
Ch. 24 Rahasia Terkuak
“Na, ada yang ingin Ku konfirmasi denganmu. Berkaitan tentang siapa yang memukul preman suruhan Bovak beberapa waktu lalu…” ujar Pak Haris.
Asna baru selesai mengunyah obat. Asam lambungnya jelas masih tinggi. Tapi kembali Ia diberondong desakan lain. Tentu saja Ia kembali merasa kurang nyaman.
“Kau ini…” Datu Busu menyahuti perkataan Pak Haris. “Tidak baik menanyakan rahasia orang lain!” tegasnya.
“Itu sangat janggal Datu. Hanya ada Asna dan Aku yang ada di sana sebagai pejuang virtual. Benar-benar janggal,” lanjut Pak Haris.
Datu Busu menggelengkan kepalanya. “Cukup, Ris. Sudah Ku katakan, tidak baik menanyakan rahasia orang lain. Bisa jadi budakku ini menemukan catatan rahasia, menghafalnya, hingga bisa meningkatkan sebuah skill. Bukan begitu?” Seketika Datu Busu melirik Asna.
Lirikan Datu Busu membuat Asna semakin tidak nyaman.
“Bukan bisa jadi. Tapi memang iya! Hahaha…!” timpal Datu Busu.
Permainan kata-kata Datu Busu sebenarnya sangat jelas. Hanya saja memang sepertinya Pak Haris kebanyakan makan terasi. Itu terlihat dari wajahnya yang terus kebingungan.
Berbeda dengan Godel. Wajahnya menyiratkan kalau dirinya mendapat informasi yang cukup dari pernyataan Datu Busu.
Si Panjang Tangan ini sepertinya jarang makan. Otaknya encer. Walaupun kotor.
------------------------------------
Saat ini Iyan sedang uring-uringan di dalam kamar. Ia masih bingung kenapa dilarang mengikuti Asna ke markas Paguyuban Tutur Pusaka.
Kalau hanya Asna yang diajak tidaklah masalah. Tapi menyebutkan dirinya dilarang, itu jelas menimbulkan tanda tanya.
Belum lagi Ia masih kepikiran tentang siapa yang membantunya kemarin. Suatu adegan pertarungan yang begitu segar di memorinya. Menambahkan apa yang terjadi di arena virtual Serikat Burung Kaliyangan. Itu betul-betul memperpanjang kebingungan Iyan.
“Kalau perlakuan istimewa Pak Haris dan Datu Busu kepada Asna dikaitkan dengan kemampuan rahasianya, sebenarnya cukup masuk akal. Dan itu sangat bagus! Cuma… Selama ini Asna tidak pernah jauh dariku. Ia tidak pernah melatih sebuah skill. Ia sudah beberapa kali kena gebuk pejuang virtual lain. Memikirkan hal ini membuat kepalaku pusing!”
Iyan jelas berharap sosok yang membantunya kemarin adalah Asna. Dengan demikian, bersama Asna, Ia bisa menjadi pejuang virtual tangguh. Pada akhirnya mereka bisa menjalankan tanggung jawab melindungi masyarakat Samarinda dari ancaman makhluk-makhluk di dunia virtual.
---------------
Harapan Iyan itu sungguh benar adanya.
Setelah hafal dan berulang kali melafalkan tulisan di dinding rahasia warisan incaran Rode, Asna mendapati adanya pemadatan pada Jiwa Senin. Nama jiwa kedua yang sering Ia keluarkan.
Sesekali Jiwa Senin merasakan sakit saat menabrak tembok dan menyenggol perkakas. Asna jelas sangat senang dengan keanehan ini.
Baginya, tidak ada peningkatan pada status pertarungan bukan lagi menjadi masalah. Ia tentu lebih fokus pada pelafalan tulisan di dinding rahasia.
Upaya Asna rupanya membuahkan hasil.
Beberapa waktu yang lalu, ketika Neti dikejar Bovak, Asna memaksakan Jiwa Senin yang diluncurkan dari skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga] terus memadat.
Materi pada Jiwa Senin kala itu bergetar. Tanda-tanda adanya jantung. Benar saja, saat Jiwa Senin memegang dadanya, detak jantung terasa.
Jiwa Senin kemudian merasakan darah mengalir ke seluruh tubuh. Diikuti dengan mengembang-kempisnya dada. Itu paru-paru. Tarik hembus nafas terasa di bibirnya.
Ini jelas sosok lain dari diri Asna! Yang sebenarnya tidak lain adalah dirinya sendiri.
Melihat Pak Haris mengejar Bovak, Jiwa Senin memilih menghajar lawan Agustin. Pukulan yang dihasilkan Jiwa Senin tepat di titik kritis. Total ada sepuluh pukulan yang dilontarkan.
Pukulan itu sangat cepat.
Serangan Jiwa Senin berlanjut kepada dua preman lain yang sedang membawa Asna di tembok. Masing-masing mendapat sepuluh pukulan kritis.
Status petarungan unsur MEN (mentality) Asna rupanya ikut meningkat sebesar satu poin semenjak Jiwa Senin memadat.
Setelah mengalami kemajuan ini, Jiwa Senin masih bisa berlatih sambil mengawasi Rode. Tentu saja di saat Asna berbalik membantu Iyan latihan.
Asna merasakan perubahan yang cukup signifikan di diri Jiwa Senin. Berbekal pengetahuan bertarung dari sang Ayah, Jiwa Senin berlatih mempertajam serangan. Ini poin penting di kala Ia tidak dapat menerjemahkan status pertarungan Jiwa Senin.
Lebih buruk dari status pertarungan tubuh aslinya, total status pertarungan Jiwa Senin kala diukur dengan [Broken Ordinary Stone] hanya 4 poin.
STR 1
__ADS_1
VIT 1
INT 0
DEX 1
MEN 1
Hasil ukur ini menarik perhatian Asna. Sebab, pada kenyataannya, Jiwa Senin lebih kuat dan lebih cepat dari tubuh asli Asna.
Semua ini terkait dengan apa yang Asna dapatkan di Aula Serikat Burung Kaliyangan beberapa hari yang lalu…
Asna yang telah berhasil mewujudkan satu sosok transparan pada Jiwa Senin dapat dengan tenang membantu Iyan lulus tes. Ia sangat optimis Iyan bakal lulus dengan bantuannya. Bahkan diitiadakannya tes pertama saat itu semakin meningkatkan optimisme.
Hanya saja rencana Asna sedikit berubah kala mendapati Godel.
Si Panjang Tangan itu rupanya berencana mencuri di sana. Asna jadi penasaran dan mengikuti Godel melalui Jiwa Senin dalam bentuk roh.
Benar saja. Jiwa Senin menemukan ruang rahasia yang dijaga empat anggota serikat. Di dalam ruangan terdapat lubang virtual di sebuah lukisan.
Dengan keponya Jiwa Senin masuk ke dalam lubang virtual dan menemukan ratusan kotak warisan. Apa yang ditemukan Jiwa Senin ini jelas tiga langkah lebih maju dari pada Godel.
Tapi sungguh disayangkan. Jiwa Senin tidak memiliki skill membuka kotak-kotak tersebut. Skill [Unlock].
Jiwa Senin memutuskan mengajak Godel masuk. Tentu tanpa sepengetahuan Godel.
Bagaimana caranya?
Cukup menginisiasi si Panjang Tangan itu dengan menyerang penjaga. Godel ikut menyerang pada akhirnya.
Keputusan Asna mengajak Godel sangat tepat. Godel dapat dengan mudah membuka beberapa kotak dengan skill [Unlock].
Ada lima kotak yang berhasil dibuka Godel dan berisi [Zakery Stone]. Kotak-kotak itu selalu Jiwa Senin sentuh. Tak ayal status pertarungan di batu itu diwarisi Jiwa Senin.
Menyadari ada yang tidak beres, Godel memilih untuk menunda membuka kotak. Semua kotak Ia masukkan ke dalam [Virtualspace Anjat]. Serikat Burung Kaliyangan Sungguh mengalami kerugian yang teramat besar.
Asna memutuskan kembali ke rencana awal. Membantu Iyan yang saat itu berjibaku di arena virtual serikat.
Sebuah kejadian tak terduga terjadi setelah Asna terbunuh di dunia virtual untuk kedua kalinya. Tiba-tiba saja kala itu sejumlah informasi pengalaman dan pengetahuan seseorang tersimpan di memorinya.
Pengalaman bertarung, menyusun siasat, kepedihan, kebahagiaan, kesengsaraan, persahabatan, pengkhianatan, berbuat baik, berbuat nista... dan masih banyak lagi pengalaman yang diberikan orang tersebut.
Asna juga mendapatkan pengetahuan yang sistematis, hasil pemikiran yang sangat jauh dan mendalam. Menembus batas kadar ilmiah!
Rasa kaget, kagum, sedih, paham dan bingung berkecamuk di benak Asna.
Bahkan selum sempat Ia berseru kaget kaget waktu itu, seseorang hadir di alam pikirannya. Suara orang itu seperti remaja seumurannya...
{“Kakek....”
{“Siapa itu?!” tanya Asna.
{“Kakek... Saya adalah keturunan Kakek.”
{“Keturunan...?” Asna memang harus kebingungan. Pacaran saja Ia belum pernah.
{“ Yang ada di ingatan Kakek adalah pengetahuan Saya. Dunia yang kita tingali ini butuh pengorbanan kita. Jangan ragu, ya, Kakek....”
Mendapat pengetahuan dari keturunannya, Asna bukannya bahagia. Ia merasa terbebani dengan tambahan tanggung jawab. Lebih-lebih masa depan yang dihadapi cucunya memang sangat berat.
Ironisnya, pertolongan Asna sangat diharapkan.
Tugas Asna sekarang dan seterusnya adalah merubah sejarah, merubah MASA DEPAN...
Asna harus menemukan Pedang Gerbang Daya dan sebongkah batu hidup, Biostone. Dua benda yang sangat mempengaruhi perjuangan cucunya di masa depan.
Berdasarkan pengetahuan cucunya, di masa depan, Pedang Gerbang Daya akan digunakan untuk membelah bulan. Adapun Biostone akan menyatukan kembali bulan yang terbelah. Tidak ada informasi lain yang diberikan cucunya menyangkut dua hal ini. Asna hanya diminta untuk menemukan.
Masih dalam posisi pura-pura pingsan, air mata Asna menetes kala itu. Jatuh membasahi lengan. Terus mengalir hingga ke lantai.
__ADS_1
Asna paham bahwa pengorbanan yang dimaksud cucunya adalah mengorbankan segala apa yang belum dan telah dimiliki Asna.
Yang belum dimiliki Asna salah satunya adalah keluarga.
Dengan merubah sejarah, sangat besar kemungkinan keturunan dan keluarga Asna kelak akan ikut berubah. Cucunya itu boleh jadi tidak akan pernah ada saat terjadi perubahan di masa sekarang...
Walau hanya sesaat saja Asna bertemu, tapi ada rasa kasih dan sayang yang muncul di hati Asna kepada cucunya yang mewariskan pengetahuan kepadanya.
Setelah mendapat warisan pengetahuan dari cucunya, kala itu Asna merasakan pikirannya menjadi sangat kompleks. Ia dapat memikirkan empat hal berbeda sekaligus!
Lebih jauh Asna memikirkan beberapa hal yang lain. Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan!
Asna dapat memikirkan sembilan hal pada waktu bersamaan!
Sembilan ranah jiwa dalam satu batang tubuh!
Asna lalu melirik statusnya saat itu…
Koin Roh: 121
STR 9+6
VIT 3+2
INT 1+19+15
DEX 1+20
MEN 2+13+10
Lagi-lagi tidak ada peningkatan status pertarungan yang nyata. Hanya peningkatan status sementara dalam arena serikat dan efek item.
Asna lalu mencoba menyusun strategi dan memilih kemampuan yang dapat membantu tim meraih kemenangan. Tapi, tentu saja, jangan sampai ada yang menyadarinya.
Dengan skill [Membelah Jiwa Meninggalkan Raga], jiwa Asna tebelah jadi enam. Lima jiwa keluar dari tubuh Asna. Meninggalkan Asna yang masih pura-pura pingsan.
Ada enam diri Asna saat itu di arena. Termasuk Jiwa Senin. Jiwa-jiwa selain Jiwa Senin yang tidak lain diri Asna itu mengikuti setiap pergerakkan musuh. Makanya musuh terlihat pada peta. Kalau dalam game, kecurangan seperti itu disebut Map Hack.
Mencuri status pertarungan di tangan pencuri seperti Godel, membuat Jiwa Senin menjadi lebih kuat. Jiwa inilah yang terus-terusan membantu Tim B.
Kemajuan dari Jiwa Senin itu pulalah yang membuat Asna menjadi tenang sewaktu mengikuti jurit malam kemarin. Berkeliaran sebagai roh, tapi saat diperlukan dapat memadat sesuai keinginan Asna.
Jiwa Senin jualah yang masuk ke markas Paguyuban Anggrek Bulan melalui lubang virtual. Sekaligus membantu Godel mengalahkan dua orang penjaga di markas tersebut.
Tidak cukup sampai di situ, sosok lain dari diri Asna itu juga menginisiasi Godel mencabut 10 [Resurrection Mandau].
Dibanding Asna, sosok Jiwa Senin yang memadat seperti tubuh manusia, memiliki STR (strength) dan DEX (dexterity) yang memang jauh lebih baik. Ini jelas main status pembunuh (assassin). Pembuat kerusakan terbaik kedua setelah pengguna tenaga dalam. Itu teorinya.
Secara praktis, keunggulan dari status dexterity yang tinggi seorang assassin dalam pertarungan, selain dapat memberikan serangan kritis, Ia juga dapat menghindari serangan musuh dengan mudah.
Pekerjaan seorang assassin dalam tim pada akhirnya bisa menjadi penentu kemenangan jika mampu memanfaatkan peluang. Terlebih pejuang virtual yang bertarung sebagai assassin sangat sulit untuk dibunuh. Kredit tambahan untuk pekerjaan ini.
Kelemahan pejuang virtual tipe assassin seperti Jiwa Senin, biasanya terletak pada vitalitasnya yang cepat terkuras. Itu juga terjadi pada Jiwa Senin.
Vitalitasnya yang lemah diperparah dengan regenerasi kesehatan yang cukup buruk. Asna jelas sudah menyadarinya.
Oleh karena itu, Jiwa Senin perlu istirahat, tidur dan mengkonsumsi asupan bernutrisi. Persis seperti manusia pada umumnya.
Satu hal yang tidak ingin Asna coba pada sosok Jiwa Senin. Asna tidak ingin membunuh diri Jiwa Senin. Ia bakal sangat menyesal kalau-kalau tidak dapat menghidupkan Jiwa Senin lagi. Kemungkinan terburuk, Asna ikut-ikutan mati.
Memiliki sikap dan bakat sebagai ilmuan, Asna tetap sayang dengan nyawa. Ia tidak suka bertindak konyol yang berujung pada kematian.
Buruknya. Setelah memiliki kemampuan berpikir pada Sembilan hal berbeda sekaligus, Asna mulai mengalami masalah pada lambung. Oleh karena itu, Ia tidak ingin terlalu banyak berpikir untuk sementara waktu.
Mencuri warisan yang diincar Rode bukan lagi misi yang tidak mungkin. Walaupun tetap saja Asna akui mencuri adalah perilaku yang tidak bermartabat.
Dalam kasus ini, Asna satu pemikiran dengan Datu Busu. Akan berbahaya kalau Rode mendapatkan warisan.
***
__ADS_1