
Ch. 14 Mendapat Bantuan
Gelombang energi pedang yang menyerang Novia berbenturan dengan sebuah pelindung berwarna ungu transparan. Suara gemersiknya bak gurinda mengasah pedang. Pelindung ini seolah keluar dari pedang milik Novia. “Hah?! Ini bukan skillku!” pikir Novia.
Benturan antara gelombang energi pedang dengan pelindung menghasilkan percikan berwarna kuning dan ungu. “Hiiiiiiiaaaaaa....!!!” Novia melolong hendak melayangkan sebuah serangan.
Tiba-tiba Buan terkena sebuah serangan dan terlempar sejauh delapan belas meter. Padahal Novia belum melepaskan serangan. Buan mengerang sembari memuntahkan darah.
Dahi Novia mengerucut, bingung.
Usai terhempas di tanah, Buan kembali bangkit. Ia masih memiliki kesehatan yang cukup untuk menyerang Novia kembali.
Melihat Ranggas si pria bertombak datang mendekat, Novia segera mundur menuju Eltow ring pertama sisi bawah. Tidak ada alasan bagi Novia untuk meladeni dua orang musuh.
Di aula serikat, para peserta yang menyaksikan jalannya pertandingan bersorak melihat Tim B berada di ujung tanduk. “HABIIISSS...!! HABIIISSS...!!!! WHOOOOO...!”
Sambil menatap lubang virtual, Zay Kumbang melayangkan pertanyaan kepada Rinduan, “Kenapa Kau memasukkan anak itu ke dalam lubang? Aku sungguh melihat sisi gelapmu saat itu...”
“Ya, Entah mengapa aku mengikuti bisikan setan…?” Rinduan menjawab enteng.
Zay Kumbang beralih pandang ke Rinduan. “Kau pikir setan yang salah? Ini jelas rencanamu. Kau ingin memberi pelajaran kepada anak itu. Supaya ia tidak lagi mengikuti tes anggota serikat. Saat Tim B kalah, anak itu akan menjadi kambing hitam, bahkan sasaran luapan emosi.” Terangnya.
Wajah Rinduan berubah sinis mendengar keterangan sekretaris serikat, Zay Kumbang. Ia tidak suka keputusannya dianalisis. Lebih-lebih jika dugaan sekretaris itu benar.
“Kau seolah dapat berempati pada anak itu. Kalau Kau memang suka dengan anak itu, maka berharaplah agar Ia bangkit dan memenangkan pertandingan,” balas Rinduan.
“Memenangkan pertandingan?!” Zay Kumbang menaikan nada bicaranya. “Dalam situasi seperti itu? Bahkan kalau anak itu sudah sadar, sangat sulit bagi Tim B untuk memenangkan pertandingan. Kecuali lawannya tidak berkeinginan untuk menang,” lanjutnya.
“Sudah! Aku ingin menikmati pertandingan. Kalau kau Tidak suka dengan keputusanku, sampaikan keberatanmu kepada para penasehat!” tantang Rinduan.
Di sisi kiri peta, Iyan sudah bersiap menghadapi Giant Boss beserta pasukan virtual di bawah Eltow. Di antara penyerang ini, ada Mauli, Buster si pendekar bertenaga dalam dan Bleck.
Eltow sudah 99% dipastikan akan hancur!
Menghadang serangan musuh kali ini, Iyan memang sudah siap mati.
Tetapi ia akan berusaha fokus membersihkan pasukan virtual dan membiarkan Eltow terakhir di sisi kiri hancur. Lalu menjaga jarak agar tidak terbunuh.
Sekuat apapun Giant Boss, di lima belas menit pertama, masih belum dapat menandingi kekuatan Makhluk Virtual yang bersemayam di [Resurrection Base].
Edi dan Hansel melihat apa yang dilakukan Iyan. Namun, mereka yang sudah berada di dalam arena, masih berdiri di belakang [Resurrection Base].
Asna juga sudah masuk ke arena tapi tetap dalam keadaan pingsan.
Tidak beberapa lama Novia datang membantu Iyan. Luka di perutnya berangsur-angsur pulih karena disembuhkan energi virtual.
Saat ini pasukan virtual musuh sudah berjarak empat meter dari jangkauan Eltow. Dengan sigap Iyan dan Novia bergerak maju keluar untuk menghancurkannya.
Akan tetapi musuh tidak tinggal diam. Mereka tidak akan membiarkan Iyan dan Novia menghabisi pasukan virtual.
Bleck dan dua kawannya berlari mendekat, menjaga jarak dan mencari kesempatan menyerang Iyan atau Novia. Sebuah tembakan dengan peluru yang membesar menembak ke arah Novia. Ini sebuah skill yang Bleck miliki.
Ledakan terpicu saat peluru mengenai tanah. Novia sempat menghindar, namun masih terkena ledakan. “Uuuuggghhh...!” rintihnya. Ledakkan tadi juga menyebabkan Iyan goyah.
Tiba-tiba Mauli melompat ke arah Iyan, hendak melayangkan sebuah tinju. Iyan melihat serangan itu, namun ia tidak bisa bergerak karena terkena skill dari Bustar.
Tanpa dikehendaki, pedang Novia terangkat dan menyabet ke arah Mauli dengan lemah. Gelombang energi berwarna ungu datang dari arah pedang Novia, terus melesat hingga menyentuh dada Mauli.
Gelombang energi yang mengenai dada Mauli menimbulkan luka yang menganga. Darah mengucur di sana.
Novia segera bangkit karena Bleck kembali mengincar dirinya. Rentetan peluru menyerbu Novia. Serangan Bleck sudah begitu cepat. Walau masih bisa menghindar, Novia tetap terkena tembakan di pinggang dan di paha.
__ADS_1
Pasukan virtual musuh yang masih lengkap masuk ke dalam jangkauan Eltow. Secara otomatis Eltow menyerang pasukan virtual musuh terdekat.
Edi menatap dingin ke arah Eltow ring pertama tengah. Perasaannya bercampur aduk. “Aku sebenarnya ingin turun. Tapi untuk apa? Battle Status mereka terlalu tinggi! Terlebih ada dua orang musuh yang tidak diketahui keberadaannya. Sangat besar kemungkinan dua orang ini sedang melakukan peningkatan status,” kata Edi dalam hati.
Di saat Giant Boss mulai menghajar Eltow, Hansel ikut membantu pertahanan. “Apakah masih ada asa?” Sama seperti Edi, Hansel tiada lelah bergumam di dalam hati.
Bedanya, Hansel masih bisa merasakan adanya harapan. “SELAMA MEREKA BELUM MENANG, KAMI TENTU SAJA BELUM KALAH!” Teriak Hansel.
Suara raungan terdengar. Eltow kiri ring pertama Tim B telah hancur dan menghilang begitu saja.
Longlongan cempreng Mauli sayup-sayup terdengar. “Hiiiaaaat...! Uhuk…!”
Sebuah teriakan dari Mauli ini terkesan dipaksakan. Imbas dari perilaku tak penting seperti itu jelas membuat tenggorokan menjadi cekat. Batuk keringpun terjadi sesudahnya.
Mauli paham kalau Ia butuh air sebagai pemuas dahaga.
Tapi dibanding memikirkan air, Mauli lebih bergairah melihat Novia. Bergairah untuk menumpahkan darah wanita perawan.
Maksudnya, Mauli berhasrat membunuh Novia.
Tanker seperti Mauli memang sudah sangat umum. Dapat satu atau dua kill bisa jadi cerita tersendiri kepada orang lain. Kalau kalah dalam pertarungan, Ia dapat melimpahkan kesalahan itu pada dealer damage.
Dalam keadaan terluka di dada, Mauli merengsek masuk dan mengejar Novia. Menarget Novia adalah pilihan logis. Selain vitalitasnya rendah, Novia saat ini sedang terluka parah. Satu serangan tanker dapat membuatnya kembali ke aula.
Beberapa kali bayangan masa lalu mencoba mengisi pikiran Novia. Beruntung Ia mampu menekannya.
Dalam keadaan krusial seperti sekarang, ingat bayangan masa lalu tapi masih bertahan hidup sangat mainstream dalam sebuah cerita fiksi.
Bagi Novia, mengingat masa lalu saat hendak dibunuh sama dengan mati konyol.
Pembunuh tidak mungkin membuang waktunya dengan menonton lawannya melamun.
Tidak ada pilihan lain bagi Novia selain meladeni Mauli. Pukulan demi pukulan Mauli ditangkis Novia dengan pedang.
Sebagai wanita mahalan, Novia tidak akan membiarkan tubuhnya dijamah Mauli.
Sebab, dijamah berarti berdarah.
Pendarahan tentu berakibat kematian.
Tiba-tiba Bustar dan Bleck bergerak menuju Novia dari belakang Mauli. Situasi tiga lawan satu sedang mengintai Novia yang tidak mungkin lagi mundur. Kematian seperti tidak terhindarkan.
Saat itu Ranggas mulai menyerang Eltow tengah dan Buan menyerang Eltow sisi kanan tim B. Semua Eltow ring pertama jelas akan hancur dalam gelombang serangan kali ini.
Tiba-tiba Iyan memanfaatkan kelengahan musuh dan menerjang Bustar dengan satu pukulan. Iyan meraung, “HIIIAAAAAT...!!!”
Bustar terkena pukulan di kepala sebelum sempat mengeluarkan skill. Anehnya, pendekar ini terlempar ke arah yang menyimpang dari pukulan Iyan. Seolah ada pukulan lain yang mengenainya. Tubuh pendekar ini terus terlempar hingga menabrak tembok base.
“Orang ini kemungkinan besar memperkuat status INT-nya. Aku harus lebih fokus kepadanya dan juga orang yang pakai pistol...” pikir Iyan dengan cepat.
Anak panah Hansel terus melesat ke tubuh pasukan virtual. Sebagai seorang atlet, dalam kondisi tertekan, Hansel masih dapat mengambil keputusan objektif. Dia lebih memilih menghabisi pasukan virtual daripada menyelamatkan Novia. Wal hasil, pasukan virtual dapat diredam.
Giliran Mauli yang kini menjadi sasaran Hansel. Ia melesatkan anak panah ke kepala Mauli yang masih fokus pada Novia. Sesuai jobnya, vitalitas dan mentalitas Mauli begitu tinggi. Tak ayal serangan ini tidak begitu memberikan dampak yang signifikan.
Kala ini, Giant Boss sudah mulai memasuki jangkauan serangan makhluk virtual base.
Di saat itu pula, sebuah tembakkan ke arah dahi yang disusul dua tembakang lain dari Bleck membuat Iyan terhuyung. Dua peluru bersarang di bahu kiri dan di punggungnya. Bleck mengalami recoil pada momen ini.
“HIIIIAAAAAAA...!” mengacuhkan rasa sakitnya, Iyan berlari, lalu menerjang Bleck dengan sebuah pukulan. Pukulan Iyan berhasil mengenai dada kiri Bleck. Di saat yang bersamaan ada serangan lain yang menyebabkan Bleck terlempar ke sisi Bustar. “Asna, kah?!” pikir Iyan.
Bustar bangkit dan hendak menyerang Iyan. Segera Iyan bergelinding di lantai mendekatinya.
__ADS_1
Bleck kembali menarik pelatuknya. Dua tembakan beruntun membuat Iyan tertembak di telinga dan di dada. Rasanya yang begitu pedih membuat Iyan tidak dapat menahan erangan.
Dengan sisa tenaganya, Iyan menendang rahang Bustar hingga memuntahkan darah. Desahan Bustar, diiringi dengan tubuhnya yang memudar. Bustar terbunuh dan kembali ke aula!
Tiba-tiba saja sebuah peluru menembus pipi belakang Iyan. Serangan ini sangat kritis dan di titik vital, hingga menyebabkan Iyan merasakan sakit kepala yang hebat. Pandangannya mulai kabur dan berangsur gelap, diiringi dengan tubuh yang memudar.
Sebelum lenyap, lengan Iyan bergerak dengan sendirinya dan memukul ke arah Bleck. Sebuah pukulan kosong karena Bleck masih di luar jangkauannya.
Namun...
Gelombang energi berwarna ungu kembali muncul. Seolah berasal dari tangan Iyan. Serangan telak memecahkan kepala Bleck! Bahkan membuat dinding pagar base retak!!!
Dua raungan terdengar. Eltow ring pertama tengah dan di sisi kanan milik Tim B hancur bersamaan. Tepat di saat Giant Boss mulai menghajar [Resurrection Base]. Seekor ular hijau besar bertanduk muncul , tubuhnya saat ini melilit [Resurrection Base].
Makhluk ini bernama…
--Aries Snake--
“Cckkkkaaaaakkkkk...” Aries Snake menganga dan mulai menembakkan bola energi ke tubuh Giant Boss. Bersamaan dengan pasukan virtual, Ranggas merengsek masuk menuju [Resurrection Base]. Begitupun dengan Buan. “EEEEEEEND...!!!” teriak mereka, kompak.
Hansel dan Novia terus menyerang Mauli. “Hah?! Bagaimana bisa?” pikir Novia saat melihat tubuh Mauli mendapat luka lain. Bukan dari pedangnya atau panah Hansel.
Mauli sudah mulai kekurangan darah karena luka-luka di tubuhnya semakin banyak. Walau proses penyembuhan yang cepat dari status MEN (Mentality) yang tinggi, kesehatan Mauli masih terus menurun. Terus menurun karena luka-lukanya terus bertambah dan semakin kritis. “Uuggghhh...!” Mauli menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali ke aula.
Novia dan Hansel berbalik ke [Resurrection Base]. “Pasukannyaaaa....!!!” teriak Novia.
Hansel segera melepaskan anak panah ke arah pasukan virtual yang ada di bagian tengah. Novia datang membantu walau dalam kesehatan yang kritis tanpa menghiraukan Giant Boss. “Sebelah kanaaaaannn...!!!” titah Hansel. Novia menggeleng panik dan berucap, “Tidak sempat...”
Wajah panik Novia berubah kaget setelah sebatang tombak menembus jantung Novia. Ia pun harus kembali ke aula serikat.
Hanya ada satu anggota Tim B yang masih aktif bertarung setelah kematian Novia. Padahal pasukan virtual Tim A di bagian tengah hampir dihabiskan sebelum memasuki jangkauan Aries Snake.
Naas, pasukan virtual musuh berhasil masuk di sisi kanan dan mulai menyerang Aries Snake. Momen ini dimanfaatkan Ranggas dan Buan untuk ikut masuk menyerang. “End, broo... hahahaha...!!!” ledek Buan sambil melirik wajah Edi.
Edi mengepalkan tangannya dan menundukkan kepala karena merasa malu...
Di aula serikat, Tim C dan Tim D mulai mempersiapkan diri untuk saling bertanding. Dalam pengamatan mereka pertandingan antara Tim A dan Tim B sudah pasti akan selesai.
“Suruh Tim C dan D untuk bersiap...!” perintah Rinduan kepada seorang wanita.
Saat ini mata Zay Kumbang terus mencermati situasi di arena virtual. “Aku merasa ada yang aneh di sana... seharusnya Tim B sudah kalah sejak semua Eltow dihancurkan dan hanya tersisa satu peserta yang bertarung. Kematian tiga orang dari Tim A sebenarnya tidak begitu berpengaruh...” ujarnya dalam hati.
“HOOOOAAAAA...!!!!” Teriakan Giant Boss yang sudah kalah terdengar di aula serikat.
Walau demikian, Aries Snake sudah mulai memucat, menunjukkan tanda-tanda akan segera kalah. Tak heran memang, Buan menyerangnya dengan membabi buta!
Pasukan virtual musuh sudah dibereskan Hansel sedari tadi. Hal ini membuat Aries Snake mengalihkan serangaan ke arah Ranggas. Biarpun merasa perih, Ranggas tetap menahannya dan mulai mengincar Hansel. Berharap Buan dapat segera mengalahkan Aries Snake.
Sambil menjaga jarak dengan Ranggas, Hansel mulai mengganggu Buan dengan serangannya. Naas... Tombak menusuk ke dada kiri Hansel. “Aaakkhh...!” Hansel lalu membalas dengan menusukkan panah ke leher Ranggas.
Anak panah Hansel patah. Daya tahan Ranggas cukup baik hingga tidak tertembus panah dan mampu bertahan dari serangan Aries Snake.
Ranggas kembali menusukan tombak. Kali ini menembus jantung Hansel. Ia pun langsung berlutut tak sadarkan diri dan mulai memudar.
Ranggas menginjak kepala Hansel untuk mencabut tombak. Samar-samar ada sesuatu yang mengangkat tangan Hansel dan meletakkannya di kaki Ranggas.
Tombak terlepas dari dada Hansel dengan satu tarikan keras. Tapi tiba-tiba Ranggas terkena dorongan tangan Hansel hingga terdorong ke belakang dan jatuh terduduk.
Di aula serikat, para peserta yang menonton menatap kaget. Begitupun dengan Zay Kumbang. “What?!” Zay Kumbang berseru kaget. Melihat Zay bereaksi, Rinduan langsung menatap lubang virtual. “Apa yang terjadi?” pikirnya.
***
__ADS_1