di bawah angka 30 poin. Akibatnya tiada dampak besar dari lemparan-lemparan tersebut.
“Na, ada rencana lain?!”
Menyaksikan kepanikan teman-temannya, Asna berdiri dari tempat duduk. Si Mesum ini kemudian mengenakan helm perunggu dan mulai berorasi. “Kakak-kakak! Usahakan untuk tidak mati. Dua [Resurrection Mandau] hanya untuk enam orang. Tapi bukan kematian yang mereka incar. Melainkan itemnya.
“Setelah mereka berhasil merebut item itu, maka akan mudah bagi mereka menekan Kita. Tidak ada cara lain, selain bertahan.
“Sebagian tetap melempar. Sebagian lain bersiap bertarung jarak dekat. Yang bertarung jarak dekat, tolong lindungi para pelempar. Anggap saja, mati berarti mati.”
Situasi memang sangat tidak menguntungkan bagi tim Asna. Terlebih dua Mandau yang ditancapkan masih Asna ragukan. Itu item [Resurrection] atau bukan. Kematian yang terjadi bisa saja kematian yang sesungguhnya.
“Aku butuh garam!” teriak Asna.
Agustin yang saat ini berada di dekatnya menyahut rendah, “Garam? Buat mencairkan es…?”Asna menjawab dengan anggukkan.
“Teman-teman! Aku butuh garam!!!” Asna kembali berteriak. Kali ini lebih kencang.
Serorang senior menoleh. Lalu berseru kaget, “Asnaaa…! Di belakangmu!!!”
“Garam…?” Si Mesum itu berseru rendah sambil menoleh ke belakang.
Matanya tiba-tiba terbelalak melihat ancaman yang sedang menghampiri. “Bukan garam! Itu beruang kutub! Walau mereka sama-sama putih,” ujar Asna.
__ADS_1
***