
Ch. 25 Jurus Ular Ganda
Markas Paguyuban Tutur Pusaka.
Intuisi Datu Busu yang mampu membaca kemampuan Asna membuat sahabat Iyan ini terus-terusan tidak nyaman. Asna berupaya menerima kenyataan untuk mengurangi efek ini.
Cukuplah tiga orang ini yang tau. Toh, tidak terkuak secara detail. Begitu isi pikirannya.
Efek dari terkuaknya rahasia oleh Datu Busu sudah mulai berkurang di dalam mental si Mesum. Tapi rasa tidak nyaman dengan hal-hal lain masih begitu tinggi. Asna merasakan ada niatan dari Datu Busu yang hendak menimpakan kesialan kepada dirinya.
Pasti ada hal lain yang diinginkan Datu Busu dari Kitab The Wisdom of General yang dipinjamkan kepada dirinya. Kitab langka yang tidak tersebar sembarangan.
Lubuk hati Asna yang terdalam berkecamuk. Di ranah inilah Ia baru bisa melepas pikirannya. Asna sadar kalau Ia berpikir macam-macam, Datu Busu bisa saja memprediksi apa yang Ia pikirkan.
Asna memberanikan diri angkat bicara setelah diberikan beberapa tekanan. “Kitab langka, ya, Datu? Utangku pasti akan semakin tinggi kalau Datu pinjamkan kitab ini, kan? Bagaimana Aku bisa bayar…?”
“Ada dua opsi yang bisa Kau pilih,” sahut Datu Busu.
Seraya memejamkan mata dan menghela nafas, Asna membalas, “Dua pilihan yang sama-sama tidak enak. Terserah Datu, lah… Aku pasti akan memilih resiko terendah.”
Datu Busu kembali tertawa pada rapat ini kala mendengar balasan Asna. Seolah Ia ada tidak bosannya tertawa. “Ris, belajarlah! Anak ini lebih mengerti diriku dari pada Kamu!”
“Terserah Datu, lah… Aku pasti akan memilih resiko terendah.” Pak Haris membeo perkataan Asna. Ia terus menampakkan rasa tidak tertarik.
Kitab The Wisdom of General Datu Busu sodorkan kepada Asna. Seolah tanpa ragu Asna menerimanya.
Keputusan dengan resiko terendah, ya, seperti itu.
Baik Asna maupun Datu Busu sudah sama-sama paham.
Jadi mereka tidak memperdebatkannya.
Tiba-tiba Datu Busu berjalan ke arah Asna dan meletakkan tangannya ke pundak budaknya itu. “Ada satu skill yang ingin Ku ajarkan kepadamu. Aku ingin Kau bekerja sama dengan si maling.”
Asna tidak bisa menahan keluhan di benaknya lagi setelah Datu Busu terus-terusan memberikan keuntungan padanya. “Utang semakin menumpuk. Datu benar-benar pandai berinvestasi…” ujarnya sambil menepuk dahi.
Datu Busu lalu menyuruh Godel mengajarkan salah satu skill pejuang virtual tipe pencuri, yaitu membuka gembok tanpa kunci kepada Asna. Suatu skill yang sudah dikuasai Godel, [Unlock].
Sebagai seseorang yang menyukai kebebasan, Godel sebenarnya tidak suka dititah Datu Busu. Tapi seperti Asna, Ia juga tidak bisa menolak karena tekanan Datu Busu sangat dahsyat kepada dirinya.
Menurut Godel, dalam meluncurkan skill [Unlock], seorang pejuang virtual perlu mengkombinasikan INT dan DEX untuk membuat sebuah kunci maya. Kombinasi antara daya ingat dan kecepatan berpikir.
Agar lebih mudah, Godel mengeluarkan alat peraga dari ranah pikirannya. Sebuah skill yang sudah bisa dilakukan Asna.
Satu set gembok muncul di atas meja.
Dengan alat peraga itu, Asna hanya perlu mengingat bentuk kunci lalu membuat kunci lain melalui pikiran. Secepatnya hasil pikiran itu diaplikasikan untuk membuka gembok.
Asna berhasil pada percobaan pertama. Bermain-main dengan pikiran hal yang sudah biasa Asna lakukan.
Pada tahap berikutnya, Datu Busu menyuruh Asna membuka jenis gembok yang lain. Gembok yang tidak dilengkapi kunci.
“Ini yang sulit. Kau harus bisa melihat pola kunci di lubang gembok. Itu tidak mungkin kalau Kau bukan Antman. Makanya pengguna skill [Unlock] perlu mengingat berbagai macam kunci sebagari referensi,” terang Godel.
Asna yakin bisa membuka gembok itu kembali pada percobaan pertama. Tapi urung Ia lakukan. Ia lebih memilih menyimpan gembok itu di dalam saku dan melakukannya di rumah.
Rapatpun usai. Datu Busu dan Pak Haris beranjak dari tempat duduk.
Tapi tidak dengan Godel. Ia masih menemani Asna.
“Sulit memulai pembicaraan setelah sempat berkonflik, ya? Hehehe…” Asna mencoba membuka pembicaraan dengan Godel seperginya Datu Busu dan Pak Haris. Tapi itu terkesan cengengesan.
“Konflik? Memang Kita pernah bertemu? Di mana, ya?” Godel pura-pura amnesia.
Kalau seperti itu kejadiannya, tidak ada yang bisa Asna sampaikan semenara waktu. Ia pun beranjak meninggalkan Godel.
Seketika Godel berseru. “Oh, Kau yang pernah…”
Asna berpaling mendengar seruan Godel.
“… yang pernah Ku curi rumahnya. Jangan marah. Barang yang Ku curi terawat dengan baik,” lanjut Godel.
__ADS_1
Sambil mengangguk Asna bergegas keluar markas.
Tiba-tiba saja Godel sudah berada di samping Asna sembari menghunuskan belati.
Suatu gerakan yang sudah diprediksi Asna.
Lebih tepatnya, Jiwa Senin yang berada di belakang Godel melihat gerakan tersebut. Asna jelas tau serangan Godel itu. Tentu saja Ia dapat menghindar dengan mudah.
Bak ular yang mengejar tikus, lengan Godel menyasar perut Asna dengan intens. Berlenggak-lenggok. Ke kiri dan ke kanan.
Gerakan Godel semakin cepat sampai membuat Asna kewalahan. Terlebih saat Asna memundurkan perut, Godel seketika sudah menyerang dagu.
Serangan Godel barusan meninggalkan goresan di dagu Asna. Darah harus mengalir.
Diri Asna yang lain, Jiwa Senin saat ini sedang khusyuk membaca Kitab The Wisdom of General. Ini menandakan kalau Asna masih bisa tenang menghadapi Godel. Walaupun memang kewalahan.
“Hey, Aku tidak sampai membunuhmu kemarin!” Asna memperingatkan Godel sambil mengeluarkan [Virtualspace Anjat] dari ranah pikirannya. Di dalam tas itu ada senjata favorit Asna, [B-Shock].
“Aku cuma mencoba ‘Jurus Ular Ganda.’ Kalau toh Kau mati. Itu sekedar kesalahanmu,” sahut Godel.
“Ular ganda?!” Asna bingung dengan nama jurus yang diperagakan Godel. Mau dilihat dari manapun, tatap hanya ada satu serangan.
Seketika Asna merasakan pedih di dahinya. Darah mengalir mengikuti lekukan mata.
Inilah yang dimaksud Godel dengan jurus ular ganda. Gerakan satu belati seolah tipuan. Pada kenyataannya ada dua belati yang digunakan Godel.
Kecepatan gerakan Godel yang lain betul-betul tidak dapat terlihat Asna.
Godel memperlihatkan dua belatinya. Satu di tangan kanan dan yang satu lagi di tangan kiri. “Dua belati. Sebenarnya Aku sudah naik kelas dari Pencuri menjadi Pembunuh. Kau pasti tidak menyangka.”
Serangan Godel memang tidak disangka Asna. Jurus ular yang dikombinasi dengan senjata tajam adalah jurus yang terbilang umum. Tapi dengan kecepatan yang diperagakan Godel, jurus itu benar-benar mematikan.
Asna mulai serius sekarang. Itu terlihat dari keputusannya mengeluarkan [B-Shock] dari [Virtualspace Anjat].
Anehnya Godel malah menyimpan dua belatinya di pinggang belakang. “Aku mengaku kalah. Ku akui Kau berhasil lolos dari kematian. Jurus tadi menguras vitalitasku. Jujur.”
Tidak mengindahkan pengakuan kekalahan dari Godel, Asna memasang kuda-kuda setelah menyimpan [Virtualspace Anjat].
Kuda-kuda semakin diperkuat dengan menarik kaki kanan ke belakang.
Godel langsung mengeluarkan kedua belatinya dan ikut mempersiapkan kuda-kuda. Ia berbohong kala berkata vitalitasnya sudah terkuras.
Berpijak pada kaki kiri, Asna melempar [B-Shock] ke arah Godel.
Beruntung Godel masih bisa merunduk dan berbalik melempar belati.
Suara erangan terdengar saat [B-Shock] membentur sosok tak kasat mata. Darah seolah dimuntahkan udara kosong.
Tidak sampai di situ. Belati Godel menancap di dada kanan sosok yang seketika terlihat tersebut.
Seorang remaja yang mengenakan jubah putih.
“Orang dari Paguyuban Anggrek Bulan…?” Godel memprediksi identitas remaja tersebut dari jubah yang dikenakan.
Asna mendongakkan wajah remaja yang tidak sadarkan diri tersebut. “Anak kelas 12! Kau kenal?”
“Jangan menyinggungku. Aku jarang turun sekolah,” sahut Godel.
Jiwa Senin menyimpan Kitab The Wisdom of General pada ranah pikirannya. Ia membalik kepadatan tubuh dan kembali menjadi roh.
Asna ingin memastikan identitas anak kelas 12 SMA 25 Samarinda tersebut di Paguyuban Anggrek Bulan.
-------------------------------
Tidak butuh waktu lama bagi Jiwa Senin menyambangi markas Paguyuban Anggrek Bulan. Dengan kecepatan roh Jiwa Senin, jarak kurang dari 1 kilo meter cukup ditempuh dalam waktu dua menit.
Markas Paguyuban Anggrek Bulan adalah sebuah bangunan megah di kawasan Gelanggang Olahraga Segiri Samarinda.
Di halaman bangunan nan luas, Jiwa Senin melihat Agustin sedang menyapu daun-daun yang berjatuhan.
Kalau dilihat dari aktivitas Agustin tersebut, sepertinya Ia bukan keluarga dari pemilik markas Paguyuban Anggrek Bulan. Lebih-lebih melihat pakaian merah kusam yang dikenakannya.
__ADS_1
Jiwa Senin menyambangi Agustin bersamaan dengan seorang perempuan berpakaian super sexy.
Sangat sexy hingga Jiwa Senin lupa meneguk air liur kala menatapnya. Lupa meneguk air liur tentu saja menyebabkan air itu tumpah ruah melalui bibir.
Tiba-tiba perempuan sexy itu menendang bak sampah berisi dedaunan kering. Persis seperti cerita Bawang Merah yang jahat dan Bawang Putih yang baik.
Jiwa Senin lebih terkesima lagi melihat adegan itu. Cewek calon penghuni neraka begini tipe Asna banget.
“Ku dengar Kau sudah mendapat pengetahuan virtual…? Hormat dulu sama senior,” ujar Bawang Merah.
Gadis sexy itu memang mendapat gelar Bawang Merah. Rempah yang gemar membuat orang meneteskan air mata.
Itu juga terjadi pada Agustin. Matanya berair.
Agustin tidak menangis. Melainkan matanya kemasukan ranting.
Itu pedih dan pasti berair, kan?!
Untung bukan kemasukan batang pohon. Otak bisa terburai!
Lagi pula Agustin bukan Bawang Putih. Dilecehkan, Ia balas memukul. Itu sudah seperti penyakit Agustin.
Mendapat pukulan demi pukulan Agustin, Bawang Merah masih bisa tertawa.
Dari pengamatan Jiwa Senin, Bawang Merah sedang melatih fisiknya.
Sebagai pejuang virtual, digebuk termasuk latihan. Itu bisa menambah poin status pertarungan. Kemungkinan tujuh puluh persen peningkatan VIT dan tiga puluh persen STR terjadi.
INT tidak mungkin meningkat saat digebuk. Malahan, kebanyakan digebuk di kepala memungkinkan pejuang virtual jadi ******. INT pasti turunlah!
Itu terbukti pada Bawang Merah. Terus-terusan digebuk Agustin, Bawang Merah tidak sadarkan diri. Anggota Paguyuban Anggrek Bulan tentu langsung mengamankan Agustin.
Tiga orang anggota rupanya tidak bisa menangani satu gadis SMA. Wajar teman-teman sebaya Agustin menggelarinya Dewi Kematian.
Jiwa Senin yang tidak lain adalah Asna saja tetap ngeri melihat adegan itu. Padahal Ia sudah berulang kali menjadi saksi keberingasan Agustin.
Awan hitam entah dari mana asalnya menyelimuti markas Paguyuban Anggrek Bulan. Perubahan cuaca lokal. Anomali udara membuat angin kencang disertai hujan memporak-porandakan halaman markas.
Semua yang ada di sana berputar dalam pusaran angin dan hujan. Jiwa Senin ikut terputar di sana.
Usai terputar, semua jatuh ke tanah. Cuaca kembali cerah. Disusul kemudian kehadiran sosok perempuan yang mengenakan mini pants, kemeja batik dan kaca mata tanpa kaca. Itu tidak bisa disebut kaca mata memang.
Penampilan perempuan bergelar Bawang Putih ini dipercantik dengan topi bundar. Bawang Putih adalah kakak dari Bawang Merah.
“Ancrit! INT nih orang pasti tinggi bangkai! Paling hanya INT. Awas Kau!” kutuk Jiwa Senin. Ia segera bangkit.
Bawang Putih menendang pot bunga yang berserak di depannya. Pot bunga melesat hingga membentur kepala Jiwa Senin. Padahal Ia belum sempat berdiri. Walau transparan, Jiwa Senin merasakan pedih di kepalanya dan darah bening mengalir.
“Awwww… Kok bisa?” Rasa sakit Jiwa senin turut dirasakan Asna. Rasa sakit yang sama persis!
Pak Haris melirik Asna. “Ada apa? Nyeri karena datang bulan…?”
Asna mengangguk.
“Minum jamu!” timpal Pak Haris.
Kehadiran Pak Haris kembali itu seperti malaikat pembawa rezeki. Ia membawakan sarapan untuk Asna dan Godel. Memang layak jadi Guru favorit.
“Untung Aku datang. Kalau tidak, Dion, anak buah Bovak itu bisa mati!”
“Aku pun bisa mati, kak.” Asna sok menjilat.
Pak Haris tersenyum dijilat Asna. “Ya. Asam bisa membuat lambungmu meledak!”
“Kenapa tidak kita bunuh saja?!” sahut Godel.
Asna melirik sinis kepada Godel. “Kalau ingin membunuh, seharusnya Kau bidik jantungnya. Pada akhirnya Aku tau motifmu.”
Kenyataannya, Godel mengincar rompi yang bisa membuat pemakainya tidak terlihat. Equipment mahal yang bisa melemahkan penggunanya.
Rompi yang dapat melemahkan penggunanya tidak cocok digunakan dalam petarungan. Jelas hanya untuk memata-matai. Sedangkan Dion melakukan kesalahan saat mengenakannya. Yaitu berjalan ke belakang Godel. Langkahnya terdengar dan ada bekas jejak kakinya.
__ADS_1
***