
Ch. 39 Tunjukkan!
Di kawasan Jalan Pramuka. Pusat Kuliner di Kota Samarinda yang selalu ramai setiap malamnya…
Saat kegaduhan terjadi di Paguyuban Anggrek Bulan, Tuwill tampak senang bertemu dengan Lusi di salah satu warung makan. Ia sangat rindu dengan boneka kucing betina itu. Padahal belum ada seminggu mereka berpisah.
Di sana tentu saja ada Gadis, Darkmanday dan Zay Kumbang.
Duduk memangku Tuwill, Gadis memandang ramah wajah Darkmanday yang sedang makan. Wajah yang tidak ubahnya seperti mumi. Berbalur kain perban.
Ditatap seorang gadis semanis Gadis, sosok lain dari diri Asna itu masih bisa mengatur sikapnya. Makan dengan penuh tata krama. Garpu di tangan kanan, pisau di tangan kiri. Gaya makan mereka yang merasa diri terhormat.
Tujuan si Mesum itu tentu saja untuk memikat hati Gadis.
“Jangan malu-malu gitu, Day. Makan nasi goreng pakai garpu sama pisau itu susah, lho….” tegur Gadis.
Darkmanday tersedak ditegur Gadis. Benar saja, makan dengan garpu dan pisau membuatnya sangat kesulitan. Hanya belasan butir nasi yang bisa masuk ke mulut. Lantas Ia meraih sedotan pada gelas es teh untuk melegakan tenggorokan.
Lega setelah meneguk es teh, Darkmanday berucap, “Ku pikir Kau tidak suka cowok rakus. Hehehe…”
“Lebih baik cowok rakus makanan dari pada rakus wanita. Cowok rakus waktu makan itu menunjukkan jati dirinya yang jujur,” goda Gadis sambil menaruh tangan di bawah dagu. Sungguh manis sekali.
Segera Darkmanday melemparkan pisau dan garpu ke belakang. Untung pisau dan garpu yang dilempar hanya menancap pada bahu pelanggan lain. Kalau kena kepala, tewaslah pelanggan tersebut.
“Harusnya Kau tidak suka Datu Busu. Istrinya lima puluh, lho! Hehehe…!” sahut Darkmanday sambil mengambil sendok.
Sekarang Ia makan menggunakan sendok persis di saat pelanggan yang dilukainya digotong entah ke mana. Makan dengan sendok memudahkan Darkmanday menghabiskan makanan. Lebih-lebih sekarang Ia menggunakan sendok nasi. Sepertinya Ia hanya butuh dua suapan untuk menyelesaikan makan malam.
Seketika Zay Kumbang menunjuk arloji di tangan kanannya. Menunjukkan jari jempol kepada Gadis kemudian.
Setelah mengangguk, Gadis kembali menggoda Darkmanday. “Kakak, cewek itu suka cowok yang makan dengan ce-pat.”
“Berapa menit?” tanya Darkmanday.
“Kalau bisa satu menit….” jawab Gadis.
Sedetik setelah Gadis menjawab, Darkmanday telah menghabiskan nasi goreng. Bahkan tepi piring sedikit tergigit olehnya. “Selesai… Yuk, Kita cari mereka!”
Zay Kumbang mencoba menghentikan Darkmanday yang hendak pergi begitu saja. “Tuan, tunggu sebentar. Ada yang harus Ku tanyakan dulu sebelum Kita berangkat.”
Sosok lain dari diri Asna itu kembali duduk. “Ku pikir semuanya sudah jelas. Kalau bukan kalian yang menculik, pastinya Paguyuban Anggrek Bulan. Atau mungkin Paguyuban Tutur Pusaka,” ujarnya.
Gadis menggeleng mendengar jawaban Darkmanday. Ujarannya itu tidak lain adalah tuduhan yang sudah begitu liar. Kesana dan kemari.
“Aku tidak akan menutupi kalau memang serikat Kami terlibat,” kata Zay Kumbang. “Yang ingin Aku tanyakan, apakah anak yang Kau temui itu ada mengatakan hal lain? Semisal masalah GWM SMA 25 dengan serikat Kami. Agak rancu kalau serikat Kami berurusan dengan anak-anak GWM.”
“Kalau Kau tidak mau ikut mencari tidak masalah. Biar Aku dengan LC yang mencarinya. Kami masih berjiwa muda. Tidak suka dengan ketidak adilan!” Darkmanday asal bicara memang. Beginilah kalau Asna menjadi seseorang yang memiliki kekuatan super.
Baiknya, Zay Kumbang memiliki emosi yang bagus. Ia masih bisa berpikir positif menghadapi Darkmanday. “Bukan itu maksudku. Aku tetap akan ikut mencari. Cuma Samarinda itu luas. Jadi Kita harus mendapatkan informasi yang jelas biar tepat waktu,” terangnya.
“Benar,” timpal Gadis. “Aku sebenarnya sudah lelah berkeliling seharian. Kakiku bisa lumpuh nanti. Kalau Kita mempersempit titik pencarian, Kita bisa mempercepat pekerjaan.”
“Gadis yang cerdas! Aku suka!” seru Darkmanday. Ia lalu memikirkan alasan lain. Sebelumnya Darkmanday telah berbohong saat berkata bahwa Ia bertemu dengan seorang anak yang selamat dari penculikan. “Ya. Anak itu mengatakan anggrek bulan! Itu pasti Paguyuban Anggrek Bulan!”
Zay Kumbang dan Gadis saling menatap. Mereka merasa aneh dengan perilaku Darkmanday. “Apakah Kita perlu pergi ke Paguyuban Anggrek Bulan lebih dahulu?” tanya Gadis.
Sembari berdiri dan menggerakkan badan, Zay Kumbang berucap, “Aku sudah terlanjur mengiyakannya. Tidak ada salahnya kalau Kita ke paguyuban itu dulu.”
__ADS_1
------------------------
Darkmanday ke Paguyuban Anggrek Bulan? Kejutan apa yang diberikan Asna dengan kedatangannya di sana?
Biarkan dulu kejutan yang akan diberikan Asna melalui Darkmanday di Paguyuban Anggrek Bulan. Sekarang Asna sibuk menghubungi teman-temannya melalui gawai Pak Haris. Duduk di sebelah Asna, Agustin. Dialah yang membawa gawai Pak Haris dan membawanya ke sekolah. Mereka sekarang ada di teras Sekretariat GWM SMA 25 Samarinda.
Dua puluh dua orang yang tidak diculik sudah dihubungi Asna. Semua dari anak kelas 11 dan kelas 12. Artinya, kawan-kawan Asna dari kelas 10 yang ikut GWM seluruhnya menjadi korban penculikan. Tentu saja Iyan dan Irvan juga termasuk.
“Tinggal Rode dan anak buahnya yang belum Ku hubungi.” Asna tampak ragu menghubungi Rode. Jelas si Mesum itu belum menemukan strategi baru yang tepat untuk mencapai tujuannya pada misi Samarinda Run. Tidak mengikutkan Rode seperti yang Pak Haris dan Datu Busu inginkan. “Aku harus menyingkirkan Rode dan anak buahnya dari mengikuti Samarinda Run.”
Gumaman Asna terdengar Agustin. Dalam pandangannya, keresahan Asna mirip dengan apa yang Pak Haris resahkan. Seseorang yang sudah memberikannya tempat berlindung walau cuma semalam.
Agustin menarik rambut Asna hingga terjerembab. Walau sedang berkabung, sikap kasar gadis yang ditakuti Asna itu masih membekas. Benar-benar mendarah daging. “Na, apa yang bisa Aku bantu?!” serunya.
Sambil mengusap kepala, si Mesum itu kembali duduk. Wajahnya hanya tersenyum diperlakukan seperti itu. Marah kepada Agustin malah membuat masalah baru.
“Y-ya. Kau pasti ba-bakal banyak membantu,” sahut Asna.
Baginya, Agustin adalah sekutu kuat yang pasti akan dibutuhkan bantuannya. Lupakan dulu [Ordinary Stone]. Baru saja menjadi pejuang virtual, Dewi Kematian itu sudah mampu bertahan melawan Bawang Putih. Pejuang virtual yang memiliki kemampuan sedahsyat badai. Bukti paling nyata.
“Sekarang apa yang harus Aku lakukan?” pikir si Mesum. Hanya [B-Shock] dan Agustin yang bisa Ia andalkan untuk menghadapi situasi terburuk. Bertarung dengan Rode dan bawahannya. Atau menghadapi penyusup yang tidak Ia ketahui siapa dan di mana keberadaannya.
“Satu, dua, tiga... Tidak Aku tidak boleh menggunakan tiga alam pikir lagi. Sekarang saja perutku sudah mulai mual. Padahal cuma memikirkan dua hal.”
Asna berpikir dengan tenang. Namun cepat dan tepat.
“Strategi dua belas, taktik empat puluh satu, … Ah, semuanya terlalu beresiko. Masalah utama Darkmanday harus menemukan teman-teman yang diculik. Haruskah Aku mengambil resiko terkecil?
“Ya Tuhan. Selama ini Aku percaya kepadamu. Tiada ku minta keadilanmu sekarang. Yang Ku minta adalah pengampunanmu. Ampuni si Bodoh ini. Cukup ampuni…”
“Na…!” tegur Agustin seraya menepuk pundak Asna.
------------------
Situasi terburuk yang sudah diperkirakan Asna terjadi. Tepat di kala Pak Haris mendapat sayatan parang secara bertubi-tubi dari Anjay Depkan. Belasan luka merambah kulitnya.
Kecepatan Pak Haris tiba-tiba menurun drastis. Tak heran musuh dapat menyerangnya berulang kali.
Walau demikian, guru SMA 25 itu tetap tertawa. Terus tertawa tanpa ada rasa bosan. Orang ini memang sudah gila.
Sambil menyaksikan pertarungan, Datu Busu dan Kucing Kuyus masih melanjutkan permainan sambil berbincang ringan. Kucing Kuyus memiliki sembilan kartu tersisa di tangannya. Sedangkan kartu Datu Busu tidak berkurang. Tetap tiga belas.
“Kau begitu sayang dengan semua kartumu itu, Busu.” Kucing Kuyus menegur. Maksud yang tersembunyi adalah memprovokasi. “Kalau Kau tidak mengeluarkan kartumu pada putaran sekarang, Kau pasti kalah! Oh, Iya, Kau memang tidak pernah menang melawanku.”
Sambil tersenyum Datu Busu membalas, “Main kartu sama dengan main bacot, memang. Bacot itu sama seperti mulut teko mengeluarkan apa yang ada dalam teko. Kau benar-benar tidak hati-hati mengeluarkan bacot, kakak! Hahaha…!”
Kucing Kuyus lalu mengeluarkan kartu 7 keriting, 7 sekop dan 7 hati. Three of Kind.
Datu Busu lalu tertawa. “Hahaha…! Benar. Aku tidak akan pernah menang melawanmu. Biar seru, Aku akan tetap bermain,” ujarnya. Si Tua Bangka itu mengeluarkan tiga kartu 8. Lebih tinggi dari yang dikeluarkan Kucing Kuyus.
“Nah…! Itu baru bagus. Keluarkan lagi kartumu!” seru Kucing Kuyus. Ia mengalah untuk putaran ini.
Seketika Pak Haris mendapatkan kecepatannya kembali. Seolah pertarungannya terpengaruh dengan permainan kartu Kucing Kuyus. Angin kemenangan Anjay Depkan menjadi hampa.
Sambil memandang pertarungan Pak Haris, Datu Busu mencibir, “Apakah Kau lupa? Kartu delapan itu kartunya orang gila. Dua lingkaran mutar-mutar.”
“Keluarkan saja kartumu. Cepatlah….” pinta anggota Dewan Pembina Peguyuban Anggrek Bulan yang saat ini menjadi lawan bermain Datu Busu itu.
__ADS_1
Datu Busu tidak mengindahkan Kucing Kuyus. “Kau harus lihat pertarungan orang gila dulu. Anak buahku itu benar-benar gila. Hahaha…!”
Tawa Datu Busu diiringi dengan keluarnya kartu 3 sekop. Lalu 4 sekop. Kartu 7 diamond menyusul kemudian. Semua kartu rendah.
Kucing Kuyus protes melihat perilaku Datu Busu. Seenaknya memainkan putaran demi putaran. “Hei, Busu…! Aku tidak ada bilang ‘pas,’ kan? Hedeh… Kau masih saja suka main curang.”
“Hahaha…!” lagi-lagi si Tua Bangka tertawa. “Kakak…! Aku pasti kalah dengan kartu seperti ini! Hahaha…!” Datu Busu memperlihatkan set kartu terakhir yang dimilikinya. Selembar kartu enam, dua lembar kartu Sembilan, dua lembar kartu King dan dua jenderal. Yaitu 2 kupang dan 2 diamond. Ada total 7 kartu.
“Kau memang ditakdirkan untuk kalah. Tapi jangan mengambil keuntungan dari kekalahanmu,” kata Kucing Kuyus mengingatkan. Jumlah kartu ditangannya saat ini satu lembar lebih sedikit. Ada kartu 2 hati, satu kartu king dan kartu terakhir adalah kartu As.
Lebih tepatnya, empat kartu As!
Dengan empat kartu ini, Kucing Kuyus tidak akan takut melawan dua kartu jenderal Datu Busu. Sebab, dalam permainan ini, kartu 2 bisa dikalahkan dengan 4 seri kartu sama. Set Card. Permainanpun berakhir jika situasi penangkapan jenderal terjadi.
Situasi tidak akan seburuk sekarang jika saja Datu Busu hanya memiliki satu kartu jenderal. Kartu jenderal dikeluarkan paling akhir tidak akan ditangkap. Begitu aturan mainnya.
“Kau berpikir Aku punya Set Card, Busu?”
“Kakak, enam kartumu itu mungkin semuanya kartu besar. Kau hanya memberikan kerugian yang besar untukku.”
“Kau yang memberikan kerugian pada Kami, Busu. Sebagai balasan, Kau harus diberikan kerugian yang besar. Jenderalmu pasti tertangkap. Tertangkap berarti mati. Hehehe…”
“Berarti Kau hanya menilaiku punya dua jenderal saat ini?”
“Ya. Jenderalmu yang satunya sudah berhasil mencuri kotak-kotak di ruang penyimpanan kami. Adikku sedang mempermainkannya sekarang. Hehehe…!”
Benar saja. Godel saat ini sudah tertangkap. Ia ketahuan mencuri.
“Hahaha…! Budakku si Pencuri itu Kau anggap jenderal. Aku pasti kalah dalam permainan ini. Sampai-sampai kakak kesepuluh juga datang. Tentu Aku akan untung banyak sekarang! Hahaha…!” Tawa Datu Busu diiringi dengan meletakkan lima kartu miliknya sekaligus di atas meja. Meninggalkan dua kartu jenderal di tangan.
Kucing Kuyus menggeleng dengan perilaku Datu Busu yang tak ubahnya seperti anak kecil. Tertawa, tertawa dan tertawa.
“Hidup memang seperti main kartu. Ini perkataanmu dulu, Kak. Kalah dan menang sudah digariskan. Masing-masing pemain harus saling berkorban,” lanjut Datu Busu. “Hahaha…!”
Kata “berkorban” dari si Badut Tua itu membuat Kucing Kuyus berpikir keras. Hanya ada dua kartu tersisa dari Datu Busu yang pasti akan tertangkap olehnya. Ia pasti menang. Tapi rugi banyak.
Markas paguyuban mereka sudah 70 persen hancur. Harta berharga yang mereka bangga-banggakan dicuri Godel. Sudah rugi banyak, kan?
Kerugian akan bertambah jika kematian menghampiri Ketua paguyuban, Anjay Depkan. Situasi yang terjadi kalau mereka memilih menangkap Godel dan membiarkan Pak Haris terus menggila. Atau memilih situasi kedua. Membunuh Pak Haris untuk menyelamatkan Anjay Depkan. Namun harta mereka hilang dibawa Godel yang pasti akan diselamatkan Datu Busu. Ada dilema yang singgah di benak Kucing Kuyus.
Ia beranggapan, dua orang anak buah Datu Busu, yaitu Godel dan Pak Haris adalah jenderal dalam permainan ini. Salah satu dari keduanya pasti mati. Namun situasi yang tidak mengenakan disadarinya. Si Tua Datu itu semau-maunya saja mengeluarkan kartu demi kartu. Semua kartu kecil.
Kartu-kartu kecil sengaja Ia berikan kepada Datu Busu agar tertekan dalam permainan. Lalu kalah banyak. Sekarang, siapa yang duluan curang?
Tentu saja Datu Busu. Ia menyuruh Godel mencuri di tengah kegaduhan.
“Pemahamanmu tentang The Wisdom of General sepertinya sudah mendalam. Selamat, Busu…!” puji Kucing Kuyus.
Datu Busu menggeleng tanda tak setuju.
Melihat kode nonverbal itu, Kucing Kuyus mengernyitkan dahi, “Kau bisa melihat kartuku?! Apa kau punya item [Buntat Lipan]?!”
Datu Busu lagi-lagi menggeleng. Bahkan diiringi dengan gelak tawa. “Buntat?! Tunjukkan kalau Aku memang punya! Hahaha…! Kau yang buntat! Hahaha…!”
__ADS_1
***