Pejuang Virtual Volume 1

Pejuang Virtual Volume 1
Ch. 40 Jangan Katakan!


__ADS_3

Ch. 40 Jangan Katakan!


Diperolok Datu Busu, Kucing Kuyus tiada marah. Ia tampak sudah sangat paham dengan perangai juniornya itu.


Sangat berbeda dengan yang tiba-tiba muncul sekarang ini…


--Datu Kucing Lamak--


Seorang pejuang virtual tua yang merupakan kembaran dari Kucing Kuyus. Kembar unidentik.


Kucing Kuyus berperawakan kurus. Sedang Kucing Lamak berpostur tinggi gendut.


Bukan sekedar perbedaan fisik yang ada pada mereka. Dari segi emosional merekapun berbeda 180 derajat. Itu terlihat dari wajah Kucing Lamak yang merah padam selepas menggebuk Godel hingga hampir tewas. Sedangkan Kucing Kuyus adalah seorang yang masih bisa mengontrol amarah.


“Kakak, hentikan permainanmu dengan si Bungsu. Kerugian Kita akan semakin parah nantinya!” tegas Kucing Lamak.


Datu Busu tertawa melihat kembaran dari Kucing Kuyus yang saat ini mengenakan pakaian badut beruang putih. Kostum Biosilk beruang kutub. Datu Busu mengatakan bahwa kostum itu sangat cocok dengan wajah imut Kucing Lamak.


“KAU BILANG AKU IMUUUT…?!” Kucing Lamak meraung marah. Sedetik kemudian menjadi imut. “Terima kasih…!” ujarnya. Ia lalu mengambil kursi dan duduk di samping kakak kembarnya.


“Sudah dua puluh tahun Kita tidak berkumpul. Kebiasaan lama masih dilakukan. Main kartu…” lanjut Kucing Lamak.


“Kakak Lamak!” tegur Datu Busu. “Kakakmu itu yang mengajakku bermain kartu. Aku hanya meladeninya saja…”


Kucing Lamak memukul dada seraya berkata, “Sudahlah. Kita adu pukul saja. Aku ingin mencoba kekuatan kostum ini!” Sejurus kemudian Ia mengayunkan tangan ke meja.


Belum sampai lima senti meter tangannya mengayun, Kucing Lamak seketika tidak bisa bergerak. Terkena skill yang dimiliki Kucing Kuyus. Stun. “Kakak! Kita sudahi saja masalah di sini. Kita harus segera kembali ke Samarinda Seberang.”


Kucing Kuyus memejamkan mata dan berkata, “Ada masalah yang lebih penting dari perang virtual di sana. Mewujudkan dunia tanpa peperangan… Makanya Aku pasti menang sekarang.” Ia lalu menatap Datu Busu. “Benar, kan, Busu?”


Wajah Datu Busu melemas. Matanya melirik sayup kepada Kucing Kuyus. “Jangan katakan, cukup tunjukkan! Tugas kalian memang mengatasi perang. Tugasku mencegah terjadinya perang. Pergi sana! Hust…! Hust!” titah Datu Busu seraya mengayunkan jari. Menyuruh pergi.


“Keluarkan dulu kartumu,” pinta Kucing Kuyus.


Datu Busu menaruh dua kartunya secara tertutup di atas meja. Lalu mengeluarkan [Virtualroad Worm] dari dalam saku. Gerakan itu hanya seper sekian detik Ia lakukan.


Meredam tindakan Datu Busu, Gerakan Kucing Kuyus rupanya lebih cepat. Setelah menaruh empat kartu As di atas dua kartu jenderal, Ia seketika sudah memasukkan Godel ke dalam lubang virtual. Bahkan saat ini Pak Haris terhempas ke tanah dan membuat lubang besar di sana. Terkena tinju Kucing Kuyus.


Datu Busu tau kalau dirinya tidak akan bisa menghadapi dua seniornya sekaligus. Hanya saja Ia bisa bersikap santai dari kejadian barusan.


“Kau masih bisa tersenyum dengan kejadian ini…? Harusnya Kau takut, Busu… Kau ditakdirkan untuk kalah.” Kucing Lamak berkata seperti itu sambil menatap heran. Karakter adik dari Kucing Kuyus itu memang selalu berubah-ubah. Seperti kemampuan yang dimilikinya.


[Angin Badai!!!]


Tangan kiri Kucing Lamak berubah menjadi pusat pusaran angin. Berputar menuju sosok Datu Busu.


Dengan satu kedipan mata Datu Busu menghilang. Pusaran angin kini berbalur dengan api yang menggelora. Terus berputar hingga menghancurkan sisa bangunan paguyuban.


“Adik! Apa yang Kau lakukan?!” teriak Kucing Kuyus.


Kucing Lamak membalas, “Lihatlah, Kakak!”


Kucing Kuyus menyaksikan badai api yang dikeluarkan adiknya menghilang. Panasnya api berganti menjadi dinginnya es.


Tepat di dekat Kucing Lamak, sosok Datu Busu yang mencekik lehernya membeku. Ia lalu menjelaskan alasan situasi ini terjadi. “Kau lihat skill dari kostumku, Kakak?! Hehehe…!”


“Jangan gegabah adik. Aku merasakan ada sesuatu yang tidak benar terjadi. Adik bungsu pasti telah melakukan sesuatu. Tidak mungkin Dia menyerang,” ucap Kucing Kuyus.


Ia memandang ke sekeliling pada periode ini. Mata pejuang virtual tua dari Paguyuban Anggrek Bulan itu melotot kaget. “KITA DUNIA VIRTUAL!!!” teriaknya.


“Apa?! Teknik ini…?!” Kucing Lamak akhirnya merasakan pula keganjilan yang terjadi.


Pada situasi normal. Provost akan datang saat ada pejuang virtual kelas madya ke atas bertarung di dunia manusia. Selambat-lambatnya 15 menit setelah ada laporan.

__ADS_1


Mereka baru sadar sedang berada di dunia virtual setelah provost tidak kunjung datang. Ditambah lagi dengan tidak adanya warga di sekitar yang merasa terganggu dengan suara kegilaan Pak Haris. Warga seharusnya akan membuat kegaduhan sendiri.


“Pasti si Bungsu sudah menguasai teknik [Mengembara di Atas Angin]. Teknik yang dulu diajarkan Datu Guru kepadamu. Hebatnya, Kau belum menguasai teknik itu,” ucap Kucing Kuyus. Meratapi nasibnya.


Wajah Kucing Lamak memerah mendengar ucapan kakaknya. Perilaku Datu Busu yang mencuri pelajaran dari orang lain adalah kenistaan. Ia jelas marah teknik yang hanya diberikan kepadanya dicuri dan dikuasai saudara seperguruan. “Bungsu…! Kau pasti dihukum Datu Guru!!!” teriaknya.


Dalam hal bertarung Datu Busu tentu akan kalah dengan salah satu dari mereka. Apalagi sekarang ada dua. Hanya saja kecerdasan, bukan, kelicikan dan kecurangan si Tua Bangka mampu memperdaya dua kakak sepeguruannya itu.


Licik karena memanfaatkan situasi orang lain untuk kepentingan pribadi. Curang karena tidak melanjutkan permainan kartu. Sebab Ia pasti kalah dalam permainan yang berdampak pada kejadian nyata seperti itu.


Datu Busu adalah seorang yang kikir. Orang kikir pasti tidak mau rugi. Kehilangan Godel atau Pak Haris bukanlah pilihan. Kalau, toh, memang harus memilih. Si Tua Licik itu pasti akan memilih “atau.”


Saat situasi terburuk terjadi sekalipun, Datu Busu masih tetap mengupayakan win-lose solution. Ia menang dan lawannya harus kalah.


Hanya saja Kucing Kuyus sekarang belum sadar dengan kekalahannya. Bahkan setelah tau Pak Haris sudah tidak ada lagi di tempatnya semula. Ia pun belum memeriksa Godel. Apakah pencuri itu benar-benar sudah diamankan atau belum.


“Bagaimana sekarang, Kakak?” tanya Kucing Lamak.


“Ke rencana kedua. Kita bantu Rode memporak-porandakan dunia virtual di SMA itu. Lalu ambil warisannya…. Hehehehe…! Hahahaha…!!!” jawab Kucing Kuyus yang segera membuka lubang virtual baru dari dalam kotak.


Setelah ini, Asna yang akan mengalami situasi kritis. Sebab, Ia sedang berhadapan dengan Rode dan anak buahnya. Berikutnya dua kakak seperguruan Datu Busu sekaligus.


----------------


Kembali ke sepuluh menit yang lalu….


Asna sedang tatap-tatapan dengan Rode. Tatapan kebencian. Bukan tatapan cinta.


Di tangannya sudah siap [B-Shock] yang siap meladeni Rode. Shock absorber sepeda motor yang hanya sepanjang empat puluh senti meter itu tidak cocok dijadikan mace. Senjata seperti pentungan untuk memukul.


“Kau ingin berkelahi dengan benda itu, Na? Sudah siap mati?” ancam Rode.


Si Mesum tiada menjawab. Ia lebih fokus pada pikiran dari pada bacotan saat ini. Bahaya memang memprovokasi tanpa ada strategi yang matang.


Ia lalu mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celana. Sejurus kemudian menunjukkan posisi bertarung.


“Agustin…?!” seru Asna, kaget. Matanya tertuju pada tangan kanan Dewi Kematian yang sedari siang terus dimasukkan di dalam saku celana. Walau berbalur perban, si Mesum tau luka yang dialami si Dewi saat ini.


Telapak tangan kanannya putus! Pasti bekas bertarung melawan Bawang Putih.


Ini jelas salah Asna. Kalau saja Darkmanday tidak bermain-main kala itu. Tangan Agustin tidak akan putus. Paling tidak yang putus hanya lehernya. (Kalimat barusan cuma bercanda, kawan…)


Si Mesum sedikit merasa bersalah. Hanya sedikit, sih. Sebab Agustin tidak tau kalau Darkmanday adalah dirinya.


Rode menjentikkan jari kepada enam orang anak buahnya. “Kalian, hadapi mereka!” titah Rode.


Enam anak buah Rode bergerak. Beginilah enaknya punya peliharaan. Bisa disuruh-suruh semaunya.


Asna tidak mau kalah dengan Rode. Ia menganggap perilaku Rode tidak ubahnya seperti trainer Pokenom. Si Mesum menirunya. “Agustun, serang mereka!” teriak Asna.


Wajah Agustin menatap marah pada Asna. Dewi Kematian bukan Pikacung. Sekonyong-konyong Ia menendang si Mesum ke arah anak buah Rode. “Kau juga ikut!!!” teriak Dewi Kematian.


Tiada pilihan untuk Asna menghindari perkelahian. Si Mesum itu jelas sudah terkepung. Untungnya Agustin ikut serta dalam pertarungan itu.


Dalam keadaan berkelahi, Asna masih bisa melihat Rode berjalan menuju sekretariat GWM SMA 25 Samarinda. Apa pun yang Rode lakukan di dalam sana Asna belum tau persis. Ia tidak mengawasi Rode dalam beberapa jam terakhir.


----------------


Di markas paguyuban tutur pusaka…


Di kala Asna dan Agustin masih sibuk berkelahi dengan anak buah Rode, Darkmanday mengitari markas Paguyuban Anggrek Bulan yang masih utuh. Tidak ada yang berubah pada markas itu kecuali keberadaan penghuninya yang sudah dimasukkan Datu Busu ke dunia virtual.


Menyangkut markas Paguyuban Anggrek Bulan yang hancur di dunia virtual…

__ADS_1


Sebenarnya itu adalah ilusi. Kenyataannya adalah pepohonan. Hutan dunia virtual. Bagaimana Datu Busu melakukannya? Nanti saja diceritakan.


Sekarang penting untuk menemukan empat puluh empat anggota GWM SMA 25 Samarinda yang dicuri. Tentu saja markas Paguyuban Anggrek Bulan yang menjadi tempat pencarian pertama.


Hampir semua ruangan sudah digeledah. Hasilnya nihil. Darkmanday dan yang lain pun berkumpul di tengah ruang utama markas Paguyuban Anggrek Bulan.


“Aku sudah mencari di ruang penyimpanan rahasia. Lubang virtual rahasia. Isinya kosong melompong,” ujar Gadis.


“Itu menambah panjang keanehan di paguyuban ini. Tidak ada orang sejak Kita datang kemari,” balas Zay Kumbang. Ia lalu menghadap Darkmanday lalu bertanya, “Apakah Tuan bersedia menunjukkan rumah anak itu? Siapa tau ada informasi lain yang bisa kita dapat darinya.”


Darkmanday melambaikan tangan. Ia jelas tidak setuju. Soalnya sudah berbohong. “Tidak perlu Kita membuang waktu ke sana. Informasinya sudah begitu jelas di sini. Coba kita cari lagi,” kilahnya sembari kembali mencari. Bahkan sampai ke kolong meja televisi.


Naas bagi Darkmanday…


Ia mengerang setelah tubuhnya terinjak dengan kerasnya. Seorang tua keluar dari lubang virtual tepat di atas tivi.


Ya. Datu Busu secara akrobatik dari lubang virtual.


Kala melihat Darkmanday di bawah kakinya, Datu Busu berteriak tak jelas. “Waaaa…! Maliiing…!!!” Sambil berteriak Datu Busu menginjak-injak Darkmanday.


“Datu?!” Zay Kumbang kaget melihat orang nomor satu di Paguyuban Tutur Pusaka itu. Tapi tidak dengan Datu Busu. Seolah Ia sudah memprediksi kehadiran Zay Kumbang.


“Bagus. Sekarang ada tambahan satu, dua… lima kartu. Cukup untuk bertahan dari serangan lawan,” ujar Datu Busu. Sejurus kemudian pergi meninggalkan markas Paguyuban Anggrek Bulan.


Legcrasher mengernyitkan dahi. Kebingungan. “Apa maksudnya…?”


“Ikuti saja. Selama ini Aku banyak mendengarkan petuah orang tua itu,” sahut Zay Kumbang yang berjalan mengikuti Datu Busu.


------------------


Jarak antara markas Paguyuban Anggrek Bulan dengan SMA 25 Samarinda adalah kurang dari satu kilo meter. Dengan mengendarai mobil Zay Kumbang, jarak itu ditempuh sekitar dua menit.


Lupakan kenapa bisa dua menit? Tentu saja karena kendaraan roda empat akan merusak fasilitas umum jika memintas. (Jadi lupakan saja pertanyaan itu karena sudah dijawab)


Singkatnya, Datu Busu masih bisa menyaksikan Asna berkelahi. Membantu Agustin berkelahi, lebih tepatnya.


Gaya bertarung si Lemah itu, walau tidak pernah belajar silat, masih bisa menunjukkan seni bela diri yang lumayan. Seni menghindari serangan. Buktinya Ia tidak mendapatkan luka sedikitpun.


Wajar, sih. Agustin yang bertarung di barisan depan. Ia hanya membantu dari jarak sepuluh meter.


Senyum tergambar di wajah Datu Busu kala Asna lemparan [B-Shock] mengenai musuh. Setelah terlempar, [B-Shock] akan menghilang. Eh, tiba-tiba sudah muncul di tangan Asna. Ia tidak pernah berpikir kalau si Mesum itu memanfaatkan keunikan benda tersebut.


Akhirnya semua anak buah Rode sudah dikalahkan saat Datu Busu dan yang lain datang menghampiri.


Agustin menghalangi Datu Busu saat hendak melewatinya. “Datu. Pak Haris…?”


“Orang gila maksudmu? Dia sedang dirawat di tempat yang aman. Sementara Kau gantikan posisinya di dalam sana,” sahut Datu Busu sambil menunjuk sekretariat GWM.


Sesaat setelah masuk ke dunia virtual melalui lemari sekretariat, mata Legcrasher terbelalak melihat kondisi dunia itu. Semua sudah berubah menjadi es dan salju.


Dari kejauhan semua melihat sosok yang biasanya memang ada di lingkungan kutub utara. Beruang Salju.


Datu Busu tau kalau beruang itu hanya cosplay. Kostum beruang kutub Biosilk yang dikenakan Datu Kucing Lamak.


Hampir seratus lima puluh pejuang virtual sedang berhimpun di belakang Kucing Lamak. Mereka semua mengenakan jubah putih. Melalui lubang virtual yang dibuka Rode, semua anggota Paguyuban Anggrek Bulan dengan mudah masuk ke dunia virtual GWM SMA 25 Samarinda.


Zay Kumbang menatap lirih situasi saat ini. Ia pun tak tahan untuk memendam perasaannya. “Lelah Aku menanti langit yang terang. Biar berdarah hati ini tak akan berhenti Ku menanti. Pada malam nan gelap Ku sangkakan sinar rembulan. Meniti bekas langkahmu yang katanya benar, tapi tak tampak benar. Wahai sang perintis jalan, jangan katakan tentang kisahmu. Cukup tunjukkan teladanmu…!”


Akan selalu tidak mau kalah, Darkmanday ingin ikut bersyair. Tidak punya lirik yang bagus, Ia memilih bersajak, “Burung irian, burung cendrawasih… Aku kasihan tak punya kekasih…”


 


 

__ADS_1


***


__ADS_2