Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 36 Debat Kursi


__ADS_3

Ch. 36 Debat Kursi


“Banyak bacot!” seru Rode. Ia lalu mengacungkan kursi yang Ia duduki. “Kita selesaikan dengan ini!”


Sebuah kursi yang Rode lempar melayang ke arah Asna. Dengan mudah si Lemah itu menghindar. Disusul kemudian mengambil kursi di dekatnya.


Belum sempat Asna melempar kursi, anak buah Rode tiba-tiba sudah menerjangnya. Ini pertarungan mudah.


Seperti beberapa bulan yang lalu. Menghadapi anak buah Rode tidaklah sulit. Bahkan sekarang sangat tidak sulit.


Sekutu Asna jelas membela. Mereka sudah berbalik menerjang Rode dan kawanannya. Pada akhirnya si Mesum nganggur saat ini.


Lebih dari empat puluh orang pejuang virtual menerjang tujuh orang. Ini bukan pertarungan yang adil. Tapi penghakiman massa.


Rode tampak bersemangat menerima setiap hantaman kursi. Sebab, Rode tau, pertarungan seperti sekarang sangat baik untuk meningkatkan STR, VIT, DEX dan MEN. Empat unsur status pertarungan yang diandalkannya.


Suara benturan kursi dengan kursi, maupun kursi dengan tubuh, terus terdengar. Debat kusir rupanya sudah berubah menjadi debat kursi.


Rode dan anak buahnya merasa terpojok dan masuk ke lubang virtual dengan membawa masing-masing satu kursi.


Para pembela Asna turut mengambil kursi dan mengejar Rode dan anak buahnya. Pak Haris yang melihat kerusuhan tersebut hanya berdiam diri. Cara-cara barbar seperti itu diperbolehkan dalam perkembangan pejuang virtual. Dari  kelas Mula sampai tingkat Utama.


Latar set pertarungan berubah ke dunia virtual GWM SMA 25 Samarinda.


Rode ternyata sudah menjadi Bronzehair Bekantan dan mengenakan satu set equipment. Sedangkan anak buahnya berubah menjadi Pendekar Rubah. Lengkap dengan set equipment dari besi. Entah dari mana mereka mendapatkannya.


Lawan-lawan Rode yang membela Asna dari kelas 11 dan 12 juga sudah menggunakan set equipment lengkap. Kecuali dari kelas 10. Mereka masih miskin. Tentu saja belum bisa melengkapi equipment. Termasuk Irvan dan Iyan.


Empat puluh orang lebih melawan tujuh orang sebenarnya tidak sebanding. Tapi Rode masih percaya diri. Walaupun hanya menggunakan kursi sebagai senjata.


Ya. Semua orang menggunakan kursi sebagai senjata sekarang. Aturan main dalam debat kursi memang seperti itu. Senjata yang boleh digunakan adalah kursi. Hanya boleh kursi.


Mereka yang sudah tidak memegang kursi tidak boleh lagi ikut bertarung. Mereka tidak memenuhi syarat ikut debat kursi.


Saat pergumulan dengan kursi terjadi antara dua kubu, Asna berbincang santai bersama Pak Haris.


“Apa yang Kau rencanakan, mesum?” Pak Haris tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Ia masih bingung dengan keputusan Asna. Skenarionya tidak seperti saat ini waktu pembicaraan dilakukan di kediaman Iyan. Tadi pagi.


Asna tersenyum kepada Pak Haris. Seolah rencananya itu adalah yang terbaik. “Kak Haris ingin bukti Rode pengkhianat GWM, kan? Besok ada rekaman videonya.”


Pak Haris kembali mengajukan pertanyaan. “Video apa yang Kau maksud?”


“Kalau memang Rode memiliki kaitan dengan Paguyuban Anggrek Bulan, Ia akan berupaya memastikan diri ikut Samarinda Run. Caranya dengan mengurangi pesaing. Mengadu dengan Paguyuban Anggrek Bulan. Orang yang tepat untuk merekam apa yang terjadi malam ini adalah Godel,” terang Asna.


Seraya menggeleng Pak Haris membalas, “Hanya Datu Busu yang bisa mengendalikan Godel. Aku jujur saja angkat tangan dengannya. Sebentar lagi Datu Busu pasti SMS.”


Gawai Pak Haris tiba-tiba berdering. Benar saja. Pesan singkat dari Datu Busu masuk. Si Tua Bangka itu menjamin  Godel akan kooperatif. Begitulah isi pesan yang masuk ke dalam gawai Pak Haris.


Pak Haris mulai memahami Datu Busu. Ia jelas banyak belajar dari Asna. Atau mungkin telat paham.


“Keputusanmu itu penuh resiko. Kau tau? Paguyuban Anggrek Bulan sangat licik. Mereka itu bahkan maniak membunuh. Aku takut mereka menimpakan kesialan pada anggota Kita.” Hela nafas Pak Haris terdengar oleh Asna saat mengatakan keresahannya.


Insting seorang guru seperti Pak Haris kepada murid-muridnya, hampir sama dengan insting orang tua pada anaknya. Itu sangat kental terasa.


Menyangkut resiko, si Mesum tentu sudah mengerti resiko-resiko yang mungkin terjadi saat Ia mengambil keputusan. Oleh karenanya, Asna sebisa mungkin menekan resiko-resiko itu. Kalau memang ada pengorbanan. Asna akan mengupayakan pengorbanan yang paling minim. Pengorbanan sekecil mungkin. Mengorbankan orang lain kalau bisa.

__ADS_1


Guna menekan resiko, Asna akan menginapkan semua anggota tim di dunia virtual. Itu langkah bagus untuk melatih kerja sama tim. Bahkan Asna sudah mulai membuat menu pemusatan latihan. Suatu pendekatan yang belum pernah dilakukan GWM SMA 25 Samarinda.


Pak Haris setuju dengan rencana Asna. Itu suatu terobosan bagus.


Asik mengobrol, tidak disadari, debat kursi telah selesai. Kursi telah habis dihancurkan.


Tidak ada yang menang dalam debat kursi. Semua masih berpegang pada dirinya masing-masing. Mengklaim diri mereka yang benar.


Debat di GWM SMA 25 Samarinda memang selalu seperti itu. Di tempat lain sama saja. Makanya Asna tidak menyukai debat. Walaupun hampir sering Ia lakukan.


Rapat kembali dilakukan. Kali ini di dunia virtual.


Asna dikelilingi seluruh anggota. Mereka tampak sedikit lelah setelah debat kursi.


Rode masih tidak terima dengan keputusan Asna. Dengan diikut-sertakannya seluruh anggota, kemungkinan Ia berpartisipasi menjadi mengecil. Padahal kalau digoncang sekalipun, belum tentu namanya keluar. Tapi anehnya Rode merasa yakin cara undian adalah yang terbaik.


Sedangkan Asna memilih untuk tidak melakukan undian. Si Lemah itu sebisa mungkin menghindarkan diri dari berpegang pada keberuntungan. Pastikan segala sesuatu. Seratus persen atau paling tidak mendekati seratus persen pasti. Kalau toh tidak berhasil, itu sudah nasib. Beginilah gaya Asna.


“Pak Ketua, ada salah apa Kami sampai-sampai ingin merubah tradisi? Mohon kebijaksanaanya,” sindir Rode. Sikap luhur sedang Ia contohkan. Tidak kenal menyerah.


Adapun sikap memaksakan kehendak dari Rode tidak patut dicontoh. Itu menyebabkan masalah pada identitas diri. Merusak tatanan masyarakat demokratis.


Malas berdebat, Asna menawarkan satu solusi. Melakukan voting. Suara terbanyak pasti menang.


Tawaran ini tidak mungkin diterima Rode. Ia menyadari kalau pasti kalah dengan sistem demokratis seperti pemungutan suara.


Berdasarkan hasil analisanya, Rode yang sudah cukup berorasi, harus tetap menghadapi teman-teman Asna. Menerima tawaran Asna sama dengan menerima kekalahan.


Rode jelas terus berusaha melawan. Bahkan mengatakan ide gila tidak pantas dijadikan suatu pilihan.


Terlalu banyak bicara membuat para pendengar lebih mengenal Rode. Si Ganteng yang ambisius itu dinilai arogan. Kembali lagi, Rode terlalu memaksakan kehendak. Itu membuat orang lain menjadi muak.


Hak manusia untuk bicara. Memberikan masukan kepada orang lain. Kalau memang buruk, tidak perlu didengarkan. Kalau memang baik, terserah kalau mau diikuti.


Seorang senior akhirnya muak dengan dongeng Rode. Itu seperti sinetron Cinta Fitrah yang disukai emak-emak. Putar sana, putar sini. “Ngomong apa, Kau?! Aku sudah terlanjur setuju dengan Asna. Kalau Kau tidak suka dengan perubahan ini, berikan argument yang jelas,” ujarnya sambil menunjuk wajah Rode.


Seraya merentangkan tangan, Rode membalas dengan sombongnya. “Kalian lihat? Itu baru satu yang diracuni. Bakal banyak yang diracuni jika dibiarkan berlarut-larut.”


“Kau pikir Aku diracuni?!” Seorang lain ikut berkomentar. “Tawaran Asna logis. Tidak melanggar aturan. Solusinya, semua menang. Dan Ia terbuka untuk pendapat lain.”


“Siapa lagi yang setuju dengan Asna?” seru Rode.


“Aku setuju! Kau mau apa?!”


“Aku juga setuju!”


“Aku tidak mengerti. Jadi Aku ikut yang banyak!”


Dukungan demi dukungan terhadap keputusan Asna bermunculan. Suara lebih dari enam puluh orang dalam tujuh puluh itu besar. Hampir 86 persen. Itu kemenangan yang mutlak. Situasi seperti ini tentu disukai Asna. Ia berterima kasih dengan Rode yang mewakili dirinya memimpin voting tanpa diminta.


Rode memang munafik. Mulutnya mengatakan tidak ingin voting. Tapi perbuatannya memancing suara publik. Akhirnya Ia kalah.


“Sialan!” kutuk Rode, membatin. Tidak ada yang bisa Ia lakukan untuk memenangkan debat selain mengotori hati. Berdiam diri termasuk strategi untuk tetap bertahan. Paling tidak Ia masih ada peluang untuk ikut serta.


“Karena tidak ada yang komen lagi, Aku akan sampaikan program latihan Kita. Lebih tepatnya, pemusatan latihan,” terang Asna. Ia terus menyampaikan rencana latihan yang akan dilaksanakan hari itu jua.

__ADS_1


Semua anggota GWM SMA 25 Samarinda mendengarkan penjelasan Asna dengan khidmat. Sebagian lain dengan pura-pura khidmat. Mereka semua memang sempat cemas karena sangat berharap bisa ikut serta. Pada akhirnya mereka dapat bernafas lega setelah Asna memutuskan mengajak semua anggota GWM menjadi anggota Tim.


Walaupun pada saat lomba, anggota Tim harus bersaing dengan sesamanya. Itu tepat pada saat mereka masuk ke lubang virtual di ajang Samarinda Run.


Event Samarinda Run adalah perang mini antar GWM yang ada di Kota Samarinda. Tiga puluh orang akan berhadapan dengan tiga puluh orang dalam arena di dunia virtual seluas 500 x 120 meter persegi. Mereka akan beradu kekuatan dan taktik perang selama setengah jam.


Peserta akan mengalami kematian fana di sana. Jadi hanya ada satu hal yang ditakutkan. Pemenangnya adalah tim yang paling banyak membunuh.


Apabila terjadi jumlah membunuh yang berimbang, maka akan dilakukan match blood time. Yaitu perpanjangan pertandingan untuk menemukan tim mana yang berhasil pertama kali membunuh dengan selisih dua. Cukup membunuh dua lawan lebih banyak dari kematian kawan untuk menjadi pemenang. Perhitungan ini semacam permainan raket, tenis lapangan.


Anggota yang baru masuk di tahun ajaran sekarang memang perlu penjelasan tentang event ini. Jika mereka ikut serta, mereka sebisa mungkin berguna. Paling tidak jangan menjadi beban.


Sehingga, pemusatan latihan menjadi sangat perlu. Bahkan Asna menyampaikan bahwa peserta akan diinapkan di dunia virtual GWM SMA 25 Samarinda.


Mendengar apa yang disampaikan Asna, Rode lagi-lagi tidak setuju. Ia berargumentasi, menginapkan anggota tim secara tiba-tiba bukan ide bagus. Anggota tim perlu pamit dengan alasan yang jelas kepada orang tua atau walinya.


Asna setuju dengan pendapat Rode. Mereka pun memutuskan untuk berkumpul lagi pada sore besok. Tentu saja anggota tim yang ikut harus membawa surat dispensasi dari orang tua. Itu kesepakatannya.


Semua anggota bubar ke rumahnya masing-masing. Pada saat itu Rode melirik Asna secara sembunyi-sembunyi. “Ada waktu satu hari… Awas, Kau, Asna! Kau sepertinya mengetahui sesuatu.”


--------------------


Pada sore hari, Datu Busu mengumpulkan kartu-kartunya di sebuah warung kopi. Tempatnya di kawasan dekat Paguyuban Anggrek Bulan. Jalan Dahlia.


Kartu, begitulah Datu Busu menyebut orang-orang di bawahnya seperti Asna, Pak Haris dan yang lain. Si Tua Bangka itu seolah menganggap anggota paguyuban sebagai alat untuk memenangkan permainan kehidupan. Sungguh manusiawi…


Godel dan Asna saat ini sedang menyantap mie instan yang mereka pesan dengan lahap. Dua budak itu harus membayar sendiri apa yang mereka pesan. Datu Busu tidak mungkin mentraktir. Mereka paham hal tersebut.


Sambil menyantap hidangan, mereka mendengarkan penjelasan Datu Busu.


Hasil technical meeting, sebagaimana diterangkan Datu Busu, menghasilkan kesepakatan yang sesuai dengan keinginannya. Tidak ada perubahan dalam pelaksanaan dari segi waktu dan tempat. Begitupun dari segi aturan main.


Hanya waktu pendaftaran peserta yang berubah. Panitia Pelaksana dan utusan GWM di tiap-tiap sepakat untuk mengundur batas pendaftaran sampai peserta benar-benar sudah bertanding di arena virtual.


Kesepakatan ini terjadi berkat kengototan utusan GWM yang ada di Kecamatan Samarinda Seberang, Kecamatan Palaran dan Kecamatan Loa Janan Ilir. Tiga kecamatan itu berupaya tetap ikut berkompetisi di tengah gelombang serangan Kerajaan Rawa Rongkang.


Itu berita bagus dan kurang bagus.


Bagusnya, dengan demikian, Datu Busu tidak perlu menekan panitia saat hari-H untuk memuluskan rencana Asna. Yaitu mendaftarkan nama-nama peserta setelah mereka masuk bertanding di arena virtual.


Kurang bagusnya, usaha untuk memenangkan ajang Samarinda Run semakin berat. GWM di tiga kecamatan itu bisa dikatakan yang terbaik dalam sepuluh tahun belakangan.


Sekarang giliran Asna yang turut menjelaskan rencana latihan untuk sore hari. Point rapat yang disukai Pak Haris. Sedikit banyak Ia ingin mengetahui menu pemusatan latihan ala Asna. Ia terang-terangan ingin belajar.


Usai membahas rencana ikut serta event Samarinda Run, Datu Busu tiba-tiba meminjamkan kamera pada Godel. Ia memerintahkan si Pencuri itu pergi memata-matai Rode di markas Paguyuban Anggrek Bulan. Uniknya, si Tua Bangka itu tau apa yang harus Ia lakukan tanpa diberitahu oleh Asna. Entah dari mana Datu Busu mengetahui rencana merekam gambar Rode.


Belum sempat Godel pergi, Datu Busu dikejutkan dengan ekspresi Asna yang tiba-tiba berubah. Ketua Paguyuban Tutur Pusaka itu seolah mengerti jika ada sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi.


Si Mesum menatap Datu Busu dengan wajah serius. “Mereka terlalu cepat, Datu!”


“Masih belum terlambat!” sahut Datu Busu.


Percakapan si Mesum dan si Kikir itu menarik perhatian Pak Haris. “Ada apa? Apa yang terjadi?!”


 

__ADS_1


 


***


__ADS_2